Bagian II: Menulis Bermula dari Surat Cinta


Karena pengalaman menulis surat cinta kepada banyak perempuan, menulis artikel akhirnya tak sesulit yang ada pada teori. Disinilah, menulis tidak butuh teori, tapi buku nekat dan kepercayaan diri yang kuat.

Konon, menulis adalah sebuah aktivitas ilmiah yang penuh dengan teori-teori ilmiah yang sangat berbelit-belit. Ketika saya masih di SMP, alih-alih menulis, berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik masih sangat sulit. Begitupula ketika memasuki SMU. Saat itu, dorongan untuk menulis –terutama dari kakak saya—sangatlah besar. Sejumlah buku disodorkan untuk dibaca. Diantara buku-buku yang saya ingat sampai sekarang adalah Pergolakan Pemikiran Muslim-nya Ahmad Wahib dan Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad, dan Dunia Shopie.

Saat itu, catatan ahmad Wahib itulah yang paling saya sukai. Karena menggunakan bahasa yang lugas, sederhana dan isinya yang cukup kritis bahkan nyelenih itulah, catatan harian mantan aktivis HMI itu menjadi santapan sehari-hari. Bahkan, beberapa kata/kalimat sampai saat ini hafal. Sejak membaca buku itu, beberapa hal match dengan pikiran saya sampai saat ini. Diantaranya, pernyataan Wahib; Ini akalku yang berkata. Akal bebasku yang meronta-ronta tanpa didasari ketakutan akan di marahi Tuhan……….Tuhan tidaklah kebal dari sorotan kritik.

Sejak membaca catatan harian itulah, saya terpancing untuk melakukan hal yang sama. Bedanya, kalau wahib menulis aktivitas kemahasiswaan yang sarat akan nuansa ilmiah sementara saya hanyalah berkisar dari pengalaman-pengalaman pribadi, suara hati dan sebagainya. Sebagaimana catatan harian anak SMU lainnya, catatan harian saya hanyalah berisi letupan-letupan emosi, walaupun sesekali menyinggung hal-hal yang ilmiah. Hal yang paling banyak menghiasi catatan harian saya adalah persoalan cinta, kejengkalan, emosi dan kegembiraan. Walaupun bukan seorang sastrawan ataupun penyair, saat di SMU saya sering membuat sebuah puisi—tentunya tentang cinta.

Aktivitas menulis saya ternyata bukan hanya catatan harian yang lebih banyak saya konsumsi sendiri daripada dibaca orang lain. Bahkan, ketika memasuki SMU kelas dua, saya sudah mulai belajar nulis surat cinta kepada seorang perempuan. Ketika itu, ada seorang perempuan yang berasal dari Banyuwangi yang naksir saya dan mengirimi surat (gak ge-er lho). Sejak itulah, saya terus mengirimkan sepucuk surat cinta kepadanya. Setiap hari, saya selalu menyempatkan menulis surat cinta. Maklum, pacaran di pondok pesantren di Jawa Timur (belakangan saya dilarang oleh beberapa pihak pesantren untuk menyebut nama pondok itu, karena alasan…ada dech). Saat itu, isi surat saya kepadanya lebih banyak persoalan cinta walaupun sesekali menyinggung wacana-wacana yang berkembang, terutama tentang gender.

Karena surat cinta, saya pun belajar bagaimana menulis surat yang agak puitis—kurang lebih berisi rayuan-rayuan gombal. Tak pelak, saya membaca sejumlah buku-buku Kahlil Gibran yang banyak diminati oleh teman-teman sepondokku. Bahkan, sebagaimana kepada catatan harian Ahmad Wahid, sastra dan ungkapan cinta yang dari Kahlil Gibran seringkali di hafal. Bahkan, sebagian besar buku Sayap-Sayap Patah-nya Kahlil Gibran saya hafal untuk mempermudah menulis surat cinta. Tapi sekarang, kata-kata indah Kahlil Gibran itu sudah hilang dalam otak saya.

Kelihaian dalam menulis surat cinta juga atas dorongan salah seorang teman (guru bercinta) yang konon katanya seorang playboy sejati. Sebagai playboy, tentunya dia tidak memiliki satu cewek. Karena itulah, dalam setiap malamnya dia menulis surat bukan hanya satu. Cara menulis dan isi suratnya pun berbeda-beda. Dari dialah saya banyak belajar bagaimana mengungkapkan rasa cinta, jengkel, benci dan rayuan gombal melalui kertas per kertas. Bahkan, menurut pengakuan sejumlah orang, surat-surat cinta saya ternyata mampu menghipnotis perempuan. Menangis, tertawa dan tersanjung karena membaca surat saya adalah reaksi yang kerapkali muncul dari perempuan.

Bahkan, dalam satu kesempatan saya memiliki 5 teman cowok yang semuanya memiliki pacar. Anehnya, saya-lah yang merangkaikan surat-surat mereka untuk cowoknya. Sambil ditemani sebungkus kopi dan beberapa batang rokok plus tape (lagu dangdut), saya pun merangkai 5 surat cinta dalam setiap malam. Sejak itulah, saya mulai jarang tidur malam. Kebiasaan buruk itu sampai sekarang tetap berlanjut. Sangat sulit bagi saya untuk merebahkan tidur pada jam sebelum 00.00 WIB. Paling cepat, biasanya tidur jam 01.30 WIB.

Kesibukan saya bertambah ketika saya juga mengirimkan surat cinta kepada salah seorang santri dari Kangean. Suatu ketika, saya pernah mengirimkan surat cinta sampai 5 meter. Semuanya disambung menjadi satu kesatuan dan digulung tanpa amplop. Kepada perempuan yang kini sudah memiliki suami dan anak ini, isi surat saya bukan hanya tentang cinta, tetapi seringkali juga menyinggung hal-hal ilmiah, terutama menyangkut pelajaran di SMU.

Aktivitas menulis surat cinta ini terus berlanjut ketika saya dan teman-teman (Abd. Malik, Agus Hilman, Farid, Jaelani, Aziz, Ghafur, Wahab, Sulaiman, dsb) mendirikan sebuah kelompok studi yang bernama JCC (Justivy Center Club). Nama kelompok diskusi ini terinspirasi oleh Jakarta Convention Center (JCC) dan istilah Justivy yang ada di komputer (Microsoft Word). Maklum saat itu, saya dan Malik belajar komputer kepada teman sendiri, Ghafur, pada jam 02.00 malam.

Kelompok diskusi inilah yang sangat memiliki konstribusi yang besar terhadap saya. Setiap malam, JCC bersama sebungkus kopi yang terwadahi peci-nya Aziz selalu melangsungkan diskusi. Tema-tema diskusi bukanlah hal yang berat. Karena menjelang EBTANAS (kini bernama UAN), diskusi-diskusinya seputar pelajaran-pelajaran di SMU. Masing-masing orang memiliki referensi (buku) yang berbeda. Sehingga, wawasan terhadap satu pelajaran sangatlah berkembang dengan baik. Ini karena masing-masing buku memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bahkan, sebagai penunjang teman-teman juga tidak jarang membuka buku-buku referensi mahasiswa. Untuk buku tata negara, buku yang dibaca bukan hanya untuk siswa, tetapi juga buku-buku mahasiswa.

Pertemanan diantara teman-teman waktu di JCC sampai sekarang masih tampak erat. Ada sebuah cita-cita yang belum terwujud. Saat itu, semua teman-teman berkomitmen untuk melanjutkan studi dan mengharuskan diri menjadi orang sukses. Karena itulah, pada tahun 2004 nanti, demikian komitmen itu dibuat, akan bertemu di Singapure dalam rangka reuni. Cita-cita itu semoga saja bisa terlaksana walaupun waktunya telah terlewati.

Diskusi-diskusi ini begitu hangat dan penuh dengan perdebatan, kecuali hal-hal yang bersifat matematis seperti akuntansi (pelajaran yang tidak pernah saya sukai sampai sekarang). Dari sinilah, aktivitas ilmiah mulai berkembang dengan pesat. Apalagi saat itu teman-teman saya adalah para mahasiswa. Bahkan, istilah-istilah filsafat seperti materialisme, idealisme, marxisme juga sangat akrab di telinga saya.

Aktivitas ilmiah yang telah berkembang dengan ini cukup membantu ketika saya dan teman-teman mendapat tugas membuat makalah tentang tata negara. Saat itu, judul makalahnya adalah “konvrontasi Presiden Versus DPR dan implikasinya terhadap Integritas Bangsa”. Saat itu, judul ini sangatlah luar biasa menarik. Begitu pula ketika presentasi. Wahab, Malik, Ghafur dan Saya mempresentasikan makalah yang berjumlah 10 halaman berspasi satu ini.

Melalui pengalaman menulis makalah secara bergotong royong inilah, saya belajar untuk menulis hal-hal yang lebih ilmiah. Saat itu, sejumlah ide yang terbersit dalam pikiran selalu ditulis dalam catatan harian. Sejumlah kegelisahan mulai tentang perempuan sampai tentang Tuhan juga tak pernah absen untuk ditulis. Berangkat dari sejumlah pengalaman dan dorongan dari teman-teman–walaupun tidak secara langsung—saya belajar untuk menulis disebuah majalah SMU. Tapi sayangnya, judul tulisan itu lupa. Maklum itu bukanlah tulisan asli saya.

Sebagai pemula, saat itu saya menulis ulang tulisan yang sudah ada. Yang saya lakukan adalah merubah redaksi bahasa-nya (walaupun tidak secara keseluruhan) dan mempertahankan subtansi gagasan-nya. Termuatnya tulisan saya di majalah KREASI itu tentu saja memberikan semangat yang besar untuk terus menulis. Sejak itulah, saya terus mengembangkan menulis secara lebih sistematis. Tetapi, hasilnya selalu nihil. Tak ada satu tulisan yang tuntas dan final. Keterbatasan bahasa, ide dan ketidakpercayaan diri menjadi kendala terbesar saat itu.

Aktivitas menulis catatan harian itu terus dilanjutkan ketika masuk ke Jogjakarta pada tahun 2001. Saat itu, teman-teman SMU (Malik, Agus Hilman, Farid, Abrori[SMK]) juga melanjutkan di Jogja. Semangat untuk menggali ilmu di Kota Gudeg itu sangatlah besar. Setiap hari selalu berdiskusi. Semangat dan upaya untuk menulis secara sistematis juga mulai tumbuh diantara benak teman-teman saya. Saat itulah membuat Mading yang bernama Panca (Panggung Wacana). Setiap hari, teman-teman diwajibkan untuk menulis tentang suatu gagasan tertentu dan selebihnya adalah menanggapi tulisan tersebut. Masih teringat jelas bagaimana Malik saat itu menulis tentang BerTuhan tanpa Beragama, sebuah ide yang terinspirasi ketika membaca buku Ateisme yang diterbitkan LkiS, yang kemudian mendapat sorotan atau tanggapan yang cukup kritis. Dalam setiap minggu, diharuskan ada tulisan yang baru yang mesti direspon oleh teman-teman.

Buku pertama yang didiskusikan adalah Teologi Inklusif Cak Nur karya Sukidi dan Islam Dinamis-nya Ahmad Najib Burhani. Kedua buku ini cukup memberikan inspirasi dan gagasan yang segar bagi orang yang awam tentang pengetahuan. Bukan hanya sebagai hal yang baru, tetapi buku itu juga menunjang terhadap studi saya di Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Buku inilah yang wajib di baca dan dijadikan panduan untuk menulis dengan baik.

Semua itu tidak lepas dari jasa seorang kawan (kamar tetangga) yang telah memiliki pengalaman menulis, yaitu Abdurrahman. Mahasiswa yang pernah mengeyam pendidikan di UII yang kemudian melanjutkan studi di Tafsir Hadist Ushuluddin ini beberapa kali telah mempublikasikan tulisannya di Harian Bernas. Kepada kawan yang kini saya tidak tahu entah berada dimana, saya ucapkan terima kasih banyak. Berkat kedua buku diatas yang kau pinjamkan kepada teman-teman, telah memberikan konstribusi pengetahuan yang cukup besar.

Dengan bermodal buku kecil, saya masih tetap melanjutkan kebiasaan saya, yakni menulis. Setiap hari, ketika tidak ada kuliah, hari-hariku selalu di rental komputer atau baca buku. Rental yang berada di pojok utara Papringan (kini sudah alm) itulah tempat saya menuangkan letupan-letupan ide yang muncul saat itu. Saat itu, buku Perempuan Berkalung Sorban-nya Abedah el-Khaliqi mampu terselesaikan cuma dalam sehari. Sementara buku-buku Pramodia Ananta Toer biasanya bisa dilahap dengan cepat.

Semangat yang telah terbakar ditambah dengan dorongan dari Kakak, saya belajar menulis artikel dengan tuntas. Tak kurang dari 5 artikel saya hasilkan. Karena tidak percaya diri, saya kirimkan artikel itu kepada kakak saya dengan harapan bisa diedit, terutama dalam hal bahasa. Sebulan saya menunggu hasil perbaikan dari kakak. Jawabannya kurang memuaskan. “Tidak sempat dan tidak punya waktu”, begitu jawaban kakak setelah ditunggu berminggu-minggu. Sejak itulah, saya nekat untuk mengirimkan artikel saya ke Duta Masyarakat. Dan alhamdulillah, tulisan tersebut dimuat.

Ketika melihat tulisan saya di internet pada website Duta Masyarakat, rasa bangga begitu meluap. Judul dan tema-nya masih terinspirasi oleh Abdurrahman, yaitu Menjalin Persatuan dan Kesatuan di Tengah Pluralitas Bangsa. Tulisan pertama ini dimuat ketika libur panjang semester satu. Ketika masuk kuliah (semester dua), saya pun menceritakan kepada sahabat saya Ahmad Fauzi. Dan ternyata, mantan ketua BEMJ Filsafat ini juga telah mempublikasikan tulisannya berupa resensi buku di Harian Koran Tempo.

Tulisan saya yang kedua juga muncul di koran yang sama, Duta Masyarakat, yang berbicara tentang jihad. Semangat untuk menulis ini saya perjuangkan kepada korp OSAMA di PMII Rayon Fakultas Ushuluddin dengan menerbitkan bulletin GeGeR—sebuah bulletin yang sampai saat ini masih eksis. Bersama Fauzi, Malik dan Saya, Bulletin GeGeR di garap. Terus terang, sebelum dilimpahkan kepada Fauzi, Malik dan Saya, bulletin GeGeR pernah terbit sekali yang berisi tentang hasil diskusi tentang marxisme.

Sejak Fauzi menjadi Pemimpin Umum dan saya menjadi Pemimpin Redaksi, bulletin GeGeR diterbitkan sebagai rangkuman diskusi korp OSAMA, disamping juga berisi tentang materi-materi yang akan didiskusikan. Artikel utama saat itu tentang ASWAJA dan diisi tentang refleksi kemahasiswaan. Dan itulah titik awal untuk mengembangkan tradisi tulis-menulis yang semoga tetap berlanjut hingga nanti.

Bersambung…………..

Baca juga tulisan terkait:

  • Fenomena Penulis Jogja
  • Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori
  • Menulis Bermula dari surat cinta
  • Nilai Plus Menulis
    1. Iklan

      11 thoughts on “Bagian II: Menulis Bermula dari Surat Cinta

      1. Aku tahu pak hatim, kenapa engkau jadi pinter menulis… Paling tidak berapa banyak cewek yang kau tembak dan kau ditolak pula,,,, saya dan teman-teman mengucapkan selamat!!!!

      2. Najib, gimana kabarmu…masih sering ditelanjangi tedi? Kangen ma teman-teman semua. Aku gak punya banyak pengalaman tentang cewek, yach gak nyampek 100. Tapi semuanya itu untuk memberdayakan mereka.

      3. Gimana nih Pak Hatim kalo kita bangun aja Negara Bermazhab Cinta.. gara-gara omongan yang kagak bener dan meragukan fakta realisnya dari ente, justru saya ikut-ikutan disebut perayu wanita habis kuliah ini..

      4. Kisah hidupmu mengharu-biru, Tim. Klo ditulis dengan bahasa yang rada2 nyastra, mungkin akan lebih syahdu ketika dibaca, he2..
        Btw,kamu sudah menang segala2nya dibanding alumni PIM yang laen (suer deh)..so, jangan merasa kalah. Apalagi dihinggapi pesimisme yang ekstrim seperti kemarin2..

      5. Nisa, sayangnya aku tidak bisa menulis dengan bahasa-bahasa indah. Itu saya lakukan agar aku lancar nulis setalah 2 tahun tidak nulis sama sekali. Karena itulah, aku menulis semua cerita mulai dari bagian pertama sampai bagian kelima itu saya lakukan cuma dalam waktu 4 jam. kebetulan saja, ngetik lumayan lancar.
        Thanks atas saranmu..moga bisa aku laksanakan dengan baik….

      6. bener…tu tim, Hobby nulis loe dimulai dr nulis surat cinta…? perasaan pacar km dari dulu cuma satu ( apa yang aku tahu ya…?) trus gmana tu tim, apa semua surat cinta km di bls and cintamu diterima….Wah cinta monyetmu banyak juga dong kalau gtu…..Ayo…tim lomba buat puisi sama aku, hslnya romantis mana he..he….
        kalu skr susah tim, karena gak ada menulis dimulai dari sms…..he…
        lihat aja tu almamater kita, mahasiswa/i nya pada mlenyot…udah gak nulis, gak demo, jarang kuliah…..dah gtu birokrasi kampusnya gak dkng malah ada pembatasan jam malam segala…padahal dulu kampus kita hidup n produktif diseluruh lini kegiatan mahasiswa karena pada standby dikampus…mulai dari yang latihan olah vokal, diskusi, latihan nyanyi,ngerancang demo, sibuk ngedit buletin,dll…
        skr mana ada tuh…..?.
        Panduan suara kita ( PSM ) dah jarang tampil keluar, ESKA n Nuun dah lama blm ngelahirin lg seniman sekaliber Abidah el-Khalaky semisal…atau seperti cak kus….yach…generasi trhr kyaknya rmbngannya sachree…. belum lg UKM2 lain,DEMA,SEMA,BEMJ,dll.PMII,HMI,IMM,dll
        semuanya sepi2 aje…..
        tp barangkali mereka serius kulian n belajar serta ngafalin bahasa inggris kali ye…jd dah gak sempat yg gtu2….ya Semogalah……kita lihat out put nya kelak, lebih bagus yg nakal2 seperti era dulu atau yg baik2 kalem2 seperti skr….

      7. karena hoby saya yang sukanya gelisah dan sikap yang aneh sekarang saya di UNESA membentuk komunitas Aufklarung (komunitas penalaran dan filsafat) yang arahnya ke jurnalis
        Minta doa kang semoga komunitasnya bisa eksist terus!!!

      8. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

        Komunitas Titna Sejarah
        (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

        Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

      9. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

        Komunitas Tinta Sejarah
        (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

        Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s