Dr. Millad Hanna:Membangun Budaya ‘Qabulul Akhar’ di Era Postmodern

Menguatnya budaya kekerasan dekade belakangan ini, hampir di seluruh dunia menggambarkan setidaknya pada kita bahwa peradaban modern dan globalisasi masih menyisakan problem panjang. Di Amerika yang merupakan negara pionir otoritas demokrasi (democratic nation) , terakhir banyak dicerca dan dikecam berbagai kebijakan politiknya yang justru kontra produktif dengan nilai-nilai yang seringkali disuarakan mereka, baik oleh negara dan bangsa lain karena propaganda politiknya atas Irak, Korea Utara dan Kuba.

Tidak hanya cukup sampai di situ, protes dan kritik juga dituai dari rakyat Amerika sendiri yang menganggap bahwa kebijakan Presiden George. W. Bush memang anti kemanusiaan.Tesis menarik muncul dari seorang pemikir dan intelektual Kristen Koptik Mesir, Dr. Millad Hanna. Hanna peraih nobel perdamaian berkat usaha-usaha perjuangannya di bidang HAM sebagaimana dalam bukunya, Qabulul Akhar; Min Ajli Tawashuli Hiwaril Hadlharat, mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan politik luar negeri AS sangat dipengaruhi oleh ‘imajinasi-imajinasi’ mereka (AS) sendiri yang dihasilkan dari teori-teori. Yang menurut Hanna, menyumbang bahkan mempengaruhi kebijakan politik AS seperti teori benturan peradaban (Clash Of Civilization) -nya Samuel.P. Huntington, hingga teori-teori kelas dan ekonomi-nya Karl Marx.Bagi Hanna, hadirnya teori-teori tersebut telah ikut menyumbang bagi terpeliharanya dan berkembangnya budaya kekerasan hampir di seluruh dunia, bahkan kebijakan politik luar negeri AS sekalipun.Bagaimana dengan Islam? Apakah Islam juga merupakan penyumbang dan kontributor bagi berkembangnya budaya kekerasan di dunia? Pertanyaan ini sudah tentu akan hadir dalam benak dan pikiran kita. Bagi Hanna, seperti bunyi tesis Samuel.P.Huntington bahwa pasca runtuhnya komunisme di Eropa ditandai luluh lantaknya tembok Berlin dan terpecah-belahnya negara Uni Soviet, maka tantangan atau benturan berikutnya adalah Islam.

Tesis Huntington ini, bagi Hanna mengindikasikan bahwa kebijakan-kebijakan politik AS bertolak dari; bagaimana AS juga ber-imajinasi tentang Islam; dan begitu pula, bagaimana Islam ber-imajinasi tentang AS, sebagai ‘setan’ dunia.

Indikasi-indikasi itu, bagi Hanna dapat dilihat dari dua sisi sekaligus. Pertama, dari sisi praktik dengan melihat aksi-aksi terorisme, bom bunuh diri dan pengeboman mulai dari peristiwa 11 September di WTC, hingga kasus pengeboman terhadap simbol-simbol AS di Eropa, Timur Tengah bahkan Asia (Jakarta dan Bali). Sisi praktik tersebut memperkuat seperti ujarnya Akbar. S. Ahmed, bahwa ‘Islam sebagai tertuduh’ sekaligus membuktikan bahwa Islam bertanggung jawab pula atas merebaknya budaya kekerasan di dunia.

Dari sisi teoritis, menurut Hanna, bahwa dalam Islam konsep toleransi (tasammuh) masih berpretensi pasif, dan toleransi membuka ruang anggapan bahwa ada di sekitar kita yang berbeda. Secara terminologis, toleransi berlaku ketika sesuatu yang di sekitar kita itu berbeda dan menyalahi tata aturan yang secara ekslusif kita miliki, serta toleransi juga bermakna tolerir yang pasif. Karena itu, menurut Hanna, konsep toleransi yang selama ini ada pada kita (umat Islam) perlu direkonstruksi ulang guna memenuhi kebutuhan keadaan dan kondisi masa depan, yaitu masa pasca modern (Postmodern).

Hanna mengatakan, kerja rekonstruksi tersebut bisa dimulai dari meletakkan toleransi pada bingkai kerja aktif bukan pasif (lazy tolerance) seperti yang selama ini kita pahami. Hanna menawarkan suatu bentuk toleransi aktif, yang ia sebut “qabulul akhar” (menyongsong yang lain, yang berbeda dan ada luar kita).

Menurut Hanna, merumuskan teori budaya qabulul akhar’ ini sebagai upaya membangun dan menyebarluaskan budaya kedamaian sebagai counter terhadap budaya kekerasan yang selama ini menyelimuti peradaban dan sikap dunia. Bagi Hanna, inisiatif-inisiatif membangun budaya kedamaian haruslah didahului dari kesadaran akan fitrah-nya globalisasi. Di mana setiap orang dapat bertemu dengan orang, suku, bangsa bahkan agama lain dalam satu waktu dan satu tempat (Melting Point) .

Maka inti dari ‘qabulul akhar’ adalah bagaimana menyongsong serta menyambut yang berbeda dari kita secara aktif. Menganggap perbedaan adalah hal lumrah tetapi berusaha mengajak atas perbedaan-perbedaan tersebut untuk bahu-membahu, serta bersama-sama membangun peradaban dunia yang lebih baik.

Efektifitas ‘qabulul akhar’ menurut Hanna, bergantung pada siapa inisiatif tersebut dipelopori. Negara-negara dunia pertama, seperti AS haruslah yang pertama menjadi pelopor kebudayaan kedamaian atau ‘qabulul akhar’ ini, tidak hanya persoalan moral kemanusiaan, tetapi juga persoalan strategis atau tidak.

Persoalan budaya kekerasan, sebenarnya memiliki keterkaitan dengan banyak faktor seperti problem kesenjangan sosial hingga keterpurukan ekonomi antar bangsa dan negara. Mensosialisasikan dan menyebarkan ‘qabulul akhar’ hanya oleh masyarakat dunia ketiga tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi apabila ‘qabulul akhar’ disuarakan oleh masyarakat dunia pertama, maka niscaya sinergisitas melawan budaya kekerasan akan terwujud.

Ditulis oleh Merah Johansyah Ismail, Presiden BEM STAIN Samarinda, aktivis Komunitas Islam Emansipatoris. dan peneliti Institute for Social and Cultural Studies, dalam http://www.islamemansipatoris.com/artikel.php?id=398

Iklan

One thought on “Dr. Millad Hanna:Membangun Budaya ‘Qabulul Akhar’ di Era Postmodern

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s