Menjalin Persatuan di tengah Pluralitas Agama


Telah dimaklumi bersama bahwa kemajemukan merupakan salah satu ciri yang melekat dan tumbuh dalam kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu bentuknya adalah kemajemukan (pluralitas) agama.

Sebagaimana dalam bidang lainnya, pluralitas agama bisa menjadi modal pembangunan bangsa jika dikelola secara arif dan bijaksana. Akan tetapi jika terjadi kesalahan manajerial justru akan memicu konflik horizontal antar sesama umat beragama yang mengakibatkan perpecahan (disintegrasi) dan menjadi kendala besar dalam proses pembangunan bangsa dan negara.

Tragedih Aceh, Ambon, Poso, Sampit dan lainnya sudah cukup memberi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, menjalin dan membina hubungan kerja sama dan persatuan antar pemeluk agama yang berbeda-beda sangat urgent, bahkan satu keniscayaan dalam rangka mewujudkan kehidupan bangsa yang sejahtera, damai dan adil.

Hal ini harus disadari oleh segenap umat beragama sehingga upaya mewujudukan cita-cita bersama itu akan terasa mudah dan sukses karena muncul dari kerasadaran masyarakat sendiri.

Dan, pemerintah juga diharapkan lebih proaktif dalam menyikapi setiap kemungkinan pihak-pihak tertentu “memanfaatkan” sintemen agama untuk kepentingan pribadi atau golongan. Ketidakharmonisan hubungan atau “perang dingin” antar pemeluk agama yang beranekaragam bila dicermati secara teliti terutama muncul dari sistem intern (komunitas) agama itu sendiri. Ada dua hal yang menyangkut watak alami keagamaan yang menjadi indikator asumsi ini.

Pertama, sifat “inklusiv” keimanan. Setiap pemeluk agama menyakini bahwa agamanya merupakan jalan kebenaran dan pada waktu itu yang sama menolak kebenaran agama lain. Jika ia menyakini kebenaran agamanya sekaligus kebenaran agama lainnya, berarti keimanannya tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, pemeluk agama lain menyakini agamanya sendiri sebagai jalan kebenaran dan menolak keberaran agama lainnya.Agama menjadi benar dimata penganutnya, dan menjadi salah menurut agama lainnya (other religions). Dalam konteks ini, dapat dikatakan –memimjan istilah Sayyed Hossein Nasr—agama relatively absolut atau sebaliknya, absolutly relative. Ini adalah watak alami yang ada pada setiap agama dan tidak bisa diubah.

Kedua, sifat misioner agama. Agama sebagai “kabar gembira” selalu menuntut perluasan dan penyebaran kepada sebanyak mungkin orang, yaitu kepada mereka yang belum mengetahuinya tetapi bersedia menerimanya.Setiap pemeluk agama jelas menghendaki apa yang diyakininya sebagai keselamatan dan kebenaran dapat dan dinikmati oleh orang lain, bahkan ini menjadi tuntutan agama itu sendiri.

Dengan demikian, agama-agama tidak pernah menjadi eksklusif dalam arti berusaha membatasi jumlah penganutnya, melainkan cenderung menjadi inklusif, yaitu membawa sebanyak mungkin orang kedalam lingkupnya untuk menikmati keselamatan yang dijanjikan agamanya.

Jika demikian, apakah perpecahan dan pertikaian antar umat beragama menjadi keniscayaan ?. Masihkah ada jalan dan kesempatan untuk menjalin hubungan kerjasama dan persatuan antar umat beragama?

Titik Temu agama-agama.

Perbedaan antar agama yang beranekaragam itu bukan dalam arti sepenuhnya (totally). Secara gamlang, kita bisa melihat adanya ide dan gagasan yang sama. Gagasan-gagasan yang sama merupakan titik konvergensi antara agama-agama. Bila kita mengikuti klasifikasi agama berdasarkan sumbernya dalam wacana teologi, agama terbagi menjadi agama semit (wahyu) dan agama non-semit.

Antara agama-agama semit tentu saja terdapat persamaan-persamaan karena sama-sama bersumber pada wahyu (Tuhan). Begitu pula antara agama semit dan non-semit akan dijumpai persamaan-persamaan khususnya yang menyangkut aspek moral dan akhlak sosial. Sebab ide, gagasan dan pikiran sebagai produk akal budi manusia yang luhur senantiasa sesuai dengan wahyu Tuhan. Dengan kata lain, ide, gagasan dan pemikiran manusia adalah sebagai backing dari wahyu, kalau tidak sebagai bagian dari agama itu sendiri.

Persamaan antara agama-agama itu bahkan menyentuh ide atau gagasan yang prinsipil. Semua agama membawa pesan dasar yang sama, sikap pasrah, tunduk dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepatuhan ini menjadi karakteristik pokok setiap agama. Agama mengajarkan para pemeluknya untuk menyerahkan jiwa, raga dan entitas hidup mereka untuk Tuhan semata. Tak bisa dipungkiri pula bahwa semua agama memiliki paradigma sosial yang berwujut keadilan sosial dan kesejahteraan manusia secara universal.

Semangat emansipatoris dan transformatif menjadi corak dan karakternya. Dinamika pembebasan didalamnya tampak jelas sebagai jiwa dan kekuatannya. Para penganut agama meyakini dan sepakat bahwa agamanya membawa misi kesejahteraan (kemaslahatan) dan keselamatan (salvation) bagi umat manusia dan alam semesta.

Agama juga menjadi komando perlawanan terhadap bentuk thagut (tirani), penindasan, diskriminasi dan kekerasan serta kesewenangan-wenangan atas nama apapun.

Dalam wacana teologi inklusif, titik temu antar agama yang berbeda-beda ini kerapkali dijadikan kerangka acuan pemikiran untuk menjalin kerja sama dan persatuan umat beragama dalam mewujudkan cita-cita bersama dalam ikatan nation state, bahkan dunia secara global.

Namun bagaimanapun, kerangka acuan pemikiran ini belum kokoh, karena argumentasi-argumentasi belum menyentuh hakikat diri manusia (kemanusiaan) sebagai mahlik (ciptaan) Tuhan. Sejumlah pertanyaan bernada kritis dan menggelitik sewajarnya akan muncul. Jika semua agama pada dasarnya sama, maka apa arti perbedaan-perbedaan yang tampak jelas itu ?. Jika semua agama pada hakikatnya benar, apa pula nilai ekspansi (dakwah, kristenisasi, dsb) agama itu ?

Selama ini perbedaan agama telah minimbulkan permusuhan diantara para pemeluknya. Tidakkah kita bisa meninggalkan semua formalitas agama yang ada, untuk kemudian merumuskan satu pegangan bagai umat beragama demi tercapainya perdamaian umat manusia ? Kalaupun disatukan toh tidak akan mengubah atau merusak esensi agama

Dasar-Dasar Inklusifisme Agama

Bangunan persatuan umat beraga harus dilandaskan pada ekspresi hakikat diri manusia yang meliputi harga diri manusia (kemanusiaan) dan kebebasan manusia itu sendiri. Manusia adalah mahluk yang dimuliakan oleh Tuhan Sang Pencit Alam Semesta tanpa melihat perbedaan agama, etnis, suku, eras, warna kulit dan golongan tau apapun bentuk perbedaan lainnya.

Kemuliaan ini merupakan jaminan bagi setiap individu dan komonitas agama (relegion Commonity) untuk mendapatkan kehormatan, perlindungan, perlakuan baik dan adil serta hak-hak asasi yang sama.

Ini juga berarti manusia adalah setara (equal) dihadapan Tuhan sebagai hamba-hamba-Nya yang telah dimuliakan atas mahluk lain di alam semestas ini.

Sebagai konsekuensi logisnya, antar sesama komonitas agama yang berbeda-beda harus saling mengakui dan memahami eksistensi komonitas agama lain secara baik dan adil.

Disisi lain manusia adalah mahluk yang dianugerahi kebebasan. Kebebasan berfikir, berbuat, berperilaku dan menentukan pilihan apapun untuk dirinya. Kebebasan ini berdasarkan kemampuan yang Tuhan secara kodrat (fitrah) kepada manusia berupa sesuatu dari ruhnya (Dr. Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban 1992 : 430-431).

Dengan potensi ini, maka manusia memiliki kesadaran penuh dan kemampuan untuk memilih dan memutuskan jalan yang lurus dan benar sesuai tuntutan dan petunjuk Tuhan. Dengan kata lain, manusia secara kodrati (fitrah) memiliki kemampuan memilih agama yang benar dan lurus.

Kebebasan manusia harus diiringi dengan rasa tanggung jawab (responsibility). Setiap pilihan dan gerak-gerik manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan di kehidupan setelah mati nanti. Setiap individu akan diberi ganjaran baik atau buruk sesuai kadar ketaqwaannya.

Disini perlu digarisbawahi bahwa pelaksanaan pertanggung jawaban itu bukan didunia, bukan pula menjadi tugas komonitas agama tertentu. Pertanggungjawaban itu diserahkan kepada Tuhan semata yang telah memberikan kebebasan itu. Tuhan yang akan menyelesaikan persoalan dan perselisihgan diantara umst beragama (manusia).

Dan demikian, pemeluk agama manapun tidak perlu resah atau gusar karena penyimpangan (dalam pandangan mereka) yang dilakukan pemeluk agama lain.

Semua itu hendaknya dikembalikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Bijaksana. Sebagai watak keagamaan dan tuntutan agama itu sendiri, tiap pemeluk agama tidaklah menjadi masalah mengajak komonitas agama lain dengan catatan selama tidak melnggar nilai-nilai kemanusiaan dan makna kebebasan manusia.

Disinilah sifat misionir keagamaan tidak akan mengakibatkan perselisihan, perpecahan umat beragama dan pertumpahan darah. Selanjutnya, kesadaran dan pemahaman terhadap hakikat diri manusia kan menumbuhkan sikap optimis-positif umat beragama untuk menjalin persatuan dan hubungan kerjasama dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama dalam kehidupan bernegara maupun dunia secara global.

Sumber: Majalah BAKTI No 148 Thn XIII Oktober 2003

4 thoughts on “Menjalin Persatuan di tengah Pluralitas Agama”

  1. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu(QS. Al Baqarah 120)

    [QS 40:58] Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.

    Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85)

    sebaik2 baik kalam adalah kalamullah dan seburuk 2 perbuatan adalah yg diada2kan, jadi jangan mengada2 alias nglantur mas
    tobat..tobat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s