Perihal Kebebasan Bertafsir


Ketika berada dalam genggaman Tuhan, agama adalah hal yang suci dan tak tersentuh oleh manusia. Ia hanyalah berisi lembaran-lembaran ajaran yang tak terkotori oleh pelbagai kepentingan manusia. Begitu pula dengan teks agama, seperti al-Qur’an. Tak seorangpun yang bisa menyentuhnya dan memberikan tafsir, sebab ia adalah firman Tuhan yang dalam keyakinan umat islam la shautun wala harfun (tak bersuasa dan tak berhuruf).

Akan tetapi, ketika diturunkan dan berada ditangan manusia, agama menjadi bebas untuk dijamahnya. Ia juga harus tunduk terhadap hukum-hukum sejarah dan alam. Karena itulah, wahyu Tuhan turun dengan bahasa dan pemahaman manusia (bilisani qaumihi), seperti al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Dalam konteks inilah, pernyataan sayyidina Umar menjadi benar. Bahwa al-Qur’an bayna daffatay al-mushafi la yantiqu wainnama yatakallmu bihi al-rijal (al-Qur’an tidak bersuara, tetapi sang pembacalah yang menyuarakannya).

Pernyataan ini penting dikemukakan terkait banyaknya tanggapan terhadap surat pembaca saya di rubrik Gagasan pada harian Jawa Pos, “Kenapa Abu Zayd dicekal” (3/12). Banyak yang berkomentar dan mendiskusikan tentang kebebasan dalam bertafsir dan memahami al-Qur’an. Apakah setiap orang bebas untuk melakukan tafsir terhadap ayat-ayat al-Qur’an, seperti yang dilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zayd.

Keniscayaan Tafsir

Sebagai teks agama yang berada ditangan manusia, al-Qur’an bukan menjadi teks yang tak mampu disentuh dan dipahami oleh manusia. Penggunaan bahasa manusia oleh Tuhan meniscayaan adalah intervensi manusia untuk memahaminya. Sementara, dalam bahasa menyimpan seperangkat struktur pengetahuan yang membentuknya. Robert N Bellah dalam Beyond Belief menyatakan bahwa agama adalah sarana ilahiyah untuk memahami manusia. Karena itulah, teks agama menjadi terbatas dalam sekat-sekat bahasa. Ia tidak lagi menjadi teks membatu yang tak bisa disentuh dan dipahami oleh manusia.

Untuk melakukan tafsir itu, dalam hemat saya, tidak mesti dilakukan oleh kalangan elit agama seperti Majelis Ulama Indonesia. Setiap manusia memiliki hak dan wewenang untuk memahaminya. Jika saja tafsir agama hanya dibatasi pada penafsiran agamawan, maka agama akan menjadi mudah untuk dimanipulasi, direkayasa dan didistorsi. Inilah yang disebut oleh Khaled Abu Fadl sebagai otoritarianisme dalam beragama.

Kebebasan untuk melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an ini tidak lepas dari posisi manusia sebagai khalifah manusia. Karunia akal pikiran yang dimiliki oleh manusia kiranya cukup menjadi modal bagi manusia untuk melakukan tafsir terhadap al-Qur’an. Bahkan al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyatakan bahwa akal adalah utusan Tuhan kepada makhluknya. Bahkan, akal adalah rasul itu sendiri yang seandainya tidak ada akal, maka risalah tidak akan pernah ditetapkan. Akal adalah rasul yang utama.

Sebagaimana sudah disebutkan sendiri oleh Tuhan bahwa al-Qur’an adalah kitab petunjuk (QS. 2:185, 6:71, 7:52, 16;89) bagi seluruh alam yang berlaku disepanjang masa. Sebagai petunjuk, al-Qur’an tentunya tidak menyebutkan hal-hal dan sesuatu secara detail. Ia misalnya hanya menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan, tetapi tidak menyebutkan model, bentuk dan kapan ia harus diperjuangkan. Kepada hal-hal detail inilah, Tuhan sepenuhnya percaya kepada manusia untuk memberikan tafsir terhadapnya. Hal ini bisa dibaca dari pernyataan al-Qur’an sendiri secara berulang-ulang yang mempertanyakan apakah kalian “tidak berakal”, “tidak mengetahui” dan sebagainya. Untuk itulah, sebenarnya akal menjadi pemandu terhadap ayat-ayat Tuhan dalam mencari dan menentukan hal-hal yang lebih spesifik.

Dalam konteks inilah, Ibn Rusyd dalam Fashl al-Maqal fiyma bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal mengatakan wa in kanat al-syari’ah nathaqat bihi, fala yakhlu dhahir al-nuthq an yakuna muwafiqan lima adda ilaihi al-burhan fihi, aw mukhalifan. Fain kana muwafiqan fala qawla hunalika. Wain kana mukhalifan, thuliba hunalika ta`wiluhu [bahwa sekiranya suatu saat diketemukan satu ketentuan ajaran bertentangan dengan akal manusia, maka ajaran tersebut harus segera ditinjau ulang dengan metode takwil]

Sebuah Resiko

Kebebasan bertafsir yang dimiliki oleh manusia bukan tanpa resiko. Perbedaan pandangan antar kepala orang perorang merupakan implikasi logis yang mesti diterimanya. Perbedaan ini muncul disamping karena perbedaan ruang dan waktu juga karena adanya kepentingan-kepentingan manusiawi di dalamnya. Melepaskan kepentingan dalam produk pemikiran adalah hal yang mustahil.

Berjibunnya sejumlah tafsir dan produk-produk pemikiran lainnya baik yang tersebar dalam fikih maupun ilmu kalam merupakan bukti bahwa kebebasan bertafsir berimplikasi pada ketidaktunggalan suatu penafsiran. Begitu pula penolakan sebagian umat islam Indonesia terhadap kehadiran Abu Zayd di Malang dan di Riau.

Bahkan, kebebasan bertafsir ini juga berimplikasi pada penyalahgunaan teks-teks agama untuk kepentingan sesat. Bukankah konflik sosial dan aksi-aksi terorisme seringkali berlandaskan pada teks agama. Amrozi cs sudah berulangkali bahwa aksi terorisme yang dilakukannya adalah bentuk pengalaman ayat-ayat al-Qur’an, terutama tentang jihad.

Tetapi pada sisi lain, teks agama juga menjadi semangat juang yang luar biasa untuk keadilan, perdamaian dan nir-kekerasan. Konsep Ahimsa dalam ajaran Buddha menjadi semangat ampuh untuk melakukan perubahan sosial. Begitu pula konsep tauhid yang dikembangkan oleh Muhammad yang membawa keberhasilan yang gemilang, yakni sistem masyarakat yang berkeadilan dan toleran.

Dalam hal inilah, agama di tangan manusia bisa berwajah dua. Pada satu sisi, ia bisa menjadi angker, menakutkan dan aksi-aksi tidak manusiawi. Tetapi pada sisi lain, teks agama menjadi semangat untuk membebaskan, transformasi dan toleransi. Pertanyaannya, ke arah manakah suatu pemikiran agama mesti di tujukan?

Al-Syatibi dalam al-Muwafaqat menandaskan bahwa seluruh syariat diletakkan semata-mata untuk kemaslahatan manusia baik didunia ataupun di akhirat. Tak hanya itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Ghazali (w. 505 H./1111 M.), Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H.) , Izz al-Din Ibn ‘Abd al-Salam (w. 660 H.), Najm al-Din al-Thufi (w. 716 H.), Ibnu Taymiyah (w. 728 H.), hingga Muhammad bin al-Tahir bin ‘Asyur (w. 1393 H./1973 M.) juga menandaskan bahwa intihaul ghayah dari agama adalah untuk kemasalahan, kemanusiaan, dan keadilan. Kepada hal tersebutlah suatu pemikiran keagamaan mestinya di oreintasikan. Wallahu a’lam.

Baca Juga wawancara Rakyat Merdeka dengan Abdurrahman Wahid  tentang kebebasan Beragama, Wawancara dengan Gus Dur

4 thoughts on “Perihal Kebebasan Bertafsir”

  1. semua kembali pada diri kita masing2, akan di bawa kemana diri kita ini.. dan apa yg menjadi dasar dalam bertafsir…
    yg terpenting adalah dasar dalam bertafsir…
    semoga tidak salah..

  2. namanya aja pikiran,ya tergantung mata melihat, kuping mendengar, sampai hati yang merasakan,, ya jelas aja akan berbeda, WONG kemapuan melihat aja ada batasnya, mendengar apalagi, tentu juga terhadap perasaan..ya jelas aja penafsiran orang akan berbeda-beda..Tapi kita juga mesti menghargai orang yang tidak mau menghargai orang lain..Bukan gitu Bang Hatim…

  3. proses berpikir berbeda dengan tingkah laku fisikli. tingkah laku atau perbuatan manusia bisa dibatasi, dengan larangan ini-itu. tapi bagaimana membatasi kinerja pikiran yang tak terlihat dan tak berwujud sebagaimana halnya perbuatan manusia? itu sebabnya, berpikir bebas menjadi fitrah dari sono-nya. eh, iya gak si?
    Tim, fotomu senyum, tapi kok kayak orang marah karena latarnya merah. he2.. sorry agejek.

  4. sampai hari ini memang belum ada alat yang bisa mengukur kebebasan berpikir, apalagi memfonis bahwa kerja pikir kita telah kebablasen…berpikir adalah kerja aspek kognitif.Kata sang Arjuna dalam Arjuna Wiwaha,tatkala bertemu dengan dewa Indera di goa puncak gunung Indrakukila,”Benar orang bebas “ngumbar pikir” (bebas berpikir)” hanya saja, yang dipikirkan ada manfaatnya, kasihan organ kita yang digunakan untuk berpikir, pada hal-hal yang tidak ada gunanya (tanpa guna, Kadyo wong anonton ringgit (ibarat orang menonton wayang), tan maksud kang ginelar (tidak tau apa yang ditontonnya) hingga di tenggah “goro-goro”….sementara pertunjukkan telah usai…orang pulang dengan tangan hampa…(ah mas Hatim lebih Arif)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s