Perebutan Kebenaran Agama


Mereka yang dinilai kafir, syirik, murtad dsb-pun sebenarnya juga hendak berupaya untuk menemukan agama. Mereka memahami bahwa proses penafsiran terhadap agama yang telah ditinggal oleh pendirinya merupakan sebuah keniscayaan guna menemukan kontekstualisasi dan kebermaknaan agama ditengah masyarakat saat ini.  Setiap penganut agama senantiasa menahbiskan dirinya untuk Tuhan dan agamanya. Loyalitas bahkan fanatisme terhadap agama yang diyakininya merupakan sebuah keniscayaan. Akibatnya, agama atau keyakinan yang berbeda tidak dianggap sebagai jalur spiritual yang berkedudukan sama, tetapi diniali sesat dan kafir. Keberagamaan dan keberimanan seseorang tidak lagi dilihat dari kesalehan sosial, tetapi justru kepada wilayah privat-individual. Padahal, menurut John Hick dalam Faith and Knowledge (1957) iman bukanlah penegasan proposisi tertentu yang diwahyukan, tetapi sebagai cara melihat atau menafsirkan sesuatu yang ditemui.

Terdapat sederet catatan nama yang dinilai kafir, syirik, murtad dan lain sebagainya. Diantaranya, Nasr Hamied Abu Zayd, Amina Wadud, Al-Hallaj, Ulil Absar Abdallah dan lain sebagainya. Bahkan, tudingan sesat tidak hanya tertuju pada orang per-orang, tetapi juga keyakinan, dan pemikiran. Laiknya terhadap liberalisme, sekularisme dan pluralisme, Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa berkewajiban untuk mengeluarkan fatwa sesat terhadap keyakinan-keyakinan minoritas yang tumbuh subur di negeri ini. Lia Eden, Ahmadiyah, al-Qiyadah, al-Qur’an Suci dan beberapa aliran lainnya tidak boleh tumbuh di negeri ini.

Dari beberapa kasus diatas dapatlah dipahami bahwa agama seakan hanya milik individu atau golongan tertentu. Mereka yang dinilai kafir, syirik, murtad dsb-pun sebenarnya juga hendak berupaya untuk menemukan agama. Mereka memahami bahwa proses penafsiran terhadap agama yang telah ditinggal oleh pendirinya merupakan sebuah keniscayaan guna menemukan kontekstualisasi dan kebermaknaan agama ditengah masyarakat saat ini.

Sungguhpun demikian, agama menjadi arena perebutan kebenaran. Tapi anehnya, kelompok normatif-fundamentalis sangat ambisius untuk memonopoli kebenaran agama. Dengan serta merta ketika menemukan orang-orang yang tidak sesuai dengan pemahaman agamanya akan mereka nilai sebagai kafir, murtad dan lain sebagainya. Orang lain tak punya hak untuk menafsirkan agama secara bebas dan otonom. Agama yang sejatinya miliki rakyat, kini hanya menjadi monopoli kalangan elit tertentu.

Tak pelak, tafsir atas agama tidak bisa berkembang dengan baik. Kriminalisasi atas sebuah keyakinan telah menjadi potret buruk bagi keberagamaan Indonesia. Sebagaimana Lia Eden dan Ahmadiyah, Al-Qiyadah al-Islamiyah dan aliran al-Qur’an Suci juga mendapat vonis sesat dari MUI. Melalui fatwa yang dikeluarkan oleh sekumpulan ulama tersebut, pemerintah merasa wajib untuk “menertibkan” keyakinan bangsa Indonesia. Monopoli terhadap kebenaran ini telah memenjarakan sejumlah keyakinan-keyakinan baru.

Karena telah mendapat vonis sesat, perlakuan kasar, diskriminasi dan kekerasan terhadap keyakinan minoritas dianggap sebagai pembelaan terhadap agama dan Indonesia. Dengan semangat jihad dan amar ma’ruf nahi munkar, beberapa umat islam telah menjadi hakim kebenaran di muka bumi ini.

Respon yang berlebihan terhadap keyakinan-keyakinan diluar maenstrem mestinya tidak berlebihan. Pasalnya, semakin besar tekanan, diskriminasi dan kekerasan terhadapnya justru mempersubur tumbuhnya keyakinan-keyakinan baru. Dengan kata lain, langkah pemerintah yang cenderung represif terhadap aliran/sekte baru (alternatif?) adalah kebijakan yang kontraproduktif.

Menuju Kebajikan Sosial

Pertengkaran dan perebutan kebenaran agama sudah saatnya kita tinggalkan menuju sebuah zaman dimana kebajikan menjadi esensi dari agama itu sendiri. Agama sebagai teks tidak mungkin berbicara dan menjadi hakim siapa yang benar diantara mereka, ia seiring dengan suara dan pemahaman manusia (al-din la yantiqu, wa innama yatakallamu bihi al-rijal). Kita sudah tidak layak lagi berdebat tentang ketuhanan, akhirat jika korupsi, kemiskinan, pengangguran merajalela dimuka bumi. Sebab, hadirnya agama bukan untuk mendiskusikan tentang eksistensi tuhan dan keselamatan eskatologis, tetapi memberikan pencerahan batin dan sosial setiap manusia.

Sehingga kebenaran agama bukan terletak pada dasar-dasar teologis yang konyol, tetapi justru di uji ditengah-tengah realitas sosial. Karena itulah, kebajikan seseorang menjadi standar universal untuk menentukan apakah orang tersebut beragama atau tidak. Seberapa pun besarnya ibadah kita kepada Tuhan tanpa disertai perbuatan-perbuatan yang bajik dan shalih serta meninggalkan dosa (tark al-ma’ashi), menurut Nabi Muhammad, kelak ia akan menjadi orang yang bangkrut (al-muflis). Pasalnya, seluruh amal ibadahnya selama didunia akan dipertukarkan dengan kejahatan dan kebejatan moralnya. Sehingga, tak ada satu kebaikan yang melekat dalam dirinya. Dalam langgam inilah, dapat dipahami bahwa kekerasan dan terorisme yang dilakukan oleh umat beragama hanya akan menghantarkannya pada kebangkuran yang absolut di hari akhir nanti.

Robert Ackermann (1991) menjelaskan bahwa jika suatu agama kehilangan daya kritisnya dan elan kebajikannya, maka sesungguhnya agama tersebut telah mati. Agama tersebut walaupun dipeluk oleh ribuan dan jutaan manusia, tetapi ia tidak akan pernah membawa manusia pada kesejahteraan dan persaudaraan universal. Sebaliknya, agama semacam itulah yang menjadi antiseden dari fanatisme (al-ta’asshubiyah), ekstrimisme dan fundamentalisme yang dilumuri oleh kekerasan, air mata dan darah.

Jika agama tidak lagi mempersoalkan kebenaran teologisnya masing-masing dan berlomba-lomba dalam kebajikan (QS. 2: 148), maka agama seperti inilah -barangkali-yang disebut AJ Toynbee sebagai agama masa depan. Sebuah agama yang memiliki fungsi the sacred canopy (Peter L. Berger, 1969) atau the modern spirituality (Casanova, 1994). Dalam lanskap itu, agama akan menjadi energi manusia untuk berbuat baik antar sesama, bukan energi untuk berperang antar sesama. Sebab, agama bukan sebagai institusi pelayanan kepada Tuhan per se tanpa melampirkan agenda-agenda sosial. Kebesaran dan keagungan sebuah agama tidak perlu dibangun dengan kekerasan dan permusuhan. Sebaliknya, pertumpahan darah, kekerasan dan peperangan yang seringkali mengatasnamakan Tuhan, justru menodai dan menghina Tuhan sendiri.

ala kulli hal, perebutan kebenaran agama tidak akan membawa kedewasaan dalam beragama, tetapi justru akan melahirkan permusuhan. Dan, berlomba-lomba untuk berbuat baik, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebuah tawaran proposal yang layak kita apresiasi bersama. Untuk itu, kita perlu merubah standar keberagamaan kita, dari ukuran-ukuran ibadah dan keyakinan kepada kebajikan sosial. Dari standar inilah, arah dan masa depan agama ditujukan. [Hatim Gazali]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s