Siapa Berhak Menghakimi Aliran Sesat?


Oleh :Sam Abede Pareno

Masalah label “aliran sesat” bukan kali ini saja terjadi, tidak hanya menimpa Al Qiyadah al Islamiyah sebagaimana yang menjadi “berita” di media massa akhir-akhir ini. Tak lama setelah Rasulullah sekaligus khalifah Muhammad SAW wafat, muncul tuduhan “sesat” bagi kelompok yang berbeda paham dengan pemegang otoritas negara dan agama.

Mereka, antara lain, yang disebut Khawarij, yaitu golongan dalam pasukan Ali bin Abi Thalib ra dalam Perang Siffin yang menolak gencatan senjata dengan pasukan Mu’awiyah, sehingga mereka pun menentang Ali dan menganggap diri sebagai golongan yang paling benar. Khawarij yang memisahkan diri dari penguasa tersebut kemudian dianggap sesat.

Golongan lain yang juga dianggap sesat oleh penguasa adalah Syiah, golongan yang semula merupakan kelompok politik yang menghendaki Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, namun kemudian memiliki paham keagamaan yang berbeda dari penguasa (Sunni). Syiah pun menganggap Sunni telah sesat.

Saling menuduh sesat berlanjut pada tahun-tahun ke-120 H ketika Wasil bin Ata’ menentang gurunya, Hasan al Basri. “Wasil telah memisahkan diri dari kita,” demikian komentar sang guru, sehingga kelompok Wasil dinamai mu’tazilah yang berarti “telah memisahkan diri”. Masing-masing menuduh yang lain sesat.

Patut dicatat pula “kesesatan” yang dilakukan Al Halaj di Iraq pada masa Negeri Seribu Satu Malam itu berada di puncak kejayaan di bawah kekuasaan sultan bersama para ulama salaf. “Akulah Tuhan,” kata Al Halaj. Karena itu, untuk menebus “kesesatannya” tersebut, sang sufi harus dibunuh. Sejumlah sufi lainnya yang juga menyoal eksistensi Allah, antara lain, Al Farabi dan Ibnu Arabi.

Kasus Indonesia
Jika pada Syawal 1428 H, bertepatan dengan Oktober 2007, di Indonesia muncul kelompok yang dikategorikan sesat oleh otoritas keagamaan -dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI), aparat penegak hukum, dan beberapa organisasi Islam-, tentu itu merupakan pengulangan sejarah kelompok-kelompok pada masa lalu. Tidak hanya pada masa khulafaur rasyidin (Abubakar, Umar, Usman, Ali), Al Halaj, dan lain-lain, melainkan juga pada awal penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Jawa.

Wali Songo yang diberi wewenang penuh dalam urusan agama oleh Sultan Demak telah memberi label sesat pada seorang wali yang berseberangan paham dengan mereka, yakni Syekh Siti Jenar. Sebaliknya, Syekh Siti Jenar yang meyakini falsafah manunggaling kawula kalawan gusti menganggap Wali Songo berikut Sultan Demak juga sesat.

MUI, kendati tidak persis sama, bagai mengulang Wali Songo, tidak hanya menyeru pada ajaran Islam dan mencegah kemungkaran, melainkan juga bersama instansi terkait lainnya memberi “labeling” sesat atas paham-paham atau aliran keagamaan Islam.

Setidaknya, selama adanya MUI, terdapat sejumlah aliran yang telah dinyatakan sesat. Mulai Inkar Sunnah yang mengabaikan keabsahan semua hadis Nabi, Aliran Pembaru Isa Bugis yang antara lain mengajarkan bahwa Ka’bah adalah kubus berhala yang dikunjungi turis asing setiap tahun, Darul Arqam pimpinan Syekh Ahmad Suhaimi di Malaysia yang mengaku dalam keadaan jaga bertemu Nabi Muhammad SAW, kemudian sang Nabi memberi wirid kepada dirinya.

Label sesat juga diberikan kepada Gerakan Lembaga Kerasulan yang meyakini bahwa Rasulullah Muhammad SAW tetap diutus sampai hari kiamat. Negara Islam Indonesia (NII) Komando Wilayah IX yang menyatakan bahwa Makkah sama dengan Negara Republik Indonesia, tidak menggunakan hukum Islam, warganya kafir. Biar salat, zakat, puasa, tetap saja amalannya dihapus. Gerakan Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul terakhir serta punya kitab suci sendiri bernama Tadzkirah.

Selain itu, label sesat diberikan pada Gerakan Baha’i yang dianggap sempalan Syiah. Kemudian, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang mengajarkan bahwa orang di luar kelompok itu kafir. Juga, Gerakan Syiah di Indonesia, gerakan Lia Aminuddin yang mengaku menerima wahyu, dan sebagainya.

Dampak Pelabelan
Dampak pelabelan yang dibungkus atas nama “fatwa” itu adalah amuk massa terhadap para pemimpin dan pengikut “aliran sesat”, yang berakhir pada penangkapan serta hukuman badan. Islam yang seharusnya menebar damai telah dikotori oleh tangan-tangan umatnya yang kurang memahami ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW.

Kita semua mengetahui metode dakwah Nabi Muhammad bebas dari amuk massa, penangkapan, dan pemenjaraan. Sang Nabi tidak pernah memberi label “sesat” kepada pihak yang mencoba membunuh beliau. Justru, beliau memohon agar Allah membuka mata hati mereka.

Firman Allah dalam Alquran Surat Al Baqarah 256: “Laa ikraaha fid diin” (tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam) dipatuhi sepenuhnya oleh beliau. Sebagaimana diketahui, ayat itu diwahyukan Allah untuk menjawab pertanyaan seseorang kepada Nabi Muhammad SAW. “Saya punya dua anak beragama Nasrani, sedangkan saya muslim. Apakah diperkenankan jika saya memaksa kedua anak itu masuk Islam?” tanya orang tersebut.

Dengan demikian, Islam melarang umatnya untuk main paksa. Pendekatan dalam dakwah Islamiah adalah “persuasif”. Tindakan main hakim sendiri atau membiarkan masyarakat menghajar mereka yang dianggap sesat adalah tidak Islami.

Fatwa tentang kesesatan suatu kelompok -yang tidak melawan dan mengganggu secara fisik- seharusnya disertai anjuran kepada masyarakat untuk tidak anarki, bahkan melindungi mereka yang dianggap sesat itu. “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” demikian terjemahan Alquran Surat An Nahl ayat 125.

*Penulis adalah Ketua Badan Kesenian dan Kebudayaan Kosgoro 1957 Jatim.

Sumber: Indo Pos, Jumat, 02 Nov 2007

2 thoughts on “Siapa Berhak Menghakimi Aliran Sesat?”

  1. Ternyata sampai saat ini kelompok minoritas masih terbatas ruang gereknya bahkan dilarang dan diberikan lebel sesat, begitulah yang sedang terjadi di negeri ini. Mungkin beginilah kondisi negeri yang selalu berharap datangnya perubahan tetapi tidak kunjung datang, akhirnya melampiaskan segala harapan dengan program menyesatkan kelompok minoritas atas nama Islam, padahal itu semua belum tentu benar menurut apa yang dimaksud oleh Islam. Begitulah kira-kira bung Hatim

  2. Tujuan agama adalah membangun jiwa yang tenang dan tentram;”Wahai jiwa yang tenang dan tentram kembalilah kepadaku dengan tentram dan diridhoi”.

    Kembalilah kepadaku banyak yg mengartikan nanti setelah mati, tidak begitu tetapi saat ini, saat masih hidup didunia dan ketentraman tersebut menetap selamanya dalam kondisi atau dalam keadaan apapun, yaitu pada saat mendapat cobaan yang berat ataupun dalam keadaan bahagia.

    Surga adalah ketentraman hati yang telah didapat oleh seorang yang arif

    Dunia adalah tempat untuk membangun sorga

    Bagaimana hati bisa tentram kalau memusuhi atau dimusuhi saudara kita yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s