Konstruksi Agama Humanis-Konstruktif


Sungguh menarik menyimak tulisan Marluwi dengan judul “Dereligiositas” pada harian ini (Duta Masyarakat 6/8/2002) untuk didiskusikan kembali. Ia hendak menyatakan bahwa kita harus memanifestasikan kembali dan mengamalkan nilai-nilai agama yang selama ini terkuburkan. Kita harus kembali pada agama. Harapan dan optimisme darinya cukup besar untuk menjadikan agama, khususnya Islam, sebagai spirit, ruh dan nilai dan perjuangan hidup, tidak terjebak dalam formalisasi agama, patut diapresiasi secara mendalam. Namun, ada beberapa hal problematis yang ter(di)lupakan. Pertama, kegagalan agama dalam mendidik dan mentransfer nilai-nilai profetik-humanismenya kepada segenap umat manusia secara benar dan sempurna. Agama tidak jarang meminta darah, harta dan jiwa penganutnya. Misalnya konsep jihad yang hanya dimaknai dengan al-qital bil-shaif, crussade, atau konsep amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain. Kedua, tidak konkritnya, atau abstraknya rumusan agama das sein, atau agama normativitas (istilahnya Jalaluddin Rahmad, Islam Aktual) karena agama selalu ditafsirkan menurut masing-masing subyektivitas penganutnya. Misalnya terjadinya ikhtilaf (perbedaan) dari kalangan ulama dalam memahami teks al-Qur’an, sehingga muncul misalnya madzhab atau aliran, di samping disebabkan karena persoalan politik, ekonomi dan faktor lainnya.

Singkatnya, agama historis merupakan tafsiran dari agama normatif atau konseptual yang berada di singgasana. Sebab, antara agama dengan tradisi lokal turunnya sebuah teks berjalan dialektis secara terus-menerus. Agama yang menyejarah ini senantiasa berubah berdasarkan kepentingan dan kebutuhan manusia serta semangat zaman yang mengikutinya. Tidak adanya kontekstualisasi dan dekontruksi ajaran saat ini, agama akan mengalami kevakuman dan statis.

Hingga saat ini, agama masih mempunyai dua wajah yang paradoksal. Terkadang ia ramah, humanis dan kadang pula ia keras, seram dan menakutkan. Pembunuhan, pembantaian, pengrusakan tempat ibadah, dan segala bentuk kekerasan fisikal lainnya adalah tragedi yang cukup mengenaskan yang salah satu sebabnya karena agama. Konflik di Ambon, Aceh, Maluku merupakan salah satu bukti yang nyata bahwa agama masih mengambil bagian di dalamnya. Perjanjian Malino Pertama untuk Ambon dan Malino Kedua untuk Poso sudah di deklarasikan. Namun, konflik di sana tak kunjung selesai. Hal ini membuktikan bahwa ada something wrong dalam agama. Agama tidak lagi menjadi faktor determinan dalam proses perubahan sosial.

Pada sisi lain, agama juga telah membangun dan mengantarkan manusia ke zaman yang lebih beradab. Ia menjadi kekuatan revolusioner untuk melakukan perubahan-perubahan yang signifikan bagi lajunya perkembangan manusia. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari spirit agama. Agama dengan konsep jihadnya telah membangkitkan semangat nasionalisme yang mendalam bagi para pejuang Indonesia untuk menumpas kolonial Belanda dan Jepang. Jadi agama tidak serta merta penyebab persoalan kemanusiaan, akan tetapi salah satu bagian terkecil di dalamnya. Hal ini penting diketahui agar tidak menuding agama sebagai satu-satunya penyebab persoalan bangsa ini.

Namun, pada beberapa tahun terakhir ini, wajah agama keras, disintegratif ini lebih sering tampil ke permukaan dari pada yang humanis dan integratif. Fenomena semacam ini sungguh sangat memilukan. Betapa tidak, agama yang lahirnya bertujuan untuk kesejahteraan dan keselamatan segenap manusia ternyata belum terealisasikan secara baik, bahkan menjadi problem tersendiri bagi manusia. Cita-cita luhur agama ini berbeda dengan fakta yang terjadi pada alam riil. Kenyataan seperti ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, tanpa ada respon dan perhatian yang memadai dari berbagai kalangan.

Jika demikian halnya, agama yang selama ini masih menjadi tumpuan pengaduan dan jalan spiritual umat manusia kalau ternyata tidak bisa memberikan apa yang dibutuhkan dan harapan manusia, maka agama tersebut akan kehilangan daya pikatnya. Agama hanya akan menjadi kenangan indah di masa lalu, kemudian terkubur di dalam angan setiap manusia masa sekarang. Karena manusia sudah mulai berfikir dan bertindak pragmatik dan materialis. Kenyataan ini memang sudah fitrah (nature) sebagai manusia yang selalu berkembang seiring perkembangan zaman. Namun, manusia sebagai homo religion tidak akan bisa lepas dari keyakinan adanya kekuatan yang Maha Gaib yang diyakini mempengaruhi kehidupannya.

Maka, hal yang harus dilakukan adalah reformasi dan rekonstruksi ajaran yang dehumanis, intoleran, diskriminatif dan eksploitatif. Karena abstraknya agama normatif, maka tafsiran terhadapnya di masa lalu sudah tidak relevan lagi sehingga mengharuskan adanya pembaruan (tajdid).

Sumber: Duta Masyarakat, 13 Agustus 2002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s