Khutbah Kesetaraan Gender

Jum’at, 31 Maret 2006, saya mengikuti ceramah khutbah Jum’at di sebuah mesjid di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, khatib mengambil tema tentang perempuan. Menurutnya, baik dan tidaknya suatu bangsa dan negara itu tergantung kepada perempuan. Jika perempuannya baik, maka bangsa itu baik pula. Sebaliknya, jika perempuannya tak bermoral, maka hancurlah bangsa itu. Untuk menguatkan argument diatas, ia mengutip sejumlah hadist nabi yang menjelaskan bahwa perempuan adalah tiang negara. Juga, ia mengatakan takutlah kepada Allah dan khawatirlah kepada perempuan. Kekhawatiran terhadap perempuan ini didasarkan oleh sang Khatib kepada adanya sejumlah kalangan nasrani yang berupaya untuk menghancurkan Islam. Caranya, keluarkanlah perempuan dari rumah dengan membuka aurat, pergi ke mall-mall dan lain sebagainya. Karena itulah, para jama’ah jum’ah diajak untuk mendidikan anak-anak perempuannya menjadi anak yang sholehah, taat berbakti, tidak membuka aurat dan bertaqwa kepada Allah.Refleksi dan pernyataan khatib diatas cukup baik. Akan tetapi, dalam benak penulis, bukankah para koruptor di negeri ini di dominasi oleh kalangan laki-laki? Bukankah pemerkosaan, perampokan, pencurian dan tindakan kriminal lainnya banyak dilakukan oleh lak-laki. Lalu, benarkah bahwa perempuan menjadi tiang sebuah negara atau bangsa? Cukupkah mengukur kebobrokan sebuah bangsa hanya dilihat dari aspek perempuannya?

Sebagaimana lazimnya, tidak ada protes atas refleksi sang khatib tersebut. Ia bebas mengatakan apapun kepada para jama’ah. Pokok-pokok pikiran sang khatib itu berbeda ketika disampaikan disampaikan dalam sebuah forum ilmiah seperti seminar. Dari pihak yang tidak setuju dengan isi khutbah diatas, tentu akan melancarkan serangan secara bertubi-tubi, baik argumentasi teologis ataupun rasional.

Entah, bagaimana jika perempuan dilibatkan dan mendengarkan ceramah sang khatib tersebut. Apakah sang khatib akan tetap menyatakan demikian, jika Siti Ai’syah RA, Ratu Balqis, Amina Wadud, Fatima Mernissi dan beberapa tokoh perempuan lainnya, turut mendengarkan dan menjadi jama’ah khutbah. Wallahu ‘a’lam.

Pandangan khatib diatas bukanlah hal yang baru. Pandangan miring terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Dalam buku The Status of Women in Mahabarata, Prof. Indra menulis: “Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api. Dia adalah sisi pisau yang tajam.”

Akan tetapi, sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa dicatat dari ceramah khatib diatas. Pertama, kekhawatiran terhadap perempuan. Tidak sedikit orang yang menyakini bahwa perempuan adalah sumber malapetaka, kerusakan suatu bangsa, dan pangkal kemerosotan moral. Kemunculan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) belakangan ini tidak lepas dari pandangan diatas. Sebab, sorotan RUU APP tersebut lebih banyak kepada kaum perempuan yang membuka auratnya di depan publik.

Terhadap hal ini, al-Qur’an memberikan penjelasan yang cukup cemerlang. Allah berfirman (QS. 30:41) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Membaca ayat diatas sungguh sangat tegas betapa kerusakan dan malatepaka bukan saja disebabkan oleh satu jenis kelamin manusia (baca: perempuan), melainkan manusia secara umum tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin.

Dengan demikian, mengembalikan segala bentuk kerusakan akibat perempuan sangatlah tidak proporsional. Bukankah sebagian besar koruptor di dunia ini banyak dilakukan oleh kalangan laki-laki?

Kedua, mengikuti logika diatas, maka perempuan dilarang menjadi pemimpin. Alih-alih menjadi pemimpin, kehadirannya pun membawa malapetaka. Asumsi semacam ini tentu saja bertentangan dengan sejumlah teks agama yang secara telanjang memberikan posisi dan derajat yang sejajar dengan laki-laki. Kesetaraan PosisiSesungguhnya, Islam sama sekali tidak membedakan jenis kelamin manusia. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan—disamping jenis kelaminnya (sex)—adalah derajat ketaqwaannya di hadapan Allah. Baik laki-laki ataupun perempuan, sama-sama memiliki potensi yang sama dan sejajar. Disinilah letak Maha Adilnya Allah SWT. Allah tidak membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain.Sebagai bentuk apresiasi terhadap perempuan, Allah juga memberikan ketentuan dan kategori-kategori perempuan ideal. Citra ideal perempuan menurut al-Qur’an adalah perempuan yang memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah/QS. al-Mumtahanah/60: 12) sebagaimana Ratu Balqis, memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi/ QS. al-Nahl/16: 97), perempuan pengelola peternakan (QS. al-Qashash/28: 23), memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi (al-istiqlal al-syakhshy) yang diyakini kebenarannya, perempuan yang berani menyuarakan kebenaran dan melakukan oposisi terhadap segala kejahatan (QS al-Tawbah/9: 71), dan bahkan Allah menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Nasaruddin Umar, 1999).

Dalam sejarah awal-awal Islam (masa nabi), perempuan dan laki-laki berjalan setara. Perempuan biasa keluar masuk rumah, mesjid untuk mendapatkan pendidikan dari Nabi sebagaimana halnya laki-laki. Hasilnya bermunculannya ulama-ulama perempuan, seperti Siti Aisyah, yang tidak kalah hebatnya dengan ulama laki-laki, seperti Sahabat Abu Bakar.

Namun, kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan ini menjadi surut pasca wafatnya Nabi. Ditambah lagi dengan peristiwa keterlibatan Siti Aisyah dalam Perang Unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa yang kontroversial di kalangan pemikir Islam klasik, dikatakan sebagai biang kerok terjadinya perpecahan dalam Islam. Stigma ini semakin kuat di kalangan ulama, sehingga tragedi itu dijadikan justifikasi perempuan Islam untuk tidak berkiprah dalam dunia politik.

Kulminasi dari pembatasan ruang publik bagi perempuan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Khalifah al-Walid (743-744 M), pada awalnya perempuan ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Sistem harem ini semakin kukuh tak tertandingi pada akhir kekhalifahan Abbasiyah, yaitu pertengahan abad ke-13 M. Pada periode seperti inilah, lahir tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan adanya hadist dan tafsir misoginis yang melecehkan perempuan. [Hatim Gazali]

Iklan

2 thoughts on “Khutbah Kesetaraan Gender

  1. Benar, jangan sekali-kali melecehkan perempuan . Di zaman kekhalifahan Islam tidak ada satupun manusia, baik itu laki atau perempuan dari agama, suku, dan ras apapun. Kita semua merindukan khalifah. Mari tegakkan khilafah, mari baiat Gus Dur menjadi khalifah, dan seluruh dunia akan damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s