Aku Kangen Iklim Ilmiah Itu


Dalam setiap suksesi mulai dari Rayon sampai Cabang, selalu muncul sebuah kerinduan. Saya kangen dan rindu suasana dan hiruk-pikuk politik ramai akan sebuah gagasan. Sebuah hal penting yang akan dijadikan landasan dalam membangun PMII Cabang (selanjutnya disebut Cabang) Yogyakarta kedepan. Sebuah tradisi yang lama atau bahkan belum muncul dalam tubuh PMII. Sebenarnya tidak aneh, bukan hanya PMII, tetapi juga organisasi atau lembaga yang lain. Dan, juga bukan hanya dalam momentum Konfercab ini, tetapi juga RTA, RTK, dan terutama Kongres. Bahwa dalam setiap momentum yang terkait dengan suksesi, yang menonjol kepermukaan hanyalah pertarungan dalam rangka perebutan kekuasaan dan jabatan nomor 01.Seorang sahabat berujar “wajar…! Ini wilayah politik, dan itu mesti”. Tapi, menjadi resah ketika persoalan gagasan tidak menjadi penting lagi. Mengapa dalam setiap suksesi kepemimpinan hal yang terpenting adalah kekuasaan, jabatan struktur dan semacamnya. Hendak dibawa kemana dan mau di apain?. Saya tidak tahu.Tetapi yang pasti, kekuasaan atau jabatan struktur memiliki interest tersendiri bagi banyak kalangan. Melalui jabatan struktur yang digenggamnya, ia bisa mengelola sebuah organisasi ke depan, membangun popularitas, jaringan keluar, bargaining position, dan hal-hal lain yang terkadang tak terdefinisikan oleh kata.Gagasan, visi-misi, dan platform adalah hal yang teramat penting. Hal itulah yang akan mendorong berjalannya sebuah organisasi kearah mana gagasan itu dibangun.Sudah berulang kali terjadi kita gusar dengan gagasan yang tidak visioner, progresif dan membela kepentingan rakyat. Ketika Pak SBY mencalonkan diri sebagai presiden, banyak orang yang menaruh harapan karena performance yang menyakinkan. Tetapi, setelah menjadi presiden banyak pula orang yang sebelumnya mendukung kecewa karena kebijakan-kebijakannya yang tidak populis.Di internal PMII, sudah seringkali kita menggugat bahkan penawaran percepatan suksesi luar biasa (LB) karena mandegnya kinerja. Ada pula orang yang menilai mantan ketua PB-PMII, Malik Haramain, yang notabene kaya akan gagasan telah gagal dalam memimpin pucuk tertinggi PMII. Jika itu benar, Malik bukan berarti tidak memiliki gagasan. Akan tetapi, sejauhmana gagasannya bisa acceptable, progresif, dan futuristik. Sebab, bisa jadi seseorang memiliki gagasan yang amat cemerlang tetapi tidak bisa diuji dilapangan secara riil.

Bagi saya, hakim pengadilan atas sebuah gagasan bukan sekedar logis dan rasional, tetapi juga publik-lah yang akan menverifikasi. Agar tidak kecewa dikemudian hari dan dalam rangka membangun PMII kedepan kearah yang lebih baik kita perlu menguji—jika ada—gagasan-gagasan masing-masing calon. Sehingga, kontestasi pemikiran dan gagasan bisa tercipta secara fair. Kita harus mulai dari sini jika hendak membangun PMII kedepan. Bukankah tradisi ini layak untuk dimunculkan?

Kita akan menentukan pilihan bukan atas dasar like or dislike, performance, janji, tetapi gagasan yang ditawarkannya. Ini yang selalu menjadi idealisme dan cita-cita kita bersama.

Atau, mungkin apa yang saya rindukan ini karena keawaman saya tentang politik. Semoga saja demikian. Tolong saya diberi pelajaran tentang politik. [Hatim Gazali]

2 thoughts on “Aku Kangen Iklim Ilmiah Itu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s