Menyegarkan Elan Humanistik Islam


Islam bukanlah doktrin agama senantiasa menyerukan peperangan, kekerasan terhadap manusia. Lebih dari itu, islam adalah spirit kemanusiaan.  

Berislam bagi sebagian kalangan hanyalah sebuah bacaan syahadat, shalat, puasa, haji dan ritus-ritus lainnya. Padahal, lebih dari itu. Berislam sebagaimana makna generiknya adalah sikap dan tindakan yang membawa perdamaian bagi kehidupan manusia. Inilah pesan dasar Islam yang menaungi seluruh ajaran-ajaran yang dibawanya. Karena itulah, kategori muslim berarti shaleh secara teologis dan sosiologis sekaligus.

Ini penting ditegaskan ditengah maraknya kampanye islam yang hanya bersifat formalistik, tidak subtantif. Ajaran-ajaran islam yang partikular-temporal semakin diyakini sebagai satu-satunya standar keberislaman seseorang. Sementara, standar sosial selalu dikesampingkan. Untuk itulah, al-Qur’an menyebut kafir kepada orang-orang yang tak bisa berterima kasih kepada seluruh karunia-Nya serta tidak beramal shaleh terhadap sesama.

Dalam konteks inilah, Muhammad Imarah menyatakan bahwa islam yang bersumber pada langit pada prinsipnya berorientasi kemanusiaan. Nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, pembebasan selalu mendapat porsi tersebar dalam islam. Bahkan, sejumlah intelektual muslim seperti al-Ghazali, al-Syatibi, al-Thufi dan sebagainya telah menegaskan bahwa seluruh ajaran dalam islam untuk kemaslahatan manusia.

Keberislaman yang cenderung mengenyahkan aspek sosiologis bukan tanpa implikasi yang serius. Tidak sedikit umat islam yang merasa “paling islam” ketika menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah mahdlah. Beribadah kepada tuhan dengan khusyu’ dianggap sudah lepas dari tanggungjawab sosial. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi disekelilingnya.

Kecenderungan islam yang teosentris ini telah menumpulkan elan emansipatif dan liberatif islam. Ditengah kehidupan sosial, islam hanya dijadikan alasan untuk membenarkan dirinya dan mengkafirkan yang lain. Ajaran-ajaran sosial yang demikian membebaskan hanya hanya sekumpulan doktrin yang tak terjamah oleh pemeluknya. Sebaliknya, ajaran-ajaran islam yang bersifat partikular terus menjadi pegangan. Dalam tataran inilah, tradisi saling mengkafirkan (takfir) akan terus berlanjut.

Karena tertuduh sebagai kelompok kafir, maka memerangi dan membunuhnya dianggap sebagai langkah untuk mendapatkan keselamatan eskatologis. Lihat saja bagaimana respon umat islam yang selalu disibukkan dengan pengkafiran terhadap satu kelompok tertentu. Setelah Eden, Ahmadiyah, kini giliran al-Qiyadah yang mendapat vonis sesat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Melalui fatwa itulah, sikap kasar dan memasuhi terhadap satu kelompok mendapat justivikasi. Dalam islam, fatwa lahir sebagai problem solving atas suatu persoalan yang pelik. Ia tidak akan pernah berada pada posisi yang sama dengan al-Qur’an dan Hadist. Disamping sebagai produk manusia, fatwa lahir juga—seringkali—atas tendensi politik dan ideologis tertentu. Karena itulah, ketika ada fatwa yang bertentangan dengan teks dasar islam (al-Qur’an dan Hadist), maka fatwa tersebut harus di-nasakh.

Dan, al-Qur’an sangat hati-hati untuk memvonis sesat terhadap suatu kelompok. Ada tahapan-tahapan yang dianjurkan oleh islam. Pertama-tama adalah mempelajari secara betul tenatng ajaran kelompok tertentu. Kemudian, saling mengingatkan (tawashau bil haq). Jika kedua langkah ini buntu, islam tidak mengambil jalan pintas. Selagi bisa hidup berdampingan, kendati berbeda keyakinan, ia akan selalu dijamin hidup oleh islam. Sebab, hifdz al-nafs merupakan hak dasar manusia (haqqul adami) yang selalu dijunjung tinggi oleh islam. Bukankah Piagam Madinah telah menjadi contoh betapa hidup secara multikultural merupakan cita-cita islam. Melalui Piagam Madinah ini pula Muhammad mendapatkan kemenangan yang luar biasa. Bukan dengan jalan kekerasan, tapi perdamaian.

Akan tetapi, suguhan fakta dan doktrin teologis yang sangat humanistik tersebut belakangan semakin lenyap. Negara juga seringkali ambil bagian (baca: intervensi) dalam agama. Akibatnya, elan transformatif agama tergantikan menjadi semangat untuk menindas dan melakukan pengrusakan. Dalam konteks inilah, kritik dari kalangan critical theory seperti agama menjadi semacam opium of society (Karl Marx), alat hegemoni (A. Gramsci), neurosis (Sigmund Freud), dan lain sebagainya seketika menemukan titik relevansinya.

Jika demikian, menyegarkan semangat transformatif dan liberatif islam menjadi sangat penting dilakukan. Sekurang-kurangnya, ada tiga hal mendasar. Pertama, Islam hadir dengan misi perdamaian dan kemaslahatan, sehingga segala apapun dalam Islam harus didasarkan pada tujuan dari Islam tersebut (dalam bahasanya al-Syatiby disebut maqashid al-syariah). Hukum-hukum Islam seperti fiqh dan bahkan ajaran-ajaran yang ada juga harus berlandaskan pada tujuan semula dari Islam. Sebab, ajaran-ajaran yang ada dalam Al-Qur’an hanyalah merupakan salah satu bentuk untuk memudahkan manusia yang berada dalam lokus tertentu dalam memahmi kehendak Tuhan.

Dengan logika ini dapatlah dipahami bahwa Islam bersifat partikular, interpretable, dan mengenal konteks tertentu, tidak berlaku secara universal. Dan, dialektika antara Islam (sebagai teks) dengan budaya lokal adalah keniscayaan. Sehingga untuk memahami Islam tidak cukup hanya dengan membaca lembaran-lembaran kitab suci tanpa berupaya memahami kondisi sosial-budaya-agama setempat.

Kedua, Islam yang kita pahami bukanlah Islam yang sebenarnya. Islam yang ada sekarang ini merupakan hasil interpretasi atau pemahaman manusia yang berbudaya [Islam in mind]. Tidak ada Islam yang autentik, tanpa ada campur tangan manusia. Karena itu, mengklaim salah terhadap hasil interpretasi orang lain adalah tidak benar. Dan, semua interpretasi tentang Islam adalah absah sejauh tidak melenceng dari maqashid al-syariah yang telah digariskan oleh Tuhan.

Bahkan, hukum-hukum Islam produk masa lalu sudah saatnya dibongkar kembali dan kemudian menyusun hukum baru yang lebih kontekstual. Pembongkaran terhadap hukum-hukum atau ajaran-ajaran Islam harus tetap didasarkan pada nilai-nilai kemanuisaan yang universal. Tanpa melakukan penafsrian ulang, tentu Islam akan ketinggalan zaman dan suatu saat hanya akan menjadi kenangan masa lalu, masuk dalam tumpukan sejarah yang usang.

Ketiga, karena Islam adalah agama manusia, maka segala hal dalam Islam juga harus didasarkan kepada manusia. Selama ini, ketika menghadapi sebuah persoalan banyak diantara para ulama kita yang harus membuka teks keagamaan guna menyelesaikan dan terkadang menghakimi siapa yang benar dan salah. Padahal, teks agama bukanlah kompilasi jawaban atas persoalan manusia secara menyeluruh. Ia juga bukanlah kitab moral semata. Akan tetapi, ia adalah kitab landasan hidup dalam menapaki jalan menuju Allah yang bersifat universal dan holistik.

Ala kulli hal, Islam akan menjadi agama yang senantiasa relevan sepanjang masa (shalihuin li kulli zamanin wa makanin) manakala ditafsirkan dalam lanskap kemanusiaan, sehingga Islam benar-benar menjadi agama manusia, bukan agama Tuhan yang melangit dan tidak peduli dengan persoalan kemanusiaan. Aspek kemanusiaan dalam Islam harus menjadi landasan dalam merumuskan hukum-hukum atau aturan-aturan Islam. Maka, tidak ada jalan lain selain –meminjam bahasa M. Arkoun–rethingking terhadap Islam secara kontekstual dan membumi sesuai dengan semangat zaman yang berkembang. Wallahu A’lam [Hatim Gazali]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s