Bagian V: Nilai Plus Menulis


Menulis bukan hanya untuk secuap nasi ataupun pulsa. Lebih dari itu, menulis adalah sebuah petualangan yang sangat mengasyikkan. Buktikan…..

Lalu, apa yang saya dapatkan dari menulis dan semua proses tersebut. Disamping pengalaman dalam hal menuangkan gagasan, ada beberapa hal lain. Pertama-tama yang harus disebut adalah honor. Sebagai mahasiswa yang berangkat dari kalangan menengah ke bawah, tentu saja honor menjadi point tersendiri. Bahkan, ketika saya refleksi mengapa di UIN muncul banyak penulis? Salah satu faktornya—dalam hemat saya—adalah keterbasan ekonomi. Inilah yang menjadi semangat untuk menulis, terutama di media-media yang memiliki honor.

Honor yang pertama kali saya terima dari Duta Masyarakat. Saat itu—entah sekarang—Duta Masyarakat tidak pernah mentransfer honorarium artikel kepada penulisnya melalui rekening. Inilah yang berbeda dengan koran-koran yang yang cukup dengan mencantumkan no rekening. Disamping tidak ditransfer, secara nominal honorarium Duta Masyarakat tergolong kecil jika dibandingkan dengan koran-koran lokal lainnya seperti Solo Pos, Bernas, Wawasan, Suara Merdeka dan lain sebagainya. Karena itulah, honor Duta Masyarakat saya ambil ketika saya di Surabaya. Honor pertama yang saya ambil lebih dari 1 juta. Maklum, ini bukan satu tulisan tapi banyak tulisan. Dengan menyertakan copy identitas diri, pencarian honor Duta tidaklah rumit.

Pasca itu, tulisan-tulisan saya tetap bisa menghiasai koran yang didirikan oleh Gus Dur ini. Untuk itulah, ketika saya mengambil honor yang kedua kali, jumlah honor saya lebih dari sebelumnya. Maklum, saat itu honor artikel kakak saya diambil bersamaan dengan pengambilan honor saya. Inilah duit yang cukup banyak untuk ukuran mahasiswa semester 3 ditahun 2002. Untuk itulah, saya membeli Handphone 3310 dan komputer second dari Djibril Fatkhul Mu’in. Komputer yang sebelumnya digunakan untuk keperluan GeGeR terbelih 1,5 juta. Melalui komputer inilah, saya terus berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya.

Saat itulah, sejumlah artikel saya terpublikasikan di media-media lain. Setelah Solo Pos dan Suara Karya, atikel saya muncul di Media Indonesia, Jawa Pos, Bernas, Jaringan Islam Liberal. Disamping media-media tersebut, sampai sekarang tulisan saya belum pernah mengudari di Kedaulatan Rakyat (KR), Kompas, Koran Tempo, Republika, Gatra, Tempo dan beberapa media lokal lainnya. Melalui koran-koran yang mempublikasikan artikel saya tersebut, saya bisa mendapatkan honorarium. Disamping itu, melalui aktivitas menulis saya bisa berkenalan dengan banyak orang, terutama penulis-penulis yang telah berpengalaman. Nama saya pun tidak asing ketika berkenalan dengan beberapa intelektual muda. Penulis yang pertama kali saya kenal adalah Marluwi karena selalu bisa berdikusi di Duta Masyarakat. Tapi, ntah mengapa beberapa tahun ini saya tidak pernah menjumpai tulisan yang sama. Apakah ia memiliki nasib seperti saya; jenuh dalam menulis.

Selain honor, sejumlah event-event lain bisa saya ikuti. Sejak semester dua, saya mengikuti lomba karya tulis di media massa yang setiap semester di adakan oleh UIN Sunan Kalijaga. Tahun 2002, lomba ini pertama kali diadakan. Dan sayapun tidak menyia-nyiakan. Dan Alhamdulillah, saya bisa juara II untuk kategori Artikel, sementara juara I-nya adalah Ahmad Nurhasyim (Mantan Ketua Cabang PMII Jogja). Untuk berikutnya, saya—alhamdulillah—selalu juara satu sampai ijazah UIN berada dalam genggaman saya, kecuali ketika Syaiful Bari ikut lomba tersebut dan ternyata mampu menggeser posisi posisi ke nomor dua. Karena itulah, tak berlebihan jika ku katakan bahwa Syaiful Bari adalah kader yang sangat potensial. Walaupun masih sering sakit, cowoknya Hanik ini selalu tampak energik dan cerdas untuk membingkai gagasan-gagasannya.

Ketika lomba Karya Tulis bertaraf Jogja diselenggarakan oleh LPM Arena diselenggarakan, saya menyempatkan diri untuk mengikuti. Pada dasarnya, temanya lomba karya tulis tersebut bukan bidang studi saya, temanya adalah JOGJA PASCA OTONOMI DAERAH. Walaupun bermula dari iseng, alhamdulillah saya bisa menjadi Juara satu setelah mempresentasikan dihadapan dewan juri.

Kebiasaan menulis baik menulis surat cinta, artikel ataupun hanya sekedar catatan pendek seperti pada SMS, ternyata memiliki konstribusi yang besar ketika menggarap Skripsi. Ketika saya hendak KKN (Kuliah Kerja Nyata), saya sempatkan diri untuk mengajukan judul. Dan, alhamdulillah tanpa ada penolakan, yakni langsung diterima. Akan tetapi, diterima judul skripsi bukan menjadi spirit untuk menggarap proposalnya. Proposal saya garap ketika KKN usai. Saat itu, saya berangan-angan, dalam waktu dekat setelah KKN saya bisa wisuda. Eh…kenyataan berbicara lain. Waktu terbuang begitu saja, hingga akhirnya saya masuk ke semester 10. Sejak itulah saya memaksakan diri untuk menggarap skripsi.

Semula berjudul Hubungan Agama Dan Negara Menurut Islam Dan Kristen. Akan tetapi setelah dibimbing oleh bapak Dr. Djam’annuri judul tersebut harus dirubah dengan alasan tidak compatible untuk membandingkan islam dan kristen dalam konteks hubungan agama dan negara. Judul alternatif saya ajukan kepada mantan dekan ini, Fundamentalisme Agama; Studi Pemikiran Abdurrahman Wahid dan TH Sumartana. Alhamdulillah judul ini diterima. Saya pun tidak disarankan untuk menseminarkan proposal saya, tetapi cukup mengisi blanko yang telah disedikan oleh Sekretaris Jurusan (Ustadi Hamzah, M.Ag).

Selesai membuat proposal, kemalasan datang terus menganggu saya, hingga akhirnya molor satu bulan. Ketika pengumuman tentang batas akhir munaqasah keluar saya pun tersadar untuk menggarap skripsi dengan super cepat. Dan alhamdulillah, tak lebih dari 7 hari skripsi setelah 150 halaman bisa saya rampungkan. Inipun membutuhkan kerja keras yang cukup melelahkan. Jika biasanya selalu bangun kesiangan, tapi saat garap skripsi waktu tidur saya hanyalah 2 jam, yakni antara jam 5 sampai jam 7. Untuk memompa stamina saya sempatkan minum telor ayam kampung, susu, dan madu asli yang. Kedisiplinan dalam bangun bagi ini semuanya tidak lepas dari jasa besar dan perhatian dari sang adinda, Muwafiqotul Isma. Dialah yang setiap pagi mengunjungi kamarku sekedar untuk membangunkan dan kadang membelikan sarapan. Kepadanya, saya haturkan terima kasih. Apa yang telah kau berikan kepada saya, semoga menjadi sesuatu yang semoga abadi antara saya dan dia.

Selesainya skripsi, saya langsung bimbingan dengan bapak Djamannuri dan Bapak Muttaqin sekaligus. Jika pak Djam’an lebih banyak mengoreksi dan berdikusi seputar materi dan isi skripsi saya, maka Pak Muttaqin mengomentari dan mengedit cara dan teknik penulisan baik footnote. Tidak hanya itu, pak Muttaqin juga memberikan beberapa tulisannya dalam bahasa Inggris tentang fundamentalisme (sebuah tulisan yang saat itu tidak bisa saya pahami dengan baik dan semoga lain waktu bisa memahaminya). Hanya butuh 2 kali bimbingan, sidang Munaqasah pun sudah siap.

Saat itu, terik matahari terasa sangat panas, sementara saya harus mengumpulkan sejumlah referensi guna kebutuhan sidang Munaqasah. Dan alhamdulillah walaupun penguji dan ketua sidang lebih dahulu datang dibanding saya, sidang munaqasah skripsi saya berlangsung dengan baik. Saat itu, Ibu Sekar Ayu Aryani yang kini menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin menjadi pemimpin sidang. Semula saya membayangkan, sebelum disodorkan sejumlah pertanyaan oleh penguji saya punya waktu untuk mempresentasikan. Tapi, bayangan itu berbeda dengan kenyataan. Setelah membukan sidang Munaqasah, Ibu Sekar langsung mempersilahkan Pak Djam’an selaku pembimbing untuk memberikan perntanyaan-pertanyaan sebagai warming-up.

Keberbedaan antara bayangan dan fakta yang saya hadapi saat itu membuat pikiran saya stuck. Pertanyaan-pertanyaan pak Djam’an tidak bisa saya jawab dengan baik. Begitu pula pertanyaan-pertanyaan dari Ibu Dr. Hj. Alef Theria Washim, MA dan bapak Fakhruddin Faiz MA selaku penguji. Memang saat itu, saya tidak tampak grogi dan bahkan memberikan joke-joke yang membuat sidang sakral nan angker itu tampak lebih manusiawi dan segar. Akhirnya saya harus puas dengan nilai yang diberikan dengan melakukan beberapa revisi ringan yang telah disarankan oleh para anggota sidang.

Perjuangan untuk mendapat gelar tak cukup disitu. Ketika selesai revisi dan hendak minta pengesahan dari dosen-dosen yang terlibat dalam sidang munaqasah, perjuangan baru harus ditempuhnya. Keengganan salah satu peserta sidang untuk tandatangan karena penguji belum tandatangan menjadi kendala tersendiri. Begitu pula ketika mengejar satu tandantangan sampai ke Rumah Sakit Islam Klaten bersama Harsa Trimona. Saat itu, yang semestinya tandatangan adalah Ibu Sekar Ayu Aryani. Tapi karena beliau tidak sedang di Jogja, akhirnya diwakilkan kepada sekjen-nya, Ustadi Hamzah. Tapi nasib saya kurang beruntung, ketika hendak minta tanda tangan pak Ustadi, ayah beliau sedang sakit di RSI Klaten sehingga tidak ke kampus. Informasi ini saya dapatkan dari Pak Soehada yang saat itu menjabat Sekjur Sosiologi Agama.

Mendengar informasi itu, saya bersama Harsa Trimono tepatnya hari Jum’at, mengejar pak Ustadi untuk mendapatkan tandatangan. Setelah shalat Jum’at di salah satu mesjid dekat jalan raya, saya melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di RSI Klaten. Sesampainya disana, saya mencoba untuk telp pak Ustadi untuk menanyakan kamar. Ini memang saya maksudkan bukan hanya untuk minta tandantangan tapi juga menjenguk keluarganya Pak Ustadi. Melalui telp pak Ustadi menjawab bahwa dirinya telah pulang dari RSI Klaten dan sekarang sudah dirumah. Ia juga berpesan agar surat pengesahan saya disimpan di atas mejanya untuk ditandatangani besok harinya.

Sabtu pagi, jam 08.00 saya sedang menunggu kedatangan Pak Ustadi. Saat itu sidang Senat Fakultas diberlangsungkan. Saya menunggu sampai jam 10.00. Saat saya telp pak Ustadi beliau menjawab bahwa dirinya masih di RSI Klaten dan beliau minta agar diwakilkan pak Soehada. Saya pun mendatangi Pak Soehada yang saat itu sedang sidah senat. Semua surat-surat yang mestinya ditandatangi oleh pak Ustadi hari itu diwakilkan kepada Pak Soehada. Melihat surat pengesahan saya yang tak tercantum nama Ustadi Hamsah, pak Soehada hampir saja menolak untuk tandatangan. Setelah saya memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya yang bertandatangan adalah Ibu Sekar, kemudian mewakilkan kepada Pak Ustadi kemudian diwakilkan lagi kepada bapak Soehada, akhirnya ia bersedia untuk tandatangan. Saya pun siap untuk diwisuda sampai akhirnya aba, ummi, kakak dan kakek (mbah) datang ke jogja untuk menghadiri wisuda saya. Itu saat-saat yang cukup membanggakan.

Terhadap skripsi yang saya buat tidak lebih 7 hari ini, ternyata belakangan hari memberikan prestasi yang cukup gemilang. Ketika Ditpertais Depag RI menyelenggarakan Skripsi, thesis dan Disertasi award, saya tidak menyia-nyiakan momentum itu walaupun tak pernah terbersit akan menjadi juara. Harapan saya, cuma sekedar meramaikan momentum tersebut. Ada dua syarat yang harus saya penuhi untuk mengikuti skripsi award itu. Pertama, surat keterangan dari Fakultas dan surat keterangan penerbit bahwa skripsi itu akan diterbitkan.

Mula-mula untuk memenuhi syarat, saya mohon surat keterangan kepada Fakultas, yakni kepada Fahmi M. Hum yang saat itu menjabat sebagai Dekan Fakultas. Guna mempersingkat waktu, saya membuat surat sendiri dan cuma butuh nomor surat, tandatangan dan stempel. Semua format dan bentuk surat yang saya ajukan disalahkan oleh Fahmi sehingga saya harus pulang pergi ke kampus sebanyak 3 kali dalam sehari. Itupun tidak membuahkan hasil. Besoknya saya pasrahkan kepada pihak TU untuk membuatkan surat keterangan yang kemudian Bapak Fahmi bersedia untuk tanda tangan.

Sementara itu, saya cukup bingung tentang surat keterangan dari penerbit; darimana saya harus mendapatkannya. Sayapun hendak membatalkan rencana saya untuk mengikuti skripsi award tersebut. Tapi atas dorongan Mbak dan Fika yang waktu itu saya berencana membeli sepeda motor, saya kemudian berpikir tentang surat keterangan dari penerbit. Tiba-tiba ketika habis isya’ saya teringat seorang senior perempuan yang cukup baik dan beraliran pluralis. Dia adalah Elga Sarapung. Saya mengenalnya melalui acara-acara yang diselenggarakan oleh BEMJ PA yang seringkali bekerjasama dengan Interfidei. Saya mengirimkan SMS kepadanya menceritakan tentang judul skripsi saya dan hendak meminta surat keterangan dari Interfidei untuk keperluan mengikuti skripsi awar. Walaupun tanpa membaca skripsi saya, barangkali karena tentang TH Sumartana, founding fathers Interfidei, Mbak Elga menyetujui dan siap memberikan surat keterangan besok harinya.

Esoknya saya pun harus pergi ke interfidei. Melalui Amin yang saat itu memegang bagian penerbitan, surat keterangan dari penerbit bisa saya dapatkan. Dua surat keterangan sebagai syarat itu ternyata tak menghilangkan keraguan saya untuk mengikuti skripsi award. Disamping pesimis akan mendapat juara, kondisi keuangan saat itu sangatlah mepet. Maklum, Depag mensyaratkan untuk mengirimkan 3 jilid skripsi. Masa deadline kurang dua hari, saya bertemu Moh. Salman Hamdani, seorang sahabat saya yang selalu “menjauh” dari perempuan. Saya bercerita tentang niat saya, tapi ada kendala keuangan untuk mengirimkannya. Dia pun menyarakan untuk melalui kirim barang, via Pandu yang bertempat disebelah selatan Gramedia. Dan, ternyata solusi Salman sangatlah benar. Harganya cuma 20.000 skripsi saya dikirim ke Jakarta.

Karena sekedar untuk meramaikan dan tidak bermaksud untuk memperebutkan juara karena sadar diri dengan kualitas skripsi saya, saya pun melupakan momentum itu. Tiba-tiba, ada seorang kawan, mahasiswi Fakultas Adab yang saya kenal ketika hendak mengikuti Pekan Ilmiah di Taman Mini Indah Jakarta, Saudari Maryam, mengirimkan SMS bahwa saya juara I. Membaca SMS dari sahabat saya yang kini studi s2 di Maroko ini saya langsung mempercayainya. Saya cek ke interne. Ternyata, tidak ada pengumumam dari Ditpertasi. Konon, Maryam sudah tahu informasi itu sebelum dipublish di Internet. Maklum dia dekat dengan orang-orang Depag. Saya pun menganggap bohong dan tidak akan mempercayainya kalau saya juara satu.

Nah, ketika tabungan saya sudah terasa cukup untuk membeli sepeda motor, ada sebuah SMS masuk dari mas Marzuki Wahid yang menginformasikan bahwa saya juara I skripsi award dan mendapat 25 juta. Dengan bangga, saya langsung telp Aba dan menceritakan tentang informasi dari Mas Marzuki Wahid itu sekaligus saya menggagalkan rencana Aba yang hendak menyumbang untuk membeli sepeda motor. Saya pun menelpon Mas Jeki (panggilan akrab untuk Marzuki Wahid) untuk menyampaikan terima kasih dan menanyakan hal-hal yang mesti harus kulakukan untuk mencairkan dana tersebut. Tak hanya itu, Mas Jeki juga memberikan saran-saran penting yang semuanya diarahkan untuk mengembangan akademik dan skill saya. Semua tabungan yang berada di ATM saya ambil untuk membeli kebutuhan-kebutuhan saya, terutama pulsa.

Karena mendapat juara I ini, saya diundang untuk mengikuti acara annual conference Islamic Studies di Lembang Bandung. Acara yang cukup bergengsi itu saya hadiri bersama Agus Hilman yang saat bersamaan juga diselenggarakan Pekan Ilmiah Mahasiswa. Di acara tersebut, saya diperlakukan dengan baik oleh panitia. Jika peserta yang nota bene adalah dosen dan peneliti harus mengantri untuk mendapatkan kamar dan fee, saya dengan mudah langsung dibimbing oleh Panitia. Saat itu, saya sekamar dengan Syaefuddin yang mendapat juara II thesis award. Saya pun dibebaskan untuk mengikuti acara-acara yang ada di annual conference tersebut. Begitu pula dengan makan. Disana, saya banyak bertemu dengan orang-orang penting mulai dari tingkat dosen, rektor, intelektual sampai pada penelitia dan aktivis LSM.

Ketika malam pengumuman skripsi, thesis dan disertasi award saya sedang ngobrol bersama Ust. Nakhai dan Pak Jalil (Kudus) di kamarnya. Saya tidak tahu bahwa malam itu adalah pengumuman. Mendengar rame-rame dan hendak mengambil snack, saya bersama kedua guru saya tersebut keluar. Tak lebih dari 1 menit, nama saya dipanggil sebagai pemenang skripsi award. Diatas panggung ketika ditanya MC tentang perasaan saya mendapat juara 1 tersebut, dengan tanpa grogi saya menjawab “biasa aja mbak“. Peserta pun langsung tertawa, ntah apa yang lucu. MC juga menanyakan untuk keperluan apa uang sebesar itu? Sangat simple saya menjawab untuk kebutuhan nikah. Seluruh peserta tertawa lagi, termasuk kakak saya yang saat itu hadir menjadi juri lomba karya tulis pada Pekan Ilmiah Mahasiswa.

Tapi sayangnya, uang tidak saya terima saat itu. Depag tampaknya lebih percaya mentransfer via ATM setelah memotong 15 % untuk pajak. Setelah hadiah itu dikirim, saya tidak lupa untuk menyampaikan terima kasih sosial kepada teman-teman dan keluarga saya. Karena menjadi juara 1 bagi saya terlalu istimewa. Barangkali, ini bukan karena kualitas skripsi saya, tetapi semata-mata keberuntungan dan doa dari keluarga dan teman-teman. Disebut demikian, karena saya merasa tidak puas dengan hasil skripsi saya yang saya anggap masih sangat mentah, tanpa analisis. Karena terima kasih sosial dan realiasasi rencana saya, uang itu pun kini raib ntah kemana. Rencana untuk membeli sepeda motor ataupun kursus di Bali ternyata gagal. Saya menyesal mengapa begitu boros.

Sebelum mendapatkan skripsi award, acara depag yang pernah saya ikuti adalah Pekan Ilmiah Mahasiswa di TMII Jakarta. Bersama Saudari Maryam saya berangkat. Untuk kebutuhan transportasi yang saat itu kantong sedang kosong saya minta kebijaksanaan pak rektor dan dekanat. Setelah saya menemui rektor, Pembantu Rektor I, II dan III di kantor Rektor, akhirnya pihak kampus bisa memberikan uang transportasi. Begitu juga dengan pihak Fakultas. Melalui Ibu Sekar Aryani yang saat itu menjadi Ketua Jurusan Perbandingan Agama, saya mohon bantuan. Akhirnya, baik rektorat ataupun fakultas sama-sama memberikan uang transportasi kepada saya. Sementara, Maryam hanya cukup dari rektorat karena pihak fakultas Adab sedang tidak berbaik hati. Karena itulah, saya sampaikan terima kasih atas semua pihak-pihak yang membantu kelancaran semua program yang saya ikuti. Disana ada Prof. Dr. Amin Abdullah, Maragustam, Sekar Ayu Aryani dan lain sebagainya.

Bersambung………..

Baca juga tulisan terkait:

  • Fenomena Penulis Jogja
  • Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori
  • Menulis Bermula dari surat cinta
  • Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII
  • Iklan

    6 thoughts on “Bagian V: Nilai Plus Menulis”

    1. sejarah kamu emang adem banget dibaca. tak sekedar salut, semoga apa yang terjadi pada sejarahmu akan menjadi uswatun hasanah bagi seluruh teman-teman muda lainnya. salam, zaki//. bukankah peristiwa PIM 2005 begitu indah untuk dilupakan…HE….he….

      aku ada di 085642588901.
      samperin GWe duonK………………

    2. Thank….lain kali aku menyempatkan diri untuk menulis tentang PIM di jakarta bersama teman-teman, terutama intrik-intrik yang muncul. Dan, semuanya itu memberikan kesadaran baru buat saya

    3. Suatu saat….aku berharap orisinalitas gagasan n tulisanmu mampu merubah n mengerakkan sejarah…sehingga tercipta kondisi yg lebih baik tuk indonesia sahabat..!
      sebagaimana Al-Qur’an n Das Kapital yang mampu membius dan mengerakan umat manusia….!

    4. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

      Komunitas Tinta Sejarah
      (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

      Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s