Rasa Kehilangan Perempuan


Oleh: Fatimatuzzahroh 

Hari berganti rupa segera. Aku berbaring lunglai di tempat tidur, menghirup aroma kebebasan, kepuasan, kenikmatan. Begitukah, satu malam kulewati dengan dan tanpa perasaan ingin. Kerelaan?, mungkin di dasari keinginan yang kubahasakan bagaimana bukan dan mengapa. Sederhana memang, namun rasa ngilu di antara selangkangan mengaburkan rasa keperempuananku. Saat kupegang ia masih ada cairan kental yang melekat. Milik siapakah ini?, sang lelaki yang memiliki hasrat sama ataukah sekedar pemuas nafsu kelelakian sementara. Dia tidak ada!, ketika ingin ku bertanya pada sang lelaki yang menemaniku. Kemana dia?, kuraba sampingku masih hangat. Kehangatan semalam yang menggairahkan. Erotisme jiwa muda semoga tak berlanjut pada cinta.

Aku kehilangan. Tapi apa?, kupegang rambut, adakah yang ganjil?. Rambutku masih seperti sebelum aku merasa kehilangan hitam, lebat. Wajahku?, pun sama cantik mengundang keinginan. Payudaraku?, sama pula besar, montok, seksi. Pinggangku?, juga sama padat berisi. Lalu apa?. Rasa sakit inikah kehilanganku hingga meninggalkan bercak merah pada sprei. Belum pula aku beranjak dari tempat tidur, matahari mengintip lugu dari balik gorden. Aku malu matahari, saat sinarmu menembus kulitku. Kulit yang dulu selalu kubanggakan di bawah sinar terikmu kini telah tersentuh kelelakian. Masihkah kau menyebutku sang perawan?.

Baiklah aku kalah. Pada satu keadaan yang dulu kuangankan. Aku telah kehilangan, meski aku tak tahu kehilangan dalam bentuk apa, sedang aku merasa suka. Sisa pertanyaan itu aku bawa sampai kamar mandi sambil berharap mampu menghilangkan jejak setiap raba lelaki. Pertama kucuci rambutku dengan tak lupa bertanya pada akalku “Adakah kamu kehilangan?”

“Ya”, jawabnya

“Apa?”, kembali kubertanya

“Idealismeku sebagai perempuan yang di agungkan”

kemudian kuberalih membasuh payudaraku dan bertanya pada hati yang terlindung di dalamnya “Adakah kamu kehilangan?”

“Ya”, jawabnya sama

“Apa?”

“Nuraniku sebagai perempuan yang di sucikan”

selanjutnya kubasuh vaginaku yang merupakan muara dari kepuasan semalam. Kubertanya padanya “Adakah kamu kehilangan?”

“Tidak”, jawabnya singkat

“Mengapa?”, tanyaku penasaran

“Karena hasrat perempuanku terpuaskan”

“Masih inginkah?”, tanyaku lagi

“Jika diizinkan dan waktu memungkinkan”, katanya pula.

Semua telah kubasuh dan rasa kehilangan semakin menguasai saat hasrat terkalahkan idealisme dan nurani. Aku terpuruk dalam sepi mencoba mengembarai setiap detik perjalanan hidupku, ada rona di sana, sosok seorang aku yang terdogma dalam kultur ketimuran dan membuatku apatis memandang esensi ikatan cinta antara lelaki dan perempuan. Jika cinta tak terdefinisi mengapa pula harus di cari, sedang cinta itu tubuh kita sendiri seonggok daging yang dilengkapi akal hati serta hasrat. Cinta tanpa kata mengalir di setiap darah, berdenyut di urat nadi dan jantung, menghembus antara oksigen dan karbondioksida. Cinta tanpa kata bukan berarti tanpa makna karena ia jujur berhasrat tanpa menggugat. Sambil menyeka sisa-sisa air kubercermin memandang setiap senti dari tubuhku, jangan biarkan aku menyesal telah melakukan semua ini. Pun bila ada rasa kehilangan, biarkan ia hadir apa adanya tanpa aku harus menjawab dengan keterpaksaan. Terlebih jika di orientasikan ke masa depan, apa yang tak patut menjadi patut adanya selama aku mampu menjelenterakan hasrat perempuan dengan rasa kehilangan.

Puas mematut diri dan bergumam dalam hati aku memakai baju, dengan harap akan sedikit menutupi rasa kehilangan. Lalu kosmetik bermerk terkenal kusapukan ke wajah. Polesan nyata seorang perempuan yang di selimuti kemunafikan hidup berlindung di balik kedok kecantikan. Sebenarnya aku tak pantas kehilangan mengingat posisiku sebagai apa dan siapa, namun apakah itu perlu hingga memasung hasrat yang paling menggebu sekalipun. Ada bermacam alasan mengapa aku melakukan semua ini yang dengan mudah akan menjadi hak hasrat dalam bersikap. Sayangnya aku tak ingin sebatas alasan sikap yang tidak bermoral. Idealismeku ini sengaja aku matangkan dalam wujud yang paling sempurna, karena sikap yang disertai analisa kritis dan logis akan melahirkan dukungan untuk bisa di aplikasikan dengan baik. Walau faktanya kini aku terjebak idealime perempuanku yang mengukur segala sesuatu dari sisi baik dan buruk. Belum lagi sentimen publik yang seringkali menyudutkan perempuan ketika mengalami rasa kehilangan. Jujur aku belum siap. Pun dihadapkan pada realitas sosial masyarakat yang apriori menilai rasa kehilangan.

Selesai memoles, menipu diri sendiri mencoba membentuk image perempuan yang meniadakan keperawanan. Aku keluar memenuhi kebiasaan menjadi perempuan di mata lelaki sambil membawa serta beragam pertanyaan yang terkungkung idealismeku sebagai perempuan pun nurani yang tak pernah henti mengigatkan diri. Si pikiran tergelapku acap kali mengatakan seorang aku yang kebetulan berstatus perempuan hanya merupakan imbas dari stigma masyarakat yang terdogma sosialisasi sejarah panjang perempuan. Pun tuntutan rasa kehilangan ini adakah sang lelaki merasakan?, setelah kami melewati malam bersama satu kepuasan, satu kenikmatan, satu kebebasan mengapa hanya rasa kehilangan perempuan yang dipermasalahkan?. Bagian dari kodrat Tuhankah?. Lama kuberkecamuk dalam tanya yang tak kunjung usai. Aku berjalan membelah alam, menebar senyum pada setiap lalu lalang orang. Tahukah mereka aku kehilangan?. Satu rasa yang telah pergi dan takkan mungkin kembali kini.Siang beranjak naik ke puncak rasa dalam-dalam, menterjemahkan bahasa mentari yang menundukkan raja malam. Aku duduk tertegun diantara mata kelaparan dan kehausan sang lelaki dengan tetap mengumbar senyum hampa rasa kehilangan sang perempuan, aku berspekulasi antara nurani dan hasrat hati. Sesaat berlalu sang lelaki menghampiri “Bagaimana keadaanmu hari ini Jeng Lastri?”

Jeng, masih pantaskah sebutan itu melekat ‘Raden Ajeng”. Simbol kegusaran makna perempuan jawa yang terkungkung feodalisme budaya trah –darah biru- yang takut tidak mendapatkan pengakuan.

“Seperti yang kau lihat No”

penampakan wujud diri bersembunyi di balik kemunafikan hidup berlindung atas nama seorang perempuan yang tak mau kehilangan

“Baguslah kalau begitu semoga harimu menyenangkan Jeng”

“Menyenangkan untuk siapa?”

“Ya untukmu, untukku dan kita semua nggih tho Jeng?”

“Semoga harapanmu tak sia-sia No”

aku tersenyum mencoba mencari makna dibalik kata. Hari menyenangkan berlalu mengesankan pun sama halnya semalam adakah itu juga menyenangkan?, mengumbar kepuasan hingga titik kenikmatan aku telah kehilangan bukan pada kesempatan tapi keadaan yang tak memungkinkan.

“Jeng, lho kok nglamun”

kalimat penuh arti atau perhatian terselubung seorang lelaki yang selalu bertendensi

“Ach…nggak, Cuma ya mikir hidup senang bagi kamu itu apa?”

“Hidup senang itu ehm…apa yang kita inginkan sesuai kenyataan”

“Masak Cuma itu”

“Itukan sebatas yang aku tahu Jeng, mungkin Jeng Lastri punya jawaban yang lebih baik”

sebatas pengetahuan yang kita miliki tak bertepi di tengah gelombang pasang surut ombak, lautan intelektual. Sebatas mana aku menangkap sosok sang lelaki dihadapanku, seorang lugu?, atau keluguan yang di sengaja sebagai penghias sementara kala terjebak tanya. Aku menghargai setiap jawaban, yang paling sederhana sekalipun. Meski itu bukan satu-satunya cerminan kualitas sang lelaki. Yang menarik barangkali ketika sang lelaki memposisikan diri menjadi siapa di depan perempuan yang dia tak tahu telah kehilangan. No, sosok sederhana bermain-main di imajinasi maya muncul bara kagum yang berdentum di sudut kalbu. No, telah menjelma sosok ragawi sang lelaki tanpa basa-basi. No, aku menyukaimu!

“Jeng, aku permisi dulu banyak urusan yang belum aku selesaikan”, sela No di tengah pengembaraan khayalku

“Eh…monggo-monggo No, jangan lupa besok datang lagi, soalnya Bapak akan mengadakan evaluasi”

“Oh…nggih nuwun Jeng”

sosok No kembali membayang, dia berbeda dengan yang semalam. Ada sesuatu yang membuat aku ingin menyelami lebih dalam sosok lelaki. Bukan pelampiasan, sungguh tetap tulus hasrat hati manakala merekam objek lintasan sejarah. Sebelum aku memasrahkan diri pada ikatan simbolis lelaki perempuan , sebelum aku siap berbagi rasa, adakalanya manusia harus melewati proses bagaimana dia mengembarai perjalanan diri kesempatan dan kemenangan tak hanya dimiliki lelaki. Cuma acap perempuan buta untuk menyadari bahkan terisolasi kodrati perempuan yang tak pernah dijelaskan kemudian.

Saat berlalu waktu menyerta. Sepi suasana hati meski bising dengung suara sekeliling kian bising di telinga kuedarkan pandang menyapu ruangan yang tak seberapa besar. Terlihat lalu lalang orang, lelaki dan perempuan berpacu dengan semangat membara. Adakah lelah di hati mereka?, adakah letih di waktu mereka?, adakah hampa di siang mereka?, adakah sepi di malam mereka?. Sampai kapan kujawab tanya berputar dalam rongga akal.

Ketika setiap detik sangat berarti dalam hidup aku tak tahu pasti apa yang akan kulalui. Aku menginginkan No!, tapi mengapa harus dia?. Bukan Har, Sin, Min atau yang lainnya, nama yang tak asing dan selalu gagal setiap kali mengajakku berkencan. Bagi mereka aku perempuan yang belum kehilangan, meski aku meragukan apakah posisi dan status sang perempuan diidentikkan dengan tiadanya rasa kehilangan?. Lalu perempuan lain yang tak pernah tahu apa itu posisi dan status adakah mereka juga berkesempatan dan mendapatkan kemenangan?. Inilah perempuanku, siapa kamu itu dirimu, tak hendak menjadi diriku. Kamu adanya perempuan yang memiliki rasa. Aku bangkit mengangkat diri, mendongak tajam ke depan, membereskan lembaran kertas di atas meja kemudian bergegas berjalan meninggalkan ruangan aku pergi dengan kehendak hati mencari lelaki di samar senja tak bertuan, menyapu koridor perkantoran, dimana kau lelaki?. Saat aku membutuhkanmu, tak kuperduli rasa kehilangan yang menjerat sesal selintas bayangan. Sadarkah aku?, sepenuhnya ada dalam kendali nurani, kegilaan semalam berujung pada rasa ingin. Hasrat perempuan yang tak mampu kubahasakan, dengan apa harus kubunuh ia, percuma perlahan. Bila saatnya tiba kuingin rela dengan makna untuk berbagi rasa biar tak ada keterpaksaan dalam ikatan lelaki perempuan, sungguh selalu kutunggu bahagia itu!.

Malam menjelang kembali, saat jiwa penuh gairah bersimbah peluh lelah dalam kepuasan dan erotisme sesaat, sekejap di balik selimut usang dengan atau tanpa berpakaian. Aku bersandar di ranjang, sendiri mengingat hasrat semalamku kemarin. Cukup kali itu saja!, telah kutemukan jawab sesal tanpa ampun membulirkan setetes duka di sudut mata dan mengalir perlahan membanjiri jiwaku. Dalam hampa aku membaca diri, seperti apa perempuan menyimpulkan sosok demi sosok lelaki ideal, terjebak obsesi hasrat perempuan yang tak terkalahkan. Selalu ada kesempatan bagi perempuan yang rindu kemenangan. Artikan rasa kehilangan menjadi tumpuan hasrat hati yang berkendali. Pun jiwa keibuan yang menyeruak lembut memahami kehilangan dengan santun sikap kala bertindak. Setiap raba lelaki mengungkapkan keinginan yang berbeda tergantung dari sisi mana kita menilai. Ada saatnya perempuan harus mawas diri, tak selamanya fortuna menyerta kemudian. Rasakan kasih ibu di hati perempuan, di setiap nafas, gerak langkah, tutur bahasa. Ibu yang tak pernah takut kehilangan, ibu yang selalu hadir menjadi simbol harapan, ibu yang harinya penuh perjuangan dan pengorbanan, ibu menjadi perempuan dan perempuan menjelma ibu.

Rasa kehilangan percuma henti di tangis, jika tanpa keinginan untuk menggantikan. Sesal hari ini kumaknai belajar di esok hari. Dari sosok lelaki yang membayang dalam mimpi aku mencoba memahami posisi lelaki bagi jiwa ibu. Tak sekedar ada dalam hasrat perempuan namun hadir pada akal dan nurani. Pun No menjadi sosok lelaki tanpa basa-basi, biar kesadaran akhir aku temui di kehampaan rasa kehilangan perempuan bukan berarti aku siap berbagi sebagian dari hidupku untuk lelaki. Sulit ketika menyadari banyak hal yang harus di pertimbangkan bersama, sampai saatnya tiba aku ingin jujur berkata sosok ibu menjelma nyata dan mengikis perlahan rasa kehilanganku sebagai perempuan.

Ambarukmo, 06 Maret 2003

Catatan: Untuk mengenang hari Ibu, saya mempublish tulisan sahabati Fatimatuzzahro yang sebelumnya pernah dimuat di bulletin GeGeR. Cerpen ini bagiku sangat inspiratif. Semoga, sang penulis bisa membaca ulang cerpen yang ditulisnya waktu di UIN Sunan Kalijaga, yang kini tengah studi di STAIN Cirebon

One thought on “Rasa Kehilangan Perempuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s