Pemasungan Kebebasan Berpikir


Oleh Muhammadun AS*


Menteri Agama, sebagai aktor yang memasung kebebasan pemikiran, sepertinya belum mempunyai pemahaman yang utuh terhadap ajaran agamanya. SEBUAH tragedi buruk menimpa kebebasan pemikiran di Indonesia. Tragedi itu menimpa Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir Muslim asal Mesir yang sekarang tinggal di Belanda.

Abu Zayd dilarang Menteri Agama, Maftuh Basyuni, untuk menjadi pembicara pada Seminar Internasional Islam di Malang, Selasa (27/11/2007).

Pencekalan yang hanya diinformasikan via layanan pesan singkat (SMS) dari Dirjen Dikti Departemen Agama (Depag) RI kepada dirinya pada Minggu (25/10/07) itu merupakan suatu preseden buruk dan tak bertanggung jawab (Jakarta Post, 28/11, dan http://www.wahidinstitute.org).

Karena tidak jadi menjadi pembicara, Abu Zayd kemudian berdiskusi secara informal dengan kaum muda kritis Yogyakarta di Pendopo LKiS (27/11) lalu, dan kemudian berlanjut di The Wahid Institue, Jakarta.

Belantara Kontemporer
Melihat kronologi kasus tersebut, jelas sekali bahwa umat (Islam) Indonesia belum mempunyai kedewasaan ihwal kebebasan pemikiran. Tragedi itu bukti masih kuatnya pemasungan kebebasan berpikir dalam belantara pemikiran kontemporer di Indonesia.

Menteri Agama, dalam kasus tersebut, menjadi aktor yang memasung kebebasan pemikiran tersebut. Sepertinya belum mempunyai pemahaman yang utuh terhadap ajaran agamanya; karena dalam ajaran Islam justru umatnya dianjurkan untuk terus menggalakkan pemikiran, baik dalam Alquran maupun hadis; anjuran mengembangkan pemikiran menjadi fokus utama Islam.

Wahyu pertama saja yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah Iqro (bacalah!). Itu bukti bahwa Islam adalah agama yang rasional, yang memupuk umatnya untuk terus mengasah ilmu pengetahuan.

Jalan yang ditempuh para ulama adalah dengan menggelorakan semangat ijtihad. Ijtihad, bagi ulama klasik, adalah mengeluarkan segala upaya untuk menghasilkan tujuan (konkret) terhadap berbagai permasalahan umat berdasarkan rumusan Alquran dan hadis.

Dalam ijtihad, akal (rasio) menempati posisi paling utama. Maka tidak salah, kalau Nabi sangat menghargai umatnya yang berijtihad. Kalau benar, maka mendapatkan dua pahala: pahala ijtihad dan pahala hasil ijtihad. Kalau salah pun, tetap mendapatkan pahala, tetapi cuma satu: pahala ijtihad.

Lahirlah kemudian ulama kritis yang begitu mengagumkan pada zamannya, sehingga Islam menggapai zaman keemasan. Buku-buku, perpustakaan, perguruan tinggi, forum diskusi, dan berbagai forum pendidikan, menjamur luar biasa di Timur Tengah.

Merasa Terancam
Itulah, potret Islam yang telah memberikan spirit kebebasan pemikiran kepada umatnya. Sayang, spirit itu terkadang harus dilumpuhkan oleh segelintir golongan yang merasa terancam dengan gagasan kritis-progresif. Mereka kemudian merasa benar sendiri (truth claim), sehingga terjebak dalam otoritarianisme pemikiran.

Dalam sejarah peradaban Islam, dampak otoritarianisme berulang kali terjadi menimpa ulama dan intelektual. Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri mazab fikih Hanbali) mengalami penyiksaan oleh khalifah Al-Ma’mun karena memiliki pandangan yang berbeda dengan teologi yang dianut negara saat itu.

Negara berpandangan bahwa Alquran adalah makhluk, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal berpandangan bahwa bukan makhluk.Ibnu Rusyd, seorang tokoh filsafat Islam, diasingkan dan karya-karyanya dimusnahkan pada masa Khalifah Al-Manshur karena dianggap menyimpang dari syariat Islam dan lebih mengedepankan rasionalisme.

Abu Manshur Al-Hallaj, seorang tokoh tasawuf falsafi, mendapatkan hukuman mati karena mengajarkan doktrin wahdatul wujud (panteisme) yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Moderat dan Toleran
Apa yang terjadi pada Abu Zayd adalah pelajaran berharga umat Islam Indonesia untuk terus berbenah dalam merumuskan kerangka pemikiran dan kebergamaan secara moderat dan toleran.

Sebab, yang terjadi di Solo adalah sebuah pengulangan atas tragedi pembubaran diskusi yang pernah di hadiri oleh Gus Dur di Purwokerto 2005.

Juga atas fatwa mati kepada Ulil Abshar Abdalla karena menulis gagasan liberalnya di harian umum terkemuka di Indonesia. Pelajaran bagaimana yang dapat diambil? Pertama, perlu upaya duduk bersama dari para pemikir dan agamawan, yang kemudian membincangkan persaudaraan umat beragama di Indonesia. Jangan sampai kasus-kasus pencerahan intelektual kemudian malah ditanggapi kontraproduktif oleh saudara sendiri.

Jelas, itu bukti komunikasi warga muslim yang tidak terorganisasi. Kalau komunikasi berjalan, perbedaan pemikiran justru menjadi media untuk memperkaya wacana dan wawasan pengetahuan yang akan mebangkitkan gairah intelektual umat. Ada titik simpul atau titik pusar yang kemudian mampu menyatukan gagasan secara sportif.

Itu bisa dilakukan para pemikir dan agamawan, khususnya mereka yang berpengaruh dalam organisasi sosial keagamaan. Kedua, tragedi tersebut dapat dijadikan langkah untuk menyusun eksemplar gerakan kritis kaum muda, khususnya muslim, dalam meneguhkan komitmen kebangsaan, khususnya di bangsa yang terancam disintegrasi nasional.

Artinya, dengan tragedi itu, sebaiknya pemikir muda Islam juga sadar diri, bahwa diskusi bukan untuk mencipta konflik. Diskusi dapat diarahkan untuk mencipta kerukunan dan persaudaraan di tengah masyarakat yang sedang tercerabut (uprooted society). Kaum muda dapat bergandengan dengan kaum tua dalam meneguhkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan mengambil pelajaran yang demikian, maka tragedi tersebut selain sebagai autokritik (muhasabah), juga menjadi pelecut untuk meneguhkan persaudaraan, kerukunan, dan keutuhan NKRI.(68)

*Muhammadun AS, peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS) Jakarta.

(Suara Merdeka, Kamis, 06 Desember 2007)

Iklan

One thought on “Pemasungan Kebebasan Berpikir”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s