Dari Dialog Agama-Agama Menuju Globalisasi Agama


Sangat menarik tanggapan Saudara Marluwi, Masih Urgenkah Dialog Agama?, (Duta Masyarakat 23/09/2002) atas tulisan saya, Ikhtiar Dialog Agama-Agama, (Duta Masyarakat 18/09/2002) di harian ini. Ia kembali mempertanyakan tentang urgensitas dialog agama-agama dalam konteks ke-Indonesia-an. Apakah tidak ada media dan instrumen lain yang lebih efektif dalam upaya membangun kohesifitas sosial yang notabene juga ingin membangun kohesifitas sosial keberagamaan dalam konteks sosial kehidupan kita? Bukankah dialog agama telah sering dilakukan, namun masih saja fenomena kekerasan dengan bermediakan dan atas nama pada agama masih saja menyeruak adanya?.

Ia menawarkan perlu adanya ketulusan bersama untuk saling menghargai, menghormati, mengayomi dari masing-masing penganut agama. Dialog agama tidak semata-mata dialog, akan tetapi perlu mengaplikasikan sebaik mungkin “pesan-pesan” moral dari dialog yang dilakukan tersebut. Dialog tidak akan punya arti apa-apa jika ternyata tidak pernah membumi dan tercermin pada konteks kehidupan nyata kita sehari-hari.

Pertanyaan-pertanyaan serta penyataan-pernyataan kritis dari Marluwi paling tidak memperkaya khazanah intelektual bagi perkembangan dialog agama-agama dan sekaligus memberi konstribusi yang sangat besar bagi upaya adanya keharmonisan di antara agama. Ia merasa gelisah dengan konsep dialog agama-agama ini yang telah lama dilakukan di Indonesia, namun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Konflik agama tetap saja mewarnai keberagamaan bangsa Indonesia. Seseorang tidak merasa enjoy bersama dengan eksistensi agama di luar dirinya.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, bagaimana mungkin suatu (pemeluk) agama bisa saling menghargai, menghormati agama lain, jika tidak pernah bertemu dalam satu titik temu. Adalah sangat tidak mungkin seseorang menghargai agama lain, tanpa ada keinginan to know dan to understand yang kemudian to live together dengan agama lain yang mengharuskan melalui sarana dialog.

Dialog agama-agama ini merupakan langkah awal untuk mencari titik temu agama-agama dan sekaligus untuk menciptakan tradisi yang saling menghargai antar agama yang muaranya adalah perdamaian dunia.

Hans Kung pernah mengatakan dalam salah satu karyanya bahwa No peace among the nations without peace among religions, No peace among religions without dialogue between the religions, No dialogue between the religions without investigation the foundation of the religions.

Kedua, kenapa dialog antar agama tidak bisa menjadi solusi atas konflik keagamaan? Hal ini disebabkan karena banyak faktor yang menghambatnya. Di antaranya, pertama, masih adanya ajaran-ajaran keagamaan yang eksklusif dan menolak adanya dialog agama. Kedua, belum siapnya semua penganut agama untuk berdialog dengan agama lain. Ketiga, karena kurangnya sosialisasi dialog agama-agama. Diskursus dialog agama hanya menyentuh pada kalangan elite agama. Wacana dialog ini tidak pernah sampai kalangan grass root sebagai pelaku konflik agama itu.

Keempat, seringnya agama ditunggangi kepentingan non-agama, seperti ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain semacamnya. Agama hanya dijadikan alat backing bagi kepentingan non-agama.Atas semua hal itu, adanya sebuah solusi dan baru untuk membendung semakin meluasnya konflik agama adalah niscaya. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah globalisasi agama. Artinya, seseorang harus keluar agama formalnya melebur dengan “agama langit”. Istilah “agama langit” di sini yaitu untuk menggambarkan sebuah agama yang mengandung nilai-nilai subtansi dari setiap agama. Sebab, antar masing-masing agama ada titik temu (konvergensi) yang mempertemukan perbedaan-perbedaan di alam eksoterik. Selama ini, merebaknya konflik agama dipicu oleh adanya agama formalitas, dan tidak pernah menyentuh wilayah esoterik (istilahnya Huston Smith), esensial (istilahnya Bhagavan Das) masing-masing agama.

Kesatuan transendental agama-agama yang sama (the transcendent unity of religion) inilah yang menjadi inspirator bagi “agama langit “. Nilai-nilai universal dari agama seperti keadilan, persamaan, toleransi, inilah yang harus melandasi bagi munculnya globalisasi agama. Globalisasi agama yang mengandaikan sikap keberanian diri untuk keluar dari formalitas agama menuju nilai-nilai substantif dari agama itu sendiri, akan menjadi jawaban bagi kegelisahan Saudara Marluwi sekaligus meminimalisir akan terjadinya peluang-peluang konflik agama.

Nilai-nilai subtansial yang universal ini tidak hanya dimonopoli oleh satu agama, akan tetapi semua agama mempunyai nilai-nilai yang tidak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Dan karena merupakan milik masing-masing agama, maka menjadi kewajiban atas setiap pemeluk agama (Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Budha dan agama lainnya) tidak hanya untuk memahami, akan tetapi bagaimana nilai-nilai itu benar-benar terinternalisasi bagi segenap umat beragama yang pada gilirannya akan mengamalkannya.

Globalisasi agama ini tidak lagi disibukkan oleh persoalan-persoalan yang bersifat eksetorik, tetapi melompat dari yang eksoterik, formal menuju yang esoterik, esensial. Globalisasi agama sebenarnya bukan agama yang baru. Akan tetapi, agama yang sudah ada, namun hadir dalam sebuah format dan ajaran-ajaran yang sama sekali berbeda. Islam tidak harus dibubarkan, Kristen tidak harus dihancurkan, agama-agama dunia harus tetap eksis dan berlangsung dengan baik. Yang dikhawatirkan kelompok yang mendukung globalisasi agama adalah adanya benturan-benturan formalitas agama. Padahal, menurut F. Schuon semua agama itu sama pada alam transendental.

Menghadirkan nilai-nilai universal dari seluruh agama secara bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari merupakan anteseden dari munculnya globalisasi agama. Bagaimana nilai-nilai moral yang diteriakkan oleh agama tidak hanya dinikmati oleh sebagian kalangan agamawan. Agama bukan untuk segelintir orang. Transformasi kebenaran, kesejahteraan kepada seluruh masyarakat dunia adalah niscaya, sehingga nilai-nilai agama itulah yang harus dipeluk oleh bangsa dunia.

Pada posisi seperti inilah sebenarnya agama ditantang untuk tidak hanya dialog, melainkan bertemu dan mempertemukan nilai-nilai masing-masing agama untuk kemudian dijadikan sebagai landasan dan dasar untuk hidup bersama-sama di tengah pluralitas agama. Hasil dari pertemuan nilai-nilai masing-masing agama ini tidak milik satu agama, akan tetapi seluruh agama, sehingga melaksanakannya adalah sebuah kewajiban penganut agama. Antar agama yang satu dengan agama yang lain binner dan seimbang. Pada kerangka ini, tidak ada permusuhan antar agama. Sebab, memusuhi agama lain berarti memusuhi agamanya sendiri.

Memperdebatkan aspek formalitas dari agama hanya akan menemukan “kekosongan” substansial. Sebab, ia hanya memahami kulit dari sebuah agama dan tidak pernah meraba aspek spirit dan value dari agamanya. Misalnya hanya mempercakapkan tentang sub-ajaran agama seperti trinitas, fiqh, dakwah, Ushul Fiqh, tanpa dibarengi usaha untuk mencari subtansi dari agama. Tidak jarang, seseorang harus merelakan nyawanya melayang hanya karena perbedaan-perbedaan yang sifatnya fisikal.

Seseorang yang berbeda agama dianggap sebuah kesesatan, kafir dibunuh. Saya yakin, bahwa Tuhan seluruh agama tidak akan menghendaki adanya pertumpahan darah dan peperangan di bumi ini. Tuhan begitu dekat dengan kita, aqrabu min hablil warid.

Sumber: Duta Masyarakat

Iklan

One thought on “Dari Dialog Agama-Agama Menuju Globalisasi Agama”

  1. globalisasi agama itu semacam “global etik” Kung kah?

    pendekatan yang lebih cocok, menurutku, ketimbang menyamakan teologis–yang ini memang sulit diterima berbagai agama; juga intern agama itu sendiri–ialah pertemuan langsung di dunia riil. tentang kemiskinan, perihal bencana, mengenai problem kemanusiaan. itu, agama untuk membumi. di situ, semua yang berbeda berbagi bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s