Menyoal Kriteria Sesat ala MUI


….baik fatwa sesat ataupun 10 kriteria yang dikeluarkan oleh MUI hanya akan melahirkan persoalan baru ditengah-tengah masyarakat. Kekerasan, diskriminasi menjadi absah karena landasan fatwa, begitu juga dengan penangkapan oleh aparat negara. Akhirnya, keyakinan seseorang yang bersifat subyektif-persoanal harus dihadapi oleh represifitas negara dan anarkisme sosial…..

Maraknya aliran-aliran baru (alternatif?) yang berbeda dengan keyakinan mayoritas, memaksa Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberikan sejumlah kriteria tentang sesat dan tidaknya sebuah aliran tertentu. Bagi MUI, ada sepuluh kriteria aliran sesat. Diantaranya yang layak untuk dicermati adalah : Menyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, dan mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.

Tiga dari sepuluh kriteria MUI ini, dalam hemat saya, akan menimbulkan kontroversi dikalangan masyarakat. Terhadap ketiga hal inilah tulisan ini dihadirkan untuk memberikan catatan-catatan kritis sebagai langkah untuk dialog. Ini karena kriteria tersebut merupakan kreatifitas manusia yang sangat subyektif. Pemberlakuan kriterian-kriteria yang subyektif akan melahirkan bahaya di internal umat islam. Betapa tidak, tradisi takfir (pengkafiran) yang seringkali berujung pada kekerasan dan anarkisme akan berkembang pesat.

Aqidah Menyimpang

Ketika islam masuk ruang sejarah kemanusiaan, maka pemahaman terhadapnya tidaklah seragam. Perbedaan tafsir terhadap islam tidak bisa dielakkan. Ini karena manusia senantiasa berdialektika dengan ruang dan waktu. Cara pandang umat islam yang berada di pelosok desa tentu sangat berbeda dengan umat islam perkotaan. Begitu pula dengan al-Qur’an. Sebagai teks yang vakum, al-Qur’an akan terus dipahami oleh pembacanya tanpa ada “tentara-tentara” Tuhan yang siap membenarkannya. Tak pelak, lahirlah kelompok-kelompok dalam ilmu kalam seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Sunni, Khawarij, dsb yang berbeda satu sama lain.

Dalam konteks inilah, kriteria MUI tentang tidak mengikuti Aqidah menurut al-Qur’an perlu dipersoalkan. Perbedaan dalam friksi-friksi yang berkembang dalam ilmu kalam bukan hanya pada hal-hal furu’iyah-partikular, tetapi juga menyangkut tentang hal-hal yang subtansial, seperti tentang ketuhanan dan posisi al-Qur’an. Bahkan, masing-masing individual memiliki cara pandang yang unik-istimewa terhadap agamanya yang berasal dari pengalaman keagamaan (religious experience) yang bersifat subyektif. Terhadap hal ini, penulis telah menyinggungnya, “Memaknai Kembali Islam Kita” (Media Indonesia, 01/08/2003)

Duduk persoalannya terletak pada relatifitas pemahaman manusia tentang al-Qur’an dan perkembangan zaman yang terus berubah. Jika standar aqidah Sunni yang digunakan, maka kelompok-kelompok lain seperti Syi’ah, Mu’tazilah adalah kelompok sesat. Begitu seterusnya. Penentuan terhadap satu aqidah akan memberangus aqidah-aqidah lain. Akan tetapi, tanpa ada ketentuan aqidah sesuai dengan al-Qur’an juga akan melahirkan kontroversi dan konflik ditengah-tengah masyarakat.

Tafsir al-Qur’an

Dalam studi al-Qur’an (Ulumul Qur’an), metodologi penafsiran terhadap al-Qur’an tidaklah tunggal; yakni bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yu, belum lagi metodologi kontemporer yang berkembang saat in. Karena perbedaan metodologi plus pengaruh internal dan eksternal, lahirlah sejumlah tafsir seperti tafsir al-Kasysyaf, al-Mizan, Jalalain, al-Thabari, Tafsir al-Fahr al-Razy, al-Misbah dan lain sebagainya. Seluruh tafsir tersebut memiliki penafsiran-penafsiran sendiri yang berbeda satu dengan lain.

Belum lagi jika memahami makna tafsir secara umum. Menafsirkan bukan sekedar memberikan arti atau pemahaman terhadap suatu ayat tertentu. Lebih dari itu, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan teks al-Qur’an juga masuk dalam tafsir. Bacaan basmalah ketika hendak makan, misalnya, pada dasarnya adalah bagian dari tafsir. Begitu juga bacaan-bacaan al-Qur’an yang digunakan untuk keperluan duniawi seperti mengusir jin, setan. Hal ini disebut tafsir karena terkait dengan pemahaman al-Qur’an. Inilah yang belakangan disebut living qur’an. Jika ketidaktunggalan cara penafsiran yang berkembang diantara umat islam terhadap al-Qur’an, lalu bagaimana bisa ditentukan suatu metode yang benar. Bukankah setiap metode menyimpan kelemahan dan kelebihan masing-masing.

Terhadap hal ini penulis khawatir MUI akan bertindak sewenang-wenang terhadap proses penafsiran yang bisa jadi dikategorikan sesat. Hal-hal yang bersifat relatif seperti metodologi penafsiran diposisikan sebagai hal yang qath’i. Disinilah problem krusial dari kriteria fatwa MUI tersebut.

Tradisi Takfir

Dalam kitab Sullam yang di tulis oleh Syekh Nawawi al-Banteni yang pernah penulis pelajari waktu di Pesantren telah dikatakan bahwa man kaffara al-muslimina faqad kafara (siapapun yang mengkafirkan sesama muslim berarti ia sendiri yang kafir). Dalam al-Qur’an juga telah disebutkan bahwa pengkafiran terhadap seseorang hanyalah hak mutlak Tuhan, inna rabbaka huwa ‘a’lamu biman dzalla ‘an sabilihi wahuwa a’alamu biman ihtada (Yunus; 99). Karena itulah, tak seorangpun bisa mengkafirkan seseorang/kelompok tertentu.

Yang menjadi persoalan adalah pada tataran praksis. Tidak jarang ditemukan suatu kelompok tertentu mengkafirkan kelompok lain. Bahkan, MUI yang mengeluarkan fatwa ini juga seringkali mengkafirkan kelompok tertentu. Bukankah ini sebuah kontradiksi antara pernyataan dan sikap. Sebelum terhadap al-Qiyadah, MUI juga telah menuduh sesat dan kafir terhadap Lia Eden, Ahmadiyah dan bahkan terhadap gagasan/ide seperti sekularisme, liberalisme dan pluralisme juga dikategorikan haram dan sesat.

Kenyataan ini sungguh ironis. Keluarnya 10 kriteria aliran sesat ini secara tidak langsung telah merampas otoritas Tuhan. Kendati telah menyertakan sejumlah dalil syar’i untuk menjustivikasi fatwanya, pengkafiran terhadap suatu kelompok tetap tidak bisa ditoleransi. Pasalnya, dalil yang digunakan pada dasarnya adalah hasil dari pemahaman yang bersifat relatif dan subyektif. Al-Qur’an bayna daffayai al-Mushaf la yantiqu wainnama yatakallamu bihi al-rijal, demikian kata Sayyidina Umar. Bahwa al-Qur’an tidak pernah bisa berbicara, tetapi pembacalah yang menyuarakannya.

Dengan demikian, baik fatwa sesat ataupun 10 kriteria yang dikeluarkan oleh MUI hanya akan melahirkan persoalan baru ditengah-tengah masyarakat. Kekerasan, diskriminasi menjadi absah karena landasan fatwa, begitu juga dengan penangkapan oleh aparat negara. Akhirnya, keyakinan seseorang yang bersifat subyektif-persoanal harus dihadapi oleh represifitas negara dan anarkisme sosial. Hal ini mungkin tidak terjadi jika fatwa MUI bukan halal-haram, hitam-putih tetapi sebuah fatwa yang mencerahkan dan transformatif. [Hatim Gazali]

One thought on “Menyoal Kriteria Sesat ala MUI”

  1. ya Tim,,, kayake kita juga akan tergerus dari perputaran pemikiran di jagad Indonesia nih… Makanya, blajar aja bahasa Inggris yang baek biar bisa berlindung di Padepokan Amerika semacam Kang Ulil ato Kang Sumanto,,, inget kan doa dari Mas Yudian,,, bagimanapun juga, kalo kita masih enjoy aja di wilayah kita, paling-paling kesesatan terbesar dirasakan si Tedi yang mungkin 3 tahun lagi menjelma dengan kalimat KRISTEN Liberalnya…
    ha,,,,ha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s