Bagian III; Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII


Proses itulah yang telah membawa ke titik sekarang. Semuanya mesti dilalui walau terkadang harus menetaskan air mata.

Semua aktivitas menulis ini berkembang dengan baik tidak lepas dari apresiasi teman-teman, terutama Djibril Fatkhul Mu’in sebagai ketua Korp (yang belakangan menjadi ketua Rayon Fakultas Ushuluddin, kemudian menjadi Ketua Umum PMII Cabang Jogjakarta, 2006).

Korp OSAMA, sekurang-kurangnya dalam penilaian subyektif saya, adalah korp yang sangat dahsyat dan akomodatif. Apresiasi terhadap seluruh kecenderungan dan kreatifitas kader sangatlah besar. Pergerakan yang saat itu –bahkan sampai saat ini—hanya dimaknai dengan aksi-aksi jalanan mendapat sorotan kritis. Bagi korp OSAMA, pergerakan bukanlah sebuah aktivisme yang hanya bergerak di jalan-jalan melalui aksi demonstrasi. Melainkan sebuah aktivitas—apapun itu bentuknya—yang berorientasi kepada rakyat.

Melalui perubahan cara pandang terhadap gerakan inilah, kreatifitas OSAMA berkembang dengan baik. Dalam hal bisnis, OSAMA pernah berjualan Kolak saat bulan puasa. Hasilnya pun cukup besar—untuk ukuran saat itu. Ini semua tidak lepas dari berkat dan usaha Nurul Qomariyah, Sunia, Endang dan lain sebagainya. Setiap sore saat bulan Ramadhan, seluruh para srikandi korp OSAMA bersatu padu untuk membuat kolak sebagai langkah awal untuk membiayai sebuah pergerakan. Di samping jalan depan Masjid UIN Sunan Kalijaga, kolak buah tangan Nurul Qomariah dkk ini mendapatkan hasil yang tidak sedikit.

Hal yang sama juga pada seni. Korp OSAMA sempat memiliki kelompok band bernama PM11 band, yang teridiri dari Guntur (Vokalis), Zamzami, Malik, Topeq. Kelompok band ini muncul ketika penutupan Latihan Kader Dasar (LKD)—kini berganti nama menjadi PKD, Pelatihan Kader Dasar—di Santan, Bantul. Di saat Ustman Fitri menjadi Ketua Rayon dan Ustman menjadi Panitia inilah, band yang sudah alm ini muncul secara gemilang. Setelah menjadi band pembuka sebelum OG.Al-Jami’ah pada penutupan LKD Fakultas Ushuluddin, band ini terus berupaya mengembangkan sayap. Sejumlah lagu juga dihasilkan. Tapi sayangnya, band ini sudah almarhum.

Begitupula dalam hal menulis. Terbitnya Bulletin GeGer yang tidak hanya dioreintasikan untuk merekam aktivitas korp OSAMA juga untuk menyuplay gagasan yang berkembang. Mula-mula terbit cuma 2 halaman, bulletin GeGeR terus berkembang dengan pesat. Hanya bermodal kerelaan sumbangan teman-teman Bulletin yang berslogan Gerak-Gerik Revolusi yang kemudian berganti menjadi Gerbong Gerakan Rakyat ini, terus terbit walaupun dengan foto copy. Mesin produksi yang digunakan tidak lain adalah komputer ketua Korp, Djibril Fatkul Mu’in.

Ketika proses rapat redaksi, penulisan, editing sampai pada cetak (baca: print) seluruh teman-teman berkumpul di kost Djibril yang saat itu bermarkas di Sapen. Teriakan sebagai bentuk kegembiraan senantiasa muncul ketika lembar per lembar bulletin GeGeR ini di print. Dalam hemat saya, Bulletin GeGeR adalah bulletin terbaik dari segi layout, isi dan sebagainya dibanding bulletin dari Rayon lain (semoga tidak narsis).

Apresiasi yang mendalam terus bermunculan dari sahabat-sahabat Korp OSAMA secara umum. Lihat saja aksi dan promosi Kaesar Abu Hanifah (Nama aslinya Abu Hanifah, dulu sempat bernam Kristus, ntah karena alasan tertentu berganti nama) kepada rayon-rayon dan senior-senior. Disetiap rayon, mantan presiden mahasiswa ini selalu mempromosikan GeGeR. Obesesi saat itu, GeGeR akan dijadikan dasar pemandu pergerakan–sekurang-kurangnya–dalam tubuh OSAMA sendiri.

Atas dukungan dan apresiasi dari sahabat-sahabat OSAMA, aktivitas menulis di korp tahun 2001 ini berkembang dengan baik. Akan tetapi perlu diingat dan senantiasa kukenang bahwa semua pengalaman menulis ini dilalui melalui nekat, tanpa berguru, tanpa belajar teori dan teknik menulis.

Ada sebuah pengalaman pahit yang justru memberikan semangat yang luar biasa bagi saya. Ketika saya meminta email beberapa koran kepada salah seorang senior PMII yang lebih berpengalaman dalam menulis. Senior yang saat itu bertempat tinggal di Asrama Putra itu menjawab: kamu harus mencari sendiri email-email koran, sebagai bentuk usaha keseriusan kamu. Sejak itulah, saya tidak pernah bertanya kepada siapapun email-email koran untuk mengirimkan artikel. Dengan modal nekat—sebelumnya tidak tahu sama sekali—pergi ke warnet untuk mencari seluruh email-email tulisan. Satu-satu persatu email koran tersebut bisa saya dapatkan. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas menulis ditubuh PMII sangatlah langkah dan menjadi barang mewah yang tidak setiap orang bisa mengaksesnya.

Artikel demi artikel terus bermunculan di Duta Masyarakat. Diskusi yang berlangsung di internal teman-teman saya waktu SMU, sahabat-sahabat di Korp OSAMA, ataupun diantara teman-teman fakultas Ushuluddin angkatan 2001 (yang bernama FORMASI), serta semangat untuk membaca buku telah memberikan modal yang besar untuk terus menulis. Bahkan, dalam sehari saya bisa menghasilkan 3 sampai 4 artikel yang biasanya kesemuanya dimuat di Duta Masyarakat. Salah satu teman diskusi saya di Duta Masyarakat adalah Marluwi, kini dosen di STAIN Pontianak. Diskusi bersama mantan mahasiswa pascasarjana Unisma ini selalu berkisar tentang pluralisme, dialog agama-agama dan sekularisme. Saling menanggapi antara saya dan Marluwi tampaknya diberi ruang oleh redakstur Duta Masyarakat. Karena itulah, saya menyampaikan terima kasih kepada Redaktur Duta Masyarakat yang secara tidak langsung membuat saya percaya diri untuk menulis.

Menulis—saat itu—adalah sebuah kebutuhan primer yang mesti saya lakukan setiap hari. Dalam setiap harinya, kemanapun saya pergi selalu membawa kertas untuk mencatat gagasan-gagasan kecil yang muncul seketika. Ketika ngopi di Kopma seringkali memunculkan sebuah ide yang tertuang dalam sebuah artikel. Begitupula ketika diskusi, pergi ke mall, keakraban, refreshing dan sebagainya.

Semangat yang membara untuk terus menulis itu terus tertanam dengan baik sampai Korp OSAMA memiliki adik yang bernama Korp……….(lupa nama korpnya). Saat itu, Fatimatuzzaharo adalah aktivis perempuan yang saat lihat memiliki potensi besar untuk menulis. Berangkat dari pengalaman menulis cerpen dan catatan harian, Zahro—demikian teman-teman memanggilnya—selalu menorehkan baris per baris dalam buku agendanya. Saya berharap banyak kepada mahasiswi yang belakangan melanjutkan studi di STAIN Cirebon ini. GeGeR pun dilimpahkan kepada korp ini untuk dikembangkan dengan baik. Tapi tampaknya, Korp ini tidak banyak memproduksi kader untuk menulis. Kader-kader yang sebenarnya potensial ini justru hanyut dalam konflik yang berkembang di PMII.

Menghadapi situasi demikian, GeGeR akhirnya tetap berada dalam pengawasan korp OSAMA yang saat itu menjadi pengurus Rayon. Adik berikutnya pun muncul yang bernama Korp Perlawanan. Korps yang dipimpin orang mahasiswa berambut gondrong ini, Jakfar Shadik, ternyata menyimpan kader-kader penulis yang cukup baik. Didalamnya ada Syaiful Bari (semoga tidak salah tulis, sehingga tidak di complain), Ali Ustman, Hilal Alifi. Ketiga kader inilah yang sangat membanggakan saya secara pribadi. Jika tulisan pertama saya di Duta Masyarakat, maka tulisan Ipung—demikian saya memannggil Syaiful Bari—di muat di Harian Media Indonesia. Tulisan yang semula berupa resensi buku itu saya sarankan untuk dirubah menjadi artikel. Dan atas kecerdasan, pengalaman dan keberuntungannya, tulisannya tampil di Media Indonesia. Barangkali ipung merasakan kegembiraan yang sama ketika tulisan saya di muat di Duta Masyarakat.

Tak hanya itu, Ali Ustman juga tampil menjadi kader yang cukup produktif. Hilal yang baik saya cukup cerdas sampai saat ini belum pernah mempublikasikan karyanya di media massa. Mantan Pemimpin Umum HumaniusH tampaknya lebih banyak menulis untuk dikonsumsi sendiri. Kesibukannya di PPMI (organisasi pers mahasiswa) tampaknya telah menyita waktunya untuk menulis di media massa.

Ini berbeda dengan ali Ustman dan Syaiful Bari. Bagi keduanya, media massa tampaknya tak mampu menampung gagasan-gagasan yang telah ditelorkannya. Dulu saya berpikir, bahwa media massa di Indonesia sangatlah terbatas. Bagaimana tidak, dalam sehari seringkali saya bisa menghasilkan tulisan saya sampai 5 tulisan. Tetapi, bagi saya saat ini, media massa di Indonesia sangatlah banyak. Ini karena kemandulan saya dalam menulis. Ketika Abd. Mu’id Badrun berkomentar bahwa saya sangat produktif dalam menulis, dengan cepat Nurkhalik Ridwan menambahinya “itu dulu, sekarang tidak”. Begitupula ketika ipung menjadi moderator sebuah pelatihan Jurnalitis di tubuh PMII. Dengan bangga dia mengatakan bahwa “Bang Hatim (panggilan akrab Ipung—red) adalah penulis produktif di zamannya.”

Benar memang, ketika memasuki semester tujuh, aktivitas menulis mulai berkurang. Kesibukan demi kesibukan baik di kampus ataupun karena sudah mulai mapan berkat honorarium dari koran, menulis mulai menjenuhkan. Walaupun menyempatkan menulis, tapi tulisan yang saya hasilkan tidak bisa dimuat di media massa. Kemandegan dan kejenuhan dalam menulis sampai saat ini dirasakan. Tidak seperti saat-saat semester awal, untuk menulis satu artikel membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari. Jika dulu dalam setiap dua jam bisa menghasilkan satu artikel, sekarang dalam waktu sebulan belum tentu bisa mendapat satu artikel yang apik.

Jika saya refleksi mengapa ini terjadi. Barangkali ada banyak faktor. Faktor terpenting dan terutama adalah kurangnya berdikusi dan membaca buku. Jika dulu hari-hari penuh dengan aktivitas ilmiah, sekarang lebih banyak nganggur. Ini tentu saya sesali. Disaat beban hidup semakin berat, disaat tantangan masa depan semakin besar, mengapa kejenuhan ini terjadi.

Untuk itulah, kepada kader-kader yang masih akan terus menulis jangan lupakan untuk membaca buku dan berdikusi. Dua aktivitas ini adalah jantung bagi penulis. Tanpa ada diskusi, pikiran selalu mandul. Diskusi tanpa membaca buku, hanyalah sebuah pengulangan-pengulangan, tanpa mendapatkan hal yang baru.

Ada satu keinginan yang sampai saat ini belum pernah terwujud. Sejak dahulu kala, saya ingin melihat aktivis perempuan bisa menulis. Tetapi, sampai saya tamat dari UIN Sunan Kalijaga saya masih belum menemukan kader perempuan PMII yang tulisannya terpampang di media massa. Berulangkali hal ini saya sampaikan dalam setiap forum.

Saya tidak tahu faktor apa yang menyebabkan PMII tidak mampu melahirkan kader perempuan yang bisa menulis. Padahal, dalam setiap pelatihan jurnalistik yang pernah saya pantau, tidak sedikit kader perempuan yang menjadi pesertanya. Beberapa kali menjadi fasilitator pada pelatihan Jurnalistik, saya selalu memberikan support tersendiri bagi kalangan perempuan. Dalam setiap pelatihan jurnalistik, peserta selalu bertanya bagaimana cara menulis dengan baik. Jika ditanya seperti ini, saya tidak bisa menjawabnya. Karena bagi saya menulis bukanlah teori tetapi sebuah pengalaman. Tanpa pernah belajar teori menulis, alhamdulillah saya masih sempat mempublikasikan tulisan saya di media massa. Karena itulah, saya selalu menyarankan untuk tidak bertanya dengan bagaimana cara menulis. Tetapi menulis-lah dan menulis-lah. Abaikan dulu semua teori tentang menulis. Biarkan tulisan yang kita buat mengalir apa adanya.

Dan tampaknya beberapa peserta pelatihan jurnalistik hanya mampu bertanya di forum, tetapi realisasi untuk menulis sampai saat ini belum berwujud. Lihat saja penulis-penulis UIN yang semakin hari semakin berkurang. Kemandulan dalam menulis di tubuh PMII kini mulai tampak. Setelah Ipung, Aal (Ushuluddin), Muhammadun, Muklish (Syariah) dan sahabat-sahabat lainnya, kader-kader muda PMII tampaknya tidak (belum) tertarik untuk menulis. Walaupun sesekali saya pernah melihat tulisan Tijani (Ushuluddin) sebagai kader di bawah Ipung, tetapi greget dan mobilitas dalam menulis tidaklah sebesar yang dimiliki ipung dkk.

Dahulu, saya sempat berharap banyak terhadap kader-kader PMII untuk terus menulis. Sepengetahuan saya, mobilitas menulis paling tinggi untuk tingkat UIN Sunan Kalijaga dimiliki HMI. Kader HMI yang saya lihat paling produktif adalah Agus Hilman, teman saya ketika di SMU. Walaupun dalam satu komputer yang sama, antara Agus Hilman dan Saya pernah berdiskusi di Media Indonesia. Bermula dari tulisan saya yang berjudul Agama Edisi Revisi, Agus Hilman ternyata memberikan tanggapan yang cukup menarik dengan judul Menyempurnakan Agama yang kemudian mendapat tanggapan dari tetangga kamar yang kini studi di Pascasarjana UIN Jakarta, Hamam Faizin, dengan judul Menyempurnakan Agama Lagi.

Konon, saya sempat bermimpi akan memiliki 3-5 kader PMII dalam setiap tahunnya yang bisa meramaikan media massa. Angkatan 2003 yang dihuni oleh Ipung dan Kawan-kawan sungguh menjadi harapan besar bagi terciptanya aktivitas menulis untuk kader berikutnya. Tapi, tampaknya mimpi itu tidak (belum?) menjadi kenyataan-sekurang-kurangnya sampai saat ini.

Bahkan, kecenderungan kader PMII sampai saat ini lebih banyak kepada dunia politik praktis, baik di kampus ataupun secara nasional. Momentum-momentum politik akan selalu menjadi hajatan besar bagi kader PMII. Bukan hanya Pemilwa UIN Sunan Kalijaga, suksesi kepemimpinan mulai dari Rayon, Komisariat sampai Cabang selalu menjadi warna-warna politik PMII yang tidak jarang menorehkan dendam dan air mata.

Sejumlah konflik dan pertarungan antar kelompok selalu terjadi pasca peristiwa politik. Saya masih teringat bagaimana proses perebutan ketua Rayon antara Korp OSAMA dan Korp Tebe-tebe terjadi. Begitu pula ketika pemilihan ketua Komisariat. Pertarungan dan deal-deal politik antar rayon laksana suasana partai politik di negeri ini. Terlebih ketika suksesi Cabang (Konfercab) berlangsung.

Konon, saya sempat mendambakan peristiwa politik ini tidak hanya diwarnai oleh intrik-intrik politik yang tidak produktif. Saya mendambakan sebuah kedewasaan dalam berpolitik sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat. Gagasan antar calon presiden ketika debat terbuka menjadi wacana yang cukup menarik. Lihat saja pertarungan Hillary Clinton dengan Barrak Obama dan calon-calon lainnya yang selalu mengedapankan sebuah gagasan. Di USA, sebuah gagasan memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Hal senada juga saya harapkan bisa terealisasi dalam tubuh PMII. Sebagai mahasiswa yang terdidik, perdebatan sebuah gagasan diharapkan muncul dengan subur. Sehingga, bukan hanya aspek-aspek primordinal dan politik dagang sapi yang terjadi, tetapi justru sebuah pertarugan gagasan.

Tampaknya, hal itu sejauh ini masih menjadi mimpi yang semoga di lain waktu bisa terealisasi. Friksi-friksi antara kelompok di internal PMII sudah cukup menjadi pengalaman yang cukup berharga; bahwa konflik lebih banyak membawa malapetaka. Secara teoritis, konflik memang bisa memberikan sebuah perubahan. Pada pada kenyataannya, konflik yang berkembang di tubuh PMII sangatlah tidak produktif.

Yach, inilah barangkali angan-angan saya yang sangat awam tentang politik.

(Maaf kalau ada yang terlewatkan. Jika tidak keberatan, berikanlah komentar atau tanggapan sebagai pelengkap atau kritik atas tulisan ini)

Bersambung………..

Baca juga tulisan terkait:

  • Fenomena Penulis Jogja
  • Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori
  • Menulis Bermula dari surat cinta
  • Nilai Plus Menulis
  • 14 thoughts on “Bagian III; Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII”

    1. wah…aku jadi senyum2 sendiri bacanya (jadi sempet inget2 masa muda waktu kuliah dulu he..he..he..)
      Tapi sampai saat ini aku tetap salut akan ide2 cemerlangmu. Tetaplah semangat Cayo…cayoo…!!!

    2. Salut…deh buat Osama,,,! sanggar…sesanggar…nama dan orang2 Osamanya…………lengkap disana…….ada semuanya…Sahabat2 terbaik saya juga sebagian berasal dari Korp ini…?
      hayo…….arep komentar opo kowe tim…?

    3. siap komandan!!!!
      btw klo boleh ikutan nimbrung,beberapa moment penting banyak yang kau lewatkan sobat…tapi jujur kau mang selalu FANTASTIS!!!! mun ka jogja jek loppae ka kedai nusantara ok bung hatim…………

    4. Saudara Hatim, saya kenal dari mulut ke mulut. Sejatinya kecenderungan saya dalam ranah intelektual, namun saya ga betah membaca.Moga di hari depan, makin banyak karya anda torehkan.

      Bagaimana pendapat anda tentang model intelektual yang berkembang sekarang, maksud saya :sejenis intelektualisme yang bersembunyi di balik postulat-postulat ilmiah serta bahasa intelektual yang rumit, sekaligus tanpa tanggungjawab praksis dan keberpihakan nyata

      Pastinya karya anda akan dibaca generasi yang akan datang

      Umur manusia terbatas, umur pergerakan panjang, umur Negara lebih panjang lagi, sebab itu nasib pergerakan atau Negara tidak bisa disangkutkan pada orang –seorang (Hatta-1967)

      rico ws – sekjend HMI Yogyakarta
      http://www.ricows.wordpress.com
      http://www.hmi-jogja.com

    5. PAGI seorang filsuf perempuan adalah wajib untuk selalu gelisah dengan kemapanan,MALAM nikmat dengan kontemplasi dan gerakan tangan, tapi PAGI sahabat-sahabat PMII nyenyak dalam kenikmatan dan MALAM habis diwarung kopi
      itulah cermin sahabat2 yang kucintai sekarang!!
      kayaknya lagu leyeh-leyeh sekarang sangat cocok bagi sahabat2q
      Ayo sahabatQ BANGKIT negara membutuhkan kitA

    6. Saya pribadi mendambakan idealisme kepenulisan seperti yang anda harapkan….
      tapi setelah kami baca ternyata tulisan anda hanya sebagai kaki dari arang arang pragmatis dan mencoba menjadi stus quo….
      dengan niatan memperbaiki kaderisasi pmii jogja saya akan melakukan perlawanan terhadap kekerasan simbolik yang sedang anda mainkan………..

    7. semua orang sepakat bahwa kaderisasi pmii jogja dibawah komando jibril itu bobrok……..
      gaya kepemimpinan pragmatis, licik dan tidak patuh aturan main organisasi terus dilanggengkan…..
      ketika anda terus berada disana dan pro terhadap status quo, maka anda adalah bagian dari orang – orang yang mestinya bertanggung jawab dengan bobroknya kaderisasi di jogja

    8. bagian terakhir tulisan ini menyisakan ‘keprihatinan’ di hati saya. ternyata ‘ketidak harmonisan’ hubungan, susahnya merapatkan barisan, teman-teman kader NU itu massive terjadi dimana2 ndak hanya di induk semang nya : PKB, saja. Saya jadi bertanya2: Apakah ada yang salah di ‘ajaran’ NU. saya jadi teringat sindiran yang ndak rasional seh sebenarnya, begini: Jama’ah yang sholat jamaahnya ndak mau rapat shafnya [baca: NU], biasanya di real kehidupan, juga susah untuk merapatkan barisan. susah untuk solid, guyub rukun, berjuang bersama2 se arah tujuan, menuju cita2 bersama.

    9. di situ nyinggung masalah LKD yang sekarang berganti nama menjadi PKD. tolong jelasin bagaimana latar historisnya, dan apa alasannya? maksih.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s