NU dan Pilkada Bojonegoro


Oleh: Akhmad Zaini

Jadi, kalau melihat proses Pilkada Bojonegoro, lengkap sudah gambaran betapa NU sedemikian jauh diseret ke arena politik praktis…………NU harus dikembalikan lagi ke khitah yang sesungguhnya, jauh dari politik praktis. Mereka yang aktif di NU harus punya niat tulus, benar-benar ingin mengabdi ke umat. Bukan merebut posisi penting NU, hanya untuk mengapai jabatan presiden, gubernur, maupun bupati.

KEMENANGAN pasangan Suyoto dan Setyo Hartono (Toto) pada Pilkada Bojonegoro memang belum definitif. Itu masih berdasar hasil quick coun. KPU Kabupaten Bojonegoro baru mengumumkan hasil definitifnya beberapa hari lagi, diperkirakan 14-16 Desember 2007.

Namun, dalam banyak kasus, hasil perhitungan resmi KPU tidak jauh berbeda dengan hasil quick count. Artinya, perbedaan itu tidak sampai mengubah komposisi kemenangan. Dengan demikian, kemungkinan Suyoto yang diusung PAN, PNBK, dan PPP bakal menjadi orang nomor satu di Bojonegoro sangatlah besar.

Jika ini benar, kemenangan Suyoto adalah sebuah kejutan. Dalam bahasa Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdeham) Muhammad Asfar, kemenangan pasangan Toto di luar prediksi.

Semula pasangan M. Thalhah-Tamam Syaifuddin (Tahta) memang diprediksi bakal tampil sebagai jawara. Pasangan itu diusung oleh Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dua partai yang memiliki basis massa cukup kuat di Bojonegoro.

Bukan itu saja. Tahta secara menyakinkan memperoleh dukungan tokoh-tokoh NU, baik tingkat nasional maupun lokal yang diyakini memiliki pengikut besar di Bojonegoro. Dari tingkat nasional, ada nama KH Hasyim Muzadi (ketua umum PB NU) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sedangkan dari lokal, ada sederet nama kiai pengasuh pesantren-pesantren besar di Bojonegoro.

Untuk menyakinkan publik bahwa para kiai mendukung dirinya, Tahta secara kontinu menampilkan dukungan mereka di koran lokal Bojonegoro dalam bentuk advetorial (iklan). Begitu juga baliho-baliho yang dipasang di pinggir-pinggir jalan, Tahta sangat atraktif menunjukkan dukungan para kiai.

Sebagai orang yang pernah aktif di kepengurusan NU Bojonegoro (PC NU), Tahta juga secara atraktif menunjukkan bahwa merekalah yang paling layak mewakili institusi NU. Foto pasangan ini berlatar belakang lambang NU.

Memang, bukan hanya pasangan ini yang mengeksploitasi kiai dan NU dalam mencari dukungan. Dua pasangan lain juga begitu. Sowan (M. Santoso-Irawanto) menampilkan KH Abdullah Faqih (pengasuh Ponpes Langitan, Tuban) dan KH Maemun Zuber (pengasuh salah satu pesantren di Rembang, Jawa Tengah).

Suyoto setali tiga uang. Dia terkesan tidak pede dengan posisinya sebagai orang nomor satu di PAN Jawa Timur, partai yang basis massanya dari kalangan Muhammadiyah. Dia sangat sibuk meyakinkan publik bahwa dia juga keluarga besar NU.

Pertama, dia menyakinkan publik bahwa dirinya merupakan alumnus salah satu pesantren NU di Bojonegoro. Di koran lokal -melalui tulisan advetorial- jati diri istrinya dibeber ke masyarakat. Yakni, sebagai anak salah satu tokoh NU, mantan aktivis PMII, serta pernah tinggal satu rumah dengan Muhaimin Iskandar (ketum PKB) di kompleks Ponpes Denayar, Jombang.

***

Jadi, kalau melihat proses Pilkada Bojonegoro, lengkap sudah gambaran betapa NU sedemikian jauh diseret ke arena politik praktis. Sekarang, apakah hasilnya memang mencerminkan kekuatan NU dan kiai dalam politik praktis?

Jika ya, tentu yang menang seharusnya pasangan Tahta. Tapi, fakta berbicara lain. Toto nomor satu, kemudian Sowan, baru terakhir Tahta.

Menurut Asfar, itu terjadi karena warga Bojonegoro ingin perubahan (Jawa Pos, 11/12/2007). Untuk mewujudkan perubahan itu, ternyata warga NU tidak melihat lagi unsur NU atau kiai. Dengan rasionalitas yang mereka miliki, warga NU bisa menentukan pilihan tanpa dibayang-bayangi pengaruh NU dan kiai.

Fenomena itu semestinya bukanlah hal mengejutkan. Ketika Hasyim Muzadi maju dalam Pilpres 2004 bersama Megawati, fenomena itu sudah terjadi. Hasyim yang kala itu hanya nonaktif dari ketua umum PB NU dan didukung sejumlah kiai NU, juga tak berdaya menghadapi pasangan SBY-Kalla. Kekalahan itu termasuk di wilayah Jawa Timur yang merupakan basis utama NU.

Pada Juni-Juli 2007 lalu, dengan dikomandani Prof Dr Nur Syam (Purek II IAIN Sunan Ampel), Komunitas Tabayun melakukan penelitian di sejumlah pesantren besar di Jawa Timur. Salah satu hasil pentingnya, para santri mengatakan bahwa mereka masih menjadikan kiai sebagai rujukan dalam masalah agama. Namun, dalam masalah politik, sebagian dari mereka mengatakan tidak. Kiai tidak lagi menjadi rujukan politik. Mereka mengaku tidak merasa “berdosa” ketika pilihan politiknya berbeda dengan kiainya.

Prof Dr Kacung Maridjan dari Unair yang kala itu hadir sebagai pembahas menganalisis bahwa itu terjadi karena kiai sekarang telah terpolarisasi ke sejumlah partai politik. Fenomena itu bergeser jauh dari Pemilu 1955, karena mayoritas kiai masih kompak mendukung satu partai (Partai NU).

Dengan demikian, fenomena kekalahan Hasyim dalam Pilpres 2004 dan Tahta dalam Pilkada Bojonegoro harus dijadikan pelajaran bagi politisi yang kini mengincar NU untuk menjadi tunggangan politik. Kini, warga NU telah melek politik. Mereka punya logika tersendiri. Mereka bukan warga NU setengah abad lalu yang mudah digiring ke sana kemari.

NU harus dikembalikan lagi ke khitah yang sesungguhnya, jauh dari politik praktis. Mereka yang aktif di NU harus punya niat tulus, benar-benar ingin mengabdi ke umat. Bukan merebut posisi penting NU, hanya untuk mengapai jabatan presiden, gubernur, maupun bupati.

Jika “terpaksa” maju, majulah dengan jantan. Mundur dari kepengurusan NU secara definitif. Jangan hanya nonaktif. Langkah yang pernah dilakukan KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dengan mundur secara definitif dari PB NU ketika hendak maju dalam Pilpres 2004 bisa dijadikan contoh. Wallahu a’lam bissawab. (*)

Akhmad Zaini, wartawan Jawa Pos dan Koordinator Komunitas Tabayun.
Sumber: http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=316783

Iklan

7 thoughts on “NU dan Pilkada Bojonegoro”

  1. saya sangat setuju sekali bila NU kembali ke khattah yaitu hanya mengurus soal agama, jangan lagi mengurusi politik. soalnya di era yang sudah maju ini warga sudah melek, sudah tau mana yang salah dan mana yang benar. sebagai warga bojonegoro saya tidak setuju bila Organisasi massa islam di jadikan tunggangan politik untuk mencari kekuasaan. lebih baik bila ingn mencari jabatan maju secara jantan dengan cara membuat perubahan menuju kearah perbaikan

  2. Ass Wr Wb

    Apa yang terjadi di Bojonegoro sebetulnya tidak hanya mengejutkan pengamat politik dan orang di luar Bojonegoro.
    Kami dan banyak orang bojonegoro sendiri , bahkan tim kampanye TOTO menganggap kemenangan TOTO (Suyoto-Setyo Hartono) adalah suatu kemenangan yang sangat fenomenal.
    Kenapa fenomenal ? Sosok suyoto-setyo hartono yg tidak berdomisili di Bojonegoro (walaupun asli Bojonegoro ) , dan hanya memiliki kesempatan 10 bulan untuk memperkenalkan diri ke publik mampu menjungkirbalikkan prediksi banyak orang , banyak yg berprediksi Tahta mampu memperoleh suara di atas 50%, justru hasil akhir malah Tahta menduduki nomor buncit.

    Beberapa hal yang saya tangkap pada masa pra-pencoblosan barangkali bisa dipetik pelajaran bagi daerah lain :

    1. Ke-2 Pasangan cabu-wabup lain adalah incumbent, dimana 5 thn ke belakang tidak menunjukkan prestasi atau perubahan/kemajuan signifikan yang dirasakan rakyat bojonegoro.
    APBD Bojonegoro diatas Kab Tuban & Lamongan, realitasnya Bojonegoro menduduki peringkat 5 kab termiskin di Jatim.

    2. Suyoto menggunakan strategi contrast/berbeda dg pasangan lain ( pernah dimuat di Jawapos ),pendekatan langsung ke rakyat, dimana 2 pasangan lain justru mengusung tokoh & kyai kaliber propinsi bahkan nasional.
    Suyoto berkeliling dari desa kedesa, menginap di rumah penduduk, mendengar langsung keluh kesah dari rakyat ( 70% penduduk adalah Bjn petani di desa2x ). Pendekatan langsung ini mendapat tempat di “hati” rakyat bojonegoro.

    3.Pasangan lain memperlihatkan “gebyar” , panggung kampanye & sound sytem mewah, artis2x , tokoh2x besar , mobil mewah, naik helikopter dalam kampanye.Kemudian apa yg dilakukan suyoto? Dia cukup berkeliling dgn panggung dari truk terbuka. Naik becak / jalan kaki/sepeda motor sering dilakukan suyoto dalam kampanye.
    Pada kampanye terakhir justru suyoto memberikan kebebasan kpd rakyat utk naik panggung dan berorasi menyampaikan uneg2xnya .Seorang penjual cincau sampai menangis dan pingsan setelah menyampaikan penderitaanya dan mendo’akan TOTO supaya menang. hal ini menenmpatkan posisi Suyoto sejajar dengan rakyat.
    Masyarakat lebih bersimpati pada kesederhanaan dan perilaku yang “membumi”.

    4. Suyoto sejak awal secara gamblang menyampaikan visi ,misi & program2xnya bila jadi bupati baik di spanduk, baliho, selebaran. Keberanian ini tidak diimbangi calon2x lain yang akhirnya terkesan hanya “mengekor” dan tidak jelas visi misinya.
    Program2x suyoto menggunakan bahasa simple,mudah dimengerti dan cukup rasional di mata rakyat :
    1. Tahun pertama 300 M dari APBD utk membangun bidang pertanian.
    2. Tahun kedua 300 M dari APBD utk membangun sarana transportasi yang rusak berat di Bojonegoro.
    3. Tahun ketiga 300 M dari APBD utk memperbaiki sarana pendidikan dan ibadah.
    4. Tahun keempat membangun sarana prasarana kesehatan, asuransi kesehatan, puskesmas/kesehatan gratis bagi raskin.
    Pada point ini suyoto jauh mengungguli “lawan2xnya”, mampu mencuri perhatian yang luar biasa besar dari rakyat Bojonegoro.

    5. Keberanian Suyoto untuk melakukan debat publik membahas visi misi, dimana pada satu kesempatan salah satu calon tidak hadir, ditambah lagi calon lain yang hadir tampil tidak meyakinkan di hadapan audiens ( PGRI Bojonegoro).

    6. Suyoto tidak cukup hanya memaparkan visi, misi dan program , tapi membuat langkah berani dengan menandatangani Kontrak Politik dengan berbagai Kecamatan , apabila program2xnya tidak berjalan sesuai yang direncanakan, Suyoto- Setyo Hartono bersedia mundur dari kursi bupati-wabup.

    6. Suyoto mampu memberikan jawaban2x yg rasional untuk menepis isyu2x sehubungan “latar belakang” nya yang berasal dari Muhammadiyah/PAN, dimana di sisi lain mayoritas masyarakat Bojonegoro adalah berasal dari kaum Nadliyin.

    7. Jurus pamungkas dari Suyoto adalah “menantang” debat publik calon lain di media televisi JTV Surabaya H-4 coblosan, dan inilah blunder bagi calon lain karena mereka (Tahta dan Sowan) tidak hadir . Pada kesempatan itu Suyoto tampil meyakinkan , mampu menjawab dengan taktis seluruh pertanyaan dari host maupun audiens.
    Banyak masyarakat mengakui keunggulan SDM Suyoto dibandingkan calon lain sehingga banyak rakyat yang akhirnya berbalik mendukung TOTO.

    Hikmah yang bisa dipetik dari pilkada Bojonegoro adalah rakyat bojonegoro boleh dibilang sudah mulai menggunakan pendekatan rasional daripada sekedar faktor ketokohan/kharisma atau golongan dalam menentukan kepemimpinan menyangkut nasib daerah mereka 5 tahun kedepan.
    Faktor ketokohan dan golongan justru menimbulkan persepsi “ketidak percayaan pada kemampuan diri sendiri” dari sang calon.

    Demikian uraian dari kami semoga bermanfaat ….

    Wassalam

  3. halo untuk tmn2 bojonegoro lam kenal dari anak bojonegoro yang di jogja. aq tdk mau berkomentar pa2 sebbagai kaum muda generasi daerah dan negara bangunlah kedirianmu untuk masa depan dirimu dan bangsamu dan jadilah kaum muda yang sensitif dengan keadaan masyrakat yang tertindas ayo berjuang bareng2 sebagai bentuk baktimu terhadap tuhanmu dan sesamamu.

  4. Selalu saja PAN diidentikkan dengan Muhammadiyah,padahal realitasnya diperiode ini PAN telah bereinkarnasi menjadi partai nasionalis-religi,struktural diisi oleh semua kalangan masyarakat,tanpa melihat suku,ras apalagi agama bergantung pada kultur,budaya yang ada di wilayah masing-masing.Eurico Guterres,Alfin Lie dll adalah sebagai bukti.Semua bersatu dalam missi reformasi:pemberantasan korupsi,penegakan hukum dan kemakmuran berkeadilan bagi rakyat Indonesia…So come on…pelajarilah mendalam PAN…!

  5. Dibuktikan sekarang,banyak mantan pejabat dan beberapa yang masih menjabat di bebarapa posisi di pemkab bojonegoro tersandung masalah korupsi.Alhamdulillah,pilihan tepat memilih Kang Yoto sebagai bupati Bojonegoro.Berapa uang negara yang diselewengkan?

  6. Indikasi korupsi di Bojonegoro saat dipimpin Suyoto sangat banyak. Tapi kenapa tidak pernah disentuh oleh aparat penegak hukum? Apakah karena tidak ada yang berani. Jika tidak berani alasannya apa. Atau hanya Tuhan yang akan memberikan hukuman?

    Suyoto kelihatan tidak memperjuangkan kepentingan rakyatnya dalam urusan migas BLok Cepu dan blok lainnya.

  7. Sesua janji janji yang di ucapkan ketika pilkada I ternyata baru berjalan 30 %, lho kok lucu masih berani maju lagi di pilkada II ini, ternyata apa yang d ucapkan tdk sebanding dengan kenyataannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s