Mengakhiri Pertengkaran Sains dan Agama


Dalam lintasan sejarah manusia, sains yang berpusat pada rasio dan agama yang bertumpu pada iman lebih sering tampak bersebrangan daripada bergandeng tangan. Galileo dan Darwin adalah salah satu ilmuan yang harus mendapat fatwa sesat karena teorinya bertentengan dengan gereja saat itu. Sementara dipihak intelektual juga menuding kaum agamawan secara kelompok irrasional. Karl Marx, Nietzche, Freud, adalah salah satu contoh. Karl Marx, misalnya, menuduh agama sebagai candu, Freud menilainya sebagai penyakit neorusis, dan Nietzche mendeklarasikan kematian tuhan, serta beberapa tokoh lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, sains tampaknya lebih superior dan memenangkan pertarungan tersebut, terlebih setelah masa pencerahan (Enlightenment) dan revolusi industri di Inggris. Peradaban modern yang bersumber rasionalisme Descartes semakin mejelit. Bahkan, Carl Sagan menyimpulkan bahwa tak ada campur tangan manusia dalam penciptaan alam semesta ini. Karena itulah, agamawan menilai kalangan saintis sebagai ateisme.

Kemenangan sains ini terus berkembang sampai pada akhirnya muncul sebuah kesadaran baru yang ditandai oleh skeptisisme ala David Hume (1711-1776). Terlebih, setelah Ian G. Barbour menemukan sebuah formulasi baru dalam menyandingkan agama dan sains melalui beberapa karya, diantaranya Issues in Science and Religion (1966). Agama dalam banyak ditempatkan sebagai mitra dan saling melengkapi. Dalam konteks inilah, Margaret Werheim dalam Pythagora’s Trousers; God, Physics, and Gender Wars (1996) menyatakan bahwa pengembangan fisika dan astronomi modern sejak semula tidak lepas dari motivasi dan semangat keagamaan. Maka, kelahiran Center for Theology and Natural Sciences (CTNS) tahun 1981dan Yayasan Templeton yang mendedikasikan diri untuk hal tersebut diatas merupakan kabar yang sangat baik.

Empat Relasi Agama dan Sains

Ian G. Barbour dalam penilaian kebanyakan intelektual adalah peletak dasar perbincangan kontemporer sains dan agama. Hal ini tidak terlepas dari jasa dan karya Barbour yang sangat banyak, fenomenal dan mampu menemukan formulasi relasi agama dan sains. Diantara beberapa karyanya adalah Religion in Age of science (1990), Issues in Science and Religion (1966), When Science Meets Religion (2000), dan beberapa karya ilmiah lainnya. Hal ini bukan berarti, sebelum Barbour tidak ada perbincangan yang serius perihal agama dan sains. Jauh sebelum itu, sejumlah intelektual telah mendiskusikan secara mendalam. A.N Whitehead, misalnya, melalui filsafat prosesnya juga telah berbincang tentang hal ini.

Tetapi, kehadiran Ian G. Barbour cukup memberi warna tersendiri bagi konsep agama dan sains. Melalui karya-karya tersebut, terutama Religion in Age of science (1990) sebagaimana yang ditulis oleh Moh Iqbal dalam Relief edisi Januari 2003 memberikan empat tipologi agama dan sains.

1. Konflik

Ian G. Barbour dalam buku When Science Meets Religion (2000; hlm 11-17) menjelaskan bahwa bentuk pertama ini menempatkan sains dan agama secara diametral dan konfrontatif. Dalam paradigma konflik dijelaskan bahwa seorang ilmuan tidak serta merta percaya terhadap kebenaran sains. Agama dinilai tidak mampu menjelaskan dan membuktikan kepercayaannya secara empirik dan rasional. Karena itulah, kebenaran hanya bisa diperoleh oleh sains, tidak oleh agama. Sementara itu, kaum agamawan beragumen sebaliknya. Baginya, sains tidak punya otoritas untuk menjelaskan segala hal yang ada dimuka bumi ini. Rasio yang dimiliki oleh manusia sebagai satu-satunya instrumen sains sangatlah terbatas dan dibatasi. Maka, untuk menjelaskan segala fenomena dan misteri dunia hanya bisa dipaparkan oleh agama.

Model konfrontatif diatas dalam pandangan Barbour diwakili oleh biblical literalism dan scientific materialism. Biblical Literalism berkeyakinan bahwa kitab suci berlaku universal, valid, final dan memberikan data kebenaran yang tak terbantahkan. Sementara scientific materialism berpendirian bahwa hanya sains-lah satu-satunya jalan untuk mendapat kebenaran. Dalam kerangka inilah, A.J Ayer (1910-1991) bertanya apakah ada gunanya percaya kepada Tuhan sementara ilmu alam merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat diandalkan karena dapat diuji secara emperik dan rasional. Antony Flew juga berpendapat bahwa penjelasan alamiah lebih rasional daripada penjelasan agama. Begitu pula dengan Jeal Paul Sartre (1905-1980) menyatakan bahwa jika memang Tuhan benar-benar ada, ia harus di tolak, dienyahkan sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan manusia. Baginya, L’esistence de L’homme exclet L’existence de dio (eksistensi manusia meniadakan eksistensi Tuhan)

2. Independen

Bentuk kedua ini berpendirian bahwa antara agama dan sains memiliki wilayah, metode, dan standar kebenaran masing-masing, sehingga tidak perlu mengandaikan adanya dialog atau kerjasama. Langdan Gilhey sebagaimana yang dikutio oleh Ian G.Barbour (2000) memberikan perbedaan mendasar antara agama dan sains. 1] sains menjelaskan data obyektif, umum dan berulang-ulang, agama bercakap tentang eksistensi tatanan dan keindahan dunia. 2] sains mengajukan pertanyaan “bagaimana”, sementara agama menyodorkan pertanyaan “kenapa”, 3] Dasar otoritasi sains adalah koherensi logis dan kesesuaian eksperimental, sementara dalam agama berasal dari tuhan/wahyu, 4] sains bersifat prediktif dan kuantitatif, sementara agama cenderung menggunakan bahasa simbolik.

Model seperti ini sebenarnya lahir untuk mengakhiri pertentangan sains dan agama. Akan tetapi, sesungguhnya akan mempertajam pertentangan keduanya. Sebab, keduanya berjalan tanpa ada dialog dan kerjasama. Maka, jalan alternatif adalah dialog.

3. Dialog

Model ketiga ini tidak menempatkan agama dan sains secara diametral, tetapi ditempatkan secara sejajar untuk melakukan kerjasama, kontak diantara keduanya. Tujuannya adalah mencari dan menemukan persamaan dan perbedaan antara sains dan agama. Berbeda dengan bentuk independent yang mengedepankan perbedaan, model dialog ini justru berusaha mencari titik persamaan diantara sains dan agama. Barbour selanjutnya menjelaskan ada dua hal yang sama antara agama dan sains; yakni kesamaan metodologis dan kesamaan konsep. Secara metodologis, kebenaran sains tidak selamanya obyektif dan kebenaran agama tidak selamanya subyektif. Obyektivitas yang sangat diagungkan oleh sains sesungguhnya melibatkan unsur-unsur subyektifitas. Sementara secara konseptual, keduanya menemukan muara persamaan, misalnya, pada teori komunikasi informasi (communication of information).

4. Intgerasi

Alternatif terakhir yang dinilai Barbour sebagai relasi ideal antara sains dan agama dan integrasi. Secara definitif, Barbour tidak memberikan keterangan yang sangat jelas terhadap model ini. Yak pasti, model ini sebenarnya merupakan langkah berikutnya dari model dialog. Titik-titik perbedaan antara sains dan agama diupayakan untuk diintegrasikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya natural theology yang menyatakan bahwa bukti adanya desain pada alam semesta merupakan indikator bagi adanya Tuhan.

Seiring dengan Barbour, bagi penulis, agama semestinya dijadikan sebagai semangat dan landasan etika bagi sains. Hal ini sungguh sangat penting mengingat perkembangan sains yang semakin tidak manusia, bersifat destruktif terhadap alam dan manusia. Teknologi mekanistik, postivistik telah meluluhlantakan peradaban manusia. Kehidupan yang harmonis, damai, sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan oleh sains justru dalam batas-batas tertentu merusak kehidupan manusia. Karena itulah, sentuhan agama menjadi sangat penting. Toh, baik sains maupun agama sama-sama ingin menahbiskan dirinya sebagai penjelas agung terhadap semua hal. Keduanya, sama-sama tak menginginkan ada misteri dibalik jagad raya ini. Karena itu, keduanya menghabiskan energinya untuk menjawab teka-teki kehidupan, baik tentang manusia, alam bahkan juga Tuhan Yang Maha Transenden.

B. Islam dan Sains

Mengapa agama dan ilmu pengetahuan seringkali menemukan perdebatan yang cukup sengit? Alasannya keduanya memiliki standar dan sumber pengetahuan yang dianggap berlainan. Tidak jarang dalam sejarah kita menemukan suatu arena pertentangan antara agama dan sains yang tidak sedikit telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Tragedi Galileo, Copernicus mungkin menjadi salah satu sample bagaimana pertentangan kutub agama dan sains sulit untuk disatukan.

Pada awal abad pencerahan pertentangan dua kutub tersebut lebih santer terdengar. Bedanya, kalau masa klasik sains harus bertekuk lutut pada otoritas agama, pada abad selanjutnya agama mulai ditelanjangi oleh modernitas. Lihatlah begitu tajamnya tradisi positivis Comtean telah menampar wajah agama dengan sebutan “salah satu proses rendah dari evolusi kesadaran mental manusia”. Bahkan penelitian ilmiah Charles Darwin secara telak telah memukul dan menelanjangi kebenaran kitab suci agama. Puncaknya adalah terbitnya buku “Sejarah peperangan antara sains dan Kristen” karya John William Draper dan Andrew Dickson White.

Namun, dewasa ini muncul “arus baru” khususnya di Amerika yang mempunyai kecenderungan untuk menyatukan agama dan sains. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1960-an dengan terbitnya buku Ian Barbour, Issues in Science and Religion (1966). Dalam buku tersebut dijelaskan secara sistematis bahwa “konflik” bukanlah satu-satunya cara untuk memandang hubungan sains dan agama., baik dalam sejarah maupun di masa ini. (lihat; Zainal Abidin Bagir, Pluralisme Pemaknaan Dalam Sains dan Agama; Beberapa Catatan Perkembangan Mutakhir Wacana Sains dan Agama, dalam Jurnal Relief (CRCS UGM) Vol I No I, Januari 2003 hlm. 04)

Paparan di atas hanya kita temukan dalam tradisi perkembangan ilmu pengetahuan di Barat di mana sains pernah menemukan konfrontasi yang begitu dahsyat dengan agama. Dalam islam, misalnya, perdebatan ini cukup ramai dikalangan ahli ilmu kalam (al-mutakallimin) klasik. Munculnya, aliran-aliran ilmu kalam seperti Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, Asy’ariyah tidak terlepas dari perbedaan pandangan dalam menempatkan akal dan wahyu. Jabariah (fatalisme), misalnya, sangat tampak mengebiri dan menundukkan potensi akal dibawah kekuatan wahyu. Sehingga, segala hal yang terjadi dijagad raya ini sepi dari intervensi manusia. Itu semua semata-mata karena kehendak Tuhan (agama). Akal pikiran tidak mempunyai ruang untuk menemukan ruang bagi agama diranah sosial. Satu-satunya instrumen yang bisa menjelaskan fenomena alam adalah agama.

Ketika berbicara tentang agama dan sains maka hal terpenting untuk disinggung adalah persoalan pertentangan iman dan akal atau wahyu dengan akal. Fungsi akal dalam Islam menemukan tempat yang semstinya. Dalam pengertian Islam akal bukanlah otak tetapi daya fikir yang terdapat dalam jiwa manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar. Dalam Al-quran banyak sekali anjuran terhadap umat Islam untuk memnggunakan akal dalam menangkap sinyal keagungan Tuhan. Al-quran selain memiliki dimensi yang normative juga memiliki dimensi yang menggiring manusia untuk selalu berpikir dengan menggunakan akalnya. Dalam Al-qur’an banyak sekali ditemukan idiom-idiom dan anjuran bagi umat Islam untuk berbuat secara empirik-praktis dengan cara meneliti, mencari data dari alam sekitar semisal pergantian malam dan siang, proses kehidupan biologis, dan misteri alam semesta (Amin Abdullah, 1995, hlm 233)

Penggunaan akal dalam Islam tidak hanya bersifat teoritis tetapi telah dipraktekkan dalam sejarah pembangunan peradaban Islam. Dalam tradisi Islam, kecenderungan untuk mempertentangkan agama dan sains tidak banyak kita temukan. Bahkan arus baru untuk menyatukan agama dan sains seperti yang dimuali oleh Barat justru sudah dimulai pada era klasik Islam. Kita akan melihat betapa megahnya peradaban Bagdad dalam mengkombinasikan pengetahuan ilmiah dengan pengembangan ilmu keagamaan. Prerstasi bersejarah ini merupakan prestasi yang belum pernah kita temukan dalam sejarah manapun. Sejarah pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam yang dimulai sejak abad kedelapan dan kesembilan ditandai dengan penerjemahan literatur ilmu pengetahuan dari Yunani berlangsung yang tanpa mengenal kategori ilmu agama dan umum.

Pada masa inilah kita temukan sejumlah tokoh semisal Ibnu Sina (Avecina), Ibnu Rusyd (Averous), al-Farabi, al-Khawarizmi, al-Jabar, al-Kindi dan Ibnu Hayyan yang terkenal tidak hanya pada bidang agama tetapi juga mencakup bidang-bidang pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu astronomi, matametika dan ilmu umum lainnya.

Kesadaran masa itu dapat kita sebut dengan kesadaran integratif-holistik; artinya tidak ada batas pembeda antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Karena dua elemen ini diyakini sebagai sarana untuk menemukan anugerah dan keagungan Tuhan yang menjelma dalam alam ciptaannya. Namun, tentu saja kesadaran itu tidak hanya tumbuh karena tekanan sosiologis dan politis semata. Faktor pembentuk yang disadarkan pada motivasi teologis di mana Islam sangat menganjurkan penggunaan akal, juga berperan dalam membangun kesadaran ilmiah tersebut.

Kalau kita secara aksiologis pengembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan itu memiliki dua karakteristik. Pertama, kesadaran untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pembentuk peradaban. Pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh umat Islam saat itu diarahkan untuk membangun peradaban yang lebih unggul dari peradaban di sekitarnya. Umat Islam meyakini bahwa Islam tidak hanya berposisi sebagai agama tetapi juga sebagai kebudayaan dan peradaban.

Corak kedua, munculnya kesadaran bahwa semakin umat Islam mempelajari ilmu pengetahun semakin dekat pula ia merasakan keagungan Tuhan. Menurut Sayyed Hossien Nasr bahwa pengembangan ilmu yang dilakukan oleh ulama klasik ini tidak hanya dijiwai oleh jiwa ilmiah tetapi juga untuk menyatakan hikmat pencipta dalam ciptaannya (Harun Nasution, 1986. hlm 68). Motivasi seperti itulah yang membangkitkan ghairah umat Islam dalam mengkaji ilmu pengetahuan yang tidak terkotakkan dengan ilmu agama dan umum. Dari dua karekteristik di atas dapat dilihat Islam menempatkan pengembangan sains tidak sebagai pengembangan ilmu murni tetapi sebagai sains instrumental yang menjamin terhadap bangunan kesadaran yang mantap dan kebudayaan yang mapan.

Sayangnya, pada paruh perjalanan selanjutnya ketika peradaban Islam dijarah oleh orang Eropa dan muncul pusat baru peradaban dunia dari Barat, umat Islam tidak menyadari bahwa modernitas yang dibawa oleh Eropa adalah sama dengan yang mereka alami pada masa lampau. Karena telah banyak lupa akan peradaban Islam masa lampau, umat Islam tidak mengetahui bahwa di antara teori-teori Barat itu ada yang telah mendahului dalam Islam. Dan saat itulah muncul anggapan bahwa teori barat bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak mustahil umat Islam selama beberapa abad harus mengasingkan diri dengan ilmu non-agama. Karena mereka merasa bahwa ilmu umum adalah bagian yang berbeda dengan ilmu agama.

Paradigma kelimuan masa tersebut kita sebut dengan konfrontatif-isolated. Artinya masa di mana umat Islam mulai mengkotakkan ilmu agama-non agama serta menjahui ilmu non-agama karena dianggap bertentagan dengan ajaran Islam. Pengasingan umat Islam dengan ilmu tidak hanya menyebabkan kemunduran peradaban Islam tetapi juga timbulnya keengganan untuk menggunakan teori-teori umum yang dalam bidang pengkajian keagamaan. Sehingga paradigma kelimuan keIslaman yang berkembang dan merata adalah pengkajian yang normative, doktriner dan ortodoks.

Dari pemaparan historis di atas kita dapat menarik suatu pengalaman sejarah bahwa harus dipahami bahwa kemunduran dan runtuhnya perdaban Islam terjadi ketika umat Islam mengucilkan diri dari ilmu pengetahuan. Paradigma konfrontatif-isolated atau mungkin bisa kita sebut dengan nalar sekularistik yang dipraktekkan oleh umat masa kemunduran Islam patut menjadi pelajaran di masa yang akan datang. Tentu saja harus disadari bahwa produk keilmuan masa keemasan Islam sudah dipandang usang untuk diterapkan saat ini akan tetapi pada segi epistimologi, ontologi dan aksiologinya mungkin masih akan mengalami relevansi dengan kondisi saat ini. Wallhu ‘a’lam. [Hatim Gazali]

Sumber: Jurnal Justisia, Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang.

4 thoughts on “Mengakhiri Pertengkaran Sains dan Agama”

  1. setelah panjenengan masih memungkinkan adanya relevansi untuk penerapkan kembali produk ilmuan keemasan islam dengan kondisi sekarang ini, menurut anda langkah strategisnya bagaimana??

  2. dalam tradisi islam sesungguhnya memungkinkan dikembangkan sains yang berlandaskan wahyu (al-qur’an), karena sains itu sendiri merupakan hasil pengamalan perintah Alloh yaitu membaca (surat al-‘alaq ayat 1)…membaca apa? membaca ayat-ayat Alloh (al-qur’an dan semua ciptaan Alloh)…dari membaca al-qur’an dihasilkan ilmu dan dari membaca ciptaan Alloh dihasilkan sains, keduanya membutuhkan kecerdasan dan akal sehat… sains menemukan landasan teologisnya di dalam islam…maka jangan heran kalau pencetus metode sains itu pada awalnya adalah kaum muslimin

  3. Hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang dilihat oleh manusia seputar hubungan antara agama dengan ‘ilmu’ maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan dan versi sudut pandang manusia.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang lahir melalui saintisme yang mendeskripsikan definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai ‘segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai saintisme,faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupaun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu akan berbenturan dengan agama.
    Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita analisis adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan dengan agama itu,bila itu adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi saintisme (yang membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera) maka itu adalah suatu yang pasti akan terjadi,sebab agama tidak membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera sebab dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus bisa menjangkau keseluruhan baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga dua alam itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai satu kesatuan system).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung).jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Yang mesti diingat ‘sains’ (kini) pengertiannya adalah ilmu seputar dunia materi (yang bisa terbukti secara empirik) jadi sains bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera,sebab itu sungguh janggal bila sains menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam.
    Jadi kesimpulannya adalah bila ingin mengenal definisi konsep pengertian ‘ilmu’ yang benar maka kita harus menyandarkannya kepada definisi pengertian ‘realitas’ yang benar (dalam arti yang utuh dan menyeluruh yang meliputi realitas yang abstrak dan yang konkrit),bila definisi pengertian ‘ilmu’ disandarkan pada definisi pengertian tentang realitas yang salah (yang tidak utuh-tidak menyeluruh) misal beranggapan bahwa ‘realitas adalah segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman indera’ maka kita akan memperoleh definisi pengertian ‘ilmu’ yang keliru,yang timpang sebab kita akan selalu melekatkan definisi pengertian ‘ilmu’ dengan dunia alam lahiriah material yang tertangkap dunia pengalaman indera sehingga yang benar secara ilmiah menjadi ‘segala suatu yang terbukti secara empirik’.
    Dan mesti diketahui bahwa definisi pengertian ‘ilmu’ versi saintisme adalah definisi pengertian ‘ilmu’ yang tidak bersandar pada definisi tentang realitas yang utuh,sehingga dalam saintisme definisi pengertian ‘ilmu’ menjadi dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera yang bisa dibuktikan secara empirik (bukti yang tertangkap mata secara langsung).
    Dan bila kita melihat dan menilai agama dengan kacamata sudut pandang saintisme itu otomatis agama akan seperti ‘diluar wilayah ilmu’ dan sebagaimana biasa agama akan di stigma kan sebagai ‘hanya wilayah moral’ atau dianggap sebagai sesuatu yang ‘rirrasional’.
    Ironisnya banyak ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak isa disatu padukan.bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari pikirannya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar basa kala membuat peta hubungan agama dengan ilmu.
    Sebaliknya bila agama dilihat dengan kacamata (definisi pengertian ‘ilmu’) yang benar maka agama akan mudah untuk direkonstruksi secara ilmiah dan keterpaduan agama dengan ilmu akan mudah untuk dibaca dan dikenali.

  4. Agama tidak akan berbenturan dengan ‘sains’ (bila definisi pengertian ‘sains’ disini dibatasi sebagai ‘ilmu seputar /sebatas wilayah dunia alam material’) tapi akan berbenturan dengan : ideologi-pemikiran-serta penafsiran yang salah yang hidup atau beredar seputar dunia sains,dan juga pasti akan berbenturan dengan teori ilmiah yang salah yang keliru yang tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya sebagaimana yang Tuhan ciptakan.(misal realitas manusia berasal dari nabi Adam tapi manusia membuat teori lain yang tak sesuai dg fakta (yang Tuhan ciptakan).
    misal bila ada ideologi yang mengkultuskan sains sehingga sains tidak dibingkai sebatas ilmu dunia material dan di klaim sebagai ‘ilmu yang bersifat menyeluruh'( sehingga berhak mengadili agama) maka ideologi seperti itu pasti akan berbenturan dengan agama sebab mengkonsep ‘sains’ keluar dari wilayah batasan nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s