Menggagas Langkah Strategis PMII


Tanggal 26-31 Mei mendatang, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengadakan kongres ke-15 di Bogor. Tentu saja, yang harus menjadi perbincangan di sana bukan tentang siapa yang akan memimpin PMII ke depan. Lebih dari itu adalah bagaimana peran dan masa depan PMII dalam kaitannya dengan konstelasi politik Indonesia kekinian. Sebab, PMII bukan sekadar organisasi massa yang selesai saat berhenti menyandang predikat mahasiswa (aktivis). Adalah sangat naif jika organisasi sebesar PMII tidak bisa memainkan peran strategis di negara ini.Lalu, apa yang harus dilakukan PMII di masa yang akan datang? Apakah hendak meneruskan sistem PMII yang selama ini tampak amburadul dan tidak menemukan arah? Tentu saja tidak. Aktivis yang mempunyai loyalitas tinggi mempunyai beberapa harapan, pemikiran, gerakan PMII ke depan.Pada masa lalu, demonstrasi yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa semacam PMII, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan organisasi lainnya mampu menyedot simpati massa. Gerakan mahasiswa tahun 1998 yang menggulingkan rezim Soeharto mampu menarik massa yang tidak sedikit jumlahnya. Akan tetapi, di masa sekarang, hal yang sama tentu perlu dipertanyakan. Masyarakat atau bangsa Indonesia sudah mulai tampak jenuh melihat gerakan mahasiswa di jalan-jalan, orasi. Bahkan seringkali masyarakat juga ikut menghajar para demonstran. Yang seringkali melakukan ini adalah organisasi kepemudaan.

Apalagi, simbol yang bisa mempersatukan gerakan mahasiswa, telah hilang. Dulu, simbol seperti bendera, bahasa bisa berperan efektif untuk menyatukan gerakan demi menggulingkan kekuasaan yang otoriter. Saat ini, semua organisasi kemahasiswaan sibuk dengan persoalan yang dihadapinya dan sudah tidak bisa lagi dipersatukan oleh simbol yang masa lalu mempunyai peran yang strategis. Masing-masing organisasi dengan segala kepentingan organisasi yang dipikulnya
sudah sulit untuk disatukan. Apalagi, munculnya beberapa oknum bayaran yang mengatasnamakan mahasiswa untuk target-target politik tertentu.

Kenyataan itu harus diterima, baik oleh kalangan PMII, HMI, ataupun organisasi lainnya. Tanpa menyadari hal tersebut, gerakan mahasiswa akan tetap di jalan, stagnan, dan tidak bisa melakukan apa-apa bagi bangsa dan negara Indonesia yang ditimpa oleh pelbagai persoalan yang sangat kompleks.

Melihat fenomena tersebut, lalu terbersit pertanyaan bagaimana memosisikan PMII di tengah situasi yang sedemikian kompleks. Tak ada jalan lain, kecuali dengan menafsirkan ulang gerakan mahasiwa dan kontekstualisasi gerakan. PMII sebagai organisasi gerakan harus menafsir ulang gerakan dalam aras nasional. Makna “gerakan” harus dipahami secara luas. Banyak mahasiswa yang terjebak dengan istilah ini. Jika istilah gerakan disuarakan, seketika bayangan demonstrasi, turun jalan muncul dalam benaknya.

Jika mau jujur, makna pergerakan sendiri meliputi semua aspek dengan satu catatan mengandung nilai emansipasi, pembebasan. Gerakan mahasiswa tidak mesti dimaknai dengan aksi turun jalan. Jika aksi turun jalan sudah tidak lagi mampu menyedot simpati masyarakat, apakah PMII akan tetap memaksa dengan aksi turun jalan. Bagaimanapun, sebuah gerakan mahasiswa tidak mempunyai makna apa-apa tanpa ada dukungan dari masyarakat banyak yang meliputi pemerintah, rakyat dan lain sebagainya.

Di tengah situasi yang demikian, gerakan PMII harus diterjemahkan sesuai dengan konteks sosial yang ada. Untuk itu, ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh PMII di masa yang akan datang.

Pertama, sekalipun secara struktural antara PMII dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak berkaitan, namun pada tingkat tradisi-kultur mempunyai titik persamaan. Hampir semua kader PMII alumni pesantren, anak orang Nahdlatul Ulama (NU) atau dibesarkan dalam tradisi NU. Karena itu, kader PMII dalam kaitannya dengan NU harus diposisikan secara proporsional. Artinya, kader PMII –tanpa alasan—harus memperjuangkan visi-misi NU secara kritis. Mengapa demikian ? Sebab, banyak kader PMII yang sudah keluar dan antipati dengan NU.

Kedua, membuka ruang artikulasi gerakan dan gagasan PMII bagi warganya. Sebenarnya, kader PMII mempunyai potensi dan kapabilitas yang tak perlu diragukan lagi. Di samping sudah diperkaya dengan ilmu agama selama di pesantren, mereka juga mendalami ilmu lain (sekuler) sejak di PMII atau sebagai
mahasiswa. Namun, karena keterbatasan ruang, kader yang mempunyai potensi nyaris tak terdengar suaranya. Mereka tenggelam dan terhanyut dibius oleh aktivitas kesehariannya yang kadangkala tidak menguntungkan, baik bagi PMII maupun bagi dirinya sendiri. Maka dari itu, tidak boleh tidak, PMII harus menciptakan ruang artikulasi gagasan dan gerakan kadernya.

Ketiga, memahami kecenderungan kadernya. Selama ini, hampir semua organisasi kemahasiswaan memaksa kadernya untuk mengikuti segala hal yang telah ditentukan oleh organisasinya. Misalnya, kader PMII sebagai organisasi pergerakan tidak boleh tidak harus –tanpa kecuali— ikut melakukan advokasi terhadap masyarakat. Padahal dan pasti tidak semua kader yang dimiliki PMII itu mempunyai sense of advokasi. Jika hal semacam itu dipaksakan, maka jangan salahkan jika salah satu kader PMII tidak lagi aktif bahkan keluar dari PMII. Seharusnya, pluralitas sense ditampung dan diberikan ruang agar mereka bisa survive dengan potensi yang dimilikinya. Konkretnya, perlunya memahami kecenderungan masing-masing kader. Di dalamnya ada yang memiliki sense of jurnalistik, advokasi, intelektual, jalanan dan sebagainya.

Keempat, dalam konteks nasional, PMII, tidak boleh tidak, harus tetap kritis terhadap pemerintah apabila berlaku otoriter dan militeristik. Sikap kritis yang dibangun oleh PMII ini akan menjadikan PMII semakin mampu meraih bargaining power di tingkat nasional. Selama ini, perhatian publik terhadap PMII sangat sedikit. Selama ini yang lebih tampak bukan PMII secara organisatoris, tetapi masing-masing individu yang ada di dalamnya, sehingga PMII seakan tenggelam dan tertutupi karena kadernya. Barangkali dalam benak masyarakat, PMII adalah semacam penguyuban. Ataukah memang benar demikian?

Itulah salah satu catatan buat PMII ke depan. Tentu saja masih ada hal lain yang perlu diperhatikan. Hal di atas, hanyalah salah satu bagian terpenting saja. Harapan saya, semoga PMII bisa tetap eksis dan mampu melakukan perubahan terhadap wajah Indonesia yang kini suram dan carut marut ini. Wallahu ‘a’lam

Sumber: Duta Masyarakat (http://www.dutamasyarakat.com/detail.php?id=21190&kat=OPINI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s