Perlu Saling Menghargai


Alkisah, sang pengarang tafsir al-Kabir, Imam Ar-Razi berdialog dengan al-Qadli Majduddin bin Qudwah. Dalam dialog tersebut, Imam Ar-Razi disamping menggunakan ayat-ayat Allah, juga menggunakan akal dan pendapat ulama-ulama sebelumnya. Sementara al-Qadli hanya mendasarkan pada bunyi tekstual ayat al-Qur’an. Sehingga al-Qadli terpojok mendengar dalil dan argumentasi Ar-Razi. Para pendukung al-Qadli marah-marah. Dan keesokan harinya, keponakan al-Qadli berkhutbah di Mesjid, mengatakan: “mengapa kalian diam saja, sang Qadli yang membela al-Qur’an dan Sunnah dihina oleh Ar-Razi yang hanya berpegangan pada pendapat Aristoteles, Ibnu Sina dan Al-Farabi. ” Mendengar khutbah tersebut, masyarakat terprovokasi dan mengerang rumah Ar-Razi. Akhirnya, Sultan (Presiden) mengirim pasukan untuk meredam keributan tersebut.Kisah beberapa abad yang lalu tersebut, sekarang masih sering terjadi. Perbedaan pendapat seringkali tidak mendatangnya rahmat sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah, tetapi justru membawa malapetaka yang besar. Masyarakat kita masih belum bisa menerima Hadist Nabi yang berbunyi ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan diantara umatku adalah rahmat). Begitu pula saling tuduh-menuduh masih terus terjadi diantara kita.

Jika hal itu terus terjadi, bagaimana kita bisa membangun perdamaian dan kesejahteraan dimuka bumi sebagaimana mandat yang diberikan Allah kepada manusia. Sebaliknya, kekawatiran para Malaikat akan terjadinya pertumpahan darah jika manusia sebagai pemimpin dimuka bumi ini barangkali perlu juga dibenarkan. Tapi, Allah Maha Tahu atas segala hal yang terjadi dimuka bumi ini.

Pesan PerdamaianSesungguhnya, semua umat Islam telah tahu bahwa Islam datang ke dunia ini untuk membawa perdamaian, kemaslahatan, kesejahteraan bagi seluruh alam. Islam tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk menyerang, membunuh dan saling tuduh menuduh kepada seseorang atau kelompok tertentu, Sebaliknya, anjuran dan perintah untuk selalu damai, sopan, santun dan berprasangka baik (khusnu al-dann) kepada siapapun sangat ditekankan dalam Islam.Dalam al-Qur’an, Allah berfirman “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya” (QS. 2:84).

Akan tetapi, ajaran-ajaran damai ini seringkali kurang dipahami dan dimengerti oleh umat Islam. Sebagian umat Islam lebih suka menggunakan jalan kekerasan daripada perdamaian. Ajaran Allah untuk saling menasehati (QS.103;3) ditengah-tengah masyarakat berubah menjadi saling membunuh, saling menyerang. Perbedaan pendapat, keyakinan seakan-akan telah merubah ajaran-ajaran perdamaian yang diberikan oleh Allah.

Nabi Muhammad telah banyak memberikan contoh yang baik akan hal ini. Selama penyebaran agama Islam di Mekkah, Nabi Muhammad selalu mendapat hinaan dan gangguan dari masyarakat-masyarakat Jahiliyah. Bahkan, suatu ketika ketika Nabi Muhammad hendak melakukan shalat di Baitullah, Nabi diludahi dan dihina-dihina. Tetapi, Nabi selalu membalas dengan senyuman, keramahan, kesopanan, dan toleransi.

Dari sini, kita perlu bertanya apakah diri kita akan mengikuti perilaku dan sikap umat Jahiliyah yang selalu menghina, menuduh dan menggunakan kekerasan? Sudah berapa kali kita menuduh orang lain dengan hal-hal yang negatif, bahkan dituduh kafir, musyrik.

Jika kita masih tetap mempertahankan dan menyakini bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir yang membawa Islam, maka tidak boleh tidak kita harus mengikuti sikap, perilaku, perkataan Nabi Muhammad. Kecuali itu, mereka-mereka yang tidak mengakui keadiluhungan moral Nabi Muhammad. Sampai saat ini, tidak ada satu intelektual, baik Muslim ataupun non-Muslim, yang tidak mengakui moralitas dan akhlaq karimah Nabi Muhammad.

Perbedaan adalah SunnatullahSaling tuduh, membunuh, menyerang seseorang atau suatu kelompok seringkali terjadi karena adalah perbedaan pendapat dan keyakinan. Sebagaimana yang di alami oleh Ar-Razi dalam cerita diatas, perbedaan adalah pangkal dari adalah tindakan-tindakan kriminal tersebut.Padahal, adanya perbedaan merupakan bukti akan kebesaran Allah. Allah menciptakan umat manusia sangat beragam, baik dalam hal bahasa, etnis, suku, agama dan sebagainya. Akan tetapi, perbedaan itu, kata Allah, dimaksudnya untuk saling mengenal dan melakukan kerjasama dengan baik sehingga amanah manusia sebagai khalifah Allah bisa tercapai.

Pernahkah kita berpikir bahwa mengapa kita lahir di desa A, tidak di B, menggunakan bahasa A, bukan C, berkulit hitam, tidak berkulit putih. Apakah ada jaminan bahwa kita pasti beragama Islam jika kedua orang tua dan lingkungan sekitarnya beragama Kristen atau Buddha. Semuanya itu merupakan bukti kebesaran Allah.

Sebagai bukti (ayat) kebesaran Allah, manusia tidak boleh menodainya. Karena itulah, tidak menghargai perbedaan berarti tidak menghargai akan kebesaran Allah. Bukankah orang-orang semacam ini sama dengan orang-orang yang tidak percaya terhadap Allah?

Karena umat manusia berbeda-beda, maka memahami dan menafsirkan keyakinannya juga akan berbeda. Umat Islam yang hidup di Afrika tentu memiliki pemahaman yang berbeda dengan umat Islam di Indonesia dalam memahami Islam. Apakah kita akan mengkafirkan Imam Hanafi dan Imam Hambali karena tidak sama dengan Imam Syafi’i. Bukankah penentuan kafir dan tidaknya seseorang adalah hak Allah?

Tugas manusia dimuka bumi tidak lain adalah untuk membangun perdamain, kemaslahatan, kasih sayang, toleransi dan kelangsungan hidup seluruh alam raya. Bagaimana kita bisa melakukan itu semua jika diantara kita saling bermusuhan dan membunuh. Melakukan pengrusakan, pertumpahan darah dan pengkafiran (takfir) adalah hal-hal yang melampaui tugas manusia. Dan, Allah telah memperingatkan untuk tidak melampaui batas. [Hatim Gazali]

Sumber: Bulletin IKHTILAF LKiS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s