Masih Urgenkah Dialog Lintas Agama?


Oleh: Marluwi

Pertanyaan demikian tersebut di atas, sengaja penulis “mengusungnya” ke permukaan sebagai bentuk respon penulis terhadap tulisan saudara Hatim Gazali tentang; “Ikhtiar Dialog Agama-agama” (Duta Masyarakat, 18/9/2002).

Patut kiranya sejenak kita untuk mengkritisi hal tersebut, mengapa demikian? Ini semua tentu saja tak lepas dari situasi keberagamaan kita pada belakangan ini. Yang masih saja penuh akan warna-warni serta “cipratan” gesekan-gesekan sosial yang berimplikasikan pada disharmoni antara satu agama dengan agama yang lainnya. Jujur saja, hingga saat ini pun, hal demikian masih cukup terasa dan membekas dalam “detak-jantung” sosial kehidupan kita sehari-hari. Soal adanya fenomena disharmoni antar umat agama meski secara “sembunyi-sembunyi”, khususnya di negeri kita.

Pertanyaan kritis selanjutnya, masih relevankah dialog antar agama-agama pada saat ini? Sebab tawaran serta ajakan-ajakan untuk melakukan dialog-dialog lintas agama sebetulnya jauh sebelumnya telah digulirkan dan dilakukan.

Namun, apa hasilnya? Kekerasan dengan sejumlah variabel destruksi keagamaan yang mengatasnamakan: demi agama, masih saja gencar dan bergulir hingga saat ini! Masih begitu urgenkah pada saat ini kita untuk melakukan dialog seputar agama terus-menerus? Apakah hal demikian tidak mubadzir? Apakah tidak ada media dan instrumen lain yang lebih efektif dalam upaya membangun kohesifitas sosial yang notabene juga ingin membangun kohesifitas sosial keberagamaan dalam konteks sosial kehidupan kita?

Kita semua tentu saja sudah jenuh dengan kegiatan dialog-dialog agama yang hanya sarat pada mekanisme formalisme semata. Sedangkan substansi yang terpenting dari adanya dialog itu sendiri, kita seringkali mengabaikan dan tak mengindahkannya dalam konteks realitas sosial.

Kesamaan visi dan misi para penggagas dialog lintas agama acapkali hanya seia dan sekata dalam forum-forum dialog saja. Sebaliknya, pada tataran realitas sosial, kita sering mengalami kegagalan dalam upaya untuk memanifestasikan “pesan-pesan” dari dialog lintas agama yang telah dilakukan itu.

“Ikhtiar Dialog Agama-agama”, sebagaimana judul tulisan saudara Hatim Gazali tersebut. Sebetulnya sah-sah saja untuk dilakukan pada saat ini dan kapan pun. Apalagi momentum dan gagasan soal discourse agama itu, pada saat ini sedang faktual dibicarakan oleh berbagai kalangan dalam banyak perspektif dan sudut pandang. Tapi apakah cukup hanya di situ? Bukankah kita sudah cukup sering melakukan hal itu? Tapi, senyatanya dalam fakta sosial masih saja fenomena kekerasan dengan bermediakan dan atas nama pada agama masih saja menyeruak adanya?

Hemat penulis, pada saat ini bukan hanya pada sikap dialog yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu lagi, yakni ada rasa ketulusan bersama yang dibutuhkan oleh kita pada saat ini. Ketulusan bagi adanya sikap untuk dapat saling menghargai, saling menghormati, saling mengayomi satu sama lainnya pada masing-masing umat beragama.

Apalah arti penting dari sebuah dialog antar agama-agama, kalau hal itu semua tidak membumi dan tercerminkan pada konteks kehidupan nyata kita sehari-hari? Bukankah arti penting dari sebuah dialog agama itu sendiri juga seharusnya tercermin pula pada kehidupan kita? Yakni adanya sikap untuk saling menghargai, saling menghormati satu sama lainnya di antara umat itu sendiri, itulah kiranya yang terpenting dari proses dialog agama-agama yang dilakukan. Sehingga dialog agama tidak semata-mata dan sekedar dialog, tapi lebih dari itu. Kita dapat mengaplikasikan sebaik-baik mungkin “pesan-pesan” moral dari dialog yang dilakukan tersebut.

Sekali lagi ingin penulis tegaskan, pada saat ini yang dibutuhkan bersama adalah, adanya rasa memiliki tanggung jawab moral bersama dari kita semua umat beragama, untuk dapat menciptakan suasana damai, penuh rasa toleransi keberagamaan yang sebenar-benarnya. Dan hal ini merupakan tanggung jawab moral semua umat beragama. Siapa lagi kalau bukan kita yang memiliki tanggung jawab ini?

Dari hal itu semua tersebut di atas, bukan berarti penulis pesimistik dengan proses-proses dialog lintas agama yang ingin dilakukan. Entah itu yang telah dilakukan pada saat ini maupun di masa-masa mendatang. Setidaknya bukan hanya dialog yang bisa dan dapat untuk kita lakukan pada saat ini, tapi juga perlu adanya sikap keterbukaan dan kebersamaan dari semua agama-agama dalam upaya untuk mendukung satu sikap hidup yang penuh dan dapat tumbuhnya tenggang rasa dalam kehidupan umat agama itu sendiri.

Sudah menjadi tugas dan kewajiban moral pada semua agama-agama, untuk terus-menerus mengkampanyekan bagi tumbuh dan terciptanya “kesalehan-sosial” dalam kehidupan umat itu sendiri. Jadi, kita tidak hanya cukup pada sikap dialog-dialog yang formalis yang melibatkan semua agama tersebut. Tapi lebih dari itu lagi, yakni mengupayakan seoptimal mungkin untuk terciptanya “kesalehan-sosial”.

Dan hal ini semua tentu saja sudah merupakan kewajiban moral dari semua agama yang ada tersebut. Entah itu agama Islam, Kristen Khatolik, Kristen Protestan, Hindu dan agama Budha.

Sumber:  Duta Masyarakat, 23 September 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s