Meneguhkan Gagasan Islam Pluralis


 

Perbincangan tentang Islam pluralis senantiasa menjadi tema menarik dalam setiap forum. Pro-kontra terhadap gagasan tersebut tak terhitung jumlahnya. Dan, alasan-alasan rasional untuk mencounter dan mengafirmasi dari pelbagai kalangan pun bermunculan. Hal ini, barangkali, disebabkan karena Islam Pluralis masih belum mampu dipahami secara utuh dan menyeluruh. Kedua, semakin pluralnya agama, sosial, budaya, sehingga upaya untuk mensinergikan diantara pluralitas itu menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Konflik sosial yang bermotifkan agamapun semakin meningkat. Karena itulah Islam Pluralis sebagai upaya menyelesaikan konflik agama melalui dialog agama to live together secara damai menjadi sangat penting.

Sebenarnya, gagasan Islam Pluralis bukan hal yang baru. Sejumlah pemikir, intelektual sudah banyak mendiskusikannya. Paling tidak, Farid Essac, Pemikir Islam Pluralis dari Afrika dengan tulisannya But Musa Went To Fir’aun: A Compilation of Questions And Answers About The Role of Muslims In The South African Struggle for Liberation.(1989) dan Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression, (London: One World Oxford, 1997), al-Faruqi, “Islam and Christianity: Diatriber of Dialogue” dalam Journal of Ecumenecal Studies (1968) dengan tema recontruction of religius thought which would be copatible with both Islam and Christianity, juga tulisan Hassan Hanafi, Religous Dialogue and Revolution; Essays on Judaism, Chirtianity and Islam merupakan salah satu refrensi yang membahas tentang dialog agama.

Dalam konteks Indonesia, karya yang juga menyumbangkan beberapa gagasan perihal dialog agama dan Islam Pluralis tidak sedikit. Diantaranya, Komaruddin Hidayat dan Mohammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Menurut Filsafat Pereneal (1994), Amin Abdullah, Studi Agama, Normativitas dan Historitas (1996), Buddy Munawar Rahman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman (2001), Ahmad Najib Burhani, Islam Dinamis, Menggugat Peran Agama, Membongkar Doktrin Yang Membatu (2001), Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur (2001), Abd A’la, ‘Melampui Dialog Agama’ (2002) dan beberapa literatur-literatur lain.

Akan tetapi, ada dua hal penting yang menyangkut dengannya. Pertama, bahwa perbincangan Islam Pluralis sama sekali tidak menyentuh masyarakat bawah. Di banyak negara di dunia, dialog agama masih merupakan barang mewah dan mahal. Di Timur Tengah, India, Burma, Irlandia, dan beberapa negara lainnya khususnya negara-negara bekas Uni Soveit dan Yugoslavia, konflik antar agama masih mendominasi dalam pemberitaan di surat kabar. Masyarakat awam (grass-root society) sangat jarang tersentuh oleh seruan perdamaian baik dari agamawan, intelektual ataupun dari kalangan lainnya. Karenanya, konflik agama seakan tidak akan pernah berkesudahan.

Kesadaran pluralisme dari masing-masing agama, khususnya orang Islam sangat minimal. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa Islam datang untuk menggantikan agama-agama yang ada di muka bumi ini. Karenanya, selain Islam adalah wajib untuk diperangi. Dan bagi yang mati melawan agama lain adalah mati syahid yang jaminannya masuk surga kelak nanti.

Kedua, adanya beberapa teks keagamaan yang memungkinkan diterjemahkan dengan makna kekerasan. Misalnya ayat tentang jihad, amar ma’ruf mahi munkar. Padahal tak ada agama satupun yang mengajarkan kekerasan, peperangan. Semua agama mengajak manusia untuk mentransendensikan diri, berdamai, rukun. Hanya saja, tidak jarang seseorang menafsirkan agama dengan keras, kaku hanya untuk melegitimasi kepentingan sekelompok orang. Demi kekuasaan, misalnya, sang penguasa berani “menjual” agama untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ketiga, meluaskan gagasan Islam Fundamentalis. Sekalipun gerakan Islam fundamentalis tampak menurun, tetapi gagasan-gagasan eksklusifnya masih saja terus menyebar bagaikan virus. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kalangan fundamentalis di universitas-universitas umum dan juga pada masyarakat kota. Disadari atau tidak, gagasan literal Islam fundamentalis terhadap teks keagamaan menjadi hambatan dalam mensosialisasikan Islam pluralis. Disini, penulis tidak berpretensi menempatkan secara diametral antara Islam fundamentalis dengan Islam pluralis.Melihat ketiga hal diatas, adalah penting untuk melakukan beberapa hal. Pertama, mensosialisasikan Islam Pluralis keseluruh lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah ataupun kampus-kampus merupakan media strategis untuk mentransformasikan gagasan Islam pluralis kepada anak didik. Tidak hanya itu, gagasan Islam pluralis juga harus ditransfer dan di ajarkan dari keluarga sejak kecil. Sebab, lingkungan keluarga mempunyai posisi strategis dalam membentuk karakter anak.

Kedua, melakukan dekonstruksi terhadap ajaran-ajaran agama yang eksklusif, rigid dan intoleran menjadi ajaran yang inklusif, pluralis dan transformatif. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya meminimalisasi munculnya anarkisme, kekerasan yang diakibatkan oleh eksklusivisme agama. Agama bukanlah sekumpulan doktrin yang mengajarkan peperangan, kekerasan dan lain sebagainya. Upaya mendobrak eksklusivisme agama ini harus dilakukan atas dasar-dasar kemanusiaan dan perdamaian, bukan untuk memperpanjang konflik. Sehingga apa yang diajarkan di sekolah dan di lingkungan keluarga bukanlah doktrin yang eksklusif dan rigid, tetapi doktrin pluralis.

Ketiga, mentransformasikan gagasan Islam pluralis kepada tokoh masyarakat, tokoh agama seperti kiai-kiai, dan lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren-pesantren. Bagaimanapun, kiai atau lebih tepatnya disebut tokoh agama, memiliki peran penting dan massa riil di masyarakat. Sehingga apa yang dikhotbahkan dan difatwakan oleh para kiai kepada masyarakat adalah gagasan Islam Pluralis.Kenapa harus Islam pluralis?. Karena Islam pluralis berupaya untuk hidup bersama-sama secara damai ditengah pluralitas agama, bahasa, etnis dan semacamnya. Islam pluralis berpandangan bahwa tidak ada monopoli kebenaran agama. Semua agama adalah sama. Abu Zahra dalam Ushul Fiqhnya mengungkapkan bahwa seluruh syariat (agama samawi) pada dasarnya adalah sama (inna al-syarai’a al-samawiyah wahidatun fiy ashliha). Karena itulah, konsep Syar’u man Qablana dalam Ushul Fiqh menjadi penting. Ia sama-sama menuju Tuhan dan sebagai jalan keselamatan.

Jika pandangan eksklusivisme beragama masih saja dominan dalam setiap penganut agama, maka pertentangan antar (penganut) agama menjadi sulit diminamisir. Agama akan senantiasa menjadi penyulut terjadinya konflik sosial yang berkepanjangan. Agama tidak bisa lagi membendung darah yang mengalir dari tubuh manusia karena adanya konflik agama. Wallahu A’lam

Sumber: Duta Masyarakat, 13 Juni 2003)

One thought on “Meneguhkan Gagasan Islam Pluralis”

  1. hidup secara damai bersama – sama dalam perbedaan bukan suatu kesalahan tapi yang pasti menyertai al quran dan hadist lebih utama bahwa islam adalah agama yang telah disempurnakan untuk seluruh umat manusia mengapa harus ada ragu lagi!!!!!!!!!!yang tak mau mengikuti biarkan………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s