Muslim Liberal vs Fundamentalis


IpungOleh: Syaiful Bari (alumnus Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Kehidupan muslim Indonesia selalu dicirikan oleh keanekaragaman, di mana beragam pemikiran yang saling bertentangan menjadi hal biasa dan sering terjadi. Sebagaimana dielaborasi Daniel S. Lev (2002), muslim Indonesia dengan demikian sudah terbiasa dengan konflik pemikiran tentang isu-isu agama dalam ruang dan waktu tertentu. Salah satu contoh pihak-pihak yang berseberangan atau bisa disebut berkonflik adalah kelompok muslim liberal vs muslim fundamentalis.Meski demikian, bukan berarti konflik semacam itu layak dipertahankan mengingat hanya akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Paling tidak, konflik antara muslim liberal vs muslim fundamentalis tentang isu-isu agama yang terjadi selama ini, seperti formalisasi syariat Islam, telah membawa akibat yang tidak diharapkan, seperti munculnya interaksi tidak sejajar dan tidak harmonis antara muslim liberal dan muslim fundamentalis. Guna keluar dari konflik semacam itu, maka persoalan penting yang harus mendapatkan perhatian serius dari kita semua adalah kedua kelompok muslim tersebut, liberal dan fundamentalis, sama-sama melakukan ideologisasi di masyarakat. Ideologisasi terbuka inilah yang seharusnya dihindari. Menurut Jurgen Habermas, seperti yang dijelaskan Donny Gahral Adian (2001), ideologi sebetulnya merupakan tafsiran manusia atas realitas yang kemudian dijadikan tata perilaku yang dilegalisasi (dibekukan) oleh kekuasaan. Ideologi yang dibekukan oleh kekuasaanlah yang menjadi sasaran kritik Habermas. Habermas selalu melihat ideologi dari kacamata dialektika, di mana daya kritis harus tetap ada agar ideologi tidak berubah menjadi alat pembenaran atau legitimasi. Jika ideolologi menjadi alat pembenaran atau legimatisi, maka yang “tidak benar” kemudian dengan sangat mudah (dipaksa) “dibenarkan” oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Dalam konteks tulisan ini, ideologisasi yang dilakukan oleh kedua kelompok muslim tersebut (liberal dan fundamentalis) tentu saja sangat rentan digunakan sebagai alat legitimasi atau alat pembenaran untuk menjustifikasi kelompoknya masing-masing. Di sini terjadi yang namanya perang kebenaran tiap-tiap kelompok. Ideologi dengan seperti itu, seperti yang telah lama dikhawatirkan Karl Marx, cenderung menjadikan masyarakat tidak sadar (kesadaran palsu) bahwa sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh mereka hanyalah produksi dan manipulasi belaka.

Selain itu, persoalan berikutnya yang juga perlu diperhatikan adalah kampanye pemikiran masing-masing kelompok ke publik. Proses kampanye pemikiran tersebut setidaknya bisa dicermati dari berbagai agenda masing-masing kelompok yang tidak jarang saling berlawanan, seperti acara pelatihan dan seminar di daerah-daerah. Kedua kelompok muslim Indonesia bahkan sama-sama memiliki media (cetak maupun elektronik) sendiri untuk mendukung tersebarnya pemikiran-pemikiran mereka. Padahal, rumusan pemikiran muslim liberal dan muslim fundamentalis yang sama-sama dikampanyekan seringkali berseberangan atau berlawanan.

Ideologisasi dan kampanye pemikiran oleh masing-masing kelompok muslim yang sering berseberangan itulah yang akhirnya memicu konflik. Konflik yang dimaksud jelas berada di dunia-kehidupan (realitas nyata). Artinya, konflik pemikiran tersebut terjadi dalam dunia kehidupan yang riil/tidak melangit. Pada saat yang sama, dunia kehidupan tempat terjadinya konflik dapat menjadi basis tindakan komunikatif antar-subyek atau intersubyektif, di mana saling pemahaman dan pengertian antar-subyek otonom yang terlibat komunikasi diperjuangkan. Berbeda dengan konflik, dalam proses komunikasi tidak boleh ada dominasi dan tekanan. Berbagai bentuk dominasi dan tekanan hanya akan mengakibatkan tidak tercapainya konsensus di dalam proses perbincangan bersama.

Dalam pemikiran Habermas, seperti yang dirujuk oleh Ibrahim Ali Fauzi (2003), komunikasi bersama yang terjadi di dunia-kehidupan sendiri akan berperan dalam tiga fungsi, yaitu: perkembangan pemahaman bersama, meningkatkan integrasi sosial, dan solidaritas serta sosialisasi sebagai pembentuk identitas diri. Karena itu, dalam konteks ini, jika interaksi tidak harmonis antara muslim liberal dan muslim fundamentalis tersebut dibiarkan terus terjadi, maka akhirnya akan melahirkan disintegrasi sosial. Untuk itulah, diperlukan i’tikad baik dari kedua belah pihak untuk sama-sama duduk sejajar membicarakan isu-isu agama dalam diskursus rasional dan argumentatif dengan berpijak pada etika diskursus.

Dalam rumusan etika diskursus yang digagas Habermas (1989), kepentingan-kepentingan yang berbeda masing-masing pihak/faksi tidak perlu dan memang tidak dapat disingkirkan, karena justru dengan semua itu konsensus bersama menjadi mungkin dan penting untuk dicapai. Tujuan diskursus sendiri adalah untuk mencapai konsensus, di mana berbagai kepentingan dapat digeneralisasikan. Betapapun demikian, bukan berarti bahwa semua kepentingan dapat dipertahankan dan digeneralisasikan. Kepentingan yang hanya bersifat individual belaka jelas tidak layak untuk dipertahankan menjadi landasan bagi terwujudnya konsensus bersama.

Dalam fenomena konflik antara kelompok muslim liberal vs muslim fundamentalis, hanya kepentingan yang bersifat dan bernilai sosial saja yang dapat dipertahankan dan diperjuangkan. Tidak boleh kepentingan individual dan kelompok yang sempit sifatnya, baik muslim liberal maupun muslim fundamentalis, tetap dipelihara. Jika kepentingan yang tidak bernilai sosial masih dipertahankan dan ngotot untuk diperjuangkan, maka konsensus bersama dan solidaritas universal antara muslim liberal dan muslim fundamentalis sulit tercapai.

Pluralitas kepentingan, kebutuhan, dan hasrat antara muslim liberal dan muslim fundamentalis sendiri yang terkesan tampak sebagai anarki dan menjadi hambatan bagi tercapainya konsensus bersama dan solidaritas universal, jika dikelola secara baik justru akan memberikan banyak kontribusi dalam proses perkembangan pemahaman bersama dan integrasi sosial.

Kans ketidaksepakatan yang membawa mereka pada disintegrasi dapat dibendung melalui komunikasi yang bebas tekanan, sehingga konsensus bersama dan solidaritas sosial dapat tercapai. Dengan demikian, saling pemahaman dan solidaritas sosial di antara muslim liberal vs muslim fundamentalis dalam dunia kehidupan akan menjadi kenyataan.

Sebuah idealitas yang indah, tetapi sulit direalisasikan bukan? Meski demikian, tentu tidak ada salahnya untuk berusaha hidup damai. Kehidupan yang damai dan harmonis bukanlah utopia. Semoga!

(Masdar Online, 14 Desember 2007)

One thought on “Muslim Liberal vs Fundamentalis”

  1. Ai, manis kerja di hotel ancol, body yahud, main mantep booking hubungi adit +6281399781991 +622194248627 ato langsung ke ai +622194200707

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s