4 Kendala Menjadi Penulis Produktif


Selama 2 tahun ini, saya nyaris tidak pernah menulis artikel untuk sebuah koran, jurnal ataupun yang lainnya. Saya hanya bisa menulis hal-hal sederhana di blog ini dan tidak pernah dikirim ke media massa. Saya sengaja menulis untuk blog sekedar untuk memperlancar dalam menulis. Pasalnya, gagasan yang dulu selalu muncul dalam setiap hari kini menjadi bisu. Tak heran, jika Nurkhalik Ridwan pernah berkomentar sewaktu bertamu ke rumahnya Abd. Muid Badrun di sebelah utara PP. Wahid Hasyim, bahwa masa produktif saya sudah hilang. Itu benar mas. Saat ini, saya merasa mandul untuk berkarya, otak saya tumpul untuk sekedar menelorkan sebuah gagasan, tangan saya menjadi kaku untuk menulis huruf per huruf hingga menjadi satu tulisan. Saya kemudian berpikir dan tersadar mengapa otak, pikiran dan tangan menjadi beku untuk sekedar menorehkan huruf per huruf menjadi sebuah artikel ataupun bentuk tulisan lainnya. Kesimpulan saya sementara, ada empat hal yang saya abaikan yang menyebabkan mandul dan tidak produktif dalam menulis.Pertama, Tidak baca buku. Semenjak di semester akhir dan hendak menulis skripsi, saya menjadi pemalas untuk sekedar menghabiskan lembaran-lembaran buku. Sekedar untuk mengenang, dulu setiap harinya saya mesti membaca. Untuk novel yang biasanya saya baca ketika jenuh dan penat saya lahap dalam waktu yang sangat singkat. Perempuan Berkalung Sorban-nya Abdiah el-Khaliqi saya habiskan dalam waktu sehari. Sewaktu SMU, untuk sekedar mengkhatamkan Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad, Dunia Shopie ataupun tulisannya Ulil Absar Abdallah, Membakar Rumah Tuhan, tidak pernah membutuhkan waktu yang berlama-lama. Begitu pula ketika semester awal yang hari-hariku untuk khataman kitab putihnya Pramodya Ananta Toer dan Islam Pluralis-nya Buddhy Munawar Rahman ataupun buku-buku lainnya.Kini, alih-alih mengkhatamkan satu buku, sekedar untuk menoleh terhadap buku saja begitu susah. Ada semacam kejenuhan dan keangkuhan untuk membaca buku. Pengalaman membaca buku ini tidak mungkin terjadi pada orang-orang seperti Goenawan Mohammad, eep Saifullah Fatah, Ulil Absar Abdallah ataupun oleh teman-teman saya seperti Mohammad al-Fayyadl, Saiful Bari, Ali Ustman, Abd. Malik Ustman, Tedi Khaliluddin, Iman Fadila ataupun Abdullah Ubaid. Ditengah situasi seperti inilah, saya ingin mengatakan kata-kata yang pernah disampaikan Ali Ustman “Pinjami saya semangatmu kawan, untuk bisa membaca dan menulis”.

Baca buku seperti apa yang akan membuat orang produktif. Buku harus dijadikan sebagai lawan atau teman diskusi sehingga, dalam beberapa hal bisa setuju dan dalam hal yang lain bisa menolak. Jika kita menerima seluruh informasi yang ada dalam buku, maka buku akan menjadi candu yang membius manusia, tanpa ada kesadaran kritis. Akhirnya pun berada pada kebingungan. Betapa tidak, masing-masing buku memiliki sudut pandang dan informasi yang berbeda-beda. Bagaimana kita bisa mempercayai sekaligus buku yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz dengan bukunya Nurcholish Madjid. Disini diperlukan seperangkat analisis untuk membaca buku. Untuk menuju proses ini, dibutuhkan banyak pengetahuan yang mesti didapat melalui membaca buku. Dengan menempatkan buku sebagai teman diskusi inilah yang akan melahirkan seseorang menjadi produktif. Demikian, pesan yang pernah saya terima dari penyair muda dari Madura, Kuswaidi Syafi’ie.

Kedua, tidak pernah diskusi. Kebiasaan diskusi di waktu SMU bersama teman-teman JCC (Justivy Center Club) ataupun waktu menjadi mahasiswa bersama teman-teman OSAMA, GeGeR, Formasi, CRSe ataupun kelompok diskusi malam mingguan di PP. Wahid Hasyim, semuanya itu kini hilang. Hari-hari saya hanya berisi kegersangan intelektual. Diskusi yang baik—dalam hemat saya—bukan sekedar untuk menyampaikan pendapat atau gagasan, tetapi juga mengapresiasi pendapat orang lain sehingga terjadi dialektika yang sangat konstruktif. Dalam diskusi, seluruh peserta berposisi sejajar, tidak ada guru murid. Karena itulah, harus sama-sama membaca, tak ada pendengar setia ataupun pembicara tunggal. Dulu, bersama dengan Abd. Malik dkk, untuk berdiskusi harus membaca buku sebelumnya. Jika tidak, maka ia tidak boleh ikut diskusi. Situasi yang seperti inilah yang hilang dan saya rindukan saat ini. Sebuah diskusi yang konstruktif sebagaimana yang pernah saya saksikan di utan kayu antara Ulil Absar Abdallah dkk, di CRSe antara Guntur dkk, atau sebagaimana diskusinya orang-orang yang kehausan ilmu pengetahuan.

Ketiga, tidak pernah refleksi. Sejauh pengalaman saya, refleksi merupakan elemen penting untuk mencapat kualitas tulisan yang baik. Setelah membaca buku, diskusi, maka langkah berikutnya adalah mengendapkan apa yang didapat melalui refleksi yang mendalam. Tujuannya sederhana, agar wacana atau teori yang didapat bisa mengendap, membumi dan bisa dipahami oleh semua orang. Kendati berisi data-data dan teori-teori yang baik tetapi kering akan sebuah refleksi, maka tulisan kita akan menjadi hambar dan membeku. Karena itulah, tulisan yang dihasilkan melalui refleksi yang mendalam melalui kekuatan teori yang diyakininya akan membuat tulisan kita menjadi hidup dan layak dibaca disepanjang waktu sebagaimana al-Qur’an. Walaupun isu dan wacana yang direspon bersifat temporal dan lokal, tetapi pesan yang hendak disampaikan bersifat universal sehingga tulisan tersebut selalu up to date. Tentu saja, tulisan kita tidak akan menyamai al-Qur’an. Mengapa al-Qur’an terus bertahan sampai saat itu. Salah satu faktornya adalah kekuatan reflektif yang dimiliki al-Qur’an. Walaupun ia berasal dari Tuhan, tetapi Muhammad melakukan refleksi selama bertahun-tahun di Gua untuk menterjemahkan gagasan tuhan dalam realitas empirik. Sehingga bukan hanya hasil kegemilangan yang dihasilkan oleh Muhammad, tetapi al-Qur’an telah menjadi kekuatan dahsyat—sekurang-kurangnya bagi umat islam yang menyakininya. Melalui refleksi inilah, hasil buah pikiran kita tidak hilang begitu saja ketika seseorang membacanya. Ia akan membekas dan berpengaruh dalam setiap relung hati sang pembaca. Disnilah tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa, lebih tajam dari pedang.

Keempat, berhenti menulis. Sejak saya concen untuk menulis skripsi, kebiasaan saya untuk menulis artikel menjadi hilang seketika. Padahal, kata Kak Moqsith, semakin tinggi mobilitas seseorang dalam menulis, maka tulisannya akan semakin baik. Walaupun anda, membaca, diskusi dan refleksi tetapi tanpa ada upaya untuk mendokumentasikan sebuah gagasan ke dalam tulisan akan mustahil untuk bisa menulis dengan baik. Menulis disini tidak mesti dalam bentuk tulisan yang serius sebagaimana menulis buku ataupun untuk jurnal, tetapi menulis dalam segala bentuknya. Kita bisa menulis semacam Catatan Harian-nya Ahmad Wahib. Dengan menulis seperti layaknya menulis catatan harian, maka tidak ada beban psikologis. Menurut Eep, kegagalan seseorang dalam menulis untuk media massa karena adanya beban psikologis. Disana akan ada pembaca yang akan menilai bahkan menghakimi tulisan kita. Akibatnya, menulis dengan penuh beban psikologis hanya akan membuat tulisan kita menjadi kaku, terpotong-potong dan penuh ketakutan. Bagaimana caranya menulis tanpa ada beban, coba simak dan baca tulisan Eep (Klik disini)

Akhirnya, saya ingin bertanya pada diriku; mampukah saya melakukan hal tersebut? Tentu, siapa saja mampu termasuk saya, dengan melakukan keempat hal tersebut. Setelah melakukan keempat hal tersebut dan ternyata masih belum mampu menjadi penulis produktif, maka—kata Ebit G.Ade—cobalah tanyakan pada rumput yang bergoyang. Demikian, semoga bermanfaat.

Baca juga:

  1. Menulis Bermula dari surat cinta
  2. Bersama OSAMA, GeGeR dan PMII
  3. Nilai Plus Menulis
  4. Fenomena Penulis Jogja

4 thoughts on “4 Kendala Menjadi Penulis Produktif”

  1. menulis itu memang letih kawan… mari kita mulai saja dari nol. aku ingin terus menjadi “pemula”, karena dengan begitu semangat untuk menulis tidak akan pudar dan membosankan. mari kita mulai lagi menulis, membaca, berdiskusi, dan lagi, lagi, (menulislah)lagi…

  2. bung hatim, apa yang Anda tulis menyadarkan saya bahwa saya telah mengalami itu jauh lebih lama. parahnya, hingga kini masih terpuruk. berbeda dengan Anda, saya tak sempat berkibar di media. jujur, saya mengenal Anda lewat tulisan-tulisan Anda.

    selepas skripsi, aktivitas menulis saya berhenti, walapun untuk hal-hal yang kecil. apalagi, usai buletin Ikhtilaf mandeg, mandeg pula tulisan saya.

    betul, kita butuh refleksi. dan bangkit….

  3. Selamat menulis anak muda, selamat melukis ide di atas kertas….

    Komunitas Tinta Sejarah
    (Forum Diskusi Pembaca dan Penulis Muda Indonesia)

    Syamsudin Kadir/085 320 230 299/Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s