Potret Keberagamaan Indonesia


Agama yang kita peluk saat ini telah berkembang pesat, tidak lagi sebagaimana pada era Muhammad, Isa al-Masih, Sidharta Gautama dan para pendahulu dan pendirinya. Tantangan dan problem yang dihadapi agama saat ini belum pernah muncul disaat pendiri agama tersebut masih hidup. Maka, rekonstruksi dan memberikan tafsir agama terhadap realitas kekinian merupakan sebuah keniscayaan belaka dalam rangka menghidupkan kembali kebermakaan agama.  

Akan tetapi, ada sebuah pergeseran yang luar biasa dalam memahami dan menangkap makna agama. Konon, agama tidak hanya dijadikan sebagai ritualitas personal dengan Tuhan, tetapi juga mampu memberikan tindakan-tindakan solutif terhadap aneka problem yang dihadapi masyarakat saat itu. Agama memberikan panduan moral dan spiritual untuk melakukan perubahan sosial kearah yang lebih baik.

Sekurang-kurangnya, ada tiga fenomena penting yang harus dicermati bersama. Pertama, agama hanya dipahami sebagai hiburan dan ketenangan. Artinya, agama hanya ditempatkan sebagai pelarian untuk mencari ketenangan, tanpa ada lampiran agenda sosial sedikitpun. Keberagamaan yang demikian inilah yang disebut dengan palliative, yakni keberagamaan yang bisa memberi hiburan jangka pendek, yang sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai religio illicita atau erzats religion (agama palsu).

Dalam konteks itulah, Victor I Tanja pernah mengemukakan di harian Republika (16/Juni, 1993) “seperti yang kita saksikan sekarang ini, para muda-mudi berbondong-bondong beribadah di Mesjid, Gereja, dan Kuil, namun yang mereka cari adalah ketenangan dan kedamaian batin pribadi yang berfungsi sebagai obat penyembuh penyakit ketidakmampuan menghadapi tantangan hidup. Mereka adalah insan muda beragama yang tidak mempunyai tanggungjawab sosial secara mendalam seperti halnya generasi muda di Barat”

Singkatnya, beragama tidak lagi berorientasi pada social change, tetapi semata-mata untuk mencari ketenangan hidup masing-masing individu. Akibatnya, pengkomoditian agama semakin gampang dilakukan oleh kalangan elit. Sebab, orang perorang tidak lagi memperhatikan persoalan agama secara serius. Ia sudah terjebak pada ketenangan yang semu (candu).

Menghadapi hal semacam ini, Ted Peters merekam dengan baik dalam salah satu karyanya, Through the ‘80s: Thingking Globally, Acting Locally (Frank Feather [ed], 1980). Ted Peters menjelaskan bahwa krisis akan mencuat kepermukaan historis saat peradaban kita benar-benar memasuki ketahap era pasca-industri. Saat itu, preokupasi (keasyikan) kita untuk mengkunsumsi sejumlah barang dan jasa akan amat memungkinkan pengkomoditian agama (comoditized religion). Agama tidak lebih sebagai komoditas yang siap diperjualbelikan dipasar-pasar komersial ide-ide yang kadang-kadang membungkus ambisi-ambisi manusia, seperti saat mereka mendirikan tempat perbelanjaan dimana setiap orang bebas memilih apa yang menjadi obsesi dan selaranya. Sehingga, agama sewaktu-waktu dibutuhkan, tapi mungkin pada waktu yang lain dicampakkan, seperti cita rasa dan tingkah para penjaja dipasar (market place) religius.

Kedua, agama diyakini hanya sebagai urusan privat antar manusia dengan tuhan. Karena ia hanya merupakan resepsi atas pengalaman keagamaan masing-masing individu, maka agama hanya diposisikan sebagai persolan privasi manusia. Pandangan semacam ini melupakan agenda dan kerja-kerja sosial yang dimiliki oleh agama. Tetapi, kita tidak perlu memformalkan agama sebagai urusan publik. Misalnya, aturan halal-haram terhadap hal-hal sekuler, undang-undang bagi yang tidak melaksanakan ritual agama dan lain sebagainya.

Sejatinya, dalam beberapa hal agama harus ditempatkan sebagai urusan privasi dan dalam urusan yang lain diposisikan sebagai urusan publik. Ini penting, agar konflik antar/intra agama tidak berkepanjangan dan selanjutnya agama senantiasa melakukan kerja-kerja dan agenda sosial-kemanusiaan. Doktrin-doktrin agama yang memiliki dimensi sosial sangat penting untuk diaktualisasikan dalam kehidupan yang nyata. Sementara, ajaran-ajaran agama yang berkaitan langsung dengan hubungan manusia dengan tuhan adalah wilayah privat. Kita tidak perlu berbondong-bondong pakai surban, berjenggot dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai agama fungsional ditengah-tengah masyarakat kita. Dan, itulah yang diharapkan oleh pada pendiri agama-agama.

Ketiga, hiburan profetik dan bisnis agama. Bagi para penceramah, da’i, agama adalah sesuatu yang bernilai uang. Dengan alasan menyebarkan agama, tidak sedikit para da’i, yang terus mengumpulkan uang dan harta kekayaan lainnya dari para peserta, jama’ah, audience atau pengikut ceramahnya. Semakin kondang dan popular seseorang, maka semakin mahal pula bayarannya. Hampir sedikit dijumpai seorang da’I atau penceramah yang tidak memiliki mobil dan rumah mewah. Karena itulah, agama saat ini menjadi barang dagangan yang sangat laris. Sangat sulit mendatangkan para penceramah tanpa ada honor. Hal ini karena –salah satunya—pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme yang tidak bisa dibendung. Segala hal diukur dengan materi, termasuk agama. Inilah yang penuylis sebut sebagai Hedonisme Agama.

Sementara dipihak audience (jama’ah/pengikut), agama ibaratnya sebuah hiburan sebagaimana konser band, ludurk, teater dan sebagainya. Bedanya, apa yang disampaikan agama adalah sesuatu yang bersumber pada Tuhan dan teologi. Karena itulah, agama sesungguhnya adalah hiburan yang bermuatan profetik-teologis. Disebut demikian, karena nilai-nilai, makna dan pesan sosial agama tidak pernah ter(di)serap oleh pengikutnya. Ia hanyalah tontonan yang layak didengar, dilihat, diapresiasi tanpa perlu mengarungi makna terdalam dari agama. Selepas itu, mereka tetap melaksanakan dehumanisasi dan dosa-dosa sosial lainnya. Karena itulah, kendati banyak penceramah dan seslalu dipenuhi oleh jutaan massa, agama menjadi tak berbungi ditengah realitas sosial.

Padahal, diakui atau tidak, Muhammad tidak pernah mempertontonkan hal demikian. Tetapi, apa yang dilakukan Muhammad justru sebaliknya. Sepanjang hidupnya, Muhammad selalu berupaya untuk mengentaskan kemiskinan, menegakkan keadilan dan memberi contoh yang baik (uswah hasanah) bagi seluruh umat manusia. Saat ini, orang yang pinter dan penceramah agama sangat banyak, tetapi orang yang mampu menampilkan diri sebagai suri tauladan, berdakwah secara tindakan (da’wah bi al-hal) sangatlah minim. Karena itulah, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa format dan maenstrem (ber)agama diatas menyesatkan dan bertentangan dengan pesan dasar agama. Karena itulah kita perlu kembali menyelami makna terdalam agama, tanpa terbius oleh ritual dan orang-orang yang memperjualbelikan agama. Allah dengan tegas menginstruksikan kepada kita agar “Janganlah kamu perjualbelikan ayat-ayatKu dengan harga yang murah” (QS.02;41). Hal ini menunjukkan bahwa penegakan keadilan, kemaslahatan, kemanusiaan tidak bisa dipertukarkan dengan hal-hal remeh seperti kekuasaan, kekayaan, jabatan, egoisme. Wallahu ‘a’lam

One thought on “Potret Keberagamaan Indonesia”

  1. sependapt semuanya bs dikembalikan pada fenomena kedua krnnya berpiaklah pada nilai religiis spiritual dan etistika, niscaya kan kembali pada esensi keberagamaan yg hakiki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s