Ikhtiar Dialog Agama-Agama


Diskursus dialog dan kerja sama agama-agama selalu menemukan momentumnya dalam konteks ke-Indonesia-an. Hal ini disebabkan karena masih dijumpainya konflik horizontal yang bermuatan agama. Konflik agama di Aceh, Ambon, Poso, Tasikmalaya, Situbondo dan di beberapa daerah lainnya khususnya lima tahun terakhir ini merupakan potret dari keberagamaan bangsa Indonesia. Keberadaan agama-agama masih menjadi salah satu problem tersendiri bagi manusia. Sebuah pluralitas agama seakan menjadi ancaman dan tantangan untuk live together di antara masing-masing agama.  Memang, secara normatif semua agama mempunyai tujuan yang sama. Ia sama-sama hendak mencari keselamatan dan kebenaran (salvation and truth) di jalan Tuhan. Setiap agama sama-sama mengejar – meminjam istilahnya Joachim Wach – the ultimate reality atau sensus numinous (istilahnya Rodolf Otto). Agama sejatinya menjadi problem solving atas segala persoalan yang dihadapi manusia. Sebab, agama dilahirkan untuk kesejahteraan dan memanusiakan manusia (to humanize human being). Robert N. Bellah menyebutkan bahwa agama diturunkan sebagai sarana ilahiyah untuk memahami dunia.

Agama turun untuk manusia, bukan untuk Tuhan, sehingga agama harus memihak kepada manusia sebagai homo religius. Namun cita-cita luhur agama tersebut tidak selalu sama (macth) dengan kenyataan di lapangan. Tidak jarang agama sebagai penyulut munculnya kerusuhan, penindasan, pengrusakan tempat ibadah, alat provokasi massa, tameng mempertahankan kekuasaan, eksploitasi dan bentuk kekerasan lainnya.

Fenomena semacam ini tidak bisa dibiarkan larut begitu saja, tanpa ada respon serta upaya untuk mendamaikan dan menyelesaikan konflik dari berbagai kalangan, khususnya pemerintah dan agamawan. Sebab, hidup damai antar agama merupakan salah satu prasyarat bagi terciptanya masyarakat yang berperadaban (tamaddun). Maka dari itu, dialog dan kerja sama dari masing masing agama adalah suatu keniscayaan. Sebab, pluralitas agama adalah hukum alam, muncul sebagai konsekwensi logis dari hasil interpretasi manusia terhadap kehendak Tuhan. Hanya saja yang menjadi perbedaan di antaranya adalah hanya pada aspek ritual-formalistiknya. Islam pergi ke Masjid, Kristen ke Gereja Hindu ke Pura dan lain sebagainya.

Sekalipun demikian, truth claim dan salvation claim setiap agama selalu mengemuka manakala berhadapan dengan agama lain (other religions). Seseorang cenderung membenarkan dan yakin agamanya yang paling benar, sementara agama lain adalah salah sama sekali. Sikap eksklusivisme keberagamaan semacam ini seakan menjadi kewajiban agama bagi setiap penganutnya sebagai upaya mempertahankan kebenaran agamanya. Sebagian orang Islam tentu akan berapologi dan apatis dalam memandang keberadaan agama lain. Bahkan, tidak jarang konsep jihad yang hanya dimaknai al-qital bil-shaif (berperang dengan pedang), dan amar ma’ruf nahy munkar menjadi alasan untuk menyerang non-Muslim yang diyakininya sebagai kuffar, orang-orang kafir.

Padahal, agama turun tidak dalam ruang hampa, tanpa peradaban manusia. Agama diturunkan dalam aneka spektrum sosiologis, antropologis tertentu, turun dalam nuansa yang serba manusiawi. Sebab antara teks dan realitas (konteks) senantiasa berdialektika secara terus-menerus. Misalnya Islam dengan tempat turunnya di Arab (Mekkah dan Madinah), Hindu dengan India dan lain sebagainya. Maka dari itu aspek historisitas dari agama tidak bisa dipandang sebelah mata. Agama senantiasa menyejarah, dinamis. Clifford Geertz menyebutkan bahwa agama mencakup dua aspek; aspek model untuk (model for) dan model mengenai (model of). Model for ini bersifat abstrak yang berhubungan dogma, teori dan doktrin. Sementara model of bersifat kongkrit yang berkaitan dengan realitas sosial, struktur sosial. Kedua aspek tersebut (normativitas dan historisitasnya) harus berjalan sejajar.

Dengan demikian, agama itu relatif, sesuai dengan tafsir manusia atas firman Tuhan, tidak absolut. Keterkaitan manusia atas penafsiran agama meniscayakan adanya multi persepsi tentangnya. Saya (Allah) tergantung pada perspepsi hambaKu, kata Allah dalam salah satu Hadist Qudsinya. Paul F. Knitter mengatakan bahwa agama sebagai jalan adalah relatif. Masing-masing tafsir atas agama Tuhan itu pun juga relatif, sehingga adanyat truth claim dan salvation claim dan konflik agama bisa diminimalisir. Sebab, salah satu penyebab munculnya konflik agama adalah karena saling menuduh salah dan sesat atas agama lain yang pada gilirannya akan memeranginya sebagai tindakan menumpas kejahatan, kriminal (evil) yang menjadi anjuran setiap agama.

Agama ibaratnya air. Ia mempunyai satu sumber, namun aspek-aspeknya cukup beragam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hazrat Inayat Khan (1882-1927) bahwa kebenaran subtansial dari agama itu satu, tetapi aspek-aspeknya berbeda. Agama-agama ini merupakan terjemahan atas ide Tuhan, sehingga sangat naif sekali suatu agama menyalahkan agama lainnya, apalagi berperang. Adanya kesadaran penganut agama akan relativitas kebenaran agama ini mengandaikan adanya absolutisme kebenaran agama pada alam transendentalnya, kesatuan transendental agama yang sama (the transcendent unity of religion). Pada aspek esoterik (istilahnya Huston Smith) transenden (istilahnya Sayyed Hosein Nasr) titik temu agama-agama, tidak pada aspek eksoteriknya.

Kemudian, perlunya dekonstruksi dan merekonstruksi ajaran-ajaran, teologi ekslusif, rigid, kaku kepada ajaran yang inklusif, toleran, humanis dan rasional merupakan salah satu upaya terealisasinya dialog agama-agama. Sebab, ajaran yang eksklusif tersebut akan menghambat terjalinnya dialog di antara pluralitas agama. Dari sini kita perlu reinterpretasi sekaligus mereformulasikan teologi inklusif yang siap berdialog dengan perubahan zaman.

Pemikir Islam modern asal Pakistan, Fazlur Rahman pernah mengatakan bahwa Islam tidak akan mengalami kemajuan jika isi syariah tidak ditinjau ulang. Fiqih klasik yang pernah dirumuskan oleh kalangan ulama masa lalu, tentu harus dirombak dan kemudian dibangun kembali sesuai dengan semangat zaman kekinian. Di sinilah letaknya tagayyur Al-ahkam bi Al-tagyyur Al-azminati wa Al-amkaniyah (berubahnya hukum tergantung perubahan zaman dan tempat).Wal-hasil, tujuan dari dialog agama-agama bukan hanya ko-eksistensi secara damai akan tetapi juga pro-eksistensi antar masing-masing penganut agama. Agama dengan misi humanisme-profetiknya harus benar-benar terinternasilasi dalam setiap agamawan. Sebab, setiap agama menganjurkan umatnya untuk berbuat baik, dan meninggalkan segala bentuk kejahatan. Tak satu agama pun yang menganjurkan manusia untuk bertindak sewenang-wenang, tanpa aturan apapun.

Karena relativitas kebenaran agama inilah, sebuah dialog dan kerja sama agama-agama tidak hanya menjadi sebuah impian belaka, tetapi menjadi sebuah kenyataan. Semoga!

Sumber: Duta Masyarakat, 18/Sept/2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s