Menggugat Doktrin Kemapanan


Judul Buku : Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam
Penulis : Adonis (Ali Ahmad Sa’id Asbar)
Penerbit : LKiS, Jogjakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : 4 Jilid

Oleh: Tasyriq Hifdzillah

Sejarah pemikiran memang tidak selalu berjalan linier. Bak roda pedati yang sulit mengalami keajegan final pada tiap bagiannya. Kadang naik, kadang turun, kadang mandek, dan seterusnya. Sesuatu yang wajar, dan barangkali sudah biasa didengar. Begitu pula dalam pemikiran Arab-Islam, seolah menjadi determinasi sejarah, ada “yang mapan” (tsâbit) dan ada “yang berubah” (mutahawwil). Ia terus dan akan selalu terjadi.

Namun, sejarah pemikiran Arab-Islam bukan melulu soal “yang mapan” dan “yang berubah”. Kalau persoalannya sekadar itu, agaknya membincang pemikiran Arab-Islam boleh dianggap selesai, dan menjadi tidak menarik. Persoalan menjadi lain, manakala diajukan sebuah pertanyaan; bagaimana mengkaji peradaban dari sudut pandang ats-tsâbit dan al-mutahawwil, dan dari hubungan antar-keduanya?

Pertanyaan di atas amat krusial, bahkan membuahkan perdebatan yang tidak pernah selesai hingga kini. Diskursus “kemapanan dan perubahan”, “ats-tsâbit dan al-mutahawwil”, atau “statis dan transformatif”, merupakan bagian dari wilayah irisan analisis para sarjana Islam di berbagai bidang. Nomenklatur-nomenklatur tersebut relatif memiliki definisi dan dimensi beragam sesuai keberagaman disiplin ilmu pengetahuan yang dikaji.

Dari sini dapat dikatakan bahwa konsep “kemapanan dan perubahan” sangatlah relatif tergantung perspektif yang dipakai. Ia hanyalah nomeklatur yang acap digunakan para pakar guna mendeskripsikan beragam bidang garapan pemikiran. Seperti tercermin dalam pemikiran Soroush, Al-Jabiri, dan Ali Harb, yang merujuknya sebagai deskripsi atas disparitas agama dan pemahaman keagamaan. Sedangkan yang direpresentasikan oleh Arkoun dan terutama Adonis, menggunakannya untuk mendeskripsikan tipologi nalar inklusif dan eksklusif, serta nalar statis dan transformatif.

Melalui buku berjudul asli Ats-Tsâbit wa al-Mutahawwil: Bahts fî al-Ibdâ’ wa al- Ittibâ’ ’inda al-’Arab ini, Adonis tidak saja memetakan watak nalar masyarakat Arab-Islam dalam dua kategori, watak imitatif (ittiba’) sebagai kelompok yang menghendaki kemapanan (ats-tsâbit) dan watak kreatif (ibda’) sebagai kelompok yang menghendaki perubahan (al-mutahawwil) dalam keseluruhan perwujudan budaya dan peradaban Arab-Islam. Tapi, juga membongkar kedok keduanya dalam pertentangan dan pertarungan hingga tak jarang melahirkan benturan dan gesekan yang keras.

Adonis mendefinisikan nalar statis (ats-tsâbit) sebagai pemikiran berbasis pada pemahaman teks-teks keagamaan yang mendaku sebagai representasi kebenaran tunggal. Sedangkan nalar transformatif (al-mutahawwil) adalah pemikiran yang adaptif, dinamis, dialektis, dan selalu berubah sesuai dengan tuntutan realitas sosio-kultural yang terus bergerak. Nalar dinamis ini adakalanya berbasis pada teks-teks keagamaan dengan penafsiran inklusif (tidak memonopoli kebenaran tunggal) dan adakalanya bertumpu pada rasio.

Adonis menempatkan yang mapan (ats-tsâbit) dalam bingkai kebudayaan Arab sebagai pemikiran berdasar pada teks, dan sifat kemapanannya sebagai dasar bagi kemapanan, baik dalam memahami maupun mengevaluasi. “Yang mapan” menegaskan dirinya sebagai makna satu-satunya yang benar bagi teks tersebut, dan berdasarkan hal itu, ia menjadi otoritas epistemologis. Sementara, yang berubah (al-mutahawwil) dipahami dengan dua pengertian. Pertama, sebagai pemikiran berdasarkan pada teks, namun melalui interpretasi yang membuat teks dapat beradaptasi dengan realitas dan perubahan. Kedua, sebagai pemikiran yang memandang teks tidak mengandung otoritas sama sekali, dan pada dasarnya pemikiran tersebut berdasarkan pada akal, bukan pada naql (wahyu).

Pertentangan antara pihak yang menghendaki kemapanan dan yang menghendaki perubahan dalam sejarah pemikiran Arab-Islam, bagi Adonis, nyatanya tidak bersifat dialektis, justru malah kontradiktif. Sehingga sering melahirkan represi dan tragedi, karenanya sisi ats-tsâbit lebih mendominasi sisi al-mutahawwil. Pada akhirnya, ats-tsâbit tidak selalu mapan dan statis, dan yang berubah al-mutahawwil tidak selalu berubah dan dinamis. Sebagian dari yang berubah dan dinamis tidak berubah dalam dirinya sendiri, tetapi berubah sebagai oposisi dengan satu atau lain bentuk, dan berada di luar kekuasaan dengan satu atau lain bentuk pula (hlm. ix).

Singkatnya, menurut penyair yang kini bermukim di Prancis ini, hanya dengan mengkaji keseluruhan peradaban Arab-Islam yang tersusun ke dalam “yang mapan” dan “yang berubah”, dan memberikan interpretasi kritis-analitis atas keduanya, maka kita akan dapat memahami pandangan Arab-Islam terhadap manusia dan alam semesta, serta dapat mengetahui dan memahami posisi orang Arab-Islam terhadap ilmu pengetahuan, serta persoalan-persoalan kebudayaan dan kemanusiaan secara umum.

Dengan metode yang digunakan, Adonis melihat urgensi untuk mendekonstruksi kebudayaan Arab. Bahwa kehidupan Arab hanya akan mencapai kemakmuran jika struktur tradisionalnya dihancurkan. Dan karenanya diniscayakan paradigm shift dalam melihat masa depan. Dari sisi ini dapat dilihat bahwa kebudayaan Arab-Islam dalam bentuknya yang paling given saat ini menjadi penghambat kemajuan, karena menolak segala bentuk inovasi, bahkan mengutuknya. Tak lain, ini adalah konsekuensi dari struktur kebudayaan tradisional yang bersifat konformis dan berorientasi ke masa silam (atavisme), yang oleh Adonis dikecam habis-habisan.

Hasrat pada perubahan memang merupakan tema utama dalam banyak karyanya. Penggunaan nama samaran Adonis oleh penyair-pemikir bernama asli Ali Ahmad Sa’id Asbar yang lahir di Syria pada 1930 ini melambangkan perubahan itu sendiri. Tak heran jika kritik dan cacian banyak dialamatkan pada buku ini. Kata-kata kafir dan murtad merupakan label yang sering disematkan kepada penulis, yang beberapa kali dinominasikan meraih nobel dalam bidang sastra ini.

Meski konteks buku yang diangkat dari disertasi doktoralnya ini adalah kehidupan masyarakat Arab-Islam, bukan berarti tidak memiliki relevansi untuk masyarakat Indonesia. Lihat saja, pertentangan antara pihak yang menghendaki kemapanan dengan yang menghendaki perubahan serta pertarungan untuk memperebutkan apa yang diklaim sebagai “kebenaran” juga tidak kalah kerasnya. Apalagi banyak kasus ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersikap reaksioner terhadap segenap perkembangan pemikiran keislaman yang dianggap mengancam doktrin “kemapanan”. Seperti ditunjukkan dalam kasus Ahmadiyah dan Al-Qiyadah yang sebegitu mudahnya dianggap sesat. Atau pengusiran Nasr Hamid Abu Zayd dalam International Conference di Malang dan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS VII) di Riau atas perintah Menteri Agama baru-baru ini.(*)

Oleh: Tasyriq Hifzhillah, pemerhati keagamaan asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP)

Iklan

2 thoughts on “Menggugat Doktrin Kemapanan”

  1. “Kata-kata kafir dan murtad merupakan label yang sering disematkan kepada penulis, yang beberapa kali dinominasikan meraih nobel dalam bidang sastra ini”. (paragraf kedua dari belakang)
    Tim, kok Tasyriq nulis Adonis dengan kata ‘kafir’ dan ‘murtad’ ya. Padahal, kan setahuku, dia non-muslim, kalo gak salah Yahudi.
    Bukankah kata ‘murtad’ biasanya disematkan pada orang muslim saja? Semoga tidak salah persepsi tentang siapa itu Adonis.

  2. dia murni dari keturunan berdarah arab. seorang yang mengenal betul dengan budaya arab, memiliki intuisi yang hebat. memang agak kontroversi sosok adonis. memang gila, pemikirannya gila.dari gila inilah yang ia maksudkan ingin mengembangkan kebudayaan menuju yang lebih maju. gila dalam tanda kutip. dia beragama islam.jadi salah kalau ada yang bilang non muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s