Bagian IV: Dinamika Mahasiswa


Konon, mahasiswa adalah sosok pahlawan yang selalu membela rakyat dengan aksi-aksi jalanannya. Cukup itukah? Itukah potret mahasiswa. Tentu ada hal lain. Yang saya tulis ini adalah–semoga–menjadi hal lain itu.

Masuk dunia kampus, ibarat sedang memasuki sebuah cakrawala dunia yang sangat luas. Di dalamnya terdapat sejumlah doktor, professor, peneliti, praktisi dan lain sebagainya. Bahkan, tidak sedikit beranggapan bahwa kampus adalah miniatur negara.

Mahasiswa selalu dipandang sebagai sosok revolusioner, berpihak kepada rakyat dan pahlawan. Atribut agent of social change yang disandang mahasiswa barangkali tidaklah berlebihan jika mengintip sejumlah peristiwa sejarah di Nusantara ini. Sejumlah peristiwa seajrah banyak lahir dari rahim mahasiswa. Di penghujung era Orde Baru, mahasiswa memiliki peran yang cukup besar. Ats keringat mahasiswa plus dukungan dari beberapa kalangan, demonstrasi mahasiswa mampu menggulingkan pemerintahan Soeharto yang sangat otoriter.

Akan tetapi, jika masuk ke dalam dunia mahasiswa secara mendalam atribut itu barangkali tidaklah sesakral saat ini. Ditengah upaya untuk mengkritik pemerintah dan melakukan perubahan, beberapa mahasiswa seringkali justru enjoy di club-club malam, narkoba dan lain sebagainya. Diantara segelintir mahasiswa yang melakukan demonstrasi, sebagian besarnya adalah anak mall yang konsumtif. Ditengah kritik terhadap kapitalisme dan neo-liberalisme yang dilancarkan mahasiswa, sebagian besar mahasiswa justru menikmati hasil dan produk kapitalisme itu. Ini adalah dunia mahasiswa yang sebenarnya.

Ketika OSPEK, panitia, fasilitator selalu membakar semangat mahasiswa. Ibarat Bung Karno dan Bung Tomo yang senantiasa teriak lantang menyuarakan kemerdekaan, para mahasiswa juga tak kalah lantang untuk meneriakkan slogan-slogan revolusi. Atas nama rakyat, kakak-kakak senior ternyata mampu membakar jiwa dan semangat mahasiswa, termasuk saya.

Melalui semangat yang dikobarkan oleh kakak-kakak senior, upaya untuk terus bangkit dan melakukan perubahan—sekurang-kurangnya terhadap nasib saya sendiri—terus dilakukan. Keakraban pasca Ospek tahun 2001 terbentuklah FORMASI (Forum Mahasiswa Independen). Forum angkatan 2001 yang diketuai oleh Ali Fauzi (AF) ini, telah memberikan konstribusi pengetahuan yang cukup berarti. Diskusi-diskusi yang diselenggarakan di depan pasca Sarjana UIN dalam setiap sore berlangsung cukup hangat. Masih terekam jelas bagaimana pertarungan gagasan antara Kaesar Abu Hanifah dengan Dian Sulistiwati (PA, 2001). Presentasi Kaesar tentang Karl Marx mendapat sorotan tajam dari Mbak Dian (saya memanggilnya demikian). Bahkan, dengan santun Mbak yang sudah punya anak ini mengirimkan sepucuk surat sebagai tanda protes terhadap materi dan gagasan yang diusung oleh Kaesar. Dengan lembut, Mbak Dian menyuruh Kaesar untuk membaca Syahadat karena dianggap keluar dari Islam. Ini, dalam hemat saya, terjadi karena perbedaan cara pandang. Jika mbak Dian Islamic oriented, maka Kaesar Marxist Oriented. Bagaimana itu bisa dipertemukan.

Saat itu, diskusi FORMASI concern untuk mengkaji tentang tokoh. Saya mendapat jatah untuk presentasi tentang Ahmad Wahib. Ini adalah pengalaman pertama saya presentasi di kalangan yang agak luas, lintas ideologi. Tapi cukup disayangkan, organisasi yang dibentuk untuk angkatan 2001 ini tidak berumur panjang. Kematian FORMASI bukanlah matinya iklim ilmiah di lingkungan kampus. Saat itu, saya selalu menyaksikan sejumlah kelompok diskusi yang dengan tekun mengkaji sejumlah wacana. Setiap sore, setiap pojok-pojok UIN selalu ada segerombolan mahasiswa. Bukan untuk berdemo atau tauran, tetapi semata-mata untuk berdiskusi.

Pengaruh iklim ilmiah yang demikian konfusif ini telah memberikan semangat tersendiri bagi saya. Bersama kawan-kawan, berdirinya kelompok diskusi untuk jurusan Perbandingan Agama angkatan 2001. Bahkan, kelompok diskusi yang tak bernama ini sempat menerbitkan bulletin yang bernama Oksidentalia. Penamaan Oksidentalia bukan tanpa alasan. Ini dalam rangka mengkaji kekayaan khazanah Timur sekaligus membaca Barat, sebagaimana yang diusung oleh Hasan Hanafi. Usulan untuk menerbitkan bulletin ini muncul ketika ngobrol bersama Malik dan Muryana. Ini juga tidak lepas dari semangat untuk terus menulis.

Melihat greget mahasiswa baru yang sudah menerbitkan bulletin itu, BEMJ PA yang saat itu diketuai oleh Mujab (alm—semoga amal ibadahmu diterima disisi-Nya) kebakaran jenggot. Untuk itulah, BEMJ mengundang beberapa mahasiswa baru, termasuk Malik dan Saya, untuk mengelola bulletin BEMJ PA yang bernama (kalau gak salah) PA Post. Saat di forum, saya mulai semangat untuk mengelola bulletin PA. Jika kepada Oksidentalia selalu bermasalah dengan finansial, maka Bulletin baru ini barangkali tidaklah demikian. Tetapi, ajakan BEMJ PA itu direspon secara politis oleh teman-teman. Mereka enggan untuk menggarap serius. Ini karena menganggap BEMJ sebagai lembaga yang tidak mencerdaskan dan hanya memanfaatkan kemampuan mahasiswa baru.

Setelah saya dan Malik tahu bahwa ketua BEMJ PA benar-benar tulus, anggapan terhadap BEMJ mulai berubah. Bagi saya, BEMJ bukan untuk memanipulasi mahasiswa baru tetapi semata-mata memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk berkreasi. Disnilah kemudian saya mulai belajar tentang lembaga kemahasiswaan (student government).

Waktu berjalan sedemikian cepat sampai tibalah Pemilwa. Dan, Malik terpilih menjadi Ketua BEMJ PA, mengalahkan calon dari HMI yang tidak lain teman sekelas, Muryana. Terpilihnya Malik tentu saja membanggakan saya. Ada sebuah cita-cita sejak semester awal yang bisa diwujudkan ketika tampuk kekuasaaan berada ditangan Malik. Malik, Topeq dan Saya pernah memiliki mimpi untuk menyatukan BEMJ PA se Indonesia untuk berbincang tentang wacana-wacana perbandingan Agama sekaligus mendiskusikan tentang masa depan Perbandingan Agama. Dengan modal pas-pas-an, atas kerja keras Malik, Topeq, Zamzami, Sauki, Budi, Salman, Muryana dan lain sebagainya, acara itu berhasil di helat di Jogjakarta dan mampu menghadirkan banyak delegasi baik Jawa ataupun luar Jawa. Disitulah terbentuk Forum Komunikasi Mahasiswa Perbandingan Agama Indonesia (FKMPAI). Ini tentu saja prestasi yang luar biasa. Ditengah keterbatasan dana dan minimnya dukungan dari pihak birokrasi kampus, kerja keras dan keringan Malik, Topeq dkk bisa melangsungkan event yang bertaraf nasional.

Untuk mengembangkan keilmuan bagi Perbandingan Agama, BEMJ PA yang diketui kadernya Malik, Muharris, menerbitkan Journal Religiosa yang berjudul Agama di Era Posmodern. Melalui tema ini, Religiosa hendak menyoal bagaimana eksistensi, posisi dan keberadaan agama di era posmodern. Jika di era Modern, agama cenderung dikesampingkan, lalu bagaimana dengan era posmodern, sebuah era yang konon katanya tak bersepakat dengan modernisme. Journal ini dipublikasikan secara nasional, terutama kepada anggota yang terhimpun dalam FKMPAI.

Tak hanya itu, sebagai langkah untuk mengembangkan aktivitas menulis BEMJ PA yang dipimpin Malik menerbitkan Bulletin dan Jurnal Religiosa. Disini saya harus bekerja keras. Sebab, secara struktural saya tidak masuk BEMJ PA. Saya dipilih menjadi Menteri Media dan Informasi Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) yang juga memiliki program menerbitkan bulletin yang bernama Criterium. Berkat kerja keras Hamid Razak yang saat itu menjadi staf menteri Media dan Informasi sekaligus menjadi pemimpin redaksi, Bulletin Criterium pernah terbit dalam beberapa edisi walaupun sampai kini sudah almarhum. Hamid yang saat itu menjadi pemimpin redaksi bulletin Advokasi Fakultas Syariah harus membagi waktu dengan baik. Walaupun menjabat sebagai menteri, aktivitas saya sebagai mahasiswa Perbandingan Agama tidaklah surut. Dalam beberapa event masih bisa mengikutinya, kecuali Kongres FKMPAI.

Untuk mengapresiasi dan mengembangkan tradisi menulis dilingkungan UIN Sunan Kalijaga, DEMA yang saat itu di handle Departemen Media dan Informasi menyelenggarakan Lomba Karya Tulis tentang Epistimologi Perubahan IAN ke UIN. Dan tak sia-sia, teman senasib yang cukup cerdas bisa menjadi sang jawara, Abd. Malik. Ini adalah event lomba Karya Tulis terbesar yang pernah di adakan DEMA dan UIN, sekurang-kurangnya sampai saat ini (2007). Tulisan Malik yang banyak menyinggung tentang Ian G. Barbour ini ternyata menginspirasi dia ketika menulis skripsi tentang Sains dan Islam.

Disamping itu, sebagai bentuk apresiasi dan pengembangan dunia tulis-menulis dikalangan mahasiswa saya secara kebetulan terlibat memprakarsai berdirinya HumaniusH. Bulletin ini mula-mula dipimpin oleh Musthafa Ahmad. Akan tetapi karena beberapa hal seperti stagnansi dan kurang solidnya sesama redaktur, Rizqi Riyadu Topeq yang saat itu menjadi Sekjen BEM-J Perbandingan Agama merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali. Kendati double-job, Topeq—biasa dipanggil—ternyata mampu mengembangkan HumaniusH menjadi lembaga pers mahasiswa yang bergengsi. Sebagaimana bulletin-bulletin lain yang lebih tua, HumaniusH tidak absent untuk merespon segala perkembangan kampus baik ditingkat dekanat maupun rektorat. Tidak hanya itu, sebagai lembaga otonom bulletin HumaniusH juga melancarkan sejumlah kritik dan apresiasi terhadap program kerja eksekutif mahasiswa baik ditingkat jurusan, fakultas maupun universitas.

Eksistensi HumaniusH semakin kuat. Ini tidak lain karena berita dan angle yang ditampilkan cukup kritis dan unik. Bahkan, tidak jarang dekanat harus kebakaran jenggot terhadap berita-berita yang dilansir HumaniusH. Tak hanya itu, sejumlah lembaga ekstra kampus juga sempat komplain dan memprotes HumaniusH. Saat itu, pemilu mahasiswa hendak di gelar. Saya yang saat itu baru datang dari Jakarta bersama Slamet Thohari (UGM) mempublikasikan tulisan saya yang bertitel “Membongkar Jejaring Fundamentalisme di Kampus”. Sebuah tulisan yang dipresentasikan di acara Jaringan islam Kampus yang diadakan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Tulisan tersebut ternyata mendapat respon yang luar biasa. Melalui tulisan tersebut, saya mengamati perkembangan fundamentalisme dan konservatisme yang berkembang di beberapa kampus seperti UGM, UNY, UAD dan UIN. Dalam kesimpulan sementara saya, berkembang pesatnya KAMMI di beberapa kampus menjadi indikator bahwa konservatisme juga berkembang pesat.

Untuk kebutuhan analisis, saya mengklasifikasi sejumlah organisasi sebagaimana yang pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. HMI, PMII, IMM saya kategorikan sebagai kelompok liberal. Sementara KAMMI adalah representasi kelompok fundamentalis. Tentu saya klasifikasi ini sangatlah simplifikatif. Karena klasifikasi dan peta politik yang makin memanas, tulisan tersebut tidak hanya direspon oleh KAMMI tetapi juga HMI baik DIPO ataupun MPO. Tak kurang dari50 orang dari beberapa kampus dan organisasi mendatangi kantor HumaniusH yang saat itu saya, Malik dan Topeq berada di dalamnya. Kedatangan yang sempat diwarnai oleh amarah dan protes yang cukup tajam terhadap HumaniusH itu akhirnya mampu diredam dengan melakukan permintaan maaf. KAMMI yang saat itu terkelompokkan kepada kelompok fundamentalis tidak mengunjungi kantor HumaniusH, akan tetapi ia memberikan protes dan respon yang cukup santun dengan menerbitkan bulletin yang serupa.

Disamping itu, diantara keberhasilan HumaniusH lainnya adalah kemampuan menghantarkan Pemimpin Umum, Hilal Alifi, menjadi ketua PPMI DK Jogjakarta, sebuah lembaga pers yang cukup bergengsi. Mengingat beratnya beban yang diemban oleh Hilal, HumaniusH pun melakukan restrukturisasi dengan mengangkat Husni Mubarok sebagai Pemimpin Umum. Sementara, jabatan Pemimpin redaksi tetap di pegang oleh Syaiful Bari. Naiknya Hilal menjadi Ketua Umum PPDMI DK Jogjakarta tidak terlepas dari kerjasama baik yang telah dibangun oleh HumaniusH dengan LPM-LPM lainnya baik yang bertengger di UIN maupun di luar UIN. Tercatalah misalnya, Feni (LPM Dakwah), Mukhlish (LPM Syariyah) dan lain sebagainya yang memberikan dukungan penuh terhadap pencalonan Hilal.

Di tangan Husni, HumaniusH tetap terbit. Setelah menerbitkan majalah perdana pada era Hilal, Husni yang hanya menggenapkan masa baktinya lebih banyak disibukkan dengan menerbitkan bulletin sebagai respon terhadap perkembangan kampus. Tak hanya itu, untuk meningkatkan dan mengembangkan HumaniusH, di era Husni juga dilaksanakan Pelatihan Jurnalistik yang ternyata mampu memproduksi kader-kader yang (semoga) terus produktif. Pada era berikutnya saya tidak sempat mengikutinya. Kepada generasi berikutnya, saya berharap segala perkembangan dan kegagalan yang dicapai oleh HumaniusH bisa ditulis.

(Bagi yang hendak melengkapi tulisan ini atau menanggapi, dengan senang hati saya persilahkan)….Maka tulisan ini bukanlah ending, tapi akan terus berjalan seiring perjalanan waktu.

One thought on “Bagian IV: Dinamika Mahasiswa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s