Sakralisasi Agama Berujung Kekerasan

…….agama bukan sekedar menjadi bumbu penyedap konflik, tetapi telah menjadi problem maker yang muncul ditengah-tengah masyarakat….. Beragama selalu melibatkan luapan emosi, egoisme, angan-angan akhirati, dan subyektifitas personal. Karena itulah, agama senantiasa di anggap sakral, keramat dan tak tersentuh oleh manusia. Ini karena agama selalu menawarkan dan mewartakan perihal keselamatan dan kebahagiaan baik saat ini maupun nanti diakhirat. Tak pelak, Janji kebahagiaan yang dikhotbahkan agama itu tak pelak telah menimbulkan fanatisme di tangan para pemeluknya.

Kendati menjanjikan keselamatan kepada pemeluknya agama juga menuntut loyalitas dan militansi dalam beragama. Karena yang sifatnya demikian, agama memuat potensi konflik, dan kekerasan. Sikap fanatisme yang berlebihan telah membawa implikasi bagi keberagamaannya. Orang-orang yang tak sepaham dengannya dengan mudah dituduh sesat, sehingga memeranginya sebagai bentuk menumpas kesesatan dianggap sebuah kewajaran.

Dalam konteks inilah, agama bukan sekedar menjadi bumbu penyedap konflik, tetapi telah menjadi problem maker yang muncul ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor. Pertama, pendewaan agama. Manusia sering terjerumus pada upaya-upaya untuk mendewakan agama. Agama yang pada mulanya datang sebagai sarana (al-wasa`il) untuk mengantarkan umat manusia pada pusat kebahagiaan yang hakiki, maka dalam perkembangannya agama telah menjadi tujuan (al-ghayat) dalam dirinya sendiri. Inilah penyalahgunaan agama yang harus ditolak secara tegas. Padahal, menurut Robert N Bellah, agama yang sejatinya menjadi instrument untuk mengenal Tuhan.

Kedua, pendewaan tokoh agama. Bahwa setiap agama mengenal konsep orang suci, itu memang tidak bisa disangkal. Sejumlah orang yang dianggap suci seperti kiai, paus dan elit agama lainnya seringkali dipahami sebagai orang yang alpa dari kesalahan dan perbuatan dosa. Ironisnya, ketika suatu tindakannya benar-benar menyimpang baik secara hukum ataupun non-hukum acap dilegitimasi sebagai kebenaran juga. Tokoh agama tak lebih dari sekedar teks suci yang turun dari singgasana Tuhan. Bahkan terkadang juga melebihi teks suci agama. Apapun yang dinyatakan oleh tokoh agama diyakini sebagai tafsir atas agama yang kebenarannya mutlak, padahal harus diakui faktor subyektif (politis-ekonomis-budaya) sangat determinan dalam fatwa tokoh agama. Lihat saja, betapa fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang begitu diyakini oleh banyak orang.

Pendewaan ini sebenarnya membaca implikasi negatif yang sangat besar terhadap keberagamaan manusia. Kritisisme dan tafsir atas agamanya –sebagai religious experience seperti sekte-sekte/aliran—sungguh dipangkas. Akibatnya, tafsir menjadi seragam dan harus ditundukkan didepan fatwa seorang tokoh agama yang seringkali di justivikasi oleh pemerintah. Dan pada titik inilah agama akan menjadi sebuah ideologi yang inklusif dan sangat mengerikan. Pada tingakt inilah, Max Weber menyebutnya sebagai hierokrasi dan caesaropapisme.

Ketiga, perbedaan tafsir dalam agama. Agama sebagai bentuk pengalaman subyektif yang sangat unik, tentu masing-masing orang memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda-beda. Dan semua pengalaman itu—apapun bentuknya—adalah absah sebagai upaya pencarian dan medium transendensi diri. Maka sangatlah tidak arif, ketika semua bentuk pengalaman digeneralisasi dan pahami secara monolitik. Adanya kepelbagaian tafsir ini memang penting agar agama tidak berkesan monolitik, statis dan eksklusif. Sehingga, fungsi dan peran agama sebagai medium transoformasi sosial dan transendensi menuju Tuhan bisa tercapai. Sebab, perbedaan tafsir agama merupakan konsekwensi logis dari pengalaman keagamaan (religious experience) dari masing-masing penganut agama. Karena itulah, tidak ada dominasi antara satu tafsir atas tafsir yang lain. Kesemuanya adalah absah, jika ia melampirkan pesan-pesan universal agama.

Keempat, perilaku komunitas agama selalu diidentikkan dengan agama itu sendiri. Padahal, dalam setiap jepitan sekelompok umat beragama selalu saja terdapat anasir subyektifitas, baik yang terang maupun yang sembunyi. Dalam islam, misalnya, perilaku para sahabat dan ulama klasik (salafuna al-shaleh) juga menjadi landasan hukum. Padahal, al-muslim laysa huwa al-isalm dzatuhu (muslim tidak identik dengan islam). Peperangan dilancarkan oleh nabi dan para penerusnya selalu menjadi landasan kuat bagi umat islam untuk melakukan hal yang sama. Dalam sisi yang berbeda, sikap dan tindakan santun yang dicontohkan oleh nabi sangat jarang menjadi alasan bagi keberagamaan umatnya.

Desakralisasi Agama

Karena sakralisasi kerapkali berujung pada fanatisme dan kekerasan agama maka menggeser cara pandang dan keyakinan yang demikian menjadi niscaya. Tradisi pengkafiran plus kekerasan yang muncul didalamnya adalah salah satu akibat dari sakralisasi terhadap agama. Inilah bentuk keberagamaan yang membabi buta. Dalam konteks Indonesia, umat islam masih dalam model ini. Lihat saja reaksi terhadap munculnya Lia Eden dan al-Qiyadah. Dua aliran yang tidak murni islam tetapi juga memiliki konteks Kristian dianggap telah mencoreng aqidah umat islam. Sementara itu, umat Kristen Indonesia tampaknya lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan ini (sekte)

Padahal, agama hadir untuk kemanusiaan (mu’amlah), media perkenalan manusia dengan Tuhan (’ubudiyah). Sementara itu, ajaran dan doktrin yang terkandung didalamnya didasarkan semata-mata berdasarkan pada tujuan diatas. Karena itulah, desakralisasi agama menjadi pilihan yang strategis bagi keberagamaan di Indonesia.

Desakralisasi ini bukan hendak menjauhkan bangsa Indonesia dari nilai-nilai agama. Sebaliknya, desakralisasi mengajak manusia untuk selalu membumikan nilai-nilai agama dalam kehidupan saat ini. Sebab, agama bukanlah arena yang tak tersentuh oleh manusia (untouchable). Melainkan sekumpulan doktrin dan teks yang rasional, hidup dan komunikatif dengan realitas kehidupan ini dengan tujuan untuk kemaslahatan manusia secara universal (li al-mashlati al-‘ammah). Sebuah teks agama senantiasa bungkam dan beridiri secara otonom, sedangkan yang mendendangkannya adalah manusia sebagai pembacanya (al-nash la yanthiqu wa lakin yunthiquhu al-rijal). Pembacaan dan pemahaman terhadap teks agama tersebut tersebut salah satu bentuk desarkralisasi agama.

Jika mengikuti logika ini, maka agama adalah suatu ruang kritis yang tidak pernah lepas dari keterlibatan manusia dalam proses sejarahnya. Everything that exists on eart, however, has come into existence historically, kata Cantwell Smith. Bahwa karena teks sucia telah berada di bumi, maka ia menjadi fakta historis yang “tunduk” pada hukum kesejarahan. Wallahu ‘a’lam [Hatim Gazali]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s