Tuhan Yang Membumi


Jangan terlalu percaya pada Tuhanmu. Sebab, sebab jangan-jangan Tuhan yang kamu sembah itu adalah Tuhan cipta-rekaannmu. Tuhan yang ada dalam otak dan hasil imajinasimu. Tuhan hasil kreasi senior, Orang Tua, dan elit agama. Bukan Tuhan sesungguhnya, melainkan Tuhan warisan. Yang membelenggu, menyiksa, dan mengadu domba. Bukan Tuhan Muhammad yang Maha Segala (Sy Gila Syorga;1996, hlm 7).

Begitulah kira-kira kalimat yang pantas untuk mengawali tulisan ini sebagai sebuah tanggapan atas tulisannya Marluwi, Mencari Titik Tuhan pada harian ini (14/11). Dalam tulisannya, Marluwi melontarkan beberapa pertanyaan fundamental yang menggugah penulis untuk urun rembug mendiskusikannya. Apakah moralitas dan kinerja kita selama ini dalam mencari Tuhan adalah tercermin dan telah terpantulkan? Utamanya pada lingkungan dan khazanah sosial?

Pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak akan membuka kesadaran kita, hati nurani. Betapa manusia yang notabenenya sebagai homo religius kenyataannya belum sepenuhnya mencerminkan sebagaimana makhluk yang mencari Tuhan. Pencarian manusia tentang Tuhan ini menjadikan manusia semakin butuh akan kehadirannnya. Karena, Tuhan tidak akan pernah dilihat oleh ‘ain (mata telanjang) manusia. Imam ‘Athoillah dalam Kitab Hikam mempertanyakan bagaimana mungkin Tuhan yang sangat dekat, terang itu tidak bisa dijumpai oleh manusia. Pencarian manusia akan Tuhan oleh Imam ‘Athoillah diibaratkan kelelawar yang mencari makan atau sesuatu di siang hari. Kelelawar tentu tidak bisa melihat sesuatu apapun di siang hari. Ia mencari makanan di malam hari. Kegelapan bagi kelelawar merupakan sinar tersendiri untuk mencari sesuatu yang hendak di cari.

Tidak dapat disangkal bahwa pada masa sekarang ini manusia terjebak pada sebuah formalisme-ritualistik. Seseorang terkadang tiap hari pergi ke Mesjid, pergi ke Gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya hanya untuk mengabdikan diri pada Tuhan yang disembahnya. Selanjutnya, tatkala segala aktivitas ritual tersebut rampung selesai dan keluar dari tempat ibadahnya, seakan-akan selesailah pengabdian kita pada Tuhan. Penghambaan diri hanya berhenti pada sajadah, tempat sujud. Tuhan ibaratnya hanya berada pada tempat-tempat ibadah seperti Mesjid, Gereja, Pura, Vihara dan lain-lain.

Di luar itu, manusia sudah lepas dari “intipan” Tuhan, sehingga menjadi halal untuk melakukan apa saja yang menjadi kehendaknya. Maka bukanlah hal yang aneh manakala seseorang yang taat beribadah secara vertikal, namun ia menindas terhadap manusia disekitarnya. Rakyat Indonesia adalah bangsa yang beragama. Namun, sampai saat ini, bangsa Indonesia masih belum bisa menampilkan sikap yang mencerminkan agamanya. Korupsi, kekerasan, nepotisme, masih saja merajalela dan berkembang pesat sampai saat ini di sebuah negara yang penduduknya mayoritas percaya akan adanya Tuhan. Tidakkah itu merupakan larangan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah dijadikan sebagai inspirator untuk melakukan kesalehan sosial.

Itulah cermin dari sistem keberagamaan bangsa Indonesia. Masyarakat masih lebih senang bernostalgia bersama Tuhan di tempat-tempat ibadah yang diyakini akan membantunya untuk keluar dari kemelut yang melilitnya. Maka, pertanyaan Marluwi di atas penting untuk di simak dan direfleksikan bersama. Sejauh manakah bangsa Indonesia bisa menghadirkan Tuhan yang tremendum and fascinisum itu pada kehidupan sehari-hari. Bisakah menampilkan sifat-sifat Tuhan seperti Rahman-Rahim pada sikap sosial di tengah-tengah masyarakat yang multi-religius ini.

Tuhan bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia. Ia selalu menyertai dan bersamanya. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan adalah dekat (fainny qarib), bahkan lebih dekat dari urat nadi. Tuhan juga terlibat dalam proses sejarah. Sebab, manusia ibarat “robot-robot” Tuhan yang diset-up sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah makhluk yang paling baik. Jika kita tidak bisa menghadirkan Tuhan di tengah-tengah realitas kehidupan, maka Tuhan selalu menonton dan hadir bersama kita. Maka di sinilah pentingnya ihsan.

Jika rasa kebersamaan dengan Tuhan tidak berhenti pada tempat-tempat ibadah, akan tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, maka pertanyaan menggelitik dari Marluwi dengan sendirinya akan terjawab. Sebab, ibadah atau mengabdi pada Tuhan tidak saja diartikan pada hal yang sangat privatus dengan Tuhan, tetapi juga pada aksi sosial. Kesalehan sosial inilah merupakan salah satu aspek dari kesalehan kaffah. Sebab, tindakan sosial merupakan cermin dan pantulan dari tindakan privatnya bersama Tuhan. Kedua aspek (privat dan publik) ini sebenarnya bukan hal yang terpisah dan berbeda

Pertanyaannya, dengan cara apa hal tersebut di atas bisa terealisasikan pada tingkat praksisnya? Bagaimana bisa hal ini tercipta pada setiap orang perorang? Bukankah Tuhan itu misterius sehingga kesulitan untuk memikirkannya? Dan tidakkah setiap manusia dalam menafsirkan atau membayangkan Tuhan berbeda-beda yang pada gilirannya akan berakibat pada aksi sosial?

Penulis tidak berpretensi untuk mengupas satu persatu dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun sekurang-kurangnya ada beberapa catatan yang perlu di perhatikan dalam mewujudkan cita-cita di atas. Pertama, merubah paradigma berfikir. Jika pada awalnya Tuhan hanya dianggap hadir dalam setiap sujud di tempat ibadah, sekarang harus bisa menghadirkan Tuhan dalam kehidupan publik. Tuhan yang selama ini dipahami secara “melangit” sekarang dituntut untuk memaknainya di bumi. Sebab, Tuhan bukanlah wilayah yang untouchable oleh manusia.

Kedua, sifat-sifat Tuhan — yang kemudian dikenal dengan sebutan Asmaul Husna yang berjumlah 99 selain sifat Takabbaur, sebab sifat itu hanya pantas untuk Allah—harus menjadi maraji’ (referensi) dalam melakukan aksi sosial. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah (khalifatullah fiy al-ardhi) yang tidak boleh tidak harus bisa merepresentasikan sifat-sifat Tuhan tersebut secara bersama-sama dalam kehidupan dunia. Maksud Tuhan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini tidak lain untuk mengatur dan mendamaikan tatanan dunia ke arah yang lebih baik, bukan biadab.

Ketiga, dalam mengartikulasikan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam realitas sosial, seseorang dituntut untuk bisa membahasakannya dalam sebuah ruang harus sesuai dengan tuntutan budaya atau kondisi tertentu agar antara sifat Tuhan dengan realitas lebih bersifat komunikatif dan dialogis. Budaya atau tradisi merupakan salah satu determinan dalam membahasakan eksistensi Tuhan yang transenden.Terlepas dari semua hal di atas, kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia – sekali lagi tidak saja di tempat ibadah — akan menjadi spirit untuk berlaku baik dan adil terhadap sesama manusia. Karena, imajinasi tentang Tuhan masih mempunyai “daya tawar” untuk dijadikan sebagai pengawas dan pengontrol segala gerak-gerik setiap langkah manusia.

Jika membayangkan Tuhan masih tidak bisa dijadikan sebagai pengontrol tindak-tanduk manusia, maka di sinilah letaknya suatu zaman di mana Tuhan telah kehabisan “kiprah” dalam lintasan sejarah. Akan tetapi, pikiran tentang Tuhan tidak akan pernah musnah sekali pun di libas oleh sebuah zaman yang positivis-rasionalistik. Hal ini disebabkan karena, secara akali (rasio), manusia belum bisa menafsirkan segala fenomena kehidupan untuk kemudian ditundukkan. Untuk itulah, manusia akan tetap mempercayai adanya kekuatan di luar dirinya. Kekuatan ini pada masyarakat primitif (agama primitif) sebagai Mana yang selanjutnya disebut TUHAN/Allah/YHWH /dan lain sebagainya.

Memikirkan (dzikr) Tuhan di alam terbuka, kemudian menginternalisasi dan mengartikulasikan nilai-nilai yang ditangkapnya pada sikap sehari-hari merupakan pantulan dan cermin dari sifat-sifat Tuhan. Manusia selayaknya mencopy sifat-sifat universal yang melekat pada dzat Allah sekalipun Allah tetap Laisa kamitslihi syai’un.@

Sumber: Duta Masyarakat, 17 Desember 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s