Fenomena Penulis Jogja


Pada tingkat mahasiswa, Jogjakarta adalah tempat menjamurnya para penulis-penulis muda yang berbakat. Lihat saja tulisan-tulisan mahasiswa yang dalam setiap harinya tidak jarang menghiasi media massa baik lokal maupun nasional. Tetapi, tidak sedikit para mahasiswa yang enggan menulis identitas mahasiswanya. Barangkali, di hadapan para redaktur identitas mahasiswa kurang mumpuni untuk menulis. Karena itulah, bermunculan nama identitas lain ntah nama kelompok diskusi ataupun hanya sekedar menjadi pengamat.

Dalam hemat saya, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga adalah kampus yang paling produktif dalam menulis. Anggapan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sewaktu saya mendatangi kantor Suara Merdeka untuk mengambil honor satu-satunya tulisan saya di media tersebut, sebelum saya duduk di kursi pihak Suara Merdeka langsung menebak “Dari UIN yah mas”. Sayapun kaget. Kok tau ibu….tanyaku. Kemaren dan barusan yang datang kesini semuanya anak UIN. Ooooh…gumamku. Pihak Suara Merdeka pun menanyakan, mengapa di UIN banyak penulis yang selalu menghiasi media massa. Saat itu, saya tidak bisa menjawab.

Kini, aku mencoba untuk menjawab pertanyaan itu. Mengapa Jogjakarta menjadi lumbung penulis muda yang berbakat? Dalam hemat saya, ada banyak faktor. Pertama, iklim ilmiah yang sangat kondusif. Sejak dulu, Jogjakarta telah mampu melahirkan banyak pemikir dan intelektual di negeri ini. Gus Dur, Amin Rais, Cak Nur (alm), Wahib, Kuntowijowo, Shindutana, Sumarta dan lain sebagainya adalah tokoh-tokoh yang pernah mengenyam pendidikan di kota Gudeg itu. Menjamurnya kampus dan penerbit-penerbit alternatif menjadi faktor utama terciptanya iklim yang sangat kondusif itu.

Letak antar kampus yang sangat berdekatan, biaya hidup yang relatif murah—jika dibandingkan dengan Jakarta—Jogjakarta sungguh layak menyandang predikat sebagai kota pendidikan. Di kota yang dipimpin oleh Sri Sultan inilah, sejumlah kelompok diskusi muncul. Kondisifitas kota Jogjakarta telah menjadi inspirasi bagi para penulis untuk menuangkan gagasannya baik dalam bentuk artikel, resensi buku, esai, pusi, cerpen, novel serta buku-buku ilmiah.

Kedua, faktor ekonomi. Pandangan sementara saya, problem finansial menjadi salah satu spirit untuk menulis. Tanpa bermaksud mengeneralisir, paling tidak berangkat dari sulitnya ekonomilah, saya harus terus menulis. Melalui honor didapatkan, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak sedikit penulis lain yang mengalami hal serupa dengan saya. Bahkan, banyak penulis-penulis muda yang sudah hidup mandiri, tanpa bantuan orang tua. Mengandalkan beasiswa tidaklah cukup. Untuk itulah, menulis adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.Sekurang-kurangnya, dua hal itulah yang menjadi penyebab mengapa para penulis muda tumbuh subur di Jogjakarta. Ke depan, semoga hal itu bisa berkembang dengan baik. [Hatim Gazali]

Baca Juga Berita Terkait

  1. Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori
  2. Menulis Bermula dari surat cinta
  3. Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII
  4. Nilai Plus Menulis

6 thoughts on “Fenomena Penulis Jogja”

  1. Saya salah satu orang yang kagum sama jenengan mas, selain sebagai senior saya, jenengan bner-bner telah banyak memberikan motivasi kesemua orang terutama saya (amu).terimakasih Jazaka4JJI biahsanal jaza. saya sangat senang bisa menggali pemikiran-pemikiran jenengan lewat tulisan-tulisan yang ada di situs ini mas, walupun saya mungkin telat mengetahui situs jenagan ini. Dari tulisan yang satu ini saya pengen memberikan tanggapan kenapa koq orang punya motivasi menulis kebanyakan karena faktor finansial. ada g sich mas contoh-contoh orang yang pengen nulis karena pengen bner-bner nyampaiin gagasan yang ada difikirannya ato punya motivasi lain selain finansial,sukses selalu buat jenengan mas. maaf kalo komentar saya ini terlalu lugu mas. sukses selalu buat jenengan mas. Wass Amu

  2. Beda lagi kalo ceritanya dari UIN SGD Bandung.
    Penulis sangat minim (kalu ttidak disebut tak ada) entah apa kendalanya. yang jelas budaya kampus tak menduukung, hingga pudar..he.he..

    Salam kenla ya dari ank UIN SGD Bandung

  3. Mas, nitip publikasi nyari editor ya…

    Future Works, sebuah Konsultan humas berbasis di Jogja, membutuhkan seorang editor in chief untuk peoyek-proyek media humas yang kami terbitkan.

    Syarat:
    – Pria S1 max 29 tahun berdomisili di Jogja
    – Punya kemampuan analisa, trategi dan manajerial yang baik
    – Memiliki pengalaman jurnalistik min 2 tahun (diutamakan pernah jadi editor atau pimred, media non-mainstrem juga boleh)
    – punya visi disain visual (baik media cetak maupun web)

    Kirim CV Anda ke info@future-works.net sebelum 1 Mei 2008.

    Terimakasih

  4. Jogja itu adalah kawan condro dimuko…Hehhehe..sayangny ruang diskusi kusus sesama penulinya masih minim…kalo bisa mari kita bentuk kelompok diskusi…khusus para penulis gituh…dulu aku punya rencana membentuk JPI Jaringan Penulis Indonesia…tapi karena responnya minim ya belum bisa berlanjut…untuk temen-temen yang punya kenalan penulis…tolong kenalkan ke saya..email ke endik_penulis@yahoo.com salam hangat….penulis itu seperti empu, ketika semua telah tidur, biasanya penulis masih terus berpikir tanpa henti….Merdeka…

  5. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

    Komunitas Tinta Sejarah
    (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

    Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s