AGAMA=KEBEBASAN; respon terhadap para penanggap


Ternyata surat pembaca saya di Jawa Pos yang berjudul KENAPA ABU ZAYD DICEKAL? mendapat respon yang cukup banyak via Email. Agar diskusi kita lebih terbuka, semua tanggapan tersebut saya cantumkan di blog saya : https://gazali.wordpress.com Disamping itu, kita bisa diskusi di milis kmnu, karena protes saya terhadap menteri agama dan MUI sebagaimana yang dimuat di jawa pos juga saya kirim ke milis kmnu.

Pertama-tama, saya menyampaikan terima kasih kepada siapapun yang menanggapi surat pembaca di jawa pos itu. Melalui forum ini, saya hendak merespon seluruh tanggapan yang masuk secara keseluruhan. Jika ada yang terlewatkan, bisa didiskusikan di kemudian hari. Ini penting saya lakukan, barangkali ada yang keliru dalam pandangan saya, sebagaimana mungkin ada yang keliru dalam pandangan orang-orang yang nanggapi tulisan saya tersebut. Untuk itulah, saya berhadap diskusi ini bukan menjadi ajang saling mengkafirkan. Bukankah saling mengkafirkan itu dilarang oleh al-Qur’an. Disini, semuanya memiliki posisi dan derajat yang setara, semuanya sama Yang berbeda adalah pikiran, ideologi dan sebagainya.

Terhadap tanggapan-tanggapan tersebut, saya ingin mengomentari beberapa hal. Pertama, saya tidak cukup mengerti apa alasan-alasan Menteri Agama dan MUI Riau untuk melarang Abu Zayd. Sampai saat ini, saya masih percaya terhadap kebenaran al-Qur’an. Karena saya percaya terhadapnya, maka saya hendak mengamalkannya dengan mempertanyakan argumentasi Menteri Agama dan MUI. Saya masih yakin bahwa al-Qur’an menjamin kebebasan seseorang untuk berpikir. Sangat tidak mungkin semua pikiran orang bisa diseragamkan. Kendati sama-sama memperjuangkan syariat islam, cara pikir Abu Bakar Ba’asyir dan Ja’far Umar Thalib tentu saja berbeda. Terhadap hal ini, saya sudah menulis bagaimana penafsiran terhadap islam dimasing-masing kepala berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bisa di baca pada tulisan saya yang berjudul MEMAKNAI KEMBALI ISLAM KITA, sebuah tulisan yang pernah di muat di harian umum Media Indonesia. (Klik: https://gazali.wordpress.com/2007/11/10/29/#more-29 )

Kedua, Abu Zayd murtad? Dari mana tahu bahwa abu zayd itu murtad? fatwa ulama mesir? Bukankah kemurtadan seseorang ditentukan oleh Tuhan bukan manusia. Bukankah man kaffara faqad kafara. Sedikit banyak saya ngerti islam. Sejak kecil hidup saya di pesantren NU di Madura dan Pesantren-nya KH. As’ad Samsul Arifin di Situbondo, bukan pesantrennya Abu Bakar Ba’asir. Nasr Hamid memang bukanlah segala-galanya, tetapi mengkafirkan terhadap seseorang apalagi oleh aparat negara jelas sangat tidak mendasar.

Ketiga, memang, penghakiman terhadap sebuah pemikiran bukanlah kali pertama terjadi dalam dunia islam. Mulai dari tuduhan sesat oleh orang per orang atau suatu kelompok sampai pada kekerasan oleh pemegang kekuasaan. Kesemuanya tersedia lengkap dalam lembaran sejarah Islam. Saling mengkafirkan antar kelompok dalam aliran ilmu kalam dan tuduhan sesatnya al-Ghazali melalui tahafut al-falasifah terhadap para filosof yang kemudian mendapat penghakiman serupa dari Ibnu Rusyd melalui Tahafut al-tahafut, cukup menjadi bukti betapa menghargai pluralitas pemikiran dan kebebasan berpikir dalam dunia islam selalu menjadi “hal aneh”. Bahkan, al-Hallaj dan Siti Jenar harus merelakan nyawanya demi memperjuangkan pemikiran-pemikiran yang diyakininya.Membaca fakta sejarah tersebut, penulis tidaklah kaget terhadap pencekalan yang menimpa Abu Zayd. Bagi penulis Naqd al-Khitab al-Dini ini, ketidakbebasan ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, di negara asalnya, Mesir, ia sudah di vonis murtad di ceraikan dengan istrinya oleh Mahkamah Agung. Akhirnya ia memilih pindah ke Belanda, sebuah negara yang menghargai kebebasan berpikir dan berpendapat.

Akan tetapi, pencekalan oleh Indonesia ini tentu merupakan pengalaman pertama bagi Abu Zayd. Sebelumnya, pada Agustus 2004 yang lalu ia datang atas undangan ICIP (The International Centre for Islam and Pluralism) dan Jaringan Islam Liberal (JIL). Saat itu, Abu Zayd dengan bebas melontarkan pemikiran-pemikirannya disejumlah forum. Kini, kedatangan Abu Zayd saat ini langsung berhadapan dengan konservatisme pemikiran. Sebuah fenomena yang bisa ditemukan di negara mana saja, Indonesia, Mesir dan sebagainya.

Sejauh penulis amati, Menteri Agama Maftuh Basyuni ataupun yang menyampaikan pencekalan itu, Abdurrahman Mas’ud, bukanlah kelompok konservatif dan fundamentalis. Di banyak tempat Maftuh Basyuni sering menyerukan perdamaian, saling menghargai. Terlebih Abdurrahman Mas’ud yang pemikiran-pemikiran “liberal”nya seringkali menghiasi sejumlah buku. Mendengar pencekalan dua orang yang selama ini dikenal moderat sungguh sangat mengagetkan. Bagaimana dua orang penting di lingkungan Departemen Agama tersebut bisa membuat keputusan yang konservatif?

Terlepas dari itu semua, sudah banyak kasus yang telah menciderai sebuah kebebasan. Tahun lalu, mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid ditolah oleh beberapa umat islam untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar di Purwakarta. Tentu saja, yang menolak mantan ketua PBNU itu bukanlah warga NU (Nahdlatul Ulama) ataupun Muhammadiyah, tetapi kelompok-kelompok yang secara garis pemikiran berseberangan baik dengan Gus Dur sendiri ataupun NU dan Muhammadiyah. Tegasnya, kelompok-kelompok yang anti pluralisme, liberalisme dan selalu berjuang untuk merubah asas dan undang-undang negeri ini menjadi syariat islam.Agama = Kebebasan Akal.

Semua agama diturunkan oleh Tuhan kepada manusia, dengan kata lain tak ada satu agamapun yang diturunkan kepada hewan dan binatang. Hal ini dimaksudkan karena kemampuan akal-lah yang bisa memberikan tafsir dan pemahaman terhadap teks tuhan. Disinilah letak kelebihan manusia dengan makhluk lain. Kitab suci yang telah turun ribuan tahun yang lalu dalam konteks tertentu tak mungkin mampu menyapa umat sekarang dalam mana ruang dan waktu telah berubah secara total, tanpa melalui sebuah penalaran dan pemikiran terhadapnya. Bagaimana al-Qur’an bisa menjawab persoalan-persoalan kontemporer yang saat waktu turunnya al-Qur’an tidak ditemukannya.

Karena agama diturunkan kepada makhluk yang berakal, maka Tuhan menghendaki agar ayat-ayat yang diturunkannya bisa dibaca, ditafsirkan dengan menggunakan potensi akalnya. Bahkan, Fakhruddin Al-Razi dalam Mafâtihul Ghaib menandaskan bahwa “akal adalah utusan Tuhan kepada makhluknya. Bahkan, akal adalah rasul itu sendiri yang seandainya tidak ada akal, maka risalah tidak akan pernah ditetapkan. Akal adalah rasul yang utama”. Ungkapan Al-Razi diatas sangat telanjang betapa akal merupakan rasul yang diutus oleh Tuhan. Tanpa ada akal, agama akan menjadi mandul (la dina liman ‘aqla lahu)

Pernyataan diatas sungguh akan mengagetkan kelompok-kelompok yang tidak siap menerima kebebasan berakal. Bahwa “akal adalah utusan Tuhan kepada makhluknya. Bahkan, akal adalah rasul itu sendiri yang seandainya tidak ada akal, maka risalah tidak akan pernah ditetapkan. Akal adalah rasul yang utama”. Ungkapan Al-Razi diatas sangat telanjang betapa akal merupakan rasul yang diutus oleh Tuhan. Tanpa ada akal, agama akan menjadi mandul.

Bahkan dalam pandangan Ushul Fiqh Imam Malik, akal memiliki wewenang untuk –meminjam istilah ushul Fiqh Imam Syafi’i–mentakhsish al-Qur’an (takhshish bi al-aql). Dalam salah satu buku yang berjudul Fashl al-Maqal fiyma bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal (hlm 32), Ibnu Rusyd menyatakan wa in kanat al-syari’ah nathaqat bihi, fala yakhlu dhahir al-nuthq an yakuna muwafiqan lima adda ilaihi al-burhan fihi, aw mukhalifan. Fain kana muwafiqan fala qawla hunalika. Wain kana mukhalifan, thuliba hunalika ta`wiluhu. Bahwa jika suatu saat diketemukan satu ketentuan ajaran bertentangan dengan akal manusia, maka ajaran tersebut harus segera ditinjau ulang dengan metode takwil.

Apresiasi dengan demikian besar terhadap kebebasan akal ini membuktikan bahwa kebebasan berpikir dan berpendapat memiliki ruang yang sangat istimewa dalam tubuh islam.

Akan tetapi, ditangan penguasa kebebasan berpikir itu seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah. Di zaman Orde Baru, tidak seorang bebas untuk berekspresi dan menyampaikan pendapatnya ke publik. Kini, bukan para elit agama dan negarawan semakin bergeser pada arah yang mengekang kebabasan. Dalam konteks inilah, Zygmunt Bauman mengibaratkan dunia ini seperti kebun yang ditumbuhi bunga dan ilalang. Rezim berkuasa ingin merapikan kebunnya dengan menyayangi dan membakar rumput-rumput yang menganggu keindahan bunga-bunga. (Bersambung…..) Hatim Gazali

11 thoughts on “AGAMA=KEBEBASAN; respon terhadap para penanggap”

  1. Kebebasan? menafsirkan sesuatu itu harus ada keahliannya.Bukan semua orang berhak. Apakh saya yang belajar IT boleh menafsirkan Al’quran, pasti orang tidak akan percaya dan tentunya saya memang tidak bisa!

    Satu hal lagi tentang kebebasan berfikir atau berpendapat atau beragama: Bolehkah saya membuat situs yang domain namenya gazali2.wordpress.com, kemudian saya mengakui bahwa ini sama(penulis dan tujuannya) dengan gazali.wordpress.com?

    Kenapa teman2 di JIL suka membela orang2 yang memang ternyata salah. Orang boleh aja membuat agama baru/nabi baru TAPI atas namakan sendiri dunk, misalnya agama GAZALI gitu……bukan islam.

    Sebenarnya saya males nanggapi masalh ginian, karena orang seperti Anda lebih tertarik recehan dolar dan gelar dari LN dengan cara menghina/membela kebatilan…

    Saya orang teknik murni, tetapi melihat
    dunia Islam yang dicarut-marutkan oleh Ulama2 Su’ jadi gatal juga.

    Salam IT

  2. Ass Wr. Wb

    Saya orang yang tidak berilmu seperti anda, jadi saya tidak bisa berargumentasi seperti yang anda lakukan.Yang saya punya hanyalah keyakinan.

    Saya pasti percaya, bahwa sampai sekarang anda masih percaya AlQur’an karena anda muslim, tapi saya tidak tahu anda percaya Alqur’an sebagai Wahyu Allah yang terakhir penyempurna dari kitab sebelumnya ATAU hanya sebagai produk KARYA SASTRA saja ?

    Memang, manusia diberikan kelebihan AKAL oleh Allah agar bisa berfikir, itu pasti. Alqur’an harus ditafsirkan dengan akal itu sudah pasti. Tapi akal bagaimanakah yang digunakan ? Jangan sampai menggunakan akal jadinya malah ” AKAL-AKALAN ” seperti yang dilakukan oleh kaum liberal dimana semuanya serba dipaksakan menurut pikirannya sendiri. Sementara ajaran Alqur’an menurut saya tidak ada yang bertentangan dengan akal. Semua yang ada dalam Alqur’an benar-benar merupakan “KARUNIA TERINDAH ” yang diberikan Allah bagi umat manusia, Alqur’an benar-benar miracle.Karena dengan Alqur’an lah kita bisa menjalani hidup dengan sempurna sebagai mahkluk sosial dan sebagai hamba Allah.Apa yang yang disampaikan Allah dalam Alqur’an benar-benar nyata dalam kehidupan.
    Alqur’an memang memberikan kebebasan dan toleransi yang sangat tinggi yang tidak dimiliki oleh kitab lainnya.Tapi kebebasan tersebut jangan sampai menyalahi yang Allah ajarkan.
    Siapa bilang di negara barat lebih bebas & toleran dalam dalam menjalankan kebebasan beragama. Example : Pengikut Mormon di Amerika ( ajaran seperti kristen tapi mengharamkan arak & menghalalkan poligami )banyak yang dibunuh dan wanitanaya diperkosa.
    Masalah kebabasan, toleransi dan HAM jangan mendewakan Barat, itu semua omomg kosong. Barat bicara kebebasan/toleransi dan HAM adalah untuk kepentingan golongannya sendiri. Kita bisa melihantanya di Irak/ Palestina / Afganistan /Kenya dan sebentar lagi bisa Iran/Suria atau bahkan Indonesia.

    Saya heran kenapa orang berpendidikan muslim Indonesia belajar agama Islam kok di Barat. Anda pasti tahu jawabannya atau jawaban anda seperti jawaban saya bahwa orang Barat ingin orang Islam belajar Islam sesuai yang diinginkan pihak Barat sehingga beasiswa banyak digelontorkan ke Universitas2 Islam di Indonesia. Barat takut apabila orang Islam belajar Islam sesuai AlQur’an & Hadist mereka akan dihancurkan.Padalah itu hanya pobia mereka saja.

    Apakah kalau ingin maju, umat Islam harus menjadi sekuler seperti yang diusung oleh kaum Liberal ?

    Maaf, apabila saya terlalu banyak omong atau tulisan saya ngelantur kemana-mana. Saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg hati saya kepada anda yang lebih berilmu. Saya ingin anda bisa menjaga Islam karena anda luas ilmunya.

    Terima kasih, atas diberikan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg hati saya dan mohon maaf apabila ada salah kata.

    Semoga sukses dan Allah beserta Anda. Amin

    Wassalam,
    Ayesha

  3. Ayesha yang baik….
    Dalam beberapa hal saya sepakat dengan anda. Bahwa barat-barat bukan segala-galanya, sebagaimana juga Timur bukan segala-galanya. Intoleransi, kekerasan, ekstrimisme dan kejahatan lainnya juga terjadi di Barat dan di Timur. Tapi bagi saya bukan menjadi soal jika beberapa orang hendak mencontoh hal-hal yang baik dari Barat. Barat tidak mesti identik dengan kafir. Banyak orang islam di Barat.

    Belajar islam juga tidak mesti di Barat. Karena itulah saya belajar di Pesantren sejak belia. Mengapa banyak studi ke Barat? ada banyak alasan. [1]karena faktor beasiswa, [2]Dalam beberapa hal pendidikan di Barat lebih maju, [3]Barat sebagai pusat peradaban tentunya layak dipelajari sebagaimana dulu Barat belajar pada Islam pada abad pertengahan. [4]fasilitas di Barat lebih baik dan lain sebagainya.
    Tetapi saya juga tidak menutup mata terhadap kajian barat. Dalam beberapa hal, ada kajian islam dari barat yang bias. Inilah bentuk orientalisme yang di kritik oleh Hassan Hanafi melalui al-Muqaddimah fiy ilm al-Istigrab.
    Itu dulu komentar saya, lain kali aku sambung.
    Thanks…..

  4. terima kasih atas koreksinya yang punya nama Tukang Edit ini.
    Untuk Usamah,
    Menafsirkan dalam terminologi kajian tafsir tentu membutuhkan seperangkat metodologi. Akan tetapi jika kita mencermati makna tafsir secara luas, maka pemahaman saya adalah begini: membaca basmalah ketika mau makan, atau memulai sesuatu, baca ayat-ayat al-Qur’an ketika dalam ketakutan juga masuk dalam kategori tafsir.
    Mengapa membaca ayat ini dan itu? Semuanya itu dipengaruhi oleh pemahaman dan penafsiran seseorang terhadap al-Qur’an. Karena itulah, anda pun boleh menafsirkan al-Qur’an
    Kemudian, mau buat blog seperti apa itu adalah hak anda. Tapi kalau mengatasnamakan saya, sementara itu bukan saya yang ngelola tentu saja tidak boleh.
    Jaringan Islam Liberal (JIL)bukanlah segalanya. Dia juga tidak mesti benar dalam memahami islam sebagaimana juga pemahaman anda tentang islam belum tentu benar.
    Al-Qur’an itu kan cuma teks tidak bisa berbicara, ini benar atau salah. Apakah pemikiran MUI benar sementara JIL salah, al-Qur’an tidak bisa bersuara. Ketika seseorang hendak menyalahkan orang lain atas nama al-Qur’an berarti itu bukanlah al-qur’an, tetapi pemahaman terhadap al-Qur’an.
    Ketika si A memiliki pandangan yang berbeda dengan saya, misalnya, apakah ia lantas salah. Tau dari mana kalau ia salah? ayat al-Qur’an? al-Qur’an tidak bicara apapun. Ayat yang digunakan untuk menyalahkan orang adalah hasil tafsir terhadap al-Qur’an, bukan al-Qur’an itu sendiri.
    Inilah pemahaman saya tentang islam, al-Qur’an. Saya tidak tahu apakah pemahaman saya ini benar atau salah. Yang aku tahu, aku harus berbuat baik terhadap sesama, amar ma’ruf nahi munkar, meninggalkan kemaksiatan, memperbanyak ibadah dan doa.
    Apakah saya akan masuk surga atau neraka, itu bukanlah urusan saya. Amal ibadah saya tidaklah banyak dan tidak cukup untuk membalas karunia yang diberikan tuhan. Saya tidak bisa mengandalkan amal ibadah saya untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Inilah yang saya yakini ketika saya belajar Bidayah dan Ihya Ulumuddin-nya al-Ghazali dari Orang tua dan kakek saya.
    Saya masih yakin bahwa imam Ghazali adalah orang shaleh. Begitu juga beberapa kiai. Saya tidak mau muluk-muluk. Para kiailah yang pantas menjadi panutan, walaupun tidak sembarang kiai.
    Itu dulu, saya belum sempat nulis yang lebih panjang dan detail dari ini.
    Thanks….
    Salam…….

  5. Al-Qur’an tidak bicara apapun? HAH!! jadi Al-Qur’an itu sebagai apa?Apakah cuma pajangan di lemari? Sepertinya Anda gak pernah membaca Al-Qur’an deh….Apakah yang Anda harapkah Al-qur’an berbicara seperti manusia?

  6. berat…
    ada apa dengan Hatim (AD2C)?
    hehe, tidak mengherankan indonesia rawan konflik, banyak perselingkuhan fisik dan baku hantam. kapan indonesia tenteram, jika suka menyalahkan. etika menghormati mungkin hanya untuk sang saka merah putih. Toh, meski mas Hatim dianggap salah, bukan berarti kita harus menjustifikasi anggapan kita paling benar. Meski bisa saja mas Hatim salah, bukan berarti kita juga benar. Menarik memang fenomena pelarangan Abu Zayd, yang saya sebut Phobia pemerintah atas beliau. secara pemikiran, memang, dia cukup liberal, jika memaknainya sebagai keluar dari mainstream dominan. Tetapi perbedaan itu perlu jika memahaminya secara mendalam.

    Perbedaan adalah fitrah, tapi jangan dibeda-bedakan. Saya tidak akan membela siapapun, saya hanya membela PKB yang benar. hehehe.

    jangan-jangan, nanti ada istilah Marga Gazali dicekal. Wass

  7. Faham apapun yang dicetuskan didalam Islam sampai hari ini oleh siapapun adalah masih tetap dalam kerangka kondisi pecah-belah menjadi 73 firqah sebagaimana diramalkan oleh nabi saw. sampai datangnya Allah menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 yang artinya Allah membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22 dan akan menjadikan umat yang satu sesuai An Nahl (16) ayat 93 sebagaimana dijanjikan oleh nabi saw.
    Untuk penjelasan totalnya kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX + 527 halaman berikut lampiran terpisah 4 macam skema acuan berukuran 60×63 cn:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s