Khilma dan Tradisi Menulis di Kampus yang Memprihatinkan


16 Desember 2007, sewaktu saya sedang asyik nonton di kost teman saya di sawojajar Malang, saya mendapat SMS yang sangat membanggakan. Yaitu sebuah kabar tentang terbitnya novel Khilma Anis Wachidah yang berjudul Jadilah Purnamaku. Saya pun segera membalas sms itu, terlebih setelah Khilma berjanji untuk memberikan novelnya itu kepada saya. Saya pun tak sabar menunggu untuk membaca sebuah novel yang ditulis dengan apik, dialogis dan reflektif ini. Walaupun sampai saat ini saya tidak sempat membaca novel tersebut, tapi paling tidak saya hendak memberikan catatan-catatan penting, bukan hanya terkait pada novel tersebut, tetapi juga tentang tradisi menulis.  

Hadirnya novel buah tangan cewek cantik ini cukup membanggakan—sekurang-kurangnya—untuk saya, karena dua hal. Pertama, ditengah menurunnya jumlah penulis muda dilingkungan UIN Sunan Kalijaga, khilma tampil menjadi primadona atau srikandi yang harus diteladani oleh bukan saja para perempuan tetapi juga oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Khilma bukan saja menulis 2 lembar sebagaimana yang dulu sering saya lakukan untuk sebuah media massa, tetapi ratusan halaman dalam bentuk sebuah buku. Kedua, hadirnya Cicil—begitu saya biasa memanggil Khilma—ke publik melalui novelnya menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan saya; adalah penulis perempuan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga?. Tetapi, ternyata secara diam-diam Cicil memiliki potensi yang sangat besar sebagai novelis, penulis, sastrawan yang berbakat. Jika dulu UIN Su-ka punya Abidah el-Khaliqi yang menulis Perempuan Berkalung Sorban, kini UIN Su-ka dan para penikmat novel lainnya harus menambah daftar novelis perempuan dan bisa membuka mata dengan kehadiran Khilma Anis Wachidah ini. Untuk itulah, buah tangan perempuan cantik ini bukan hanya layak dibaca ditengah kegersangan penulis muda perempuan di lingkungan UIN Suka, tetapi juga pantas direnungi dan direfleksikan pesan dan makna yang tersirat di dalamnya. Sebagaimana novel-novelnya Pramodya Ananta Toer, novel yang ditulis oleh Cicil ini bukan semata-mata fiktif. Walaupun ditulis dalam kategori tulisan fiktif, tetapi –berdasarkan pengakuannya melalui SMS—novel ini merupakan catatan dan pengalaman pribadi yang dia alami. Saya pun menjadi tersadar, apakah novel biasanya ditulis berdasarkan pengalaman pribadi? Sependek pengetahuan saya tentang novel, biasanya novel merupakan rekaman sejarah atas pengalaman pribadinya, sehingga sang penulis bisa memaparkannya dengan baik dan penuh emosi.

Karena ia ditulis berdasarkan pengalaman masa lalu, sementara Khilma akan terus berproses menuju masa depan dengan menjadikan masa kini sebagai masa lalu, maka bukanlah berlebihan jika saya menunggu oretan-oretan refleksi dan pengalaman Khilma dimasa mendatang. Tentu saja bukan hanya saya menunggu, tetapi juga para penikmat sastra, pecinta novel, dan terutama pecinta Khilma (he..he…tak perlu disebutkan, tanya aja sendiri ma yang bersangkutan).

Tapi, adakah apresiasi dari UIN sebagai kampus dimana khilma studi atas terbitnya novel tersebut? Sudah bisa diduga walaupun saya tidak menyaksikan langsung di Jogja; tidak ada apresiasi. Banyaknya penulis muda yang berbakat yang dimiliki UIN Sunan Kalijaga belum pernah menjadi nilai plus ataupun kebanggaan bagi UIN sehingga memberikan apresiasi terhadap karya mahasiswa menjadi tidak penting. Saya lupa menayakan kepada Mohammad al-Fayyadl apakah karyanya, Derrida, mendapat apresiasi dari UIN. Sejauh pengalaman saya, apresiasi dari kampus putih itu tidak bisa diharapkan.

Memang, setiap semester sejak tahun 2002 UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan lomba karya tulis di media massa baik berupa buku, artikel di jurnal ataupun majalah, opini dan resensi di koran atau bulletin. Tetapi apa yang didapat? Penulis yang hendak mengikuti lomba tersebut disyaratkan untuk : 1. Mencantumkan nama UIN Sunan Kalijaga, 2] menyerahkan naskah asli dengan tidak berharap akan kembali lagi. Saya sempat menjadi juara 1 sejak tahun 2002 sampai saya lulus (2007), dan cuma 2 kali menjadi juara kedua dalam kategori artikel murni dan populer. Walaupun dengan susah payah saya harus mengkliping tulisan-tulisan saya untuk diikutkan lomba tersebut, hadiah yang diberikan juga tidak seberapa. Untuk juara 1 tidak lebih dari 250 ribu. Padahal, naskah yang biasanya saya kumpulkan dalam setiap semester lebih dari 10 tulisan. Memang, apresiasi tidak bisa diukur melalui finansial. Akan tetapi, besar kecilnya hadiah yang diterima juga menjadi salah satu bentuk apresiasi. Menurut penuturan teman saya, di UNY mahasiswa yang mencatumkan nama kampusnya akan mendapatkan uang 100 ribu untuk satu tulisan.

Disamping itu, apresiasi secara akademik juga tidak ada. Tulisan-tulisan mahasiswa hanya dibutuhkan ketika proses akreditasi fakultas atau jurusan dan dilupakan begitu saja ketika usai. Padahal, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jauh lebih produktif dibanding dosennya. Jumlah dosen yang menulis di media massa ataupun di jurnal-jurnal umum sangatlah minim. Biasanya, dosen cuma menulis di jurnal jurusan atau fakultas. Dosen-dosen yang rajin menulis bisa dihitung dengan jari. Bahkan, bukan hal yang lucu dan aneh jika seorang dosen membaca sebuah artikel tidak mengerti bahwa penulinya adalah mahasiswanya sendiri. Ini bisa dimengerti karena lemahnya apresiasi kampus terhadap penulis menjadikan mereka enggan untuk mencantumkan nama kampus sebagai identitasnya, apalagi menulis di koran dengan identitas mahasiswa biasanya dipandang sebelah mata.

Di ruang kelas, dosen adalah sosok yang tidak boleh tidak harus mentransformasikan ilmunya dan memberikan pengarahan-pengarahan. Akan tetapi, di media massa layaklah jika dikatakan bahwa dosen adalah musuh bagi mahasiswa yang hendak menulis di media massa. Secara identitas ketika menulis di koran, posisi dosen jauh lebih dipertimbangkan redaktur dibanding mahasiswa. Akan tetapi, belum tentu kualitas tulisan orang-orang yang memiliki identitas seperti dosen bisa melampaui kemampuan mahasiswanya. Sekedar berbagi pengalaman bukan untuk menyombongkan diri, salah seorang dosen sering mengirimkan tulisan ke Media Indonesia, tapi sampai saat ini tulisannya yang dimuat—yang saya tahu—cuma 2-3 tulisan. Sementara, mahasiswa UIN yang menulis di Media Indonesia walaupun tidak pernah menggunakan label mahasiswa cukup banyak; ada Saiful Bari, Agus Hilman, Mohammad al-Fayyadl, Tasyriq Hifdzillah, Abd. Malik dan lain-lain.

Itulah kenyataan, betapa apresiasi kampus terhadap para penulis itu menjadi barang mewah. Padahal, sadar atau tidak kampus bisa populer melalui publikasi karya baik yang dilakukan oleh mahasiswa ataupun dosen. Tentang minimnya apresiasi ini sudah pernah saya sampaikan kepada rektor, Prof. Amin Abdullah, ketika saya masih semester lima. Beliau pun berjanji akan memberikan apresiasi yang lebih kepada penulis, tapi sampai saat ini apresiasi itu masih menjadi mimpi yang tak kunjung segera menjadi nyata. Pak Amin beserta seluruh jajarannya, sebagai alumni UIN Sunan Kalijaga, saya hanya bisa bersuara melalui tulisan “Mari kita apresiasi penulis UIN Sunan Kalijaga” Jika tidak, saya hanya bisa mengajak teman-teman yang masih beridentitas mahasiswa “lupakanlah identias mahasiswa UIN sunan Kalijaga ketika anda mengirimkan tulisan ke media massa, karena anda tidak pernah mendapat apresiasi dari kampus”.

One thought on “Khilma dan Tradisi Menulis di Kampus yang Memprihatinkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s