Diskusi Kebebasan Beragama


SpandukPada tanggal 12 Februari 2008 digelar diskusi kampus dengan tema Prospek Kebebasan Beragama di Indonesia di Gedung Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi ini menghadirkan tiga pembicara dari latarbekalang pendidikan dan kultural yang berbeda. Lutfi Assyaukanie mewakili Jaringan Islam liberal, Sahiron Syamsudin dosen dari kampus UIN Sunan Kalijaga dan Farisajana Adeley dosen kampus UKDW yang juga aktivis HAM di salah satu NGO di Yogyakarta. Diskusi ini dimoderatori oleh Direktur Community for Religion and Social engineering (CRSe), Hatim Gazali.

DiksusiTampil sebagai pembicara pertama Sahiron memaparkan beberapa faktor yang memicu munculnya berbagai aliran baru dalam Islam maupun agama-agama besar lainya. Munculnya beberapa aliran dalam Islam seperti juga dalam konteks Indonesia didorong oleh beberapa faktor. Faktor utama menurut Sahiron adalah hakikat agama itu sendiri yang memberikan peluang bagi munculnya alira-aliran baru. Peluang tersebut ditemukan dalam sisi agama yang menawarkan suatu hal yang bersifat mistik dan asbtrak, misalnya konsep wahyu, malaikat, Tuhan. Seseroang bisa saja mengaku menerima wahyu atau ilham dari Tuhan melalui pergulatannya dengan dimesi batin ini. Karenanya fenomena ini menjadi wajar dan tidak ada alasan untuk menolaknya. Menolak kehadiran aliran baru sama halnya dengan mengingkari hakikat agama itu sendiri.Faktor kedua, lanjut Sahiron adalah ketidakpuasan terhadap aliran atau organisasi keagamaan yang sudah ada. Faktor ini sejalan dengan faktor ketiga berupa ketidakefektifan atau tidak dinamisnya organisasi keagaman yang ada.

Ketidakmampuan agama yang sudah mapan dalam penilaian kelompok dan aliran mewajibkan mereka untuk memunculkan aliran, ajaran atau pemahaman yang lebih segar.Pembicara kedua, Farisajana mengurai kebebasan agama dalam perspetif hubungan antara politik dan agama sepanjang sejarah Indonesia. Farisajana memulai dengan suatu pertanyaan apakah ada kondisi budaya politik yang memungkinkan adanya kebebasan agama dan bagaimana kebebasan agama dirumuskan oleh negara Indonesia. Satu perkembangan menarik adalah dimasukkan suatu nilai agama atau ketuhanan dalam sila pertama.

Pertanyaanya, apakah dengan dasar ini semua orang berhak mengekpresikan semua nilai kepercayaannya yang didapatkan dari tuhannya?. Kenyataannya, menurut Farisajana, kuatnya hegemoni agama-agama besar dalam mendefinisikan agama menjadi problem besar dalam kebebasan beragama di Indonesia. Dalam hal ini, agama-agama besar memainkan peran dalam menggusur agama-agama suku dan aliran kepercayaan. Anehnya, hegemoni disupport oleh negara. Negara dalam hal berusaha memelihara proses ortodoksi yang terjadi dalam agama-agama besar melalui politik komodifikasi yang bertujuan untuk memelihara otoritasnya dalam mengelola masyarakat. Sementara pembicara ketiga, Lutfi As-Syaukani juga memaparkan kendala yang merintangi berlangsungnya kebebasan beragama di Indonesia. Menurutnya, secara konstitusional melalui UUD 1945 Indonesia mempunyai landasan yang kokoh tentang kebebasan beragama. Amandemen II tahun 2000 juga memberikan tambahan pasal yang berbicara tentang HAM. Akan tetapi, kenapa masih banyak faktor yang menghambat laju demokratisasi dan suburnya praktek pelangaran HAM di Indonesia?. Ada beberapa faktor menurut Lutif. Faktor pertama adalah adanya produk hukum yang bertentangan dengan konstitusi. Konstitusi negara ini bisa jadi sangat liberal tetapi produk hukum yang dihasilkan bertentangan dengan konstitusi tersebut. Misalnya RUU KUHP pasal 156 A pasal penodaan agama yang seringkali dijadikan landasan untuk melarang ajaran-ajaran baru. Kedua, otoritas Islam yang tidak tercerahkan melalui beberapa lembaga keagamaan yang tidak liberal. Banyak sekali contoh kasus di mana ormas keagamaan justru memainkan peran yang sangat berseberangan dengan kebebasan beragama. Fatwa MUI tentang larangan pluralisme dan penyesatan terhadap aliran-aliran baru mungkin menjadi contoh paling kentara dari proses illiberal ormas keagaamaan di Indonesia.Ketiga, pemerintahan yang tidak tegas dalam hal kebebasan beragama. Pemeirntah saat ini dikenal sebagai pemerintah yang tidak mempunyai ketegasan dalam kebijakan. Padahal, pemerintahan yang lemah dalam penegakan kebebasan dan jaminan HAM akan disambut dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.Faktor terakhir sekaligus menjadi faktor penting menurut Lutfi adalah belum terciptanya suatu kondisi masyarakat liberal. Masyarakat Indonesia masih dikategorikan sebagai masyarakat yang illiberal, yakni masyarakat yang tidak peduli dan kurang sadar akan nilai-nilai seperti pluralisme, kekebasan dan penghormatan hak individual. Salah satu contoh paling kentara adalah munculnya PERDA syariah di berbagai daerah yang hal itu sangat diapresasi oleh masyarakat itu sendiri.

****

Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini berujung pada satu kesamaan pandangan tentang harus adanya jaminan yang jelas dari pemerintah tentang kebebasan beragama. Farisajana menyarankan tidak hanya kebebasan beragama tetapi juga adanya jaminan hak kebebasan berpikir sebagai hal yang tak terpisahkan. Sementara itu Sahiron menyarankan adanya jalan dan langkah yang arif yang harus ditempuh baik pemerintah maupun ormas keagamaan dalam menghadapi aliran baru yang bermunculan. Dialog menjadi solusi terbaik dalam rangka mengarifi kemunclan aliran yang ada, bukan dengan kekerasan.

Di samping adanya jaminan konstitusi dan produk hukum yang menjamin kesetaraan dan kebebasan, Lutfi menyaratkan juga adanya masyarakat yang liberal sebagai pra kondisi terjadinya keberlangsungan kebebasan beragama. Pengertian liberal tidak berkesan konotatif, tetapi lebih diartikan sebagai masyarakat yang menghargai nilai-nilai perbedaan, keragaman dan kebebasan dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi ini sebenarnya mendapatkan respon anntusiasme dari masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari kuantitas pesarta yang melebih seratus lima puluh yang terdiri dari berbagai elemen kampus dan NGO. Sayangnya, publikasi mendapatkan kendala yang tak terduga. Pihak panitia telah memasang spanduk publikasi diskusi ini di depan kamus, tetapi tidak kurang lebih 3 jam berlalu, spanduk ini sudah hilang tanpa pelaku yang jelas. Pihak kampus juga tidak tahu atau tidak tahu-menahu ketika panitia mengkonfirmasi kejaidan ini. Bukankah ini bagian dari pelanggaran hak dan kebebasan berpikir?

Meskipun demikian, kegiatan ini masih tetap berjalan dengan sukses dan mendapatkan respons dan antusiasme tinggi dari peserta. [Abd. Malik]

One thought on “Diskusi Kebebasan Beragama”

  1. KEBEBASAN BERAGAMA BUKAN BERARTI KEBEBASAN MERUSAK AGAMA ORANG LAIN BUNG…GIMANA SIH???BODOH AMAT

    oleh:Cholil Ridwan
    Ketua Majelis Ulama Indonesia
    Akhir-akhir ini, masalah Ahmadiyah terus menjadi pembicaraan. Masalah ini sudah sangat lama menjadi duri dalam daging dalam tubuh umat Islam. Kasus demi kasus yang menimpa jemaat Ahmadiyah terus terjadi. Sering ada pertanyaan, mengapakah umat Islam sangat keras resistensinya terhadap Ahmadiyah? Mengapakah MUI menetapkan Ahmadiyah adalah aliran sesat. Hal-hal inilah yang seringkali tidak dipahami oleh banyak orang, sehingga ada yang salah paham, bahkan meminta MUI dibubarkan segala macam.
    Karena banyaknya pertanyaan semacam itu dari kalangan masyarakat kepada saya, maka semoga tulisan singkat berikut ini dapat menjelaskannya. Salah satu kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI dalam Rakernas bulan November 2007 yang lalu ialah, ”Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir”. Dengan kriteria ini, maka Ahmadiyah secara otomatis masuk kategori aliran sesat, sebab mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Ahmadiyah juga mempunyai Kitab Suci sendiri, di samping Alquran, yaitu Tadzkirah, yang isinya banyak berupa “pelintiran” dari ayat-ayat Alquran. MUI sudah meneliti “kitab suci” kaum Ahmadiyah ini dengan cermat.
    Pokok masalah
    Masalah utama yang menjadi perbedaan antara umat Islam dan kaum Ahmadiyah adalah keyakinan tentang status kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Bagi Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi dan menerima wahyu dari Allah, sehingga mereka menambahkan sebutan ‘alaihis salam’ (as) pada namanya. Dia pun diyakini sebagai Isa dan Imam Mahdi sekaligus. Baru-baru ini, seorang tokoh Ahmadiyah menerbitkan buku dengan judul Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa (2007).
    Dijelaskannya di dalam buku ini tentang kepercayaan kaum Ahmadi, yaitu, ”’Imam Mahdi dan Isa yang dijanjikan adalah seorang nabi yang merupakan seorang nabi pengikut atau nabi ikutan dengan ketaatannya kepada YM Rasulullah SAW yang akan datang dan mengubah masa kegelapan ini menjadi masa yang terang benderang. Dan apabila Imam Mahdi itu sudah datang, maka diperintahkanlah umat Islam untuk menjumpainya, walaupun harus merangkak di atas gunung salju.” (halaman 69).
    Kenabian Mirza Ghulam Ahmad merupakan ajaran pokok dalam aliran Ahmadiyah. Ditulis di dalam buku tokoh Ahmadiyah tersebut, ”Dalam perkembangan sejarah, pada tahun 1879 Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis buku Braheen Ahmadiyya. Pada saat itu Mirza Ghulam Ahmad a.s. belum menyampaikan pendakwaan. Namun ketika menulis kitab itu, sebenarnya sudah menerima wahyu. ‘Kamu itu nabi, kamu itu nabi!’ dan diperintahkan mengambil baiat, tapi masih belum bersedia.” (halaman 70).
    Ahmadiyah memandang orang yang tidak mengimani kenabian Ghulam Ahmad sebagai orang yang sesat. Berkata Mirza Ghulam Ahmad, ”Maka barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima imam yang dijanjikan (Ghulam Ahmad), maka sungguh ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan.” (Mawahib al-Rahman).
    Oleh sebab itulah, di dalam shalat, orang Ahmadiyah tidak boleh bermakmum kepada orang-orang Muslim, karena mereka dipandang ”belum beriman” kepada Imam Zaman, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dalam shalat jamaah, orang Ahmadiyah-lah yang diharuskan menjadi imam. Tentang masalah shalat ini dijelaskan di dalam buku Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa tadi, ”Dasar pemikiran mengapa kalangan mereka harus yang menjadi imam, yaitu bagaimana mungkin berma’mum pada orang yang belum percaya kepada Imam Zaman, utusan Allah.” (halaman 79-80).
    Bahkan, menurut kepercayaan Ahmadiyah, musibah demi musibah, bencana demi bencana yang menimpa umat ini, juga disebabkan karena mereka menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Dikatakan, ”Dalam keyakinan Ahmadi, berbagai bencana alam yang terjadi merupakan peringatan dari Tuhan. Satu-satunya cara menghindari bencana menurut mereka adalah dengan mengenal Tuhan lebih dekat dengan cara mengenal seseorang yang sudah diangkat oleh Allah SWT. sebagai Imam Zaman.” (halaman 73).
    Perbedaan keimanan
    Dengan keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, maka kaum Ahmadiyah kemudian menafsirkan ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits Rasulullah SAW sesuai dengan keyakinan mereka. Inilah perbedaan yang mendasar dalam masalah keimanan antara Islam dan Ahmadiyah. Muslim tidak boleh menjadi imam shalat bagi orang Ahmadiyah. Padahal semua Muslim memahami bahwa mazhab apa pun dalam Islam, boleh saling menjadi imam satu sama lain.
    Bagi umat Islam, sudah jelas kedudukan kenabian Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Sepeninggal beliau sudah tidak ada lagi nabi. Meskipun banyak sekali yang mengaku sebagai nabi, tetap saja, mereka tidak diakui oleh umat Islam, bahkan mereka jelas-jelas sebagai pendusta. Dalam keputusan tahun 1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengutip hadits Rasulullah SAW, ”Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).
    Sikap tegas umat Islam dalam soal ”nabi palsu” ini selalu dilakukan sejak dulu, demi menjaga kemurnian Islam. Para ulama dan pemimpin negara tidak berkompromi dalam masalah ini. Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq RA yang dikenal sangat lemah lembut, berani bersikap tegas terhadap nabi palsu bernama Musailamah Al-Kadzzaab. Sebab, apabila dibiarkan, akan menimbulkan kekacauan dalam agama dan masyarakat. Apabila Mirza Ghulam Ahmad dibenarkan, maka juga harus dibenarkan pula ”pengakuan kenabian” Lia Eden, Ahmad Mushaddeq, dan lain lain. Padahal Ahmad Mushaddeq dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyah- nya telah dinyatakan sesat dan melakukan pidana penodaan agama.
    Dalam menghadapi kelompok seperti Ahmadiyah dan Lia Eden, sikap umat Islam dan dunia Islam sudah jelas, yaitu bahwa semua itu adalah aliran sesat. Seluruh dunia Islam juga tidak berbeda. MUI dan berbagai lembaga Islam internasional sudah menyatakan hal yang sama bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang berada di luar Islam. Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, menjadikan keputusan Majma’ al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang diputuskan tahun 1985. Oleh sebab itu, Menteri Agama Maftuh Basyuni pernah menyarankan agar Ahmadiyah membuat agama baru, di luar Islam.
    Umat Islam Indonesia sudah lama dibuat resah dengan statemen Kholifah Ahmadiyah yang ke-4, yang datang ke Indonesia, pada bulan Juli 2000, yang membuat pernyataan bahwa, ”Indonesia pada akhir abad baru ini akan menjadi negara Ahmadiyah terbesar di dunia.” Kalau MUI memfatwakan sesat terhadap Ahmadiyah, sebenarnya MUI sekadar menjalankan tugas dalam melindungi umat dari ajaran luar Islam yang akan merusak Islam.
    Tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia (HAM), MUI sama sekali tidak memasung siapapun untuk memeluk agama apapun, kebebasan beragama adalah hak asasi setiap manusia. ”’Laa ikrooha fiddin,” tidak ada paksaan dalam urusan agama. ”Lakum diinukum waliyadin,” bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jangan menanam alang-alang di kebun keluarga, tanamlah di lahan kosong yang masih sangat luas. Kebebasan memeluk agama bukan kebebasan merusak agama orang lain.
    Ikhtisar
    -Masalah utama penunjuk kesesatan Ahmadiyah adalah keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
    -Ahmadiyah menafsirkan Alquran dan hadits sesuai keyakinan mereka.
    -Ahmadiyah menganggap sesat orang yang tak mengimani Mirza dan tak mengizinkannya sebagai imam shalat.
    -Umat Islam dan dunia Islam dari dulu bersikap tegas terhadap kesesatan semacam ini.
    -Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok yang merusak agama orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s