The Thought of Muhammad Legenhausen

Before describing the thought of Legenhausen, I would like to review some points of thought both John Hick and Seyyed Hossein Nasr. According to Hick the religious plurality is human response to the Divine presence. By perennial philosophy, Nasr said that the diversity of religions appears as expressions of the one of Ultimate Reality. No matter each religion is different exoterically, but in esoteric dimension all religion is same in the way they concern to one Truth. Nasr based his argumentation on the essence of human existence in Qur’an. Humanity was created from a single soul (Qur’an: 39:6) but differentiate into different races and tribes. Briefly, the problem of religious plurality for Hick is first and foremost soteriological and moral, and subsequently epistemological and metaphysical, while for Nasr religious plurality is primarily a metaphysical or (more specifically) a theosophical problem, although he does not ignore its epistemological and moral dimension. (lagi…)

According to Harold Coward (1985), pluralism is one of the biggest problem and challenges for contemporary humankind. The plurality of religions often provokes horizontal conflict and violence among societies. Social and religious conflicts in Ambon, Maluku, Situbondo, and other regions were display how religions aggravate social stability. Besides, all scripture of religion was demonstrated a message of peace, love and humanity. Many scientists, therefore, look for various ways to harmonize religions’ diversity. Two of them are John Hick and Sayyed Hussein Nasr. What Hick and Nasr state although each has different perspectives is useful.

Facing religions’ diversity, minimally, there are three responses; exclusive, inclusive, parallelist and pluralist. The exclusive standpoint believes that only his/her belief is true, others are false. In Christian tradition, we know the slogan Extra Eccelesian Nulla Salus (there is no salvation outside of church). The exclusive Christians are Hendrick Kraemer, Dutch missionary, and Karl Bath, and exclusive Moslems are Mutawalli al-Sya’rani, Said Hawwa, Sayyid Qutub and Wahbah al-Zuhaily. The inclusive standpoint claims that his/her belief is true, and probably others true. Karl Rahner (1904-1984) writing The Theological Investigation is in this position. The last, pluralism is position in which all religions make good understanding and communication with others to bridge the differences and build a union. (lagi…)

“Tanpa disadari, waktu terus menyeret kita pada posisi tak terduga”. Jam dan Hari terus berlalu. Kesehatan pun mulai menurun, sementara beban pikiran makin berat. Tapi tak sedikit yang terus merasa masih muda. Bagaimana cara mengukur ke-Muda-an seseorang. Berikut, beberapa ciri (saya impor dari sebuah milis): (lagi…)

Gambar ini bisa sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat stress anda, sekaligus mengukur seberapa mampukah anda mengatasi stress anda.

Gambar ini tidaklah bergerak sama sekali. Tapi kata sebagian orang gambar ini bergerak. Bahkan, kata seorang kriminal, gambar ini bergerak cepat. Bagi anak-anak dan orang lanjut usia, gambar ini bergerak sedikit bahkan tak bergerak sama sekali. Disini, kemampuan untuk memfokuskan pikiran, pandangan menjadi penting.

SELAMAT MENCOBA

putar2-1putar-2

Religion is one the greatest phenomenon of human life. Sometimes, it is a source of war, conflict and crime. Another time it is a foundation of civilization. Therefore, there are many scientists study religion. Two of them are Sigmund Freud and Karl Marx. Many scientists categorized Freud and Marx as master of suspicion. Karl Marx states that religion is as an illusion, and Freud declares belief in god is error, like neurosis. I think, what Freud and Marx criticize is very important to discuss deeply. Discussing Freud and Marx theories makes religious people understand the failure of religion in the past and can evaluate it for the sake continuity of religion in the future.

According to Sigmund Freud (1856-1939), religions, especially monotheistic religion, do not come from a God or gods, because gods do not exist, but it comes from such a neurotic of humanity. Therefore, Freud claims that religious beliefs are erroneous. The problem is why many people persist in holding these belief? Answering this question, Freud describes that religious attitude seem to neurotic patients. Both religious attitude and neurotic patients, for instance, feel guilty unless they follow the rules of their rituals to perfection. In this context, Freud claims that the rituals are associated with the repression of basic instincts; psychologically neuroses arise from repression of the sex drive; religion demands repression of selfishness, control of ego-instincts (p.66). (lagi…)

Pidato pertama presiden Amerika Serikat, Barrack Obama pada 20 Januari 2009 telah menjawab harapan dan ekspektasi masyarakat dunia perihal “perubahan” yang dijanjikannya. Tidak sedikit yang kecewa terhadap pidato presiden AS berkulit hitam pertama ini, terutama menyangkut fenomena mutakhir di Jalur Gaza. Absennya respon Obama terhadap krisis kemanusiaan di Gaza menjadi jantung kekecewaan masyarakat muslim di dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Harapan yang begitu besar terhadap Obama secara perlahan mulai surut.

Dalam pidato pertamanya, Obama tak berbicara secara kongkret langkah-langkah yang mesti ditempuh dalam menghadapi problem-problem global ataupun internal Amerika Serikat. Selain hendak menarik pasukan militer dari Irak, menambah pasukan di Afganistan, isi pidato Obama hanya merespon persoalan dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Sebagai presiden kulit hitam pertama, Obama lebih banyak menekankan loyalitas, persatuan, multi entik dan agama. Ini mungkin dirasa penting untuk mempertahankan popularitas Obama karena jumlah rakyat kulit hitam adalah minoritas.

Hal lain yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh terkait dengan hubungan Amerika dengan negara-negara luar, khususnya dunia Islam, adalah pernyataan Obama bahwa AS akan bersahabat dengan semua bangsa dan membangun hubungan lebih baik dengan dunia Muslim. Sayangnya, Obama tidak secara spesifik menyinggung bagaimana kebijakan luar negeri AS terhadap persoalan Israel-Palestina. Apakah ia akan mengikuti jejak presiden sebelumnya dengan memberikan dukungan penuh terhadap Israel ataukah akan melakukan terobosan baru untuk menciptakan perdamaian. Menjawab pertanyaan ini tak perlu keburu-buru, tunggu dan saksikan saja bagaimana langkah berikutnya. Yang hendak penulis diskusikan secara khusus dalam tulisan ini adalah hubungan AS dan dunia Islam. (lagi…)

Usulan sejumlah politisi, termasuk Hidayat Nur Wahid, untuk memfatwakan golput yang semula sebagai respon atas sikap dan seruan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), akhirnya direspon oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI telah mengeluarkan fatwa haram bagi golongan putih, sehingga umat Islam tidak punya pilihan lain keculi mencoblos partai politik, calon legislatif dan presiden pada pemilu nanti.

Dalam Islam, pengambilan sebuah keputusan halal-haram bukanlah perkara yang remeh. Secara normatif, melakukan sesuatu yang telah diharamkan akan mendapatkan dosa sebagaimana juga meninggalkan kewajiban. Jika dibaca dari logika ini, maka umat Islam yang tak mencoblos pada pemilu nanti akan mendapatkan dosa, sehingga, secara normatif, akan mendapat siksa. Karena itulah, keputusan untuk memvonis fatwa haram terhadap fenomena politik seperti Golput harus diambil dengan penuh keseriusan dan kehati-hatian.

Dalam al-Qur’an-Hadist tidak ada ketentuan bagi umat Islam untuk mencoblos dalam pemilu. Fatwa MUI ini didasarkan pada hasil ijtihad dengan menggali sumber hukum (al-istinbath al-ahkam) dalam nalar Ushul dan kaidah-kaidah fiqh. Karena itulah, kualitas keharaman yang dikeluarkan oleh fatwa MUI tidaklah sekuat haramnya memakan babi. Begitu juga, kewajiban mengikuti fatwa ulama tidak seperti wajibnya melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. (lagi…)

Menyimak pidato pertama presiden terpilih AS ke 44, Barrack Obama, pada acaa pelantikan membuat banyak orang kecewa. Pokok soal yang menjadi kekecewaan adalah absennya persoalan Gaza dari materi ceramah Obama. Karena itu, sebagian orang pesimis terhadap kepemimpinan Obama. Tak kan ada perubahan sebagaimana yang dijanjikan, demikian komentar sebagian kalangan. Memang, pidato Obama pada pelantikan tersebut tak sebaik pidatonya pada acara kemenangannya dengan McCain.

Kekecewaan sebagian kalangan itu wajar dengan besarnya harapan masyarakat dunia terhadap kepemimpinan Obama. Sejauh ini, masih banyak orang yang menaruh optimisme kepada Obama. Keinginan untuk menciptakan hubungan lebih baik dengan dunia Muslim adalah point yang cukup tepat akan hal tersebut. Rencana menutup penjara Guantanamo, menarik pasukan di Irak dan memperbaiki ekonomi AS dianggap sebagai langkah-langkah dari perubahan yang dijanjikan Obama tersebut. (lagi…)

inaugurasi2dlmText of President Barack Obama’s inaugural address on Tuesday, as prepared for delivery and released by the Presidential Inaugural Committee.

OBAMA: My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we the people have remained faithful to the ideals of our forebears, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet. (lagi…)

CRCS dan ICRS-Yogya adalah program S2 dan S3 dalam bidang studi Kajian Agama dan Lintas Budaya di Universitas Gadjah Mada. CRCS berada dibawah Pascasarjana UGM, sedangkan ICRS-Yogya adalah program S3 Internasional yang merupakan konsorsium 3 universitas : UGM, UIN Sunan Kalijaga dan UKDW. Pada tahun 2007 CRCS dan ICRS-YOGYA mendapatkan penghargaan dari DIKTI sebagai Center of Exellence dalam Bidang Religious Studies.

Visi Utama CRCS adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan masyarakat yang demokratik dan multi budaya. Program S2 yang didirikan tahun 2000 ini memberikan pilihan kajian dalam bidang kajian: dialog antar agama, agama dan budaya lokal, serta agama dan isu-isu kontemporer. (lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »