Dereligiositas


Oleh : Marluwi

Dereligiositas. Itulah yang betul-betul telah terjadi dalam konteks kehidupan kita belakangan ini. Tokoh-tokoh agama sekaligus tempat-tempat ibadahnya; masjid-masjid, gereja-gereja, kuil-kuil, pura dan tempat peribadatan lainnya, yang diharapkan bisa berbuat banyak bagi pencerahan spritualitas, seakan telah “kering-kerontang” dan tak berdaya lagi bagi pencerahan terhadap umatnya. Lebih lanjut, pada saat ini agama seolah-olah hanya sekedar menjadi kekuatan simbolisme semata. Tak ada lagi ajakan-ajakan pencerahan spritualitas di dalamnya.

Sekali lagi ingin penulis tegaskan, agama tampaknya telah mengalami kemandekan dalam upaya melakukan pencerahan spritualitas terhadap umatnya masing-masing pada dekade ini. Justru yang terlihat dan marak akhir-akhir ini adalah, kegiatan-kegiatan seremonial keagamaan serta tampilan keberagamaan yang cenderung mengedepankan “wajah” eksklusifisme.

Ini semua tentu saja bukan kesalahan dari agama itu sendiri. Agama hanya sebagai media yang terdapat doktrin-doktrin Ilahi di dalamnya. Adanya doktrin-doktrin itu, semua sedari awal adalah — maksud dan tujuannya — memberikan pencerahan spiritualitas terhadap umat manusia itu sendiri. Dan memang demikian itulah tugas dan fungsi dari agama itu sendiri. Yakni memberikan bekal sekaligus pencerahan spritualitas terhadap umat manusia, guna terciptanya kesalehan sosial dalam kehidupan umat manusia itu sendiri.

Di tengah krisis multidimensional ini, hendak ke mana kita akan berlindung? Kalau tidak kembali lagi pada agama itu sendiri? Agamalah satu-satunya institusi dan sumber kekuatan moral. Adanya gejala fenomena emoh pada agama dan lebih mengedepankan budaya hedonisme, materialisme merupakan suatu hal yang memprihatinkan akhir-akhir ini. Dan hal ini memang betul-betul telah terjadi dan “menyeruak” adanya. Katakanlah, hedonisme dan materialisme seakan telah menjadi “tuhan” bagi mereka sekaligus simbol serta gengsi dalam kehidupan umat manusia.

Dan tidak hanya cukup di situ saja telah terjadinya fenomena derelegiositas itu, masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukkan bahwa telah terjadi sikap emoh terhadap agama sekaligus ajaran-ajaran agama itu sendiri. Suatu misal, kekerasan dan tindakan-tindakan destruktif kemanusiaan lainnya. Hal ini semua, tentu saja merupakan suatu gejala, di mana agama sekaligus nilai-nilai yang ada dalam agama itu sendiri tidak mendapatkan tempat sekaligus untuk “dimaknakan” lebih jauh dalam tataran dan realitas kehidupan umat manusia itu sendiri. Padahal, kita sebagai umat yang beragama, setidaknya — bahkan merupakan suatu kewajiban moral — untuk menjadikan nilai-nilai agama tersebut sebagai “etika” serta “moral” dalam realitas sosial kehidupan kita itu.

Sudah seyogyanya dalam menapaki dan “melakoni” setting sejarah kehidupan di muka bumi ini, kita untuk menjadikan nilai-nilai agama yang dari Ilahi tersebut sebagai parameter dan normativitas yang riil adanya. Dalam arti yang sesungguhnya, adalah menjadikannya (agama) sebagai “pakaian” dalam kehidupan kita itu sendiri.

Bagaimanapun juga agama tetap memiliki posisi sentral dan penting adanya bagi manusia seiring eksistensi kemanusiaannya tersebut. Ada satu kebutuhan alamiah yang fundamental dalam diri setiap manusia, adalah adanya kebutuhan insani-manusiawi untuk mencari Tuhan, Yang Maha Kuasa. Manifestasi pencarian manusia akan Tuhan tersebut adalah melalui media agama yang diyakini oleh kandungan batin yang mendalam dalam diri setiap manusia, yakni melalui perspektif agamanya yang dibarengi pula oleh keyakinannya masing-masing.

Sudah menjadi suatu keharusan bagi segenap insan yang beragama, di tengah-tengah “kering-kerontangnya” nilai-nilai agama di sekitar sosial kita. Kita untuk secara bersama-sama memanifestasikan ajakan-ajakan moral untuk kembali menuju jalan Tuhan. Sekali lagi, hanya di jalan Tuhan itulah mestinya kita harus berpijak. Sekaligus menjadikannya sebagai landasan dan filosofi dalam kehidupan kita. Artinya, bahwasanya semua nilai-nilai yang tersirat dalam agama tersebut, ideal dan seharusnya kita jadikan acuan moral di tengah-tengah kehidupan kita itu sendiri.

Jika hal tersebut di atas dapat kita wujudkan di tengah-tengah kehidupan sosial bermasyarakat yang plural dan majemuk sebagai fakta yang niscaya adanya bagi kehidupan umat manusia, tentulah cita-cita kesalehan sosial yang dicita-citakan serta menjadi idaman kita semua umat beragama, dapat terwujud dalam suatu “ekosistem” sosial yang ada. Apa hal tersebut? Adalah adanya kesalehan dan kesetiaan untuk berpijakkan pada sendi-sendi dan norma-norma Ilahi.

Itulah kiranya yang terpenting bagi kita semua umat beragama, adalah untuk kembali dan memanifestasikan nilai-nilai agama kita masing-masing untuk sebuah cita-cita kita bersama. Yakni sebuah cita-cita bagi tumbuh dan terbangunnya suatu sistem kehidupan sosial yang shaleh dan religius. Hanya dengan sikap sosial keberagamaan demikian itulah, fenomena dereligiostitas dapat kita “perangi” secara bersama-sama, serta kita wujudkan suatu “ekosistem” kehidupan sosial yang utuh yang berpijakkan pada sendi-sendi moral agama kita masing-masing.

Sumber: Duta Masyarakat, 06 Agustus 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s