Imlek, Hijriah, dan Dialog Peradaban


Oleh: Abd. Malik Ustman

Adalah tak terbantahkan bahwa memupuk sikap toleransi, menghargai dan saling rukun di era ini merupakan sikap yang harus dipertegas secara nyata di ranah pergaulan sehari-hari. Tampilan wajah dunia yang memperlihatkan suatu pola pergaulan lintas batas meniscayakan suatu pertemuan berbagai varian budaya, agama, etnik, dan suku dalam satu arena. Dalam kondisi seperti itu hanya kepercayaan, kerukunan, dan saling menghargai yang akan menjadi pagar yang mampu meracik keragaman itu menjadi simfoni kekayaan dunia yang menakjubkan. Secara beriringan dua peringatan besar dari dua identitas agama yang berbeda dirayakan. Pada tanggal 9-10 Februari akan dirayakan Tahun baru Imlek sebagai tahun baru bagi warga keturunan Tionghoa dan tahun baru Hijriah sebagai tahun baru umat Islam. Dua peringatan relijius ini bertemu dalam satu bulan ini.Hari raya Imlek bagi pemeluk agama Konghucu adalah hari raya keagamaan untuk memperingati kelahiran Nabi Konfusius atau sering pula disebut sebagai Kung sang Guru. Tetapi, bagi warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama lain, Imlek adalah peringatan hari raya kultural Cina. Dan memang pada mulanya Imlek merupakan hari untuk memperingati pergantian musim bagi petani di China. Tujuannya sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak. Maka “Gong Xi Fa Chai” yang biasa diucapkan berarti “Selamat Tahun Baru. Semoga Anda menjadi kaya”.

Sementara itu, Hijrah merupakan perayan tahun baru umat Islam yang bertolak pada kelahiran peradaban Islam di Madinah. Perayaan ini menjadi sangat penting atau bahkan paling penting bagi umat Islam, karena pada momen itu pula peradaban Islam muncul. Oleh karenanya, pada peringatan Tahun Baru Hijriah umat Islam akan diingatkan kembali pada suatu semangat, makna, di mana Islam pernah berdiri sebagai sebuah peradaban yang sempurna.

Kedua peristiwa bersejarah di atas memiliki arti penting bagi masing-masing agama. Keduanya akan merayakannya dengan penuh suka cita. Namun makna yang tak kalah pentingnya yang dapat kita petik dalam perayaan kali ini adalah makna persaudaraan antar agama. Dua peringatan dengan latar yang berbeda ini bisa dijadikan simbol perayaan kerukunan antar agama dan menjadi satu peluang bagi terciptanya dialog peradaban Islam dan China dalam rangka merayakan pluralisme. Kenapa hal itu perlu?

Tanpa berpretensi untuk membesarkan-besarkan, dunia seringkali dihantui oleh konflik maha besar di masa depan. Konflik itu ditengarai oleh bangkitnya kembali semangat superioritas identitas masing-masing kultural yang berbeda. Bertolak pada tesis Huntington, benturan peradaban merupakan hal yang niscaya pasca konflik antra negara-bangsa atau pasca-ideologi. Runtuhnya klaim universalisme Barat melahirkan peradaban pinggiran non-Barat. China, Islam, Jepang India dan Afrika bangkit dari masa dekadensi dan keluar dari garis-garis kekuasaan Barat. Huntington menyiratkan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar dalam hal ini hegemoni barat, intoleransi Islam dan arogansi China.

Islam adalah agama yang mempunyai ikatan loyalitas dan militansi yang tinggi. Semangat persaudaraan antar umat Islam diibaratkan Nabi sebagai satu tubuh di mana ada yang sakit seluruh badan harus merasakan. Inilah yang mengikat keutuhan umat Islam yang tersebar di berbagai negara. Saat ini ikatan nasionalisme negara-bangsa hampir punah. Atas nama muslim orang Indonesia akan mengangkat senjata ke Palestina, Arab, atau Pakistan. Ikatan kultural agama tidak mempunyai batas gegorafis, etnik, dan budaya. Ikatan-ikatan ini dinilai menjadi semangat intoleransi Islam.

Sementara itu, China merupakan peradaban yang pernah besar di masa lampau. Saat ini hampir tidak ada satupun negara yang tidak dihinggapi oleh masyarakat China. Keunggulan yang menonjol adalah bidang bisnis. Di Indonesia para konglomerat tidak sedikit berasal dari orang China. Keberhasilan bisnis orang China lebih karena ikatan personal berbasis kultural daripada ikatan formal-legal. Kuatnya ikatan masyarakat China didorong oleh jalinan bamboo network, atas dasar kekeluargaan. Di mana pun masyarakat China berada, mereka cenderung mengindentikkan dirinya dengan negeri asalnya. Sehigga, tradisi mereka–termasuk Imlek, bahasa, dan budaya–masih tetap dilestarikan.

Ketakutan benturan peradaban bukan hal yang terlalu dibesar-bearkan. Mungkin tesis Huntington bisa kita katakan terlalu bias ekonomi-politik, namun tidak ada salahnya kita mengantisipasi efek negatif peradaban tersebut. Menurut Robertson Smith, salah satu fungsi sosial upacara atau peringatan keagamaan adalah mengintensifkan solidaritas masyarakat. Dalam suatu perayaan emosi umat beragama dibawa dalam penegasan satu identitas dan kelompok. Ikatan agama dan peradaban cukup bertahan lama. Sebab, dalam setiap peringatan semangat dan emosi ini dibangkitkan kembali.

Di sini akan terlihat, suatu perayaan keagamaan berpotensi menanamkan persaudaraan sempit bahkan fanatisme agama dan kelompok yang justru menggiring lahirnya superioritas agama dan peradaban. Baik Imlek maupun Hijriah sangat mungkin dipahami secara eksklusif sebagai suatu peringatan lahirnya masa emas peradaban China dan Islam. Kerinduan terhadap masa kejayaan peradaban akan membangkitkan kembali semangat kelompok tersebut.

Mengingat hal tersebut, sebuah perayaan keagamaan yang bersifat eksklusif bukan tidak mungkin akan mengantarkan bangkitnya semangat fanatisme agama. Untuk itulah dua peringatan besar ini patut dijadikan suatu gerakan bersama untuk berdialog dan merayakan pluralisme menuju masyarakat dunia yang lebih sejahtera. Kiranya perayaan berwawasan inklusif merupakan suatu pilihan yang harus dilaksanakan. Dalam momen tersebut umat agama tidak hanya disegarkan dengan semangat menjalin solidaritas dan persaudaraan internal kelompok, tetapi secara luas persaudaraan yang universal.

Prinsip persaudaran inilah yang akan menjadi modal utama dalam menjalin kerukunan setiap agama. Pada hakekatnya pesan persaudaraan universal sudah dapat ditemukan dalam setiap agama. Dalam tradisi Konghucu, “all men within four seas are brothers” harus diwujudkan oleh umat Konghucu dan masyarakat Cina sebagai pandangan hidup untuk menghargai sesamanya Dalam Islam, prinsip persaudaraan dan kerukunan merupakan hal yang tak kalah pentingnya. Kemegahaan peradaban Madinah juga dikarenakan dicanggah dengan semangat kerukunan dan rasa persaudaraan. Piagam Madinah menjadi satu prasasti yang pernah memayungi perbedaan suku, etnik, dan agama secara rukun. Inilah prinsip yang harus dikembangkan lebih luas oleh umat Islam dalam mempertegas semangat persaudaraan antar umat Islam, agama dan manusia pada umumnya.

Dengan demikian kesejukan ajaran agama sangat dinantikan untuk mengikat kembali jalinan kemanusiaan kita yang sudah mulai rapuh. Perbaikan sikap, jiwa dan hati merupakan kunci utama dalam membangun bangsa yang lebih cerah, yang hal itu dapat kita temukan dalam pesan-pesan persaudaraan agama-agama. Pada konteks itulah, dua momentum besar ini diharapkan mampu memberikan kesejukan hati, jiwa dan rasa yang dapat mendorong perdamaian yang sejati.

Terakhir saya tertarik untuk mengutip dan ada baiknya kita merenungkan juga apa yang telah dikatakan oleh Kung Sang Guru: “Jika ada kebenaran dalam hati, akan ada keindahan dalam watak. Jika ada keindahan dalam watak, akan ada keserasian dalam rumah tangga. Jika ada keserasian dalam rumah tangga, akan ada ketertiban dalam bangsa. Jika ada ketertiban dalam bangsa, akan ada perdamaian di dunia”. Amin

Abd. Malik Utsman, mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=764

2 gagasan untuk “Imlek, Hijriah, dan Dialog Peradaban”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s