Membangun Fiqih Agama-Agama


Fikih Lintas Agama; Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralistik
Nurcholish Madjid, dkk
Paramadina, 2003
274 hlm 

FIKIH  sebagai sandaran dalam berprilaku yang paling mendasar seringkali hadir dengan eksklsif, rigid. Mereka menyandarkan perilakunya pada hukum halal-haram. Fiqih klasik lebih banyak menyuguhkan sebuah format fiqih yang menolak adanya agama-agama. Agama-agama dalam perspektif fiqih dikategorikan sebagai kafir, ahl kitab, musyrik dan beberapa label negatif lainnya. Padahal, masyarakat Indonesia masih tergolong fiqih oriented.

Pada umumnya, fiqih yang diajarkan di sekolah-sekolah, pesantren tidak lebih dari sekedar membaca produk ulama klasik. Mereka tidak lebih dari sekedar reproduksi pandangan klasik tanpa memproduksi sebuah pandangan alternatif yang sesuai dengan konteks kekinian. Padahal, konteks sosial dimana fiqih klasik dibukukan dan dibakukan sudah berbeda jauh dari konstruksi sosial-budaya saat ini. Karena itulah, fiqih yang klasik ketika berhadapan dengan konteks sekarang menjadi “bungkam”.Salah satu bentuk kebungkaman fiqih adalah tentang agama-agama, pluralisme. Dalam banyak kasus, fiqih masih menomorduakan agama lain. Konsep kufr, ahl kitab, musyrik seringkali dinisbatkan kepada kelompok diluar islam (outsider). Jika diteliti secara mendalam, maka kehadiran fiqih yang sedemikian eksklusif, rigid ini bukanlah hal yang aneh. Ada banyak persolan yang sangat mendasar. Pertama, fiqih sengaja ditulis dalam masa yang mana hubungan antara Muslim dan non-Muslim tidak begitu kondusif. Nasr Hamid Abu Zaid, menyatakan bahwa kitab-kitab klasik, baik ilmu-ilmu al-Qur’an dan ilmu-ilmu fiqih ditulis dalam sebuah zaman yang mana umat islam sedang dalam menghadapi perang Salib, sehingga diperlukan upaya strategis untuk mempertahankan identitas umat islam.Kedua, fiqih ditulis dalam situasi internal umat islam yang tidak begitu solid, sehingga sangat mungkin penguasa menjadikan fiqih sebagai alat untuk membujuk masyarakat, sehingga para ulama saat itu mendesain fiqih yang seolah-olah memberikan perhatian kepada orang islam dan menolak kehadiran non-muslim. Cara pandang seperti ini dapat memikat umat islam, dikarenakan sikap bangsa-bangsa non-muslim terhadap islam yang cenderung hegemonik dan kolonialistik. Ketiga, adanya simbol-simbol keagamaan yang secara implisit menganjurkan sikap keras terhadap agama lain seperti ayat 120 Surat al-Baqarah dan beberapa ayat-ayat lainnya (hal 142-144)

***

Setelah teologi inklusif, pluralis ramai diperbincangan di belantika Nusantara ini, kini, fiqih mendapat giliran. Beberapa intelektual di PARAMADINA mulai menyuguhkan sebuah formulasi fiqih yang berprespektif pluralisme-inklusivisme terhadap agama-agama. Memang harus diakui bahwa teologi inklusif-pluralis sangatlah tidak memadai tanpa menghadirkan fiqih yang inklusif-pluralis pula. Sebab, fiqih dijadikan sandaran dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan sangat menyentuh realitas sosial. Apalagi, mengingat bangsa Indonesia masih cenderung fiqih oriented.

Buku yang bertajuk Fiqih Lintas Agama; Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis ini merupakan hasil pertemuan dan diskusi-diskusi untuk memikirkan ulang keberadaan fiqih di tengah perkembangan yang senantiasa meminta etika dan paradigma baru. Dan sebelum meluncur kehadapan pembaca, masing-masing bab dari buku ini sudah dipresentasikan di Hotel Kemang Jakarta dihadapan para akademisi, intelektual muda dari pelbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda mulai dari hukum islam, sosiologi, filsafat, tasawuf, teologi, sejarah, gender, dan ushul fiqih. Tak kurang dari 20 akademisi telah mengapresiasi secara kritis. Pelbagai kritik tajampun menghunjam mulai dari metodologi sampai pada pilihan tema.

Secara umum, buku ini hendak menegaskan dua hal. Pertama, pluralisme, hubungan antar agama bukan semata-mata persoalan teologis, tetapi juga problem fiqih. Istilah teologi inklusif, teologi pluralis dan sejenisnya sudah tidak asing lagi ditelinga kita, namun ketika mendengar istilah fiqih lintas agama, suasana batin menjadi terhenyak dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah fiqih yang hanya dimiliki oleh islam bisa berlaku bagi semua agama-agama yang secara teologis jauh berbeda ?. Begitulah pemahaman sementara ketika melihat judul buku tersebut. Namun, saat lembaran-lembarannya dibuka, ternyata fiqih lintas agama adalah sebuah fiqih yang berbicara tentang hubungan antar agama, khususnya islam dengan agama lain.

Kedua, dengan pendekatan fiqih, wacana pluralisme tidak lagi mengawang diatas “langit-langit” teologi, tetapi lebih kearah praksis. Karena itulah, buku ini bisa menjadi salah satu jawaban atas kegelisahan banyak orang tentang melangitnya nilai-nilai inklusivisme dalam islam. Tentu saja, fiqih inklusif mengandaikan adanya teologi inklusif pula. Sebab, hanya pada teologi inklusiflah sebuha fiqih inklusif bisa dirumuskan.

Karena itulah, buku ini menjadi sangat penting sebagai landasan awal untuk merumuskan dan berbincang lebih jauh perihal fiqih lintas agama. Sudah saatnya fiqih peduli dan menghargai adanya pluralitas agama ini agar bisa tetap survive disepanjang masa.

Namun demikian, buku ini cenderung tidak gentle ketika menghadapi ayat-ayat al-Qur’an yang secara eksplisit menolak adanya pluralisme. Penulis-penulis buku cenderung mencomot sebagian ayat a-Qur’an dan menolak sebagian yang lainnya. Disinilah, sebenarnya yang harus jadi perhatian dan catatan kecil bagi pembaca juga kepada penulis buku ini. Wallahu ‘A’lam [Hatim Gazali]

Sumber: Suara Pembaruan, 18/01/2004

One thought on “Membangun Fiqih Agama-Agama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s