Budak, TKI dan Semangat Pembebasan Islam


Al-Qur’an memang bersumber dari Tuhan, tapi tujuan-tujuan akhirnya adalah kemaslahatan manusia belaka. Setiap ayat al-Qur’an dan hadis nabi selalu dimaksudkan untuk kebajikan manusia secara mutlak; sisi kemaslahatan tersebut berlaku tanpa memenangkan manusia yang satu dari yang lain, kecuali atas ketakwaan dan apa yang bisa disumbangkan mereka untuk kebajikan umat (Dr. Husein Mun’is )

Secara histroris, Islam lahir ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang sangat tribal, vandalistik dan tidak manusiawi. Masyarakat jahiliyah Arab sebagai audience dari Islam menyuguhkan fakta-historis yang kelam. Saat itu perbudakan, diskriminasi, kekerasan, eksploitasi dan dehumanisasi terjadi secara keji. Peperangan antar suku (kabilah), perampasan dan perampokan sudah menjadi tradisi yang sangat lengket pada masyarakat Arab.

Memang, perbudakan bukanlah hal yang baru saja lahir. Jauh sebelum Islam lahir kemuka bumi, Romawi dan Yunani Kuno, Persia Kuno, China bahkan hampir seluruh peradaban manusia saat itu telah dikenal perbudakan. Sementara, Arab—sebagai lokasi turunnya Islam—mengenal perbudakan belakangan, setelah melakukan kontak dengan peradaban dunia lainnya. Bagi mereka, budak ibarat barang perniagaan, bisa dijual-belikan, diperintah sesuai kehendaknya, disiksa dan sebagainya.

Karena ia turun ditengah setting sosial-budaya-ekonomi yang demikian, maka Islam lahir membawa pesan kesetaraan, persamaan dan membebaskan para budak (Ar Roqiq). Doktrin dan ajaran-ajaran dalam islam semata-mata diarahkan untuk membangun kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera dan persamaan. Muhammad ‘Imarah dalam al-Turast fi al-Dawl al-Aql (1980) menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang bersumber dari Tuhan dan berorientasi pada kemanusiaan. Karenanya Islam harus menjadi solusi bagi problem kemanusiaan. Abu Ishak al-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah menjelaskan bahwa ajaran (islam) diturunkan semata-mata untuk melaslahatan manusia saat ini (al-‘ajil) dan diakhirat nanti (al-ajil) sekaligus.

Karuan saja, Islam seketika mendapat perlawanan keras dari masyarakat Jahiliyah (elit Quraisy) saat itu. Bukan karena konsep teologi yang dibawahnya, tetapi –menurut Thaha Husein–karena visi Islam yang hendak merombak sisem sosial yang berlaku saat itu, dan menetapkan bentuk keadilan, persamaan yang tidak sesuai dengan kepentingan tokoh-tokoh Quraisy. Singkatnya, ajaran-ajaran Islam yang membawa nilai-nilai keadilan persamaan sungguh menjadi hambatan, tantangan dan musuh bagi kaum Quraisy untuk melanggengkan sistem sosial yang tribal dan dehumanis. Sementara itu, kelompok-kelompok yang ditindas (budak-budak dan kelompok miskin lainnya) oleh elit-elit penguasa seketika menerima Islam. Baginya, Islam adalah agama yang membebaskan dan menjunjung tinggi persamaan dan keadilan. Tak tanggung-tanggung, beberapa budak dan beberapa wanita dengan sekejap merapatkan barisan bersama Muhammad untuk melawan kelompok elit Quraisy di Mekkah.

Pertanyaanya, apakah perbudakan sampai saat ini sudah hilang dari permukaan bumi? Bukankah Islam telah menghapuskannya? tidakkah Revolusi Perancis telah menghapuskan perbudakan di Eropa dan Abraham Lincoln telah meniadakan di Amerika, dengan adanya Declaration of Human Right (HAM).

Secara istilah, kata budak (abdi, hamba) kini sudah tidak beredar lagi. Namun esensi dan subtansi dari perbudakan masih terus berlanjut hingga saat ini. Ia mengalami metomorfosis dan perubahan wujud yang sangat luar biasa. Bukankah TKI (Tenaga Kerja Indonesia), neo-liberalisme adalah bentuk dari perbudakan yang lebih besar dan keji. Dengan format yang agak berbeda, TKI mengalami nasib yang relatif sama dengan para budak-budak sebelum Islam datang.

Sementara itu, Islam yang memiliki semangat pembebasan telah ditinggal pergi oleh pembawanya. Ia kini tampak kusut, tak berdaya menghadapi peradaban manusia yang semakin jauh panggang dari nilai-nilai agama (Islam). Visi dan pesan pembebasan Islam ditangan pemeluknya menjadi mandul. Islam yang memiliki tujuan adiluhung untuk membebaskan dan mensejahterakan umatnya kerap ditangan para penganutnya telah terperangkap pada sejumlah kegamangan didalam menyelesaikan pelbagai problem kemanusiaan. Belum lagi, ditangan para penguasa, Islam (agama) dijadikan alat legitimasi untuk melanggengkan perbudakan dimuka bumi ini. Karenanya, perbudakan, diskriminasi, eksploitasi dan peperangan masih terus menjadi realitas yang tak terbantahkan.

Dalam konteks inilah, penting kiranya menyegarkan kembali pesan-pesan Islam yang bersemangatkan pembebasan, kesetaraan dan persamaan. Tanpa ada penyegaran kembali, maka islam semakin tak berdaya menghadapi tantangan zaman yang sedemikian akut. Ada dua hal mendasar yang penting untuk dikemukakan disini. Pertama, mengembalikan semangat persamaan dan kesetaraan. Sesungguhnya, setiap manusia adalah sama, tidak ada yang lebih antara yang satu dengan lainnya. Rasulullah bersabda ” Kalian adalah anak Adam, dan Adam berasal dari tanah; karena itu tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas seorang ‘Ajam, tidak pula atas seorang ‘Ajam atas orang Arab, juga tidak bagi seorang berkulit hitam atas orang yang berkulit coklat atau seorang yang berkulit coklat atas orang yang berkulit hitam..kecuali dengan taqwa”. (HR Muslim dan Thabari ). Selain itu, Allah berfirman ” Dan berbuatbaiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat,anak-anak yatim, orang-orang miskin , tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. ( QS : An Nisaa : 36 ).

Pandangan Islam yang sangat simpatik dan apresiatif terhadap budak ini sebenarnya didasarkan atas dasar kemanusiaan. Bagi Islam, ia bukanlah orang-orang yang tidak memiliki harga diri. Budak (TKI, Pekerja Rumah Tangga dan sebagainya) juga memiliki hak yang sama sebagaimana kita. Nabi Muhammad menegaskan“Bertaqwalah kepada Allah, terhadap budak yang engkau miliki, maka hendaklah ia memberi makan kepadanya dari apa yang ia makan, memberi pakaian dari pakaian yang ia pakai, dan hendaknya jangan membebani mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mereka sanggupi ; jika kamu membebani tugas kepada mereka hendaklah kamu menolongnya”. ( HR.Bukhari )

Kedua, peran negara (pemerintah) untuk membebaskan para budak. Para pemimpin sejatinya memperhatikan terhadap nasib para budak (buruh, TKI, PRT dsb) yang secara terus menerus diperlakukan secara tidak manusiawi. Mengapa negara? Jelas, karena eksploitasi dan perbudakan bukan lagi dilakukan oleh orang-perorang, tetapi –disamping juga perorangan–melalui institusi dan lembaga tertentu. Para TKI yang bekerja diluar negeri seringkali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Secara yuridis-formal, negara harus menjamin hak-haknya, sehingga jika terjadi pelanggaran-pelanggaran, kekerasan dsb bisa ditangani secara hukum. Namun, tampaknya KBRI (Keduataan Besar Republik Indonesia) seringkali apatis dan tidak tahu menahu dengan persoalan yang dihadapi para TKI. Sampai kapan perbudakan ini berakhir? Wallahu ‘a’lam

Sumber: Bulletin Ikhtilaf, LKiS Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s