Agama antara Mitologi dan Ideologi


Oleh: Abd. Malik Ustman

Seperti entitas kehidupan manusia lainnya, agama selalu mengalami goncangan akibat serangan perubahan zaman. Kejutan-kejutan perubahan yang dimunculkan oleh pergolakan zaman seringkali memaksa agama mengikuti ritme perkembangan tersebut. Di era keemasan agama, struktur kehidupan manusia ibarat piramida kehidupan di mana agama menjadi bagian inti (infra stuktur) yang mempengaruhi aspek lainnya. Para sejarawan menyebut era ini dengan zaman aksial yang dicirikan dengan mitos sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Pada era selanjutnya, gelombang baru memaksa agama harus senang untuk disejajarkan dengan unsur kehidupan lainnya. Modernitas menjadi harapan baru manusia. Logos menggantikan mitos. Bahkan tradisi baru pengetahuan manusia tersebut dengan tragis menelanjangi kabut hitam mitos-mitos agama. Serangan paling dahsyat adalah munculnya arus sekularisasi yang mempengaruhi kesadaran manusia. Serentak para pengamat agama menandai era tersebut dengan era kematian Tuhan (the death of god) atau krisis teologi (crisis of theology).

Dewasa ini, hal yang tak terpikirkan telah terjadi. Modernitas telah runtuh menjadi tulang punggung kehidupan manusia. Di saat yang bersamaan muncul geliat baru agama yang berusaha keluar dari pasung modernitas dan rasionalitas. Agama berusaha bangkit dari posisi yang marginal menuju sentral. Inilah gelombang ketiga agama.

Perubahan yang begitu cepat ini menyebabkan masyarakat agama mengalami kejutan-kejutan budaya (culture shock) baru. Terlihat masyarakat agama masih sangat sulit untuk berkompromi dan melakukan tawar menawar dengan babakan baru ini. Dalam kondisi demikian tidak mengherankan apabila muncul suatu gerakan keagamaan yang reaksioner dan apologetik yang ditandai dengan munculnya neo-ortodoksi agama. Karena cirinya yang reaksioner gerakan ini hanya melakukan repitisi tradisi dan menggiring warisan lampau sebagai justifikasi masa kini.

Semula gerakan ini tidak berlebihan, namun pada perkembangannya ia tidak hanya berusaha menghidupkan kembali panorama religius dalam kehidupan manusia, tetapi memaksa agama menjadi sentrum optik yang dijadikan alat membaca realitas kekinian. Hampir tidak ada satu celah yang kemudian tidak dipahami dalam kerangka kesucian agama. Dengan kata lain, bukan hanya mengembangkan kembali mitos tetapi juga memaksanya untuk meneropong hal yang seharusnya menjadi tugas logos. Terjadilah pencampuradukan epistimologi mitos-logos yang berakibat pada satu drama baru realitas yang disucikan, politik yang disucikan, budaya yang disucikan, bahkan kepentingan yang disucikan.

Pencampuradukan mitos-logos pada akhirnya akan menjadi musibah baru bagi kehidupan manusia. Karen Armstrong memberikan satu contoh bahwa perang salib yang dikomandoi oleh Paus Urbanus II pada tahun 1905 pada dasarnya merupakan alam logos. Akan tetapi ekspedisi militer tersebut menjadi semakin tangguh ketika ditarik dalam kerangka mitologi rakyat, kisah alkitabiah, fantasi religius yang selanjutnya tercatat sebagai tragedi kemanusiaan besar sepanjang sejarah.

Pada hakikatnya mitos bukan hal yang jelek, karena dengannnya kehidupan manusia mempunyai konteks makna yang berharga. Akan tetapi mitos menjadi potensi destruktif bila didudukkan sebagai kekuatan dan kemapanan hirarki sosial. Penyelewengan mitos sebagai kekuatan status quo ini akan membentuk rancangan ideologi kemapanan yang tangguh. Inilah yang oleh Arkoun disebut sebagai proses pemistikan, yakni penggunaan mitos yang bertentangan dengan fungsi dan maknanya. Inilah corak utama gaya berteologi (theologizing) masyarakat agama saat ini; bangkitnya neo-otodoksi bercanggah di atas kerangka paradigma di atas. Pencampuradukan mitos-logos dan menjadikan mitos sebagai penyangga ideologi. Dan tidak mustahil bahwa tragedi-tragedi kemanusiaan akan terus berlangsung. Oleh karenanya adalah tugas berat bagi umat beragama untuk mencari paradigma baru yang compatible dalam memaknai kondisi agama saat ini.

Untuk keluar dari kekakuan keberagamaan ini ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pertama, menjalin relasi harmonis-kompromistik antara mitos-logos. Sejatinya, keduanya merupakan alat bedah kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Meskipun demikian ada karekteristik dan peran masing-masing yang tidak bisa dicampuradukkan. Mitos berperan sebagai pendorong imajinasi manusia yang menyebabkan kehidupan manusia bermakna. Sementara Logos menjadi panduan praktis dan ilmiah.

Keduanya memiliki keterbatasan yang berpeluang menimbulkan hubungan yang komplemeter. Dalam bahasa yang berbeda Arkoun menyebutnya sebagai angan-angan (L’imaginaire). Menurutnya di situlah kegagalan modenitas terjadi. Barat menganggap mitos sebagai khayalan dan mengesampingkan kreativitas angan-angan ini. Oleh karenanya Barat telah mengalami kegersangan dan ketandusan kehidupan yang berkepanjangan. Namun, dewasa ini sudah mulai ada geliat baru yang arif untuk mendialogkan mitos dengan logos. Hal itu bisa dilihat dengan makin tumbuhnya minat dalam mengkaji hubungan agama dan ilmu pengetahuan semisal Ian Barbour, Issue In Science And Religion.

Kedua, melakukan pembongkaran terhadap gaya berteologi yang dicirikan dengan paradigma kebenaran. Paradigma kebenaran sebenarnya merupakan landasan utama munculnya tragedi keagamaan. Karena tidak sedikit darah manusia dialirkan hanya karena hendak mengibarkan dan mempertahankan kebenaran agama.

Meminjam analisa Foucault, bahwa kebenaran tidak lebih sebagai proses relasi antar kuasa-pengetahuan, jalinan idea dan kekuasaan ini telah menimbulkan ideologi kebenaran. Tak terkecuali dalam agama. Dengan demikian hal yang dianggap benar dalam agama tidak lebih hanya ekspresi klaim kekuasaan dan pengetahuan yang berkelindan. Dan inilah menjadi satu naluri keberagamaan yang sulit untuk dibongkar.

Umat beragama masih kurang berani untuk melakukan pembongkaran tersebut. Sehingga dengan malu-malu mengambil jalan kompromi dengan gerakan yang mengakui kebenaran agama orang lain. Cara seperti ini pada kenyataannya tidak lebih menjadi tindakan toleransi yang hiprokit, karena berusaha menahan birahi klaim kebenaran agamanya dengan membiarkan kebenaran orang lain berkeliaran. Dan pada saatnya emosi ini akan meluap menjadi satu tragedi baru.

Untuk itulah umat beragama harus berani beranjak dari paradigma kebenaran teologi ini menuju satu paradigma baru, yakni kebajikan. Paradigma ini hendak menggiring umat beragama untuk kembali pada muara kebajikan, cinta kasih, dan perdamaian. Dan keluar dari jejaring kesibukan-kesibukan untuk menunjukkan kebenaran agamanya.

Di sini saya tertarik untuk mengutip gagasan John D. Caputo yang telah berusaha memaknai agama dan kereligiusan secara baru. Baginya inti agama adalah cinta kasih, sehingga seorang religius adalah orang yang memiliki cinta kasih. Dengan pengertian ini kategori religius tidak cukup dilihat dari ketaatan ritualistik atapun dengan pemahaman yang sektarian yang membagi komunitas Yahudi, Islam, Kristen, Hindu dan sebagainya. Kategori religius hanya relevan dilawankan dengan egois, individualis, serakah, dan tidak memiliki cinta kasih. Maka, bisa jadi seorang ateis yang memiliki nilai cinta antar sesamanya lebih religius dari umat beragama.

Alhasil, kebajikan merupakan hal inti yang niscaya ada dalam setiap agama. Dengan mengembangkan kebajikan dalam agama berarti pula mengembangkan kebenaran agama. Dan bahwa manusia beragama bukan orang yang dengan getol bersemangat menunjukkan kebenaran agama, namun manusia yang tekun mengamalkan kebajikan agama.[]

Abd. Malik Utsman, aktivis Community for Religion ang Social Engineering (CRSe) Yogyakarta.Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=739

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s