Bukanlah Akhir dari Terorisme


Tertangkapnya Yusron Mahmud alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (09/07) memberikan sederet daftar positif kinerja kepolisian Indonesia dalam memberantas terorisme di negeri ini. Tentu saja hal ini perlu disambut dengan baik. Aktor intelektual sejumlah peledakan bom di negeri ini–paling tidak–semakin berkurang.

Akan tetapi, dengan ditangkapnya Abu Dujana bukanlah akhir dari sejarah terorisme Tanah Air. Pelaku terorisme di negeri bukan saja AD. Masih banyak pelaku-pelaku lain yang perlu segera ditangkap, seperti Noordin M Top dan Zulkarnaen. Dengan kata lain, pada satu sisi kita bisa bernapas lega perihal tertangkapnya Abu Dujana, tetapi pada sisi lain kita diharapkan tetap waspada terhadap aksi-aksi terorisme.

Mengapa demikian? Di samping pelaku terorisme yang semakin hari terus berkembang pesat juga karena anak buah Abu Dujana tidak akan tinggal diam ketika sang komandan tertangkap basah. Teror dan ledakan bom bisa jadi andalan ampuh bagi anak buah AD untuk memprotes penangkapan tersebut.

Dalam konteks inilah, seluruh elemen masyarakat diharapkan bisa waspada dan hati-hati terhadap aksi-aksi terorisme lainnya. Tertangkapnya satu pahlawan akan menumbuhkan puluhan bahkan ratusan kader baru yang bisa jadi lebih radikal, cerdas, dan militan.

Di samping hal tersebut, kewaspadaan ini tidak hanya ditujukan kepada aksi-aksi terorisme, tetapi juga waspada terhadap gagasan-gagasan, ideologi, dan pemikiran terorisme. Pasalnya, sebuah aksi pasti bermula dari sebuah pemikiran dan ideologi. Dalam hal inilah, kegelisahan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap berkembangnya islam (ideologi) transnasional bisa dimengerti. Kegelisahan PBNU ini muncul ketika melihat fakta di lapangan bahwa–salah satunya–sejumlah masjid yang konon didirikan dan dikelola oleh warga NU (nahdliyin) berganti dan diambil alih oleh kelompok-kelompok yang berideologi transnasional.

Kekesalan PBNU pada prinsipnya bukan karena pengambil alihan masjid, tetapi dari tempat ibadah itulah mereka akan melakukan sejumlah aksi-aksi yang merugikan Indonesia, bertentangan dengan Pancasila dan UUD. Dari masjid pulalah sebuah rencana aksi terorisme bisa dirumuskan. Bagi mereka, masjid bukan saja sebuah tempat ibadah kepada Allah, tetapi juga sebagai tempat suci untuk mendiskusikan rencana-rencana tertentu (aksi terorisme).

Pasalnya, Islam (ideologi) transnasional seperti Jamaah Islamiyah (JI) merupakan wujud lain dari fundamentalisme yang akan berujung kepada terorisme. Bahkan, keberadaan JI ini jauh lebih awal ketimbang Al-Qaedah dan dokumentasi gerakannya mulai dari al-manhaj al-haraki sampai nidham asasi sangatlah lengkap (Agus Maftuh dkk, 2004). Upaya untuk membangun ‘peradaban surgawi’ ( khalifah al-Islamiyah) yang mereka dambakan ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.

Karena kenyataan itulah, mereka bukan saja mengembangkan pemikiran perihal daulah islamiyah, tetapi juga latihan militer mulai dari materi weapon training. Map reading, teknik infanteri, dan field enginering. Singkatnya, mereka akan menempuh jalur kekerasan ketika pemikiran-pemikiran konservatif-radikal dan fundamentalis berhadapan dengan fakta empiris yang tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Selain menangkap

Sesungguhnya, di samping menangkap sejumlah pelaku terorisme seperti Abu Dujana, hal yang paling penting adalah membentengi bangsa Indonesia dari gagasan dan pemikiran yang berbau teroris. Cara ini jauh lebih efektif dan santun dalam menanggulangi berkembangnya terorisme di negeri ini.

Dalam hal ini, organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki peran yang sangat strategis. Pasalnya, para pelaku terorisme masih menjadi agama sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara. Pemikiran ini tentu saja bertentangan dengan ideologi dua organisasi raksasa tersebut. Adalah fakta bahwa baik NU maupun Muhammadiyah sama-sama antikekerasan dan bergerak di jalur kultural-keagamaan yang santun, ramah, dan inklusif.

Untuk itulah, revitalisasi islam kultural yang ramah menjadi penting untuk dikembangkan. Terus terang, ideologi dan pemikiran yang dikembangkan oleh kalangan fundamentalis-teroris selalu meminta darah manusia. Bom bunuh diri dianggap sebuah jihad yang imbalannya adalah surga. Tak segan-segan, demi menegakkan khilafah islamiyah mereka menggunakan kekerasan. Sebenarnya, atas nama agama mereka bertindak di luar kerangka jalur agama.

Fakta keterkaitan semangat agama dalam tindakan teroris adalah terjadinya sejumlah ledakan di beberapa negara baik di Afrika, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah. Sejak 1995-2000 tak kurang dari 35 serangan teroris yang berkedok agama yang telah meluluhlantakkan 2658 sejumlah fasilitas umum (Pattern of Global Terrorism, The Office of the Coordinator for Counterterrorism, U.S Departemen of State, 2000). Belum lagi aksi terorisme pasca 2000 yang tidak kalah besarnya.

Dalam konteks inilah, mengembalikan NU dan Muhammadiyah ke jalur kultural-keagamaan sangatlah strategis. Metode penanggulangan terorisme di negeri ini tidak bisa hanya ditempuh melalui jalur-jalur struktural, tetapi juga tidak salah jika mencoba jalur kultural. Membentengi diri dari ideologi-ideologi transnasional-terorisme merupakan cara yang sangat efektif untuk mengatasi terorisme.

Pasca-Abu Dujana

Setelah tertangkapnya Abu Dujana, di samping terus memburu para teroris lainnya, langkah dan tindakan preventif untuk mencegah terorisme di Tanah Air perlu segera dikembangkan. Kalau tidak, akan segera muncul puluhan wajah Abu Dujana lainnya yang akan melakukan pengeboman di sejumlah tempat.

Pengembangan model keberagamaan yang ramah, santun, inklusif dan dialogis merupakan langkah yang prospektif. Pemahaman keagamaan yang intoleran dan keras perlu segera ditinggalkan. NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi moderat dan toleran perlu memberikan contoh yang tepat. Pasalnya, tidak ada akal sehat yang menghalalkan kekerasan, terorisme. Sejumlah warga NU dan Muhammadiyah yang selama ini teriris karena ideologi terorisme (transnasional) perlu mendapatkan penanganan dan pembinaan.

Bagaimana tidak, sewaktu penulis menghadiri sebuah Pelatihan IPNU-IPPNU di Indramayu pada 2004 beberapa dari peserta ternyata melenceng dari pemikiran dan paham yang dikembangkan oleh NU, ahlus sunnah wa al-jama’ah (Aswaja). Belum lagi salah satu pondok pesantren di Jawa Timur yang dikenal liberal karena Ma’had Aly-nya terdapat satu mahasiswa “titipan” dari Pesantren pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Terang saja, ia berseberangan dengan paham aswaja yang dikembangkan oleh NU.

Dalam konteks inilah, seluruh elemen bangsa bisa bersatu padu untuk mencegah berkembangnya terorisme. Perangkat desa juga diharapkan waspada dan hati-hati terhadap warganya mencurigakan.

Alhasil, tertangkapnya Abu Dujana bukanlah akhir dari perjuangan bangsa dalam memerangi terorisme. Langkah-langkah preventif jauh lebih efektif dan santun dibanding memburu teroris. [Hatim Gazali]

Sumber: http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=135838

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s