Agama dan Revolusi Sosial-Teologis


Berbagai macam konflik dan pertentangan yang mewarnai sejarah dunia merupakan hasil dialektika manusia sebagai manusia yang selalu berkonflik, homo homini lupus. Tetapi kadangkala konflik itu menyebabkan disharmonis dan kekerasan antar sesama yang tak ketulungan. Berbagai konflik yang terjadi di dunia ini, tidak jarang menelan banyak korban. Dan, konflik tersebut seringkali bermotifkan agama. Agama menjadi salah satu penyulut munculnya konflik.  Pertanyaannya adalah benarkah agama sebagai penyebab konflik (problem maker)?. Tidakkah agama hanyalah dijadikan alat kepentingan oleh sekelompok orang untuk memuluskan kepentingan tertentu. Atau, agama telah direduksi dari nilai subtantifnya, sehingga agama tidak bisa menghentikan adanya konflik? Atau mungkin agama sudah tidak relevan lagi untuk mengakomodir kepentingan manusia, sehingga agama harus dikesampingkan.

Semua agama muncul dengan dua tujuan fundamental, yaitu; sebagai revolusi teologis, dan sebagai revolusi sosiologis. Revolusi teologis mengandaikan adanya perubahan dasar-dasar kepercayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teologi yang seringkali dijadikan sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara revolusi sosiologis adalah upaya pembongkaran terhadap konstruksi sosial, sistem sosial diskriminatif dan patologis yang dilakukan oleh masyarakat.

Islam, misalnya, berupaya keras untuk menggantikan sistem sosial-kepercayaan yang ada di Arab pada masa Jahiliyah. Hal ini dilakukan karena sistem sosial-keagamaan sudah tidak dapat memberikan konstribusi perdamaian teologis dan sosiologis, bahkan justru telah menyesatkan keimanan dan menyengsarakan kehidupan rakyat saat itu. Kehadiran agama semitik (abrahamic religions) dengan keberpihakannya terhadap kaum tertindas (al-mustadh’afiyn) mendapat sambutan hangat disatu pihak dan mendapat tantangan dari kaum elitis (penguasa, Quraish) yang merasa dirinya akan tersingkirkan dipihak yang lain.

Hal diatas menunjukkan bahwa apa yang diungkapkan oleh Karen Amstrong, agama pada dasarnya bersifat pragmatik. Artinya, agama akan digandrungi oleh manuisa dan selalu menemukan signifikansinya manakala terbukti secara riil memiliki nilai guna bagi manuisa. Ketika agama sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan manusia, seketika agama digugat dan ditinggalkan. Sehingga, tidak heran pada zaman modern agama mendapat tantangan yang sangat kompleks. Disamping peran fitalnya telah digantikan bahkan dirusak oleh kebudayaan modern, globalisasi dan modernisasi, agama juga telah dikecam tidak sesuai dengan nilai positivistik dan cenderung mengkonstruk sikap konservatif, tidak rasional untuk mengatasi problem kemanusiaan. Berbagai kecaman dan lontaran propagandis yang bersifat kontradiktif telah menyebar untuk meruntuhkan agama. Agama sudah tidak bisa menunjukkan perannya sebagai petunjuk teologis dan ketentraman sosial, namun jusrtu agama menjadi katalisator menjamurnya sebuah konflik.

Humanisme Agama

Pada dasarnya, konflik yang berbau agama itu muncul karena titik lemah dari agama itu sendiri yang seringkali tidak kita menyadarinya. Yaitu, relevansinya dalam menghadapi tantangan zaman. Titik lemah itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Karen Amstrong bahwa agama tidak mempunyai obyektifitas tentang konsep ketuhanan. Karena setiap genarasi akan mempunyai konsep tersendiri tentang Tuhannya. Tantangan zaman dan problem sosial yang bermunculan menuntut agama untuk selalu melakukan metamorfosa bentuk dan lebih fleksibel. Agama ditafsirkan dalam lanscape sistem sosial yang mengitarinya. Agama yang tidak sesuai dengan zaman atau bahkan yang menghambat laju perkembangan zaman akan digantikan oleh agama yang lebih produktif dan akomodatif.

Zaman modern dengan teknologi yang canggih hampir mengalahkan kecanggihan Tuhan. Tuhan bagi masyarakat modern benar-benar dienyahkan, seakan tidak punyai nilai guna bagi perkembangan manusia. Spiritualisme dan agama, baginya, tidak lebih dari semacam konservativme, pengekangan intelektual dan semacamnya. Berbagai label negatif ditujukan kepada agama. Semua hal yang bersifat destruktif, terorisme, anarkisme selalu dikaitkan dengan agama. Agama telah menjadi biang kerok dari segala persoalan kemanusiaan.

Menganalisa dari alur pemikiran diatas merupakan suatu yang sangat urgen untuk mengkonstruk agama humanis yang sarat pesan moral perdamaian. Sebuah agama yang dapat mengatasi problem kontemporer dengan tidak menjadikannya sebagai sumber konflik kemanuisaan. Agama dengan model seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru. Ayat-ayat yang terkandung dalam al-Qur’an, Taurat, Injil, Zabur sebenarnya menunjukkan akan hal itu. Kita telah diajarakan oleh beberapa kitab suci dan hati nurani kita untuk berbuat baik kepada sesama, membangun hubungan harmonis. Yesus misalnya mengajarkan dengan Cinta-Kasihnya, Muhammad dengan Cinta-semestanya (rahmatan lil ‘alamin).

Kendatipun demikian pada tataran praksis mungkin hal ini sangat miskin kita kenal. Seseorang tidak jarang menangkap ajaran-ajaran Tuhan yang ada dalam kitab suci dengan penuh kekerasan. Agama dipahami sebagai sekumpulan ajaran kekerasan yang harus diterapkan kepada obyeknya (manusia). Tuhan diibaratkan dengan raksasa yang disampingnya terdapat sebuah neraka dimana Dia akan menyiksa setiap manusia yang melanggar ajaran Tuhan. Para malaikat laksana algojo yang dipersiapkan Tuhan untuk memusnahkan manusia.

Ajaran-ajaran semacam itu sebenarnya perlu diganti dengan ajaran-ajaran yang lebih humanis dan santun. Tuhan bukankah sesuatu (dzat) yang sangar dan menakutkan. Tuhan adalah dzat yang menggembirakan dan menyenangkan. Taqwa yang diartikan dengan “takut” merupakan implikasi dari penggambaran Tuhan yang keras, sehingga ia harus ditakuti, bukan didekati. Akibatnya seringkali seseorang beribadah bukan karena ketulusan kepada Tuhan melainkan karena rasa takut akan siksa yang dipersiapkanNya. Ketika rasa takut itu sudah hilang dalam alam pikiran manusia dan muncul keberanian, tidak jarang seseorang meninggalkan segala ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan.

Jika bayangan kita tentang Tuhan penuh dengan kesenangan, lemah-lembut, penuh dengan cinta-kasih, maka manusia akan merasa perlu berdekat-dekat, bercumbu dengan Tuhan. Beribadah tidak lagi didasari oleh karena rasa takut, melainkan keinginan untuk bertemu-mesra, sehingga hati, psikologi manusia menjadi tenang (muthmainnul qulub). Wallahu A’lam [Hatim Gazali]

Sumber: Duta Masyarakat, 29/07/2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s