Potret Kaum Muda NU


Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi masyarakat di Indonesia mempunyai massa yang terbanyak di Indonesia-mungkin juga di dunia. Kehadirannya sangat unik dan dinamis, sehingga seringkali ia dijadikan obyek penelitian atau kajian para pengamat sosial, politik, agamawan, baik
dari luar negeri ataupun dari dalam.

Martin Van Bruinessen dengan bukunya NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarain Wacana Baru (LKiS.1994), Chirul Anam, Perkembangan dan pertumbuhan NU (1985), M. Haidar Ali dengan disertasinya, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia; Pendekatan Fiqh DalamPolitik (1991), Kacung Marijan, Qou Vadis NU setelah Kembali Ke Khittah (1992), Mochtar Naim dengan tesisnya, The Nahdlatul Ulama as a Political Party, 1952-1955, an enquiry into the origins of its electoral succes (1960) Andree Feillard dengan disertasinya Islam et Armèe Dans L’indonésie Contemporaine Les Pionniers de la Tradition yang kemduian di terjemahkan oleh Lesmana kedalam bahasa Indonesia, NU Vis-a-Vis Negara, Pencarian Isi,Bentuk dan Makna (1999) dan beberapa buku-buku lainnya serta artikel-artikel yang tersebar hampir diseluruh media massa di tanah air, seperti Kompas, Surya, Kedaulatan Rakyat, Duta Masyarakat, Prisma, Aula dan lain-lain. Ada banyak keunikan dalam diri NU, sehingga ia menjadi perbincangan yang sangat menarik dikalang cendekiawan. salah satunya adalah [pertama] bagaimana bisa NU tidak di didesain dan diorganisasi secara canggih bisamemliki massa terbanyak dan bisa eksis sampai sekarang. Kedua, adanya perkambangan menarik yang terjadi dalam diri NU, mulai sejak lahirnya sampai sekarang baik itu bersangkut paut dengan politik, ekonomi maupun agama.Ketiga, meskipun NU memiliki massa terbanyak namun sangat jarang ia memegang kendali dalam pentas nasional. Ada apa sebenarnya dengan NU. Hanya pada masa era reformasi, tokoh kontroversial NU tampil mejadi orang nomor satu di Indonesia, presiden. Dan beberapa keunikan NU lainnya. NU seringkali dinobatkan sebagai organisasi tradisional, konservatif dan ortodoks, karena masih berpegang kuat pada tradisi lokal dan masih mendasarkan paham keagamaannya pada salah satu empat Mazhab yaitu Hanafi, Syafi’I, Maliki, dan Hambali pada bidang fiqh, dan menganut paham ahlussunnah wal-jama’ah (aswaja) yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi pada bidang aqidah (teologi) dan mengikuti aliran Imam Junaidi al-Bagdadi, Imam Ghazali dalam tasawuf (mistisisme). Anggapan semacam itu tidak selamanya benar dan juga tidak mesti salah.Secara normatif, NU memang tidak jauh berbeda dengan anggapan-anggapan diatas. Sebab NU dilahirkan oleh seorang Kiai atau ulama-ulama pesantren yang nota benenya bertempat tinggal dipedasaan dan cenderung tidak berpendidikan. Barangkali Kyai Hasyim Asy’ari dan pendiri-pendiri NU lainnya tidak pernah menyangka bahwa sebuah organisasi yang kemunculannya disebabkan fenomena internasional dan nasional ini bisa eksis sampai sekarang dan mempunyai massa terbesar. Namun kalau melihat perkembangan NU saat ini, khususnya kaum muda NU, seketika terheran-heran. Betapa NU yang dikenal sebagai organisasi tradisional, ternyata mengalami perkembangan yang sangat pesat. Geliat intelektual kaum muda NU cukup menjanjikan bagi NU kedepan. Dari aspek pemikiran barangkali tidak terlalu berlebihan kalau disebut liberal.

Pemikiran-pemikiran ulama-ulama muda NU sekarang berbeda -bahkan seringkali bertentangan–dengan tradisi NU masa lalu. Buku Kultur Hibrida, Anak Muda NU dijalur Kultural (LkiS.1999) memotret biogarafi dan pemikiran sembilan anak muda NU. Mencermati kesembilan anak muda NU yang tercover dalam buku, seakan-akan NU mengalami suatu genre yang disebut kultur Hibrida. Belum lagi anak-anak NU yang tergabung dalam LKiS di Yogyakarta seperi Jadul Maula, di ELSAD Surabaya seperti Anom Suryaputra, PMII, IPNU, IPPNU, KMNU di Mesir, P3M, Lakpesdam, bahkan juga di Jaringan Islam Liberal seperti Ulil Absar Abdallah yang beberapa bulan yang lalu tulisannya di Kompas (Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam), menjadi polemik dan pro-kontra diantara para agamawan dan mendapat fatwa mati. Dan beberapa organisasi atau peguyuban lainnya.

Kultur hibrid ini tidak hanya merujuk pada satu khazanah trasional keagamaan, tetapi bersifat elektik yang berasal dari beragam sumber. Ulama-Ulama muda NU tidak lagi berkutat pada tradisi islam klasik dan menekuni pelajaran-pelajaran pesantren, tetapi sudah mulai berani dan semakin gandrung akan pemikiran-pemikiran baru, mempelajari filsafat, bahasa bahkan seringkali tanpa rasa takut menolak pemikiran-pemikiran dan tradisi-tradisi para pendahulunya. Rujukan anak muda NU tidak hanya kitab kuning yang ditulis oleh ulama pada beberapa abad yang lalu, tetapi juga pemikiran-pemikiran kontemporer seperti M. Arkoun, Abed Al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zaid, Syahrur, Hasan Hanafi, Karl Marx, Karl. Popper, Fatima Mernissi dan lain sebagainya.

Maenstrem pemikiran yang berkembang dikalangan muda NU berbeda dengan para kiai-kiai salaf. Karena itu, liberalisme pemikiran anak muda NU seringkali dituding kafir dan menyalahi tradisi NU oleh orang-orang tua NU. Perbedaan paham keagamaan antara ulama muda NU dengan ulama tua NU adalah wajar. Karena disamping referensi bacaanya sudah berbeda, juga cara menangkap realitas obyektif. Tepatnya perbedaan pemahaman ini sebagai konsekwensi dari berbedanya struktur berfikir antara yang tua dan muda di kalangan NU. Kalangan muda NU tidak hanya berfikir tentang fiqh, tasawuf. Lebih dari itu, diskusi-diskusi dikalangan muda NU (khususnya dikalangan PMII) -sebagaimana diakui oleh Martin van Bruinessen (1994)–akhir-akhir lebih menjurus pada keterbelakangan Dunia Ketiga, keadilan Ekonomi dan sosial, advokasi buruh dan petani, emansipasi wanita.

Gerakan-gerakan anak muda NU ini lebih diarahkan pada kesejahteraan sosial (mashlahat al-‘ammah). Hadirnya anak muda NU yang cemerlang -menurut Hairus Salim HS & Muhammad Ridwan ada empat–ini didorong oleh beberapa hal. Pertama, akses pendidikan yang tinggi. Andree Feillard dalam salah satu penlitiannya yang dilakukan tahun 90-an menunjukkan -sebagai contoh-Gerakan Pemuda Ansor sebagai besar pernah mengikuti sekolah umum. Mereka pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi: 40 % di perguruan tinggi Islam (IAIN) dan 54 % di perguruan tinggi umum. Sisanya dalah mereka yang pernah kuliah di kedua macam perguruan tinggi. Beberapa diantara mereka pada umumnya belajar di madrasah, kemudian melanjutkan kesekolah umum.( Andree Feillard.1999, hlm 364).

Dengan semakin tinggi persentuhannya dengan dunia pendidikan, semakintinggi pula khazanah keilmuan yang dimiliki. Kedua, kekayaan tradisi intelektual. Disamping anak muda NU paham tentang khazanah islam klasik yang didapat dipondok-pondok pesantren, juga mendalami ilmu-ilmu diluar itu. Dengan tidak tercerabut dari akar tradisinya, mereka sangat intens melakukan kritik kemasyarakatan dan mengawinkan kosa pengentahuan baru dengan khazanah tradisis mereka. Ketiga, pengaruh Gus Dur, Masdar F. Mas’udi. Gus Dur dengan gagasan pribumisasi islam-nya, tidak saja menghentakkan kalangan tua untuk melakukan kritik, tetapi juga anak muda NU untuk menganalisis. Meskipun Gus Dur sering dihakimi oleh kiai-kian tua pesantren karena pemikiran kontroversialnya, namun memberikan kontribusi besar bagi perkembangan khazanah NU selanjutnya. Keempat, marginalisasi ekonomi-politik. Perlu di ketahui bahwa dalam sejarahnya NU seringkali -untuk tidak mengatakan senantiasa-dimarginalkan oleh suartu rezim. Orde Baru yang palinmg getol menempatkan NU secara periferal. Tidak jarang sikap oposisi NU dengan pemerintah menyebabkan NU melahirkan subordinasi dan diskriminasi terhadap NU. Kenyataan sejarah inilah yang barangkali menjadi cambuk kalangan muda untuk bangkit dengan seperangkat pengetahuan yang dimilikinya.(Hairus Salim[ed] 1999 hlm 9-13)

Kelima, semakin luasnya askes pengetahuan sebagai akibat dari tumbangnya rezim Orde Baru dan digantikan oleh era reformasi. Perubahan ini baik secara langsung atau tidak mempunyai dampak bagi perkembangan intelelektual Indonesia umumnya, dan kalangan muda NU pada khususnya. Keenam, berkat kemajuan teknologi seperti internet, telepon, komputer dan lain,lain, arus transformasi dan informasi sangat deras dalam mana sistem identitas antar bangsa tidak lagi dijembatani oleh simbul-simbul georafis, etnik, lokalitas, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan akan cepat diakses diseluruh dunia. Karena itulah, label NU yang konservatif barangkali kurang tepat manakala mencermati perkembangan NU akhir-akhir ini, khususnya anak muda NU.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana kultur hibrida (hybrid culture) ulama muda NU ini bisa mewarnai dan menjadi bagi dari NU itu sendiri, tidak terpisahkan. Meskipun mereka terkadang menyimpang dari tradisi NU-nya, mereka harus diakui dan diakomodir oleh NU dengan segala konsekwensinya. Kalau mereka ditolak oleh NU, maka anak-anak muda NU itu akan lepas. Akantetapi, kalau mereka di terima oleh NU, maka spektrum NU akan semakin luas dan sangat menarik (AS. Hikam dalam Hairus (ed), hlm 261). Pekrmbangan anak muda NU ini harus diperhatikan secara khusus, sebab disamping mereka mempunyai khazanah yang sangat luas juga mereka sangat rentan untuk keluar
dari tradisi NU-nya. Cukup banyak anak muda NU yang tidak lagi mempunyai sense of belonging pada NU, karena mereka tidak diperhatikan oleh NU. Padatitik inilah NU harus cerdas dalam mengakomodir segala kemampuan anak mudanya.

Akan tetapi, hal yang patut disayangkan adalah tidak terorganisirnya kalangan muda NU secara baik dan rapi. Anak-anak muda NU banyak bertebaran dan terpencar-pencar di beberapa organisasi, LSM yang kadangkala tidak mempunyai afiliasi sama sekali dengan NU, kalau tidak bermusuhan. NU seakan
tak cukup menjadi wadah untuk menampung banyaknya potensi anak muda atau memang mereka tidak mempunyai perhatian khusus, sehingga tidak mau bergabung ddengan NU.

Terpencar-pencarnya kalangan muda NU ini sebenarnya mempunyai disamping dampak negatif, juga dampak positif. Sisi positifnya adalah fleksibelitas (kalangan) NU, sehingga ia bisa masuk dalam organisasi-organisasi manapun. Namun, tentu sisi negatifnya lebih banyak. Setidak-tidaknya ada beberapa sisi negatif. Pertama, tidak tertampungnya kemampuan anak-anak muda NU dalam diri NU, sehingga NU akan tetap nampak semula, statis.

Kedua, sebagai regenerasi NU, anak mudalah yang akan melanjutkan dan menggantikan generasi tua (sesepuh) NU. Anak muda NU akan menjadi benteng bagi perkembangan NU selanjutnya. Ketika waktu mereka dihabiskan diluar NU, maka stagnasi NU -kalau tidak kehancurannya– ditunggu dalam hitungan hari dan tahun. Ketiga, yang berkembang pesat justru organisasi-organisasi selain NU. Keempat, sebagai anak muda yang mempunyai tradisi berbeda akan menjadi persoalan bagi kalangan tua, begitu pula sebaliknya. Anak muda mengganggap sesepuh NU tidak pandai, sudah waktunya memikirkan mati dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Sementara, kalangan tua akan mengganggap anak muda masih belum cukup umur, atau –lebih halusnya-kapabilitas yang dimilikinya masih kurang mumpuni.

Jika hal ini yang terjadi maka serang-menyerang antara kelompok tua dan muda tidak akan bisa dihindari. Untuk menyikapi dan menghindari “pertengkaran” diantara keduanya adalah sikap arif. Orang tua harus bisa memberikan ruang kreativitas bagi anak mudanya dan tidak mengganggap remeh terhadapnya. Sementara anak muda NU juga harus arif dalam memandang orang tua. seseorang hidup dalam zamannya. Sikap arif dalam menengahi antara keduanya sangat diperlukan untuk menghindari adanya clash baik pada tataran ide maupun pada tingkat praksis. Contoh yang sangat konkrit adalah pertengkaran antara kalangan tua dan muda di bahtsul masa’il. Tidak jarang orang tua mengganggap kafir bagi kalangan muda -atau lainnya-ketika anak-anak muda tidak lagi berpegang pada aturan fiqh dan menjadikan ushul fiqh atau disiplin ilmu lainnya sebagai pijakan, sementara kalangan tua masih berpegang kuat pada tradisi fiqhnya. Adu argumentasi dan klaim kebenaran tak terelakkan lagi, Ironisnya, tidak jarang perdebatan dalam forum berlanjut diluar forum bahkan pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya.

Penulis pernah mengamati langsung tradisi bahstul masa’il di Situbondo yang tidak mencerminkan sikap kedewasaan dan keterbukaan dalam berbahstul masail ‘Ala kulli hal, perkembangan NU kedepan akan semakin menarik manakala bisa mengakomodir kalangan mudanya, tanpa mengesampingkan orang-orang tua NU. Sepatutnya orang tua NU menjadi penasehat dan sang pemberi mau’idah kepada kalangan mudanya. Sementara anak muda harus bisa menerima secara kritis dan rasional terhadap saran orang tua. Tepatnya, perlunya pembagian ruang secara proporsional dan profesional. Misalnya para kiai-kiai yang tidak memiliki sense politik, seyognyanya tidak ikut campur dalam hal politik. Ssalah satu penyebab kekalangan NU dan pentas politik adalah menempatkan orang-orang yang a-politis pada salah satu jabatan yang sangat berbau politik, seperti PKB. Sebab logika politik sama sekali berbeda dengan logika yang dipakai didalam -misalnya-fiqh atau ilmu agama. Disinilah penulis perlu mengucapkan terima kasih, karena ternyata NU sudah mulai memperhatikan anak mudanya dan bisa menempatkan orang-orangnya padatempat yang semenstinya, walaupun masih belum maksimal.

Sumber: Duta Masyarakat 30-31 Januari 2003. http://www.dutamasyarakat.com/detail.php?id=9793&kat=OPINI

4 thoughts on “Potret Kaum Muda NU”

  1. Wah NU……???????? Waduh… itulah kenyataannyaa. Kadang ada kawan yang marah2… toh gak bisa nyelesain juga… Yang penting sabar aja kawan… Kita gak boleh sewot, nggak boleh marah2, ya inilaah keadaannnya NU sekarang.. Yang penting kita sekarang siapkan diri baik2, karena pada saatnya tibalah era kita…. lantang dan berteriak boleh2 saja tapi jangan LARUUUUTTTT… Silatrurahim dengan semua pihak mesti tetap kita jaga… Eh aku lagi bertapa dulu nih… kapan2 kita sambung ya…. kapan kamu kawin????

  2. NAHDLATUL Ulama merupakan ormas terbesar di Indonesia bahkan di dunia, karena punya banyak anggota, banyak cabang dan jaringan di luar negeri. NU merupakan ormas dengan massa besar dan punya potensi basis sumberdaya luar biasa. Maka tak aneh bila Agus Miftah menyebut NU sebagai mesin peradaban. Maju dan mundurnya peradaban dunia (khususnya dunia Islam) salah satunya ditentukan oleh NU.

    Sayang, agaknya NU belum siap sepenuhnya menjadi mesin peradaban. Bahkan NU selalu ribut, karena belum bisa menata organisasi, belum bisa merawat dan menata kaderkadernya. Sehingga, seorang aktivis Malari, Hariman Siregar, pernah berkata, “NU adalah harimau yang sedang tidur”. Kemudian tokoh lain berujar, harimau NU yang sedang tidur jangan dibangunkan, karena kalau NU bangun, ia bisa merubah Indonesia bahkan dunia.

    Memang, NU pantas disebut harimau tidur. Lihat saja, program dan kegiatan yang dilakukan oleh struktural NU belum maksimal, bahkan NU cenderung mengabaikan pemberdayaan basisnya. Lembaga dan lajnah yang ada terasa mati suri. Banyak program sebatas simbol atau formalitas belaka seperti pemasangan jam dinding bergambar NU di masjidmasjid, perayaan harlah NU besarbesaran yang menghabiskan biaya namun miskin makna.

    NU pada era generasi pertama adalah NU yang benar-benar bisa dibanggakan yang bisa menjadi contoh bagi generasi masa kini untuk menatanya supaya ke depan NU menjadi lebih baik, walau kita sadar sejarah memberi banyak pelajaran kepada kita bahwa banyak pihak tidak suka melihat NU besar sehingga dengan berbagai cara mereka selalu berusaha mengerdilkan NU, bahkan menginginkan NU bubar.

    Ketahanan kolektif Satu hal yang menjadi kesepahaman bersama bahwa bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan besar yaitu serbuan peradaban asing (dari luar negeri) berupa kapitalisme global dan serbuan gerakan Islam puritan (wahabi). Keduanya telah berjalan beriringan masuk ke dalam negeri (bahkan lewat agen dalam negeri sendiri yang secara permukaan seakan bertentangan padahal secara strategis. Jangka panjang, mereka saling bekerja sama, sesuai desain elit, untuk memenangkan perebutan atas tanah NKRI dengan menggusur kepentingan kaum pribumi).

    Operator agen asing tersebut benar-benar sudah ada di tengah-tengah kita dan jelas-jelas telah merusak basis kultural bangsa kita (termasuk basis nahdliyyin). Keduanya telah merusak kohesi sosial dan membahayakan NKRI (sehingga mengancam kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia). Sebab itu, hal yang penting untuk diperhatikan oleh kader NU (baca: nahdliyyin) adalah menjaga basis teritori dan mempertegas basis pangkalan gerakan.

    Pertama, apa yang dimaksud dengan ketahanan nahdliyyin berbasis teritori adalah menjaga basis kawasan atau kewilayahan nahdliyyin, baik di tingkat individu, keluarga, masjid, pesantren, musholla, RT/RW, dusun/ dukuh, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga secara nasional di mana antara satu kawasan dengan kawasan lain saling bekerja sama, supaya tidak tergerus oleh operasi kerja mereka. Ini menegaskan keseriusan kita dalam merawat basis nahdliyin, baik dalam bentuk pendataan warga NU dan aset-aset NU, maupun dalam bentuk perawatan basis dan peneguhan pada nilai-nilai dan amalan ke-NU-an. Di sini harus ada kesepahaman dan kerja sama antara satu kader NU dengan kader NU yang lain yang ada di berbagai teritori.

    Karena itu, setiap kader NU harus mampu menjaga akidah umat, membimbing umat, menjadi teladan bagi perjuangan umat dalam menegakkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah yang sesuai dengan basis kultural bangsa Indonesia, menghormati pluralitas suku, ras, agama, dan bahasa, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai titik darah penghabisan. Ini bermaksud menegaskan bahwa setiap diri kader NU adalah pemimpin bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi orang-orang di sekeliling, masyarakat, dan bangsa.

    Kedua, setiap kader NU harus mempersiapkan diri untuk mengisi berbagai pos-pos atau pangkalan strategis di setiap teritori atau kawasannya masing-masing, baik pos atau pangkalan politik, ekonomi, sosial, akademik, pendidikan, dakwah, pertanian, kebudayaan, kelautan, kehutanan, perkebunan, media massa, maupun bidang-bidang keprofesian lain. Ini adalah strategi diaspora atau penyebaran kader NU di berbagai bidang tetapi tetap dalam satu semangat ketahanan kolektif. Setiap individu kader NU harus memproyeksi dirinya sejak dini: kira-kira mau mengambil posisi di pos atau pangkalan yang mana. Tentu saja ini menuntut setiap kader untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya masing-masing.

    Supaya operasi kerja ketahanan kolektif nahdliyyin bisa berjalan dengan rapi sebagaimana desain yang diharapkan bersama, maka harus ada keseriusan bersama untuk menanggalkan berbagai kepentingan personal (ambisi pribadi) setiap kader NU, untuk kemudian meleburkan diri pada kepentingan kolektifitas gerakan. Sehingga, seorang kader yang aktif di suatu pangkalan harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, termasuk pola pengawalannya. Tiada perbedaan derajat mana yang lebih mulia antara kader yang aktif di satu pangkalan dengan yang di pangkalan lain, karena kemuliaan jerajat adalah bagi mereka yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh, disertai ketulusan dan keikhlasan sebagaimana teladan Hadlratussyeikh KH Hasyim Asy”ari.

    Tanpa harus terjebak oleh istilah struktural dan kultural yang selama ini sering dipakai untuk mengacaukan formasi gerakan kolektif kita, di sini penulis ingin menegaskan bahwa semua kader NU bertanggung jawab untuk melaksanakan ketahanan kolektif nahdliyyin berbasis teritori dan pangkalan gerakan tersebut. Di sinilah perlunya ada sentrum yang menjadi titik pusat gerakan kita, di mana kita semua bisa berkumpul untuk saling berbagi pengalaman, mengevaluasi, mengoreksi dan memproyeksi gerakan. Ketaatan dan kepatuhan pada komando sentrum menjadi keniscayaan supaya agenda kolektif bisa berjalan dengan rapi dan tertib.

    Kaderisasi NU
    Strategi ketahanan kolektif nahdliyyin tersebut akan bisa berjalan dengan baik manakala kaderisasi yang kita lakukan berjalan dengan baik dan menghasilkan kader-kader NU yang handal. Secara kelembagaan, yang bertanggung jawab soal kaderisasi NU adalah institusi-institusi kaderisasi yang sudah ada seperti IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

    Dengan menyebut ketiga institusi kaderisasi NU tersebut, penulis bukan bermaksud menafikan institusi yang lain seperti GP Ansor, Fatayat, dll., tetapi penulis ingin menegaskan bahwa ketiga institusi tersebut lebih tepat sebagai kawah candradimuka dan denyut nadi kaderisasi NU.

    Sementara dengan menyebut PMII, penulis tidak mau terjebak oleh ikatan formal relasi PMII dan NU: apakah dependen, independen, ataupun interdependen, karena bicara kaderisasi PMII dalam jangka panjang mau tak mau bicara NU. Penulis meyakini PMII masih menjadi salah satu institusi kaderisasi yang sangat produktif.

    Walhasil, semua menuntut keseriusan kita semua, terutama yang muda- muda. Seperti yang disabdakan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus), bahwa tidak ada kata terlambat dalam NU. Mumpung masih ada waktu untuk menata NU ke depan supaya lebih baik. Sebab, kalau NU tertata dengan bagus, diam saja orang sudah ngeri semua. Wassalam.

    M. Kholidul Adib, Ketua Lajnah Ta’lif wa Nasr (LTN) PCNU Demak

  3. DALAM organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dikenal istilah “siklus 29 tahun”. Bermula ketika membaca Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU yang pertama kali. Tertulis, NU berdiri untuk 29 tahun. Diktum ini dalam muktamar NU berikutnya dirubah menjadi “NU didirikan untuk waktu tidak terbatas”.

    Dalam sejarah NU, kita akan menemukan patahan dalam setiap 29 tahun. NU senantiasa mengalami perubahan pola dan strategi gerakan secara fundamental. Siklus 29 tahun NU pertama, yaitu dari masa berdirinya NU tahun 1926-1955. Ini adalah masa-masa awal NU dipimpin oleh para pendirinya (generasi pertama) seperti KH Hasyim Asy”ari.

    Dalam rentang 29 tahun pertama, NU merupakan jam”iyyah yang konsisten menjaga akidah ahlussunnah wal jamaah dengan membangun visi kebangsaan dan ke-Indonesia-an melalui keterlibatannya dalam perjuangan bangsa membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Siklus 29 tahun pertama ini berakhir pada 1955 ketika NU menjadi Partai Politik (Partai NU). Prosesnya dimulai dengan keluarnya NU dari Masyumi (karena kecewa) pada 1952. Terjadilah perdebatan hangat di internal NU hingga Partai NU dideklarasikan pada 1954 dan ikut pemilu multipartai pertama dalam sejarah Indonesia pada 1955.

    Siklus 29 tahun NU kedua yaitu tahun 1955-1984, NU menjadi Partai Politik. Dalam pemilu 1955 (hanya persiapan satu tahun) Partai NU berhasil menduduki peringkat ketiga (setelah Masyumi dan PNI dan mampu mengalahkan PKI yang penuh persiapan namun cuma menduduki peringkat keempat). Dalam siklus 29 tahun NU kedua ini, Partai NU bersama partai-partai Islam lain dipaksa oleh penguasa Orba untuk berfusi ke dalam wadah partai baru bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1972.

    Siklus 29 tahun kedua berakhir tahun 1984 ketika Mutamar NU ke- 27 di Situbondo menghasilkan keputusan dahsyat. Memantapkan hasil Munas NU satu tahun sebelumnya (1983) perihal positioning Partai NU yang sempat berfusi ke dalam PPP tiba-tiba menyatakan diri khittah alias keluar dari arena politik praktis yang sudah digeluti selama 29 tahun.

    Khittah NU yang diputuskan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 menjadi titik balik siklus 29 tahun NU yang ketiga dengan hadirnya tokoh-tokoh muda NU seperti KH Ahmad Sidiq (alm), KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Hingga kini, generasi ketiga NU ini banyak yang masih berkiprah dan menjadi trend setter nahdliyyin hingga kisaran tahun 2009 sampai dengan 2013.

    Secara nasional, pertarungan Pemilu 2009 merupakan masa detikdetik penyelesaian “dendam sejarah” para elit bangsa, sekaligus akan menjadi titik berakhirnya era para generasi tua, dan akan menjadi titik awal lapisan baru generasi muda yang mempunyai sudut pandang baru dalam memaknai strategi dan etos pergerakan kebangsaan, termasuk juga di tubuh generasi muda NU.

    Sehingga siapa pun pemimpin NU dan PKB saat ini adalah orang yang harus ikhlas untuk menjadi “tumbal sejarah” bagi perjalanan NU ke depan, sebagaimana KH Idham Cholid yang menjadi tumbal sejarah NU ketika perubahan siklus 29 tahunan NU dari yang semula partai politik menjadi khittah tahun 1983-1984.

    Lantas, seperti apa NU pasca- 2009 yang memasuki siklus 29 tahun NU keempat, tahun 2013-2042?

    Partai NU
    Memperhatikan tanda-tanda zaman, agaknya di era siklus 29 tahun keempat, tahun 2013-2042, NU akan kembali menjadi partai politik. Argumentasinya berdasarkan pada beberapa analisis sederhana berikut ini:

    Pertama, hingga kini syahwat elit struktural NU (mulai PBNU, PWNU, dan PCNU) tetap membara. Munculnya KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU) dalam bursa Pilpres 2004 menjadi tanda awal kuatnya syahwat politik elit NU. Ini diikuti oleh banyak Ketua PWNU dan PCNU di bawahnya, seperti naiknya Ketua PWNU DKI, Fauzi Bowo, dalam Pilgub DKI; naiknya Ketua PWNU Jateng, Dr HM Adnan, dalam Pilgub Jateng; naiknya Ketua PWNU Jatim, Ali Maschan Musa pada Pilgub Jatim; naiknya Ketua PWNU Kaltim, dan PWNU lainnya, termasuk para Ketua PCNU banyak juga yang mencalonkan diri dalam pilkada kabupaten/kota.

    Kedua, partai-partai yang sempat didirikan NU (PPP maupun PKB), oleh para elit struktural NU dirasa belum mampu menjadi alat strategis, sebagai kendaraan memperjuangkan kepentingan NU. Bahkan, merenggangnya (baca: konflik) antara elit NU dan PKB menjadi bukti amat vulgar. Sementara, tradisi silaturahim dan membangun sinergitas gerakan para politisi NU yang tersebar di berbagai parpol hingga kini tidak berjalan bahkan seakan diabaikan, sehingga konsep “NU tidak ke manamana tetapi ada di mana-mana” menjadi tidak tepat lagi karena tidak sesuai dengan skema pembicaraan awal.

    Ketiga, menjelang Pemilu 2009, kondisi PKB (partai yang didirikan PBNU) masih dirundung masalah internal yang belum juga ada titik penyelesaian, sehingga berdampak melemahnya persiapan partai menghadapi Pemilu 2009. Basis utama PKB yaitu Jatim dan Jateng kondisinya masih perlu banyak konsolidasi dan penguatan internal. Pemilu 2009 diperkirakan suara PKB akan mengecil bahkan tidak masuk tiga besar.

    Sementara, kekuatan tiga besar parpol diperkirakan diisi PDIP, Partai Golkar, dan PKS. Realitas ini akan menjadi pukulan telak, hingga akhirnya elit struktural NU menilai keberadaan partai ini menjadi tidak menarik sebagai alat strategis perjuangan NU.

    Muktamar NU ke-32 akhir 2009 diperkirakan akan terjadi perdebatan sangat sengit, baik mengenai tema NU dan politik, maupun soal figur kandidat Rois “Amm dan Ketua Umum PBNU (karena kedua posisi sentral pucuk pimpinan NU tersebut akan menjadi penentu bagi arah dan garis perjuangan NU ke depan).

    Pasca-Pemilu 2009, PKS tidak lagi menutup-nutupi identitas aslinya sebagaimana yang selama ini mereka tampilkan. Sebaliknya, mereka akan sangat vulgar mengusung kepentingan Wahabi asli yang akan mempunahkan tradisi dan ideologi NU dan bangsa Indonesia. Pola ini sudah sengaja didesain oleh pihak tertentu yang menjadi agen asing untuk memperkokoh kekuasaan mereka di republik ini.

    Fenomena gesitnya gerakan PKS sebagai parpol berbasis ideologi Wahabi di satu sisi, dan melemahnya sinergitas orang-orang NU yang di partai politik (termasuk melemahnya partai yang didirikan warga NU dan semangat juang warga NU yang tidak memahami jati diri dan ideologinya) di sisi lain akan menjadi faktor pertimbangan dominan elit struktural NU dalam menentukan arah dan pola strategi perjuangan NU ke depan. Tema positioning NU tersebut, sejak pasca-Pemilu 2009 sampai tahun 2013, akan menjadi isu sentral, hingga akhirnya elit struktural NU memutuskan untuk mengubah NU menjadi Partai Politik pada tahun 2013, untuk berlaga pada Pemilu 2014.

    Pada Pemilu 2014, ada desain untuk membuat kompetisi Partai NU dan PKS terjadi dengan sengit, dan akan terus dipelihara oleh “orang luar”. Hingga Pemilu 2019 gesekan itu akan terus terjadi dan berpuncak pada kisaran tahun 2023/2024/2025 ketika benar-benar sudah terjadi patahan dunia seiring dengan akan berpindahnya peradaban dunia dari Amerika ke Asea yang akan berdampak di dalam negeri di mana Partai NU dan PKS benar-benar akan diadu oleh “orang luar” sebagaimana NU diadu dengan PKI pada 1965. Dan, kalau kita semua tidak jeli dan waspada, “orang luar” yang akan menang.

    Sekarang, tergantung warga Indonesia dan khususnya warga NU, menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada masa mendatang, untuk tetap menjaga NU dan merawat NKRI. Strategi kaderisasi anak muda NU berbasis teritori dengan memaksimalkan setiap pangkalan gerakan yang sudah ada adalah bagian dari desain besar anak muda NU untuk menyongsong masa depan tersebut demi terwujudnya kejayaan bangsa nusantara di pentas global. Wassalam. hf

    M Kholidul Adib, Ketua Lajnah Ta’lif wa Nasr (LTN) PCNU Demak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s