Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori


[Tulisan ini saya peruntukkan bagi penulis pemula yang memiliki keinginan yang besar. Apa yang saya tulis ini berangkat dari pengalaman subyektif saya, karena itulah tulisan ini tidak bermaksud menggurui, tapi sekedar sharing pengalaman].

 Sejauh pengalaman saya, menulis bisa dikategorikan gampang, tetapi juga sekaligus sulit. Disebut gampang karena setiap hari kita hampir selalu menulis, entah itu catatan kuliah, surat resmi dan surat cinta, SMS, dan sebagainya. Tidak ada kendala yang signifikan. Nyaris tidak pernah penulis jumpai seorang mahasiswa yang kesulitan dalam menulis mata kuliah, catatan-catatan dari guru/dosen. Semuanya berlangsung aman dan terkendali—begitukah?

Tetapi, bisa juga dianggap sulit. Karena dalam menulis membutuhkan kaidah-kaidah resmi, kejelihan, ketajaman perspektif dan sebagainya. Untuk itu, tidak semua orang bisa melakukannya. Jika membaca buku tentang kiat-kiat menulis penulis sadar betapa rumitnya untuk menjadi penulis. Tetapi jika dilakukan tanpa memperhatikan kiat-kiat menulis dibuku-buku yang njelimet, menulis tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang.

Tidak jarang saya mendapat pertanyaan dari teman-teman saya; bagaimana cara menulis artikel agar dimuat di media massa. Sayapun bingung menjawab pertanyaan tersebut. Karena menurut pengalaman, saya tidak pernah belajar tentang teori menulis. Untuk menjawab pertanyaan itulah, saya biasanya menceritkan pengalaman dan proses saya ketika menulis.

Dalam hemat saya, kendatipun teori menulis bisa dirumuskan dengan baik, tetapi dalam prakteknya belum tentu bisa berjalan dengan baik. Semakin banyak membaca tentang teori menulis, menyusun bahasa maka ia semakin bingung dan terkekang untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Karena itulah, menurut saya; cara menulis yang paling jitu dan cepat adalah tanpa belajar tentang teori menulis. Dengan tidak tahu bagaimana tata cara menulis, seseorang bisa bebas menuangkan gagasannya sesuka hatinya. Untuk pemula ini sangatlah penting. Karena kendala utama dalam menulis adalah memulai kata atau paragraf pertama. Biarkan tulisan itu mengalir apa adanya, tanpa ada aturan yang ketat.

Setelah menjadi sebuah tulisan ala kadarnya, cobalah di baca kembali apakah anda memahami tulisan tersebut. Jika ada yang kurang paham, cobalah edit kembali tulisanmu hingga kau paham terhadap tulisanmu sendiri. Jika sudah dianggap sempurna, cobalah teman anda suruh membacanya; apakah ia paham maksudnya. Cara ini tidak cukup dilakukan sekali, tapi harus berulang kali. Sampai saat ini, saya tidak tahu bagaimana trik menulis dengan baik. Saya hanya bisa belajar dari pengalaman saya.

Untuk itulah, dalam menulis membutuhkan niat, tekad dan kesabaran yang besar. Tanpa ada keinginan yang besar, harapan untuk bisa menulis akan kandas ditengah jalan. Tanpa ada kesabaran dan tekad yang kuat, ketika mengalami kebuntuhan gagasan akan berhenti. Berikutnya; menulis membutuhkan kebernian dan percara diri. Kritik dari orang lain terhadap tulisan kita adalah hal yang wajar dan sangat diperlukan untuk menuju perbaikan. Maka, jangan putus asa. Jangan sekali-kali putus asa. Itulah pesan yang saya terima dari para penulis lainnya. Tidak dimuatnya tulisan jangan sampai menyurutkan niat untuk menulis. Setiap orang yang menulis selalu memiliki pengalaman ditolak oleh media massa. Tak ada orang yang tak mengalami ditolak. Ditolaknya sebuah tulisan oleh media massa tidak mesti karena jeleknya tulisan tersebut, tetapi banyak faktor seperti aktualitas dan ideologi.

Secara teoritik, tahap-tahap menulis yang pernah saya dapatkan bisa dibagi kepada :

Mencari ide tulisan; Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah; Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan; Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.Menulis

Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?Trik Untuk Dimuat

Lalu, trik apa yang jitu untuk tembus ke media massa. Walaupun saya tidak memiliki banyak pengalaman menulis, tapi saya sekedar sharing pengalaman tentang apa yang mesti saya lalukan agar tulisan saya bisa dimuat oleh sebuah media massa. Pertama, pelajari ideologi dan karakter tulisan media massa. Sebagus apapun sebuah gagasan, tanpa dibungkus dengan sebuah karakter bahasa yang baik akan sulit dimuat. Terang saja, masing-masing koran memiliki karakter dan ideologi. Cara menulis di Jawa Pos, dengan di Kompas ataupun Media Indonesia, misalnya sangatlah berbeda. Ini juga dipengaruhi oleh “selera” redaktur yang bertanggungjawab atas rubrik opini. Menurut pengamatan pendek saya, Kompas—misalnya—tidak suka bahasa yang kasar. Tutur bahasa yang disuka Kompas adalah santun. Begitu pula dengan pilihan kata dan ideologi. Kompas adalah media massa yang nasionalis, bahkan bisa dikategorikan sekuler. Pikiran-pikiran yang konservatif susah mendapat ruang di Kompas. Untuk mengetahui karakter dan ideologi, sering-seringlah membaca koran. Amati dengan baik, angle sebuah berita, editorial ataupun artikel-artikel yang sudah dimuat. Jadikan tulisan orang lain sebagai pelajaran.

Kedua, gunakan bahasa yang lugas dan simple. Menulis di koran berbeda dengan menulis di jurnal atau menulis buku. Pembaca koran sangatlah luas dan lintas generasi, profesi. Karena itulah, jangan menulis yang terlalu berbelit-belit dengan teori-teori ilmiah. Buatlah kalimat seserhana mungkin untuk dipahami, dengan tetap memperhatikan diksi. Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan sederhana, para pembaca tidak kesulitan untuk memahami. Karena itulah, hindari bahasa-bahasa spesifik keilmuan yang sangat berbelit-belit.

Ketiga, aktualitas. Koran adalah media massa yang terbit setiap hari. Karena itulah aktualitas sebuah tulisan sangat dibutuhkan. Ini berbeda dengan jurnal ataupun buku. Jika lagi musim tema haji—misalnya—menulislah tentang haji. Jika kita menulis fenomena yang sudah lampau sangat sulit mendapatkan ruang di media massa. Karena itulah, mengikuti perkembangan informasi akan selalu bermakna positif bagi para penulis yang hendak menulis di koran.

Keempat, [sangat subyektif], keberuntungan. Kadang, tulisan yang kita nilai bagus ternyata tidak bisa dimuat, sementara tulisan yang dianggap kita biasa-biasa, justru dimuat. Ini bagi saya ada hubungannya dengan faktor keberuntungan. Untuk itu, saya biasanya menyarankan kepada teman-teman; jika tulisan anda pingen dimuat, lupakanlah bahwa anda sedang mengirim tulisan. Ini berdasarkan pengalaman saya. Berulang saya berharap tulisan dimuat, eh….malah tidak dimuat. Sebaliknya, ketika saya sudah lupa tentang tulisan saya, tiba-tiba muncul di media massa. Ini juga sangat membantu agar tidak terlalu kecewa ketika ternyata tulisan kita tidak bisa dipublikasikan di media massa.Begitulah mungkin sekelumit cerita pengalaman saya, semoga memberi arti bagi teman-teman. Terus terang, saya sangat bangga terhadap mahasiswa yang concern menulis. Kita jangan terjebak pada tradisi oral, mari menuju pada tradisi tulisan. Gagasan apapun yang kita miliki tidak akan bertahan lama dan tidak memiliki jangkauan yang luas jika tidak ditulis dan dipublikasikan. Secermalang apapun gagasan jika disampaikan secara lisan, di Aula 1 misalnya, ia akan lewat begitu saja dan yang mendengarkan tidak akan lebih dari 750 orang. Berbeda dengan tulisan. Apa yang kita tulis saat ini, akan dibaca oleh ratusan tahun mendatang oleh generasi berikutnya—itu kalau tidak Kiamat, Kiamat Sudah Dekat!. Dalam menulis, tentunya dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, sehingga buku adalah teman sejati, bukan bantal sejati.

Kedepan, tulisan akan semakin memiliki makna ketimbang lisan. Bukankah standar ilmiah adalah menulis. Bukankah Ahmad Wahib, Soe Hoe Gie, Soekarno, Karl Marx dan sebagainya bisa terus survive karena tulisan. Disinilah mungkin maksud dari beberapa literatur kita kuning bahwa orang alim yang meninggal, pada dasarnya tidak meninggal, ia terus hidup. Hidup dalam pengertian selalu dikenang, dibahas, didiskusikan bahkan juga dihujat.

Saat ini, pelbagai sarana sudah ada. Komputer bukan lagi hal yang asing. Buku bukan barang yang langka. Disetiap pojok-pojok kampus kita bisa mendapatkannya. Lalu, mengapa kita masih setia hanya dengan tradisi lisan, sebuah tradisi masyarakat terdahulu. Masih adakah ganjalan atau problem untuk tidak menulis. Setiap orang memiliki teknik menulis yang berbeda-beda, teori menulis itu tidak penting. Yang terpenting adalah latihan menulis. Maka, menulislah. Selamat Mencoba…!!!

Baca juga tulisan yang terkait dengan trik dan pengalaman menulis:

  1. Menulis Bermula dari surat cinta
  2. Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII
  3. Nilai Plus Menulis

29 thoughts on “Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori”

  1. Moga2 masih punya semangat ekstra tuk menulis! Oh ya, kalau boleh berpendapat, jangan dikuras bang energinya agar tidak loyo belakangan. Saya takut, sekarang giat ngeblog, bulan depan malas-malasan. hehehe… (Maap, sekali-kali aku nyaranin boleh kan….???)

  2. Thanks yach pung and aal. Moga aja kemampuan untuk menulis tidak hilang. Sengaja aku menulis tentang pengalaman dan semacamnya itu, sebab belakangan ini aku merasa kesulitan untuk mencairkan ide-ide dalam bentuk tulisan.
    Persoalan semangat, semoga aja selalu ada, walaupun beberapa hari terakhir ini aku benar-benar hilang kepercayaan diri, krisis identitas.
    Aal, kau tidak perlu belajar ma saya yang tidak sesukses orang-orang. Ipung atau fayyad adalah salah satu contoh yang mestinya ditiru banyak orang.
    Thanks,…..

  3. Tulisan ini harus dilanjutkan Tim. Banyak teman yang selalu bertanya, apa kiat-kiat menulis? Kalau saya ditanya begitu, saya jawab singkat, kiat-kiat menulis ya menulis. Terus berkarya…
    Buat teman-teman lain, salam kenal

  4. sedikit punya kemiripan dong tim kalau gtu….antara menulis dengan pasang togel, sama-sama harap2 cemas keluar gak ya!!…he…he….
    cerita itu aku dpt dari usup sm Hasyim tim,mereka satu kontrakan.si usup ini aktivis mlm Voucher ky…dikritik sm Hasyim ( Mantan Ket Cabang )cup…cup…kapitalisme itu sdh kejam apalagi mlm itu mbahnya kapitalisme…kok bs Syim, la ia to…nginjak2 temen apa gak mbahnya kapitalisme…
    si Ucup gak terima…Hasyim yg memang kerjaannya nulis….Ucup bilang Syim,nulis kan juga sama dgn main togel….! kok bisa cup? la ia kan, hbs nulis dikirim ke koran stlh itu harap2 cemas keluar apa gak?
    aku kalau ingat cerita itu tertawa terpingkal-pingkal tim….he…he…..

  5. terima kasih atas tulisan ini, pasnya bermanfaat buat yang membacanya.. apalagi bagi yang memuali untuk ,menulis di surat kabar atau semacamnya…

    tanks & salam kenal
    Y.A.P

  6. terima kasih atas tulisan ini, pastinya bermanfaat buat yang membacanya.. apalagi bagi yang memulai untuk menulis di surat kabar atau semacamnya…

    tanks & salam kenal
    Y.A.P

  7. saya wajib ngcapin terima kasih buat mas hatim yang telah memberikan tulisan yang bersugesti tinggi…mohon bimbingan, saran dan kritiknya di

    tirmidzi85.blogspot.com

  8. Kang Hatim, Suwun sing uuuuakeh..!
    Saya habis baca tulisan ini, menjadi lebih semangat lagi untuk menulis..
    do’anya biar tetap semangat terusss jadi penulis

  9. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

    Komunitas Tinta Sejarah
    (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

    Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

  10. wah memang sulit untuk menulis,kendalanya adalah ejaan yg pling sulit dhadapi….gmn ya?
    sarannya dnk….hehehehehehe
    thx…
    hidup dunia jurnallistik

  11. terima kasih atas sharing pengalamannya, saya selalu belajar untuk menulis yang baik dan ingin rasanya mengabadikan tulisan saya di media massa. sekali lagi terima kasih telah berbagi ilmu!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s