Tuhan Yang selalu Berproses dalam Pikiran


Dalam keyakinanku, Tuhan bukanlah dzat yang sangat menakutkan, angker, pemarah, otoriter dan eksklusif. Akan tetapi, dzat yang sangat ramah, santun, pluralis dan demokratis. Keyakinan tentang tuhan yang demikian baik ini tidak tumbuh seketika. Dulu, bayangan dan keyakinan saya tentang Tuhan sangatlah berbeda dengan sekarang. Sewaktu masih belia sampai menjelang akhir SMU, tuhan dalam pikiran saya adalah dzat yang sangat menakutkan. Dia selalu hadir dengan sifatnya yang maha penyiksa, maha otoriter dan maha sombong.

Ketika belajar tentang islam di madrasah, yang saya temukan adalah literatur-literatur tentang tuhan yang selalu menyiapkan siksa kubur dan neraka bagi manusia yang tidak bisa menjalankan perintah-Nya. Dia hanya menurunkan satu agama yang benar, yaitu islam. Di luar itu, adalah kelompok agama atau keyakinan sesat yang mesti mendapat ganjaran siksa kubur dan neraka konon sangat panas itu. Karena itulah, mengajak mereka yang tidak islam dan memerangi mereka yang menolak masuk islam adalah suatu kewajiban. Inilah jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh ustadz saya diajarkan sebuah hadist nabi yang berbunyi; “Man ra-a minkum munkaran falyughayyir biyadihi…ila akhiri

Disamping itu, tuhan yang saya yakini saat itu adalah dzat yang sangat otoriter. Dia bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendak-Nya tanpa mengenal kompromi dan diskusi. Dia cukup mengatakan kun maka fayakun. Dia bisa saja memberikan musibah, adzab dan bencana kepada manusia dimanapun dan kapanpun. Orang baik pun bisa mendapatkan bencana alam. Cuma, jika bencana alam menimpa pada orang baik disebut dengan cobaan atau ujian. Buktinya, banyak orang baik yang meninggal karena faktor bencana alam, seperti Tsunami di Aceh. Begitu pula bencana dapat menimpa orang-orang jahat yang disebutnya dengan adzab atau siksa. Para koruptor yang menjarah uang rakyat dan para teroris yang membunuh banyak orang masih memiliki umur panjang dan bebas hidup. Padahal, jika saja tuhan berkehendak mencabut nyawanya, tak ada seorangpun yang bisa menghalanginya.

Itulah kekuasaan dan otoritarianisme Tuhan yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk oleh MUI. Dia hadir dalam keyakinan saya sebagai dzat yang sangat menakutkan. Bahkan, sewaktu saya masih dibangku sekolah pernah menangis karena takut akan mati syu’ul khatimah, siksa kubur dan api neraka. Karena itulah, saya pun rajin melakukan amal ibadah baik yang wajib ataupun yang sunnah. Saya menyembahNya siang hari-malam walaupun saya tidak mengenal tuhan dengan baik. Sebab, keyakinan tentang sudah ada dalam pikiran saya sejak saya bisa berpikir. Tentunya melalui pembelajaran orang tua sejak kecil sampai akhirnya mengendap dalam alam bawah sadar. Saya pun rajib membaca ayat-ayat-ayat al-Qur’an walaupun tidak mengerti makna dan darimana asalnya.

Terhadap al-Qur’an, ustadz saya cuma mengatakan bahwa setiap muslim harus percaya terhadap al-Qur’an karena ia adalah firman Allah yang disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Katanya pula, firman tuhan itu la shautun wala harfun, sebuah istilah yang tidak bisa saya mengerti.

Kini, keyakinan tentang Tuhan yang demikian angker dan menakutkan itu telah hilang dalam pikiran saya, menjadi dzat yang sangat baik, santun, ramah, demokratis dan pluralis. Ia selalu memberikan yang terbaik buat manusia. Jika saja ada kemiskinan, kekerasan dan segala bentuk dehumanisasi lainnya tentu itu bukanlah pemberian tuhan. Sebab, dengan tegas—jika anda percaya dengan al-Qur’an—sudah dikatakan bahwa manusia memiliki wewenang untuk menjadi orang baik ataupun buruk, bisa menentukan nasib terhadap dirinya. Kemiskinan tidak datang dari Tuhan, akan tetapi semata-mata kemalasan dan sistem-lah yang membuat seseorang menjadi miskin. Begitu juga dengan kekerasan dan konflik yang terus mewarnai kehidupan manusia. Semuanya itu terjadi bukan karena takdir Tuhan, tetapi karena ketidakmampuan manusia me-manage kehidupan alam ini. Tuhan telah menyediakan alam semesta ini secara lengkap. Untuk itulah, setelah Tuhan memberikan akal pikiran kepada manusia sebagai pemandu untuk menentukan yang baik dan buruk, Allah menyerahkan alam ini kepada manusia. Sehingga, manusia disebut sebagai khalifatullah fiy al-ardh.

Dia juga sangat demokratis dan pluralis. Bentuk demokrasi Tuhan itu sangat nampak dari negosiasi antara Allah, Malaikat dan Adam. Ia juga tidak serta merta memberikan siksa dan bencana kepada manusia jika saja manusia mampu mengendalikan diri, melestarikan alam dan hidup dengan baik. Segala hal yang terjadi dimuka bumi ini bukan lagi berada dalam tanggungjawab Tuhan, tetapi berada pada tanggungjawab manusia. Tuhan tidak lagi berurusan apakah akan terjadi banjir dan bencana alam. Tetapi, manusia-lah yang menentukan apakah mampu mengendalikan alam ataukah menjadi makhluk pengrusak sebagaimana yang dikhawatirkan oleh para malaikat sewaktu mengutus adam sebagai nabi.

Sementara itu, bentuk dan sikap pluralisme Tuhan yang ditunjukkan adalah adalah kepelbagaian. Tak ada yang seragam dalam kehidupan ini. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tujuannya bukan untuk saling membunuh, saling mengkafirkan ataupun menuduh sesat sebagaimana yang dilakukan oleh MUI, akan tetapi untuk saling mengenal. Pada dasarnya, tuhan memiliki sifat qudrah dan iradah yang bisa membuat manusia seragam; islam semua misalnya. Akan tetapi, tuhan menghendaki yang lain, yaitu menciptakan perbedaan baik dari segi budaya, ras, suku, bahasa maupun agama.

Banyak orang yang berdalih bahwa pluralitas itu adalah niscaya, akan tetapi kita tidak bisa membiarkan sebuah kesesatan, kekafiran, kemurtadan. Karena itulah, kita wajib mengajak mereka ke arah yang diyakininya benar. Dan jika ternyata menolak, maka wajib memeranginya sebagai bentuk penyebaran kebenaran. Pandangan seperti ini jelas—dalam pemahaman saya—ditolak oleh Tuhan. Sebab, pengadilan benar-salah, islam-kafir, sesat dan tidak sesat bukan berada di tangan manusia. Majelis Ulama Indonesia, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin tidak bisa mengklaim kafir terhadap suatu kelompok atau orang per orang yang berbeda dengannya. Yang dianjurkan oleh Tuhan adalah fastabiqul khairat. Di hadapan islam, kafir-muslim bukanlah menjadi soal. Karena itulah, salah satu ulama pernah mengatakan bahwa pemimpin kafir yang adil jauh lebih baik dibanding pemimpin islam yang tidak adil. Yang menjadi point bagi islam adalah kemasalahatan, keadilan, kemanusiaan, bukan persoalan kepercayaan dan keyakinan kepada Allah.

Dengan memahami seperti ini, maka kelompok-kelompok yang tidak bisa menerima keberadaan yang lain (al-akhar) dan tidak bisa hidup berdampingan dengan baik maka tentu saja ia tidak bisa merefleksikan maksud dan tujuan Tuhan. Suka atau tidak, pluralitas adalah sebuah fakta yang harus diimani oleh segenap manusia. Jika saja ada revisi rukun iman, maka kepercayaan terhadap pluralitas layak untuk dimasukkan ke dalamnya.

Saya pun sadar bahwa tuhan selalu berproses dalam pikiran saya; mulai yang percaya penuh dimasa masih kecil sampai penghujung SMU, era skeptis yang terjadi pada masa SMU kelas tiga sampai kuliah semester tujuh, sampai pada keberimanan secara kritis dan rasional seperti saat ini. Saya tidak tahu keyakinan seperti apa lagi yang akan berproses dalam pikiran saya. Proses seperti inilah barangkali yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Bagaimana Tuhan yang berproses dalam pikiran itu terjadi? Lalu bagaimana dengan Tuhan ada dalam pikiranmu?

2 thoughts on “Tuhan Yang selalu Berproses dalam Pikiran”

  1. Salam.
    hai bang Hatim, apa kabar? semoga tetap okay. kenalin saya ahmad orang bandung asli. kebetulan saya terpelanting menjadi TKI di saudi arabia. wah disini cuacanya sangat dingin menusuk walau sudah pakai baju berlapis empat. maklum cuaca disini ekstrem banget…
    Wah nampaknya bang hatim menikmati Tuhan dalam pikiran. bagaimana pemahaman kita tentang Tuhan akan sangat bergantung dari cara berfikir kita apakah bersedia berubah atau tidak?
    memang sih saya juga punya kasus yang sama. dimana Tuhan itu sangat menakutkan sekali dan itulah yang banyak diintrodusir waktu saya mengikuti pengajian di Madrasah.
    dengan pendekatan semacam itu, akhirnya saya beribadah bukan karena saya sadar tapi karena “takut” akan siksanya dan berharap akan surganya. bukankah pola beribadah yang demikian adalah ibadahnya sang budak karena ada pamrih. beribadah bukan karena cinta yang sadar rasional tapi cinta buta yang tidak kreatif.
    Dalam pandangan saya, Tuhan itu ada dalam esensi bukan dalam kulit luar. Bisa saja orang pake sorban, jenggotnya subur, pake baju putih persis kiayi beneran, tapi apakah betul hatinya bersih, tapi adakah garansi bahwa dia menunjukan respek terhadap yang lain. buat saya, tidak ada jaminan.
    Tuhan itu ada dalam kejujuran, respek terhadap sesama apapun perbedaannya,rasionalitas, keadilan dan kesejahtraan buat semua dan bukan kesejahtraan segelintir orang saja. Rahmatan lil’alamin.
    thanks and have a nice writing.
    ahmad (TKI) asal Bandung

  2. kabar baik. Salam kenal dari saya. Moga aja juga mas baik-baik saja.. Saya sepenuhnya sepakat dengan anda. Tapi pakek jenggot and sorban di Saudi Arabia menjadi penting kan, tapi tidak di indonesia.
    Tuhan selalu mengalir dalam setiap naluri manusia. apapun suara hati, itulah tuhan.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s