Beragama di Zaman Eden


Oleh Ahmad Mahromi*

Fenomena keberagamaan di Indonesia akhir-akhir ini dibayangi oleh keresahan teologis, dengan munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai nabi. Yang mengherankan, para pengikut nabi baru ini tidak sedikit, jemaahnya bisa mencapai ribuan orang. Bagaimana menanggapi fenomena ini? Apa yang menjadi latar belakang munculnya nabi baru yang diikuti oleh ribuan anggota jemaahnya ini? Inilah pertanyaan yang sangat krusial dijawab, selain menyalahkan, mengafirkan, dan memfatwakan nabi-nabi baru tersebut. Menarik untuk melihat bagaimana fenomena keberagamaan tersebut dalam kaitannya dengan zaman edan.
“Zaman edan” itu mungkin istilah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ronggowarsito, lewat Serat Centhini, menggambarkan sebuah zaman ketika identitas nilai-nilai jungkir balik, zaman kalabendu, yakni zaman saat orang tidak lagi bisa memahami benar dan salah. Semua nilai bercampur aduk dalam labirin yang membuat orang mengalami kebutaan, buta mata hati, pikiran, nurani, dan mata “indrawi”-nya. Suatu zaman ketika masing-masing orang tak lagi merasa bersalah dengan kebohongan, tak peduli terhadap orang lain. Manusia hidup dalam zaman ini dengan keresahan, kegelisahan, dan ketidakpercayaan satu sama lain.

Dalam zaman globalisasi ini, “keedanan” tersebut termanifestasi dalam semakin rakusnya manusia mencari kesenangan dengan menindas orang lain, dalam hubungan-hubungan manusia yang didasari oleh hubungan kapital. Walaupun sekularisasi banyak ditentang dan dinyatakan salah dalam beberapa hal, sekularisasi sungguh menggerogoti dunia keseharian manusia modern. Dunia kehidupan yang didasari hanya oleh kesenangan dan materialisme.

Walaupun Indonesia tak pernah menjadi negara Islam, sekularisasi menjelma dalam tata kehidupan keseharian manusia yang mengaku beragama. Semua manusia modern kini diselimuti oleh mimpi-mimpi tentang kekayaan dan benda-benda. Para ulama juga berlomba menjemput mimpi ini. Menjadi ulama seakan hanya sarana untuk menjadi kaya. Bukankah para koruptor juga hampir semuanya beragama? Seperti inilah wajah agamawan dalam zaman ini. Agama seakan hanya menjadi sebuah sudut yang sepi, tempat manusia bisa mengadu, meminta maaf, dan memohon pertolongan. Selain itu, semua berlari dan berlomba, menjauh dari norma-norma agama.

Ruang Pelarian
Dalam keadaan seperti itu, sisi psikologis manusia memimpikan “sang juru selamat”. Juru selamat yang bisa membawa manusia ke dalam ketenangan baru, ketika agama-agama yang ada tak mampu memberikannya. Dalam hal ini, terasa benar tesis Feuerbach dalam bukunya, The Essence of Christianity (1881), bahwa agama merupakan proyeksi tentang kesempurnaan dari dimensi-dimensi dasariah manusia. Kenyataannya, manusia adalah makhluk yang serba kekurangan, maka dia merindukan “yang mahasempurna”, tempat dia berharap, berlindung, dan menenangkan diri. Saat itulah manusia membutuhkan agama.

Kenyataan-kenyataan negatif yang ditemukan dalam agama-agama yang ada menarik manusia pada suatu agama baru. Munculnya fenomena agama-agama baru bisa ditarik dalam kacamata ini. Agama baru dan ketertarikan banyak orang terhadapnya tak lain merupakan ketidakpuasan manusia atas kenyataan “buruk” yang dibawa oleh agama-agama sebelumnya.

Seperti kita ketahui, sejarah agama-agama tak pernah luput dari sejarah kekerasan dan perang. Telah banyak korban yang berjatuhan atas nama agama. Terorisme, pengusiran umat beragama minoritas, politisasi agama demi kepentingan sepihak, kemiskinan yang mayoritas dialami oleh agama tertentu, dan tak bisa dilupakan para ahli agama yang kerap kali keluar dari norma-norma agama.

Kenyataan tersebut bisa menimbulkan dua efek negatif. Pertama, sebagian orang enggan beragama. Ini yang menjadi salah satu argumen ateisme. Kedua, sebagian yang lain merindukan dan menciptakan agama baru. Dalam zaman kalabendu, banyak orang kembali mencari kesempurnaan, ketenangan, dan harapan yang lain, yang tidak didapatkan dari agama sebelumnya. Inilah salah satu yang menjadi alasan mengapa agama baru banyak diminati.

Fatwa
Menjawab persoalan tersebut, tentu tak ada cara lain kecuali semua orang yang menganggap dirinya beragama berusaha memulihkan agama dengan menjadikan agama sebagai norma dalam keseharian. Menjadikan agama bukan sekadar ritual, tapi merasukkan norma-norma agama ke jantung kehidupan keseharian manusia.

Pesan-pesan agama, seperti kejujuran, solidaritas, dan perdamaian–tiga hal yang sangat tak diacuhkan oleh kaum agamawan sekarang–harus menjadi pijakan dalam ruang-ruang publik keberagamaan. Umat tentu membutuhkan sikap-sikap keteladanan dari para ulama untuk menjalankan agama mereka. Bagaimana mungkin seseorang mempertahankan agamanya bila ulama yang seharusnya jadi panutan terjerembap dalam pusaran korupsi, egoisme, dan kekayaan duniawi.

Umat membutuhkan solidaritas dalam keberagamaan ketika mereka merasa dirinya terpinggirkan, bukan hanya kitab-kitab yang berisi aturan-aturan wajib dan haram. Mereka membutuhkan kejujuran para ulama dan pemimpinnya, bukan hanya ayat-ayat dan janji-janji yang mereka langgar sendiri. Umat membutuhkan perdamaian, bukan cela kelompok dan teror atas kelompok yang lain. Dalam zaman ini, keberagamaan memerlukan keteladanan, bimbingan, dan solidaritas. Umat membutuhkan hal yang lebih, bukan sekadar fatwa.

Masa depan agama-agama tentu berada dalam ranah ini. Masa depannya bergantung pada perwujudan kedamaian, solidaritas, kejujuran, dan keteladanan dari semua yang mengaku dirinya beragama. Bila akhirnya ulama hanya bisa berfatwa, tak dapat dijamin para pengaku nabi di masa-masa mendatang akan hilang.[]

* Aktivis International Centre for Islam and Pluralism, (ICIP) Jakarta

Sumber: Koran Tempo, Rabu, 14 November 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s