Selamat Datang Era Tanpa Tuhan


23 Desember yang lalu, saya berkunjung ke salah satu kost teman saya di jl. Dinoyo Malang, dekat UIN Malang. Walaupun cuma sebentar, tapi perbincangannya cukup berarti buat saya. Bermula dari sharing tentang pengalaman masing-masing sampai akhirnya tiba pada diskusi yang agak filosofis, yaitu tentang asal usul agama dan bagaimana peran dan posisi agama ditengah masyarakat modern. Dalam hemat saya, agama yang lebih banyak memuat aspek mistik dan klenik hanya cocok untuk masyarakat primitif sebagai pegangan hidup ketika tidak mampu memecahkan sebuah persoalan. Sementara di zaman modern dimana akal dan teknologi mampu menyingkap tabir misteri, agama akan lebih banyak ditinggalkan oleh orang-orang. Inilah, era tanpa Tuhan yang menurut prediksi saya akan terjadi 150 tahun mendatang. (seperti ilmuan aja yang bisa memprediksi….)Ketika badai terjadi, bencana alam menimpa manusia, dan sejumlah misteri kegaiban alam belum tersingkap dengan baik, masyarakat menyakini adanya dzat yang mengatur hidup ini. Mengapa ada siang dan malam, ada matahari, bulan, bintang, bumi dan seluruh semesta alam ini. Bukankah ini sebagai tanda akan adanya Tuhan. Sebagaimana dalam cerita nabi Ibrahim, ketika mentari pagi muncul, bapak agama-agama itu percaya bahwa mataharilah sebagai Tuhan. Akan tetapi, kepercayaan itu menjadi hilang dan berganti ketika menjelang matahari terbenam dan kemudian digantikan oleh Bulan. Ia pun percaya bahwa Bulanlah sebagai tuhan yang mengatur hidup ini. Tapi ternyata tak ada yang abadi, hingga akhirnya nabi ibrahim percaya bahwa ada dzat lain diluar matahari, bulan dan seluruh isi alam ini yang mengatur bulan, matahari dan kehidupan manusia. Dialah yang disebut dengan Allah, Ilah, elohim ataupun sebutan lain terhadap tuhan. Keyakinan manusia terhadap adanya dzat yang mengatur hidup diluar kemampuan manusia inilah yang disebut Joachim Wach sebagai the ultimate reality.Pada masyarakat primitif, Tuhan selalu hadir ketika sebuah misteri terjadi, dimana akal pikiran manusia tidak bisa menjangkaunya. Akan tetapi, ketika sains secara perlahan mulai membuka tabir raharia alam, definisi dan makna Tuhan menjadi berbeda. Dia bukan lagi seperti dewa-dewa yang diyakini memiliki tugas yang berbeda-beda untuk mengatur alam ini. Segala proses dan misteri alam yang dulunya dijadikan dalil untuk membuktikan adanya Tuhan mulai tersingkap oleh sains. Dulu, hujan diyakini sebagai salah satu takdir dan kekuasaan Tuhan, tanpa pernah mengetahui proses terjadinya. Begitupula proses terjadinya alam semesta ini yang diyakini dibuat oleh Tuhan, dihadapan sains bisa dijelaskan melalui—misalnya—teori big bang (dentuman besar). Begitu pula dengan proses terjadinya manusia yang bisa dipahami melalui teori evolusi-nya Darwin, ataupun melalui analisa sains lainnya. Dalil-dalil fenomenologis yang diyakini masyarakat primitif untuk membenarkan Tuhan oleh sains tersingkap secara perlahan. Orang-orang pun mencari alasann-alasan lain yang belum disingkap oleh sains untuk membenarkan adanya Tuhan.Saat ini, sebagian orang percaya kepada Tuhan dan sebagian lainnya tidak. Secara kasat mata, tidak ada perbedaan baik yang percaya ataupun yang tidak. Semuanya bisa hidup dengan baik. Di Prancis—menurut catatan Syafi’ie Ma’arif dalam tulisannya di Majalah Basis—menyebutkan bahwa cuma 15 % dari kesuruhan masyarakat Prancis yang percaya kepada Tuhan. Adakah yang berbeda dengan masyarakat Indonesia yang percaya kepada Tuhan. Tentu tidak ada yang berbeda secara lahiriyah. Walaupun demikian, dalam hemat saya sampai saat ini baik yang percaya kepada Tuhan ataupun yang tidak percaya, sama-sama memiliki keyakinan bahwa ada kemampuan yang maha dahsyat yang berada diluar kemampuan manusia. Keterbatasan manusia menjadi faktor determinan munculnya keyakinan ini.

Melalui ilustrasi ini bisa dimengerti bahwa pemahaman kita tentang Tuhan semakin rasional seiring dengan kemampuan sains membuka misteri kehidupan. Jika dulu manusia meyakini bahwa banjir adalah musibah dari Tuhan, sekarang bisa dimengerti bahwa banjir terjadi karena kerusakan alam. Jika dulu pergi ke bulan menjadi hal mustahil sampai bahtsul masail NU menuding kafir kepada siapa saja yang percaya bahwa manusia bisa pergi ke bulan, kini semuanya bukan lagi menjadi mimpi. Jika nanti semuanya bisa tersingkap dengan baik oleh sains, bukan hal mustahil keyakinan kita tentang tuhan juga akan menjadi nampak. Apakah memang benar ada Tuhan ataukah hanya hasil cipta karya pikiran manusia. Disaat seperti itulah, manusia memasuki era tanpa agama (Tuhan). Sebuah era dimana segala fenomena dan misteri bisa dijelaskan melalui sains. Agama yang semula berambisi untuk membuka misteri alam ternyata tidak bisa dibuktikan secara konkret dan akademis. Ia hanya bisa berbicara di relung-relung keyakinan manusia.

Apakah kiamat akan terjadi ketika era tanpa Tuhan? Belum tentu. Barangkali, dimasa mendatang sains bisa menunda terjadinya kiamat. Bukankah upaya untuk mengatasi global warming merupakan salah satu langkah untuk menunda terjadinya kiamat. Saya yakin, kiamat bukan lagi menjadi urusan tuhan, tetapi berada ditangan manusia. Apakah ia akan datang dengan cepat ataukah masih lama. Atau barangkali benar kata Dedy Mizwar yang mendapatkan enam piala FFI itu bahwa Kiamat sudah Dekat

Baca juga:

4 thoughts on “Selamat Datang Era Tanpa Tuhan”

  1. Anda jangan sok bicara sains kalau tidak ngerti. Coba saya tanya apakah anda bisa mengatur peredaran darah anda, apakah anda tahu bahwa sel-sel darah anda bergerak tanpa anda mengerti arah gerakannya. Apakah semua itu kebetulan. Ketika sperma bapak anda yang berjumlah jutaan mampu menembus sel ovum ibu anda sehingga anda lah terpilih 1 yang berhasil menjadi manusia. Apakah bisa disebut sebagai kebetulan?
    Sains modern menunjukkan bahwa teori darwin yang mengatakan bahwa dunia ini terjadi karena evolusi adalah bohong. Karena sejatinya mendel telah membuktikan bahwa mutasi genetik akan menyebabkan kelainan (sindrome)
    ANda kalau menyebut nanti akan ada era tanpa tuhan. Berarti anda tidak baca berita. Bahwa di Eropa jumlah umat muslim meningkat tajam. Ini membuktikan bahwa mereka tersadar akan kehampaan hidup mereka.
    Apakah yang dikatakan darwin adalah sebuah dongeng, dibandingkan perkataan Al-AlQur’an tentang proses terbentuknya manusia. Yang pada saat ini dapat dibuktikan oleh sains.
    Kalau anda berani buktikan 1 ayat al-qur’an yang salah pasti anda tidak emnemukan. dan saya akan membuktikan ratusan pendapat Darwin, Karl Max dan para kapitalis yang salah besar, dan bertentangan dengan sains yang sesungguhnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s