Bagian I: Dari Pesantren


Masa lalu adalah bayangan kita. Tak perlu takut terhadap bayang-bayang. Untuk itulah, saya menuangkan pengalaman masa lalu itu. Tentu saja sangat subyektif. Ditulis pun dengan tergesa-gesa. Tapi–semoga–tak menghilangkan makna. Pahit manis kehidupan memang selalu dirasakan oleh setiap manusia, termasuk saya.
Alih-alih menulis sebuah artikel, untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih terasa sangat sulit bagi saya ketika sekolah SD dan SMP. Kendati di sekolah menggunakan bahasa Indonesia, tetapi keseharianku menggunakan bahasa ibu. Karena itulah, berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi di depan banyak orang telah membuat pusing tujuh keliling.

Itu semua tidak lepas dari posisi dan letak sekolah yang tergolong terbelakang jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Jawa ataupun Jogja. Keterbatasan ekonomi dan akses ilmu pengetahuan telah menambah kesulitan untuk bangkit dan bersaing dengan orang-orang kebanyakan. Jangankan bacaan-bacaan umum baik itu komik, koran, majalah, ataupun buku, buku-buku mata pelajaran pun tidak punya. Memang diakui bahwa berada di kepulauan yang sangat terbatas membutuhkan kerja keras yang maksimal. Saya baru menjumpai koran ketika saya sekolah di daerah tapal Kuda Jawa Timur.

Selama di SD dan SMP, disamping hari-hari dihabiskan di sekolah saya mengenyam pendidikan madrasah dan pesantren di rumah. Bahkan, standar kepinteran orang bukanlah diikur dari sejauhmana ia bisa menguasai matematika atupun pengetahuan umum lainnya, tetapi dilihat dari pengetahuan agama, baik tentang fiqh, tafsir ataupun nahwu sharraf.

Ketika pagi, jam 06, saya sudah harus berangkat ke sekolah. Maklum letak sekolah dasar + 2 km yang harus dilalui dengan jalan kaki. Belum lagi ketika musim hujan yang selalu becek dan penuh dengan lumpur. Walaupun tak sedahsyat lumpur Lapindo, lumpur di jalan kiranya cukup menenggelamkan pergelangan kaki. Tak hanya itu, jalan licin telah membuat saya seringkali jatuh dan harus pulang ke rumah untuk mengganti baju atau terkadang di basu sebuah sumur yang terletak di pinggir jalan. Sementara sepatu yang sejatinya di pakai terpaksa dibungkus plastik dan dimasukkan tas agar tidak berlumpur. Ketika sudah mendekati sekolah, saya mencari tumpangan sumur untuk membasu kaki dan memasang sepatu. Kendatipun demikian, saya tidak pernah absent dan bahkan tergolong siswa yang rajin, walaupun juga tergolong bodoh.

Setiba di sekolah, saya langsung masuk kelas. Sebagai siswa yang berasal dari desa terbelakang dan bahkan terbelakang di banding desa-desa lain, sementara saya bersekolah di SD favorit, tidak banyak siswa yang mau bergaul dan berteman dengan saya. Barangkali tidaklah berlebihan, jika selama di sekolah dasar saya senantiasa terkucilkan. Bukan hanya sesama siswa yang seringkali mendiskritikan saya, tetapi tak jarang juga guru melontarkan komentar-komentar miring tentang saya ataupun desa saya. Ini benar-benar saya rasakan. Terasa cukup pedih dan sakit untuk saya ceritakan disini. Saya tak punya kata-kata yang indah untuk melukis derita dimasa lalu itu.

Jam 11, lonceng sekolah berbunyi sebagai tanda pulangnya para siswa. Saya pun pulang dengan membungkus kembali sepatu saya seperti biasanya. Setiba di rumah, saya harus segera makan siang agar masuk madrasah tidak telat. Selesai makan walaupun tanpa mandi siang saya pergi ke madrasah untuk menimba pengetahuan agama. Derita yang dialami disekolah alhamadulillah tidak terulang di madrasah. Maklum saya, madrasah atau pesantren tempat saya belajar adalah milik kakek saya, KH. Syarfuddin. Saya bisa bergaul dengan bebas di pesantren atau madrasah gratis tersebut.

Sekedar untuk diketahui, Pondok Pesantren Zainul Huda yang diasuh oleh KH. Syarfuddin ini tidak pernah memungut biaya sepeserpun kepada siswanya. Gurupun cuma dibayar dengan ucapan terima kasih dan rasa ikhlas di dada. Dalam hal kurikulum, pesantren / madrasah ini tergantung kepada guru ataupun pengasuh. Masa liburan mengikuti musim. Jika musim tanam dan panen padi, madrasah secara otomatis libur. Begitu musim panen selesai, para siswa pun langsung masuk kembali walaupun tanpa komando. Materi-materi yang diajarkan disamping al-Qur’an juga tajwid, nahwu sharrof, aqidah, dan fiqh. Naik kelasnya seorang siswa tidak ditentukan oleh raport (karena memang tidak ada raport siswa), tetapi melalui ujian lisan. Untuk naik ke kelas dua, siswa harus lancar baca al-Qur’an. Sementara dari kelas dua ke kelas tiga mengikuti tes yang meliputi; baca al-Qur’an dan materi tentang tajwid dan tauhid/aqidah. Materi tes untuk kelas 4 adalah : baca al-Qur’an, tajwid, fiqh dan nahwu sharrof. Sementara untuk naik ke kelas lima dan 6, siswa harus bisa baca Jurumiyah, Fathul Qorib plus I’rob dan tashrifnya.

Di pesantren ini, tidak ada kelulusan. Walaupun sudah kelas 6, siswa bisa tetap dikelas 6 dengan materi pelajaran yang lebih tinggi. Terus terang, materi-materi pelajaran yang tidak selesai di kelas 1 langsung dilanjutkan ketika di kelas 2, begitu seterusnya. Jadi, ketika kitab nurul yaqin (sejarah) tidak selesai di kelas 4, maka sampai ke kelas 6 pun materi itu selalu ada. Jadi yang menjadi standar bukanlah kelas, tapi lebih kepada khatam dan pahamnya siswa kepada satu pelajaran (kitab). Di kelas 6 materinya mulai dari al-Jurumiyah sampai Ibn ‘Aqil, semuanya tergantung kepada kemampuan siswa. Siswa pun bebas untuk masuk kelas manapun asalkan ia melalui tes. Tidak ada ketentuan bahwa seorang siswa harus menempuh satu tahun dalam satu kelas. Ketika seorang siswa baru masuk kelas 3 dan ternyata ia paling pintar dan layak masuk kelas 4, dengan suka rela pengasuh pesantren mempersilahkan untuk masuk kelas 4. Begitu sebaliknya, jika masuk kelas 3 ternyata tidak memiliki kemampuan yang cukup, ia bisa diturunkan kelas dibawahnya. Jadi naik-turun seorang siswa tergantung kepada kecerdasarn seseorang. Berdasarkan pengalaman saya, saya di kelas 4 cuma 1 minggu yang kemudian saya harus masuk ke kelas lima. Disini, bagi orang-orang yang belajar dengan keras akan sangat cepat. Sebagai madrasah non-formal yang cuma memiliki enam kelas ini, tidak ada ketentuan siapa yang menjadi guru. Bahkan, tidak jarang KH. Syarfuddin mengajar dari kelas 1 sampai kelas 6 dalam satu hari sekaligus. [Untuk tentang profil dan pengalaman di madrasah akan saya susulkan, moga ada waktu menulis]

Selepas dari madrasah, kira-kiran jam 16.30 saya langsung ke sawah untuk mencari rumput sebagai makan kuda saya. Ini saya lakukan sejak saya kelas 2 SD sampai lulus SMP. Ketika satu/2 karung sudah penuh, saya langsung pulang. Setiba di rumah, tak kemudian adzan magrib berkumandang. Buru-buru saya ambil wudhu’ karena shalat berjam’ah memang diwajibkan oleh pengasuh. Selesai shalat magrib bukanlah istirahat, tetapi saya bersama teman-teman ngaji al-Qur’an kepada Aba/Ummi. Ini biasanya dilakukan secara bergiliran sampai adzan isya bergema. Shalat isya’ pun harus dilakukan secara berjam’ah yang kemudian diikuti oleh beberapa acara; ntah baca dziba’, barzanji, ngaji Qur’an, ataupun sekedar melontarkan pertanyaan-pertanyaan baik nahw ataupun lainnya. Ini biasanya berlangsung sampai jam 21..30 WIB. Waktu istirahat baru tiba. Tapi biasanya, bersama santri-santri yang ada, belajar bersama menjadi tradisi yang harus dilakukan untuk persiapan di madrasah besok. Sebab, ketika guru menanyakan sesuatu, tentang tajwid misalnya, seorang siswa harus bisa menjawabnya. Jika tidak, pukulan dari sebatas bambu terhadap siswa pun melayang.

Dengan kata lain, jika disekolah saya mesti berhadapan dengan siswa lain yang seringkali mendiskriditkan, maka di madrasah harus berhadapan dengan kekerasan ketika tidak mampu menjawab pertanyaan guru. Tapi perlu diingat, hal yang menimpa waktu disekolah dasar juga menimpa ketika di SMP yang jaraknya + 3 km. Derita demi derita, kekerasan dan diskriminasi telah mampu menyadarkan saya ketika di Jogja. Semuanya berjalan sampai akhirnya saya melanjutkan SMU di daerah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Bersambung……

9 thoughts on “Bagian I: Dari Pesantren”

  1. Pagi ini, cahaya ada di belakangku. Bayangan yang sampeyan sebut sebagai masa lalu, justru kini ada depanku. Jika di depan sampeyan ada bayangan yang gelap itu, apa yang akan sampeyan lakukan? memilih berbalik ke belakang yang lebih terang? atau mengusir bayangan gelap itu dengan sinar mata sampeyan sendiri????
    aku memilih yang kedua.
    Salam kenal mas Hatim, salut buat sampeyan. Saya sangat tersanjung jika sampeyan mau mampir ke http://www.erhambudi.wordpress.com.
    terimakasih.

  2. wah….. cerita yang cukup menarik dengan kupasan bahasa yang enjoy di baca. ck..ck…ck…bagus.
    swalau aku cuman baca sedikit, tapi aku bisa nebak cerita-cerita selanjutnya. kata-kata yang sederhana tapi tetep, secara, kupasannya juga memang asli suatu pengalaman pribadi. gimana dengan masukanku kemarin? bagus untuk dikembangkan. bukan hanya seorang tokoh yang penting yang harus membuat seperti usulanku kemarin. kita juga bisa, jika kita mampu merangkainya. ok deh. selamat berkarya dan berkreasi. salut buat mu mas. thanks

  3. Tanti, thanks atas semuanya. kau telah jadi teman yang baik selama di kuliah walaupun aku akhirnya harus meninggalkan bangku kuliah. Moga ada waktu dan uang untuk melanjutkan. Menulislah kawan…..

  4. Gue…ciee…padahal aku wng ndeso tim berhubung wktu sy buka blogmu lg di Jkte jadi ketularan gue gue..he..he…
    Tim, Gue mondokdari kelas 2 MI smpai tamat Aliyah tp kok kagak jadi Kyai…ye…Gak bakat kali ye…jd mau sampai lumutanpun lulusan pesantren blm tentu jd Kyai…tp emang bukan2 cita2 juga sich….? Gue..pantesnya jadi apa ya tim? Jadi politisi kayaknya susah bgt tu tim urusan akhiratnya…niat baik klu lingkungannya rusak gmana tim?he…he….sory yo tim, ini intermesyo…alias iseng2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s