Dari Konflik ke Dialog Peradaban


Telah menjadi kesepakatan bersama bahwa konstruksi dunia tidaklah uniform. Berbagai agama, etnis, ras, bahasa, suku, budaya merupakan salah satu ciri yang melekat padanya. Adanya kepelbagaian ini setidaknya menjadi pendorong untuk melakukan kerja sama. Sebab, kondisi tertentu yang uniform pada biasanya mengalami stagnasi. Akan tetapi, berbeda dengan yang sebenarnya. Alih-alih melakukan kerja sama, malah pluralisme ini memunculkan konflik yang berkepanjangan dan menelan korban yang tidak sedikit. Agama yang sejatinya menempati posisi garda terdepan untuk perdamaian dunia, memanusiakan manusia, membangun kesadaran, membebaskan, mencerahkan sekaligus mentransendensikan tindakan-tindakan manusia, justru menjadi salah satu penyulut muculnya konflik sosial. Pada satu sisi agama mengajarkan kebaikan, perdamaian, tapi pada sisi yang lain agama juga merupakan sumber konflik sosial yang amat kejam dan berkepanjangan.

Para pemimpin dan penganut agama saling menghasut dan menyerang, saling membenci dan xenophobia yang kerap mengilhami mereka untuk melakukan kekerasan, dan pada gilirannya meledaklah konflik antar (penganut) agama. Bahkan, seringkali agama disalahgunakan, dijadikan alat untuk melegimitimasi kekerasan, melanggengkan kedikatatoran, termasuk demi “perang suci” (holy war).

Sederatan catatan konflik dalam sejarah manusia, menurut Samuel P. Huntington, masih akan terus berlanjut sampai sekarang. Huntington menegaskan bahwa konflik dimasa yang akan datang tidak lagi berupa konflik ideologi, ekonomi, melainkan benturan peradaban (Clash Of Civilization). Ada delapan peradaban dunia masa kini, yaitu: Barat, Kongfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Dari delapan peradaban ini, ia memprediksikan bahwa yang akan mengalami clash adalah antara Barat dengan non-Barat, khususnya Islam-konfusius.

Untuk yang pertama, Hans Kung, teolog Kristen terkemuka mengusulkan perlunya etika global. Baginya, etika global tidak berusaha membuat etika spesifik yang membuat agama dan filsafat tidak berguna. Bukan sebuah ideologi atau superstruktur baru. Bukan sebagai pengganti Taurat, Khotbah di atas Bukit, al-Qur’an, Bhagavad Gita, Khotbah Sang Buddha atau sabda-sabda Konfusius. Tidak hendak memunculkan sebuah budaya global.Etika global adalah sebuah etika dunia, yang tak lain adalah kebutuhan minimum akan nilai, kriteria dan sikap dasar yang sama.

Artinya, sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat, kriteria yang tak terbatalkan, dan sikap dasar yang dikokohkan oleh semua agama meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dogmatis dan sesungguhnya dapat juga disumbangkan oleh kaum non-beriman (Hans Kung, 2002, halaman 159).

Etika global lebih sebagai sebuah konsensus fundamental yang memadukan nilai-nilai standar dan sikap-sikap mutlak. Tanpa konsensus etika dasar seperti itu, setiap komunitas lambat laun akan terancam oleh chaos atau kediktatoran.Perbandingan Agama

Untuk itu, ada empat kriteria formal yang harus dipenuhi dalam merumuskan etika global.Pertama, harus terkait dengan realitas. Dunia harus dipandang secara realistis, sebagaimana adanya, dan bukan hanya seharusnya.

Kedua, harus menembus ke tingkat etika yang lebih dalam, tingkat nilai-nilai yang mengikat, kriteria yang tak terbantahkan dan sikap dasar yang bathin. Ketiga, harus dapat dipahami secara umum: argumen teknis dan jargon akademis, apapun asalnya, harus dihindari. Segala sesuatu harus diungkapkan dalam bahasa yang setidak-tidaknya dapat dipahami oleh pembaca surat kabar awam dan dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Empat, etika global dapat menjamin sebuah konsensus: harus diusahakan kebulatan moral dan tidak hanya kebulatan bilangan. Maka, harus dihindari pernyataan yang secara a priori ditolak oleh tradisi, etika atau agama tertentu. (Hans Kung, 2002 halaman 181-182).

Jawaban yang kedua yang ditawarkan Hans Kung adalah kajian perbandingan agama. Dengan demikian, ilmu perbandingan agama menjadi lini strategis untuk membantu terwujudnya suatu konsensus etika bersama.

Ilmu perbandingan agama diharapkan dapat membantu perdamaian dunia melalui dialog antar agama untuk menemukan common concern dan komitmen bersama. Hanya melalui komitmen bersamalah disintergasi bangsa dapat ditanggulangi.

Akan tetapi, comparative religion atau Historical Phenomenology Of Religion atau apapun namanya sangat mungkin terjerumus kedalam competitive religion (persaingan agama), jika studi perbandingan agama semata didorong oleh maksud keperluan dakwah atau misi. Jangankan mendamaikan agama, justru akan memperakut konflik antar agama.Untuk menghindari hal ini, perlu diupayakan saling pengertian dan saling mengapresiasi tentang titik lemah masing-masing agama. Kekhawatiran ini muncul karena sebagian literatur tentang studi perbandingan agama kerapkali dipengaruhi kepercayaan penulisnya sendiri yang menjebak buku tersebut menjadi sekadar studi yang sifatnya normatif. Perbandingan agama juga bukan untuk memihak salah satu agama.

Djam’annuri (1998) membagi dua pengertian perbandingan agama. Pertama, secara sempit. Yaitu salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha membandingkan (to compare) suatu agama dengan agama-agama lain, baik dari segi asal usul, struktur, ataupun karakteristiknya, untuk menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan serta hubungan antara agama yang satu dengan agama lain.

Kedua, dalam pengertian luas, merupakan salah satu kegiatan keilmuan mempelajari agama-agama yang berbeda-beda dengan agama sendiri dalam usaha untuk memahami agama-agama dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia serta mempergunakan pengetahuan dan pemahaman tadi untuk menciptakan kesejahteraan bersama umat manusia.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0505/26/opi01.html

2 thoughts on “Dari Konflik ke Dialog Peradaban”

  1. Secara umum ilmu perbandingan agama menurut Drs.K.H Hasbullah Bakri mengartikan ilmu perbandingan agama dengan suatu pengetahuan tentang agama-agama.
    dan menurut Prof.Dr.H.A Mukti ali memberikan pengertian ilmu perbandingan agama seperti berikut:
    “Suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk mengetahui gejala-gejala (phenomena-phenomena) keagamaan dari suatu kepercayaan agama dalam hubungannya dengan agama lain”
    Perbandingan agama termasuk salah satu cabang ilmu dari ilmu agama (science of religion), dan akan dapat berfungsi menurut semestinya apabila di tempatkan dalam hubungan yang seharusnya dengan cabang ilmu agama lainnya seperti: sejarah agama(history of religion) dan filsafat agama (philosophi of religion).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s