Menyempurnakan Agama Kerakyatan


Tulisan saya di harian Media Indonesia, Membangun Agama Kerakyatan (MI, 5/12/2003) menuai tanggapan yang cukup menarik. Muhammad Ja’far melalui papernya, “Dasar Epistimologi Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 12/12/2003) diupayakan untuk melengkapi beberapa kekurangan dalam tulisan saya. Kajian kritis terhadap tipologi dikotomik antara agama (Al-din) dengan pemikiran keagamaan (Al-afkar Al-diniyah) semakin menguatkan dihadirkan untuk memberikan dasar epistimologis agama kerakyatan.

Sementara, Saidiman, “Landasan Teologis Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 19/12/2003) menyinggung hal-hal yang belum sempat dipaparkan lebih jauh baik oleh saya maupun Muhammad Ja’far. Saidiman mengulas lebih jauh tentang sikap yang diteladankan oleh Yesus Kristus (Isa Al-Masih) dan pasukan Sayyidina Umar sebagai dasar teologis dari Agama Kerakyatan.

Sebenarnya, apa yang dipaparkan oleh kedua penanggap tersebut saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga, agama kerakyatan yang pernah saya usung di harian ini semakin menguat baik secara epistimologis maupun teologis. Kepada keduanya, saya ucapkan terima kasih.

Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan terkait dengan agama kerakyatan. Pertama, agama kerakyatan dihadirkan sebagai salah satu upaya untuk menemukan titik temu (kalimatun sawa’) diantara pluralitas agama. Sebab, sebagaimana diakui oleh banyak orang, semua agama menemukan titik persamaan dari aspek teologis, ajaran dan sebagainya (QS. [2]: 62, [5]: 66). Sikap teladan Yesus dengan cinta kasihnya, Muhammad dengan kasih semestanya (rahmatan li al-‘alamin), Musa dengan perlawanan terhadap otoritarianisme Fir’un memberi pesan yang sama. Sekalipun kurun dan tempat yang berbeda, semua nabi (manusia) menyakini bahwa kehidupan ini harus dibangun dengan perdamaian, ketentraman, harmonis dan toleran. Karena itulah, semua nabi yang baik yang tercatat didalam kitab suci atau yang tidak tercatat benar-benar memberi inspirasi yang luar biasa perihal toleransi dan perdamaian di dunia ini.

Frithjof Schuon melalui karyanya yang sangat monomental, The Transendent Unity of Religion memaparkan beberapa hal yang menjadi titik temu agama-agama. Semua agama pada dasarnya sama, yakni sama-sama mengejar apa yang di sebut dengan The Ultimate Reality. Sementara, yang berbeda diantar agama-agama itu hanyalah pada aspek eksoteriknya.

Jika demikian, maka sangatlah tidak arif jika antar agama saling menyalahkan, disatu pihak, dan mengklaim benar di pihak yang lain. Sikap eksklusivisme, fanatik terhadap agama harus disingkirkan guna membangun persaudaraan sejati diantara umat manusia. Disinilah, pentingnya menafsir ulang ajaran-ajaran agama yang seringkali menjadi hambatan teologis untuk melakukan kerjasama dan dialog agama-agama.

Kedua, agama kerakyatan berupaya untuk mengembalikan cita dan fungsi agama sebagaimana yang digariskan oleh para nabi. Tak ada nabi yang mengajarkan umatnya untuk berperang, saling memusuhi antar sesamanya. Andaikata Yesus hidup bersama Muhammad dalam kurun waktu yang sama, niscaya kedua nabi itu melakukan kerjasama untuk melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan. Begitu pula dengan nabi-nabi yang lain, seperti Yusuf, Ibrahim, Ishak, Daud, Musa, dan sebagainya.

Dengan demikian, ditangan para nabi, agama benar-benar menjadi kekuatan yang revolusioner untuk mengentaskan kemiskinan, menolak segala bentuk kolonialisasi dan sebagainya. Kepada tujuan dan fungsi seperti itulah, agama kerakayatan disandarkan. Yakni, sebuah fomulasi agama yang concern terhadap nasib rakyatnya, tidak saja berwujud pada ajaran-ajaran tekstual dalam kitab suci, tetapi dihadirkan secara praksis dilapangan.

Farid Esack, pemikir islam pluralis dari Afrika dalam karyanya Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression, (London: One World Oxford, 1997) dengan menawarkan kunci-kunci hermeneutika memberikan perspektif baru dalam wacana pluralisme agama yang sejajar dengan teologi pembebasan. Pluralisme merupakan modal awal bagi tumbuhnya gerakan inter-religius yang meneriakkan semangat pembebasan bagi kaum tertindas (al-mustadh’afiyn). Sejarah para nabi adalah lembaran sejarah orang-orang tertindas. Kecuali Musa yang dibesarkan di istana Fir’aun, tapi kemudian berjuang bersama kaum tertindas untuk melawan otoritarianimse Fir’aun.

Ketiga, landasan teologis agama kerakyatan tidak harus berangkat dari satu kitab suci, misalnya Al- Qur’an atau Al-Kitab, tetapi berupaya untuk mendialogkan dan mensinergiskan diantara kitab suci tersebut yang selama ini di sakralkan oleh penganutnya. Dengan mengambil beberapa titik persamaan diantara kitab suci (agama), agama kerakyatan bukanlah untuk mempersatukan agama-agama dalam satu agama. Sebab, disamping tidak mungkin terjadi, juga memberangus keragaman yang dimiliki masing-masing agama. Akan tetapi, agama kerakayatan melampirkan semangat perdamaian, persaudaraan, toleransi, persamaan kepada segenap manusia tanpa memandang perbedaan etnis, budaya, bahasa dan agama dengan berlandaskan agama-agama.

Cyril Glasse menulis Concise Ensyclopedia of Islam mengatakan…the fact one revalation should name others as authentic is an extraordinary event in the history of religions all (……Kenyataan bahwa sebuah wahyu[islam] menyebut wahyu-wahyu yang lain sebagai absah adalah kejadian luar biasa dalam sejarah agama-agama). Hal ini menyiratkan bahwa islam memiliki pesan teologis yang relatif sama dengan agama-agama lain. Bahkan, dalam konsep Ushul Fiqh dikenal istilah Syar’u man Qablana, sebuah konsep yang melegitimasi hukum-hukum, aturan yang berlaku sebelum islam datang dan tetap berlaku hingga saat ini. Dalam konteks inilah Abu Zahro menegaskan bahwa semua syariat (agama) langit (al-syara’iah al-samawiyah) adalah sama.

Keempat, hukum-hukum formal seperti fiqih, kanonik yang bersentuhan langsung dengan realitas masyarakat Indonesia harus menyentuh askpek-aspek agama kerakyatan diatas. Sebab, berada pada fiqih-lah, sistem keberagamaan Indonesia bertumpu, sebab bangsa Indonesia cenderung masih fiqih oreinted. Karena itulah, gagasan Fiqh Lintas Agama dari kelompok Paramadina perlu disambut dengan positif. Meskipun memiliki kelemahan pada aspek metodologis, fiqih yang dirancang oleh Nuscholish Madjid dkk sudah memberi pintu awal kesadaran bangsa Indonesia untuk segera menerima agama lain, tidak hanya pada aspek teologis, tetapi juga pada konteks hukum formal, fiqih.

Akhirnya, agama kerakyatan yang kita gagas ini memberikan perspektif yang berbeda dengan konstruksi agama yang selama ini digeluti oleh bangsa Indonesia. Yakni sebuah sistem keberagamaan yang melangit, eksklusif, monolitik dan status qou. Wallahu ‘alam

Sumber: Media Indonesia, 26/12/2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s